NovelToon NovelToon
Ustadz, I’M In Love

Ustadz, I’M In Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

di bawah umur di larang membaca.

Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
​Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
​Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
​Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1: Gelar atau Pelaminan?

Cangkir teh di tangan Ayah berdenting pelan saat diletakkan di atas meja kayu jati. Suasana sore di teras rumah biasanya tenang, namun pertanyaan yang baru saja terlontar membuat udara terasa lebih berat bagi Rina.

​"Nak, usia kamu sudah 20 tahun. Kapan kamu mau menikah?" tanya Ayah lembut, namun tatapannya menuntut jawaban serius.

​Rina menghela napas panjang, menutup laptop yang sedari tadi menampilkan draf jurnal ilmiahnya. "Ayah, aku kan sudah bilang, aku itu gak mau menikah sekarang. Aku masih mau kuliah. Ini juga baru selesai S2 dan aku mau lanjut ke S3. Kenapa Ayah buru-buru sekali sih? Lagian, Cak Imron belum nikah, usianya juga sudah 28 tahun," ucap Rina dengan nada sedikit ketus. Rasa kesal mulai merayap karena pertanyaan yang sama selalu muncul setiap akhir pekan.

​"Ayah paham, Nak, tapi..." kalimat Ayah terputus.

​"Ayah, Adek masih kecil. Biarkan dia lanjutkan S3-nya terlebih dahulu. Imron juga masih belum siap nikah, sama halnya dengan Adek," sela sebuah suara berat.

​Imron muncul dari balik pintu dengan kaus olahraga yang basah oleh keringat, baru saja pulang bermain futsal bersama teman-temannya. Sebagai anak sulung, ia selalu menjadi tameng bagi Rina.

​Rina langsung mengangguk mantap. "Benar apa kata Cak Imron, Yah. Aku masih mau lanjut. Lagian, aku benar-benar nggak ada niatan buat nikah dalam waktu dekat."

​Ayah terdiam sejenak, menatap kedua anaknya bergantian. Ada guratan kelelahan di wajahnya yang mulai dimakan usia.

​"Nak," suara Ayah merendah, "Ayah ini sudah tua. Teman-teman Ayah sudah menimang cucu. Tapi lebih dari itu, Ayah hanya ingin melihat ada yang menjaga kamu saat Ayah sudah tidak ada nanti. Pendidikan itu penting, tapi apa gunanya gelar berderet kalau kamu sendirian menanggung beban hidup?"

​Rina tertegun. Kalimat "Ayah sudah tua" selalu berhasil menusuk benteng pertahanannya. Namun, bayangan tentang riset S3 di luar negeri dan karier impiannya jauh lebih nyata di matanya daripada bayangan seorang suami.

Bunda yang sedari tadi hanya diam menyimak sambil menata toples camilan di meja, akhirnya menghela napas. Ia duduk di samping Ayah, menatap Rina dengan pandangan yang sulit diartikan—setengah memohon, setengah memaksa.

​"Gini saja Ayah," sela Bunda pelan namun tegas. "Gimana kalau kita jodohkan Rina sama Ustadz Rohman? Lagian, Ustadz Rohman minggu lalu ke sini bersama Kyai Ibrahim. Beliau mengutarakan niatnya ingin meminang Rina sebagai istrinya."

​Rina yang baru saja ingin menyeruput air putih, hampir saja tersedak. Ia meletakkan gelasnya dengan dentuman yang cukup keras ke atas meja. Matanya membelalak tak percaya.

​"Bunda apa-apaan sih?!" seru Rina, suaranya naik satu oktav.

"Aku gak mau ya dijodoh-jodohkan! Zaman sekarang masih pakai jodoh-jodohan? Kalau dia jelek gimana? Kalau dia kere?"

​Rina bergidik ngeri, membayangkan masa depannya terkungkung dalam pernikahan tanpa cinta. "Ih, amit-amit punya suami jelek dan miskin! Iya kalau dia ganteng, mapan, atau CEO sekalian, baru aku mau pertimbangkan. Tapi kalau sudah jelek, kere, terus nanti malah main wanita setelah nikah? Aku nggak mau ya! Lagian kita nggak saling kenal!" ucap Rina berapi-api, emosinya meledak seketika.

​Imron yang masih berdiri di ambang pintu, menyilangkan tangan di dada. Mukanya ikut mengeras mendengar usul Bunda.

​"Benar itu Bunda. Aku nggak setuju. Aku nggak mau ya adek aku hidup sengsara gara-gara dipaksa nikah sama orang yang nggak dia kenal, apalagi latar belakangnya cuma kita tahu dari luar saja," bela Imron dengan nada rendah yang mengancam. "Adek ini punya otak encer, punya masa depan cerah. Masa mau dikurung di dapur sama orang yang mungkin nggak bisa mengimbangi pola pikirnya?"

​Ayah berdeham, mencoba mendinginkan suasana yang mulai memanas. "Rina, jaga bicaramu. Ustadz Rohman itu orang baik-baik, anak sahabat Ayah. Dia punya ilmu agama yang tinggi, dia bisa membimbingmu—"

​"Membimbing atau membatasi, Yah?" potong Rina cepat. Air matanya mulai menggenang karena merasa tidak dimengerti. "Aku mau ke London buat S3, bukan mau di rumah urus sumur, dapur, dan kasur! Kalau Ayah dan Bunda tetap mau menjodohkan aku, mending aku pergi dari rumah ini!"

​Suasana teras seketika hening mencekam. Ancaman Rina barusan seperti petir di sore hari yang cerah. Bunda hanya bisa mengusap dada, sementara mata Ayah menatap nanar ke arah putri bungsunya yang kini sudah berdiri, bersiap masuk ke dalam kamar dengan perasaan hancur.

1
Putri Lauren
lanjuttt thor KLO bisa double
Putri Lauren
lanjut thor
Moza Tri Utami: lanjut dong thorr
total 2 replies
Putri Lauren
mantap
Putri Lauren
aku suka Thor lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!