NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

“Duduk di sini,” ucapnya lembut.

Ara duduk perlahan di kursi akad di samping Danu.

Untuk pertama kalinya sejak akad selesai, mereka duduk berdampingan di depan semua orang.

Danu sempat melirik ke arahnya.

Ara juga menoleh sedikit.

Keduanya tersenyum kecil.

Penghulu kemudian mempersilakan proses penandatanganan dokumen.

Setelah keduanya selesai, para saksi juga ikut menandatangani dokumen tersebut.

Penghulu kemudian menutup map itu dan tersenyum.

“Alhamdulillah. Dengan ini pernikahan saudara Danu dan saudari Ara telah resmi tercatat.”

Beberapa tamu langsung mengucapkan,

“Alhamdulillah.”

Tak lama kemudian, penghulu mengambil dua buku nikah yang telah mereka tanda tangani.

Beliau menyerahkannya kepada Danu dan Ara.

“Ini buku nikahnya. Semoga menjadi pengingat bahwa pernikahan ini bukan hanya ikatan hukum, tetapi juga amanah.”

“Silakan mempelai pria terlebih dahulu.”

Danu mengambil pena dan menandatangani berkas dan buku nikah yang ada di meja kecil di depan mereka.

Setelah itu penghulu mempersilakan Ara.

Ara menerima pena itu dan menandatangani dokumen dan buku nikah dengan pelan namun jelas.

Danu menerima buku nikah itu dengan kedua tangan.

Ara juga menerimanya dengan hati-hati.

Keduanya sempat saling melirik sebentar.

Setelah itu, fotografer yang sejak tadi berdiri di samping mulai bersiap.

“Baik, kita dokumentasi dulu,” ucapnya.

Danu dan Ara duduk berdampingan. Di tangan mereka masih ada buku nikah yang baru saja diberikan oleh penghulu.

Fotografer mulai mengarahkan.

“Pegang buku nikahnya, Mas… Mba… ya, dekatkan sedikit.”

Ara memegang buku nikahnya dengan hati-hati. Danu juga memegang miliknya sambil tersenyum kecil.

Beberapa kali lampu kamera berkedip.

Klik.

Klik.

Setelah beberapa foto diambil, fotografer kembali memberi arahan.

“Sekarang satu momen lagi. Mba Ara bisa mencium tangan suami.”

Ara sedikit menunduk.

Ia kemudian mengambil tangan kanan Danu dengan kedua tangannya.

Dengan lembut, Ara mencium punggung tangan suaminya sebagai tanda hormat.

Beberapa tamu yang melihat langsung tersenyum.

Lampu kamera kembali berkedip beberapa kali, mengabadikan momen tersebut.

Setelah itu, Danu menatap Ara dengan lembut.

Ia lalu mendekat sedikit dan mencium kening Ara dengan pelan.

Beberapa tamu yang melihat langsung tersenyum haru.

Suasana terasa hangat.

Danu kemudian menundukkan kepalanya sedikit dan membaca doa dengan suara pelan.

“Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi, wa a’udzu bika min syarriha wa syarri ma jabaltaha ‘alaihi.”

Ara menunduk tenang di sampingnya.

Doa itu dipanjatkan sebagai harapan agar rumah tangga mereka dipenuhi kebaikan dan keberkahan

Setelah itu mereka dokumentasi dengan penghulu

Penghulu berdiri di samping mereka.

Beberapa foto diambil momen

Tak lama kemudian setelah foto, penghulu berkata dengan ramah

“Baik, sekarang saya permisi dulu karena ada acara lagi”

Danu dan Ara langsung kearah penghulu menyalami mereka terlebih dahulu sebagai tanda hormat.

“Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.”

“Aamiin,” jawab Danu dan Ara hampir bersamaan.

Setelah itu penghulu berpamitan kepada orang tua kedua mempelai.

Beberapa orang mengantarnya sampai ke depan.

Sementara di dalam ruangan, fotografer masih mengambil beberapa gambar pengantin yang kembali duduk di kursi akad.

Setelah beberapa foto diambil, fotografer kembali ketika mereka memegang buku nikah, tersenyum pelan ke arah kamera.

Lampu kamera sesekali berkedip.

Suasana yang tadi khidmat kini terasa lebih hangat.

Setelah itu keluarga inti juga dipanggil untuk foto

Bersama.

Ayah dan ibu Ara berdiri di satu sisi.

Orang tua Danu di sisi lainnya.

Danu dan Ara tetap duduk di kursi akad di tengah.

“Baik, semua lihat ke kamera,” kata fotografer.

Semua tersenyum.

Klik.

Momen itu tertangkap dalam satu bingkai.

Hari itu, bukan hanya sebuah akad yang terjadi.

Tapi juga awal dari sebuah keluarga baru yang baru saja terbentuk.

Setelah prosesi akad dan penandatanganan selesai, pembawa acara kembali mempersilakan Danu dan Ara menuju pelaminan.

Danu dan Ara berjalan berdampingan lalu naik ke pelaminan.

Di atas pelaminan, kursi pengantin di tengah sementara di kedua samping kursi pengantin disediakan kursi untuk orang tua.

Pembawa acara kemudian berkata dengan suara lembut,

“Selanjutnya kita akan memasuki prosesi sungkeman kepada kedua orang tua.”

Para orang tua dipersilakan duduk di kursi yang telah disediakan

Prosesi dimulai dari orang tua Ara.

Ara melangkah turun sedikit dari pelaminan bersama Danu lalu mendekati ibu Ara yang sedang duduk.

Ara menunduk dan mencium tangan ibunya.

Air matanya langsung jatuh.

“Bu… terima kasih sudah membesarkan Ara sampai hari ini.”

Ibunya memegang tangan Ara dengan lembut.

“Ibu doakan kamu selalu bahagia.”

Danu menunduk lebih dulu dan mencium tangan ayah Ara.

“Pak… mohon restunya. Saya akan menjaga Ara sebaik mungkin.”

Ayah Ara menatapnya sebentar, lalu menepuk bahunya.

“Jaga dia baik-baik.”

"Baik pak" ucap danu

Setelah itu mereka bertukar posisi Ara kemudian mencium tangan ayahnya.

Air matanya kembali jatuh.

Ayahnya mengusap punggung Ara pelan.

“Sekarang kamu sudah punya rumah sendiri. Tapi rumah ini tetap rumahmu juga.”

Di samping Ara, Danu juga menunduk hormat lalu mencium tangan ibu mertuanya.

“Terima kasih banyak, Bu, sudah mempercayakan Ara kepada saya.”

Ibunya Ara tersenyum sambil menepuk tangan Danu pelan.

Setelah itu, Ara dan Danu berpindah ke sisi lain tempat orang tua Danu duduk.

Ara menunduk lebih dulu dan mencium tangan ibu Danu dengan hormat.

“Mohon bimbingannya, Bu.”

Ibu Danu menggenggam tangan Ara dengan lembut dan tersenyum hangat.

“Sekarang kamu juga anak saya.”

Di saat yang sama, Danu menunduk di hadapan ayahnYa lalu mencium tangannya.

Ayahnya menepuk bahu Danu pelan.

“Kamu sekarang sudah jadi suami. Jaga keluargamu dengan baik.”

Ara kemudian menunduk di hadapan ayah mertuanya dan mencium tangannya dengan sopan. Ayah Danu mengangguk sambil tersenyum.

“Semoga kalian selalu rukun.”

Sementara itu Danu bergeser ke arah ibunya, lalu kembali mencium tangan ibunya dengan penuh hormat.

Ibunya memandangnya dengan mata yang sedikit berkaca.

“Jaga Ara baik-baik.”

Setelah selesai dengan orang tua Danu, Ara dan Danu kemudian berjalan ke tempat duduk mereka.

Mereka duduk berdampingan kembali.

Pembawa acara kemudian berkata,

“Baik, setelah ini kita akan melanjutkan dengan sesi ucapan selamat dari keluarga dan para tamu.”

Para tamu mulai berbaris mendekat.

Satu per satu mereka menyalami Danu dan Ara sambil memberikan doa dan ucapan selamat.

“Selamat ya…”

“Semoga langgeng.”

“Semoga menjadi keluarga yang sakinah.”

Ara tersenyum sambil sesekali mengusap sudut matanya.

Di sampingnya, Danu duduk dengan tenang.

Sesekali ia menoleh ke arah Ara.

Tak lama kemudian, beberapa anak bengkel Danu datang bersama-sama. Mereka terlihat sedikit kikuk berada di acara resmi seperti itu, tetapi wajah mereka penuh senyum.

Salah satu dari mereka maju lebih dulu dan menyalami Danu.

“Selamat ya, Bang,” katanya.

Danu tersenyum.

“Makasih. Kalian datang juga.”

Yang lain ikut menyalami. Mereka juga menunduk sopan kepada Ara.

“Selamat ya, Mbak,” ucap salah satu dari mereka.

“Terima kasih,” jawab Ara dengan senyum lembut.

Di antara mereka, Jaki berdiri paling belakang. Wajahnya sudah terlihat menahan senyum sejak tadi.

1
Irmha febyollah
ko di ulang2 kk
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!