Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.
Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.
Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.
Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?
Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?
Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?
Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️
Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang rahasia ke dua
Magnitius mengambil kristal Umbra dan memasukkannya ke dalam sebuah gelang yang terbuat dari batu hitam. "Aira, kamu harus menghadapi ujian ini sendirian. Jika kamu berhasil, kamu akan menjadi ratu vampir yang kuat"
"Gak!". Tolak Aira dengan keras. "Kau gila Magnitius? Aku putri kerajaan Es! Jika aku menerimanya sama saja aku melawan takdir dewa langit!"
"Diam!". Teriak Magnitius.
Tenebrous bergetar sesaat setelah Magnitius berteriak. "Mereka bahkan tahu kalau tuan-nya marah". Batin Aira
Aira mundur beberapa langkah, mata birunya membara dengan kemarahan. "Kamu tidak bisa memaksaku, Magnitius. Aku bukan budakmu."
"Kamu tidak punya pilihan, Aira. Kamu sudah terikat denganku, dan sekarang kamu harus mengikuti perintahku." Sergah Magnitius
Aira mengangkat tangannya, dan es mulai terbentuk di ujung jarinya. "Aku tidak akan mengikuti perintahmu, Magnitius"
Magnitius tersenyum, melihat gumpalan awas es dalam tangan Aira. "Baiklah, Aira. Jika kamu ingin melawan, aku akan menunjukkan kekuatan sejatiku".
Aira melemparkan gumpalan awan es ditangannya, namun melesat tak tepat sasaran. Ia terus mencoba namun tetap saja tak mengenai Magnitius yang menghindar dengan santai.
Magnitius terus menghindar dengan mudah, seperti menari di atas panggung. Aira semakin frustrasi, es yang dia lemparkan tidak ada yang mengenai sasaran. "Kamu lambat, Aira!" ejek Magnitius dengan senyum sinis.
Aira menggigit bibir, dia tidak mau kalah. Dia mengambil napas dalam-dalam, memusatkan energi esnya. "Kali ini, aku tidak akan gagal!" katanya dalam hati.
Aira membuat pusaran yang lebih besar. Ia melemparkannya ke arah Magnitius yang berjalan mendekatinya. Dan...Bug....
Magnitius terseret mundur beberapa langkah, saat tubuhnya menerima serangan dari Aira. Matanya berkobar merasakan bahwa Aira telah berani melawannya.
Dengan secepat kilat berjalan seperri bayangan, Magnitius sudah ada di hadapan Aira. Aira terperanjat kaget dibuatnya. Magnitius mengepalkan tangannya erat kemudian membukanya kasar.
Telapak tangannya mengeluarkan awan hitam yang menggulung dan terarah pada leher Aira. Tubuh Aira terangkat ke udara karenanya. Magnitius dengan amarahnya mempererat cengkraman di udara.
Aira merasa napasnya terhenti, tubuhnya terangkat ke udara oleh awan hitam yang menggulung di lehernya. Dia mencoba untuk melawan, tapi kekuatan Magnitius terlalu besar. "K...kamu... tidak bisa..." Aira mencoba untuk berbicara, tapi suaranya terhenti.
Magnitius menatap Aira dengan mata yang membara, "Kamu harus tahu tempatmu, Aira. Kamu milikku, dan aku tidak akan membiarkanmu melawanku."
Magnitius menghentikan aksinya setelah melihat Aira kehabisan nafas. Dan bug...
Aira di jatuhkan dengan keras ke lantai dan tak sadarkan diri. Magnitius mendekatinya. Ia berjongkok dengan satu lututnya menyentuh lantai.
Tangannya terulur membolak-balikkan wajah Aira. "Hah...dasar payah!". Gumamnya.
Magnitius kemudian pergi meninggalkan Aira sendirian di Tenebrous dalam keadaan tak sadarkan diri. Waktu berlalu, dan Aira masih terbaring tak sadarkan diri. Tenebrous semakin gelap, seolah-olah kegelapan itu sendiri sedang mengawasi Aira.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang lembut, mendekati Aira.Suara itu semakin dekat, dan Aira masih tidak bergerak.
Langkah kaki itu berhenti di samping Aira. Seorang wanita dengan rambut panjang dan mata hijau muncul dari kegelapan. Dia berjongkok di samping Aira dan memeriksa kondisinya.
"Dia masih hidup," kata wanita itu dengan suara lembut. "Tapi, apa yang Magnitius lakukan padanya?"
Wanita itu kemudian melihat sekeliling Tenebrous, dan matanya berhenti pada sebuah simbol di dinding. "putri es?". Gumamnya
Dengan ilmu sihirnya, wanita itu memindahkan Aira dari lantai ke atas meja tempat kristal Umbra diletakkan.
Wanita itu kemudian memeriksa Aira lebih lanjut, mencari tanda-tanda cedera atau sihir yang mungkin digunakan Magnitius. Setelah beberapa saat, dia menemukan sebuah gelang hitam di pergelangan Aira.
"Gelang Umbra? Magnitius, kamu benar-benar gila," katanya dengan nada kesal.
Wanita itu kemudian mulai memusatkan energinya, mencoba untuk melepaskan gelang itu dari Aira.
Tiba-tiba Tenebrous bergetar. "Kau akan menerima akibat jika berani melepaskannya". Suara Magnitius mengancam.
Wanita itu menatap sekeliling Tenebrous, matanya menyipit. "Kamu tidak akan bisa menghentikanku, Magnitius. Wanita inu tidak akan menjadi budakmu."
Tenebrous bergetar lagi, dan suara Magnitius terdengar lebih keras, "Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan, saudariku. Wanita itu akan menjadi kunci kekuatanku."
Wanita itu tersenyum sinis. "Kamu yang tidak tahu, Magnitius. Dia yang akan menjadi tunpuan kehancuranmu".
Wanita itu terus memusatkan energinya, mencoba untuk melepaskan gelang Umbra dari Aira. Magnitius semakin marah, dan Tenebrous mulai berguncang hebat.
Tiba-tiba, wanita itu mengangkat tangannya, dan sebuah cahaya putih menyembur keluar, mengarah ke gelang Umbra. Gelang itu mulai bergetar, dan Magnitius meraung keras.
"Aku tidak akan membiarkanmu!" teriak Magnitius, sudah berada di hadapannya.
Dengan cepat ia menghentikan apa yang saudarinya lakukan. Ia mengeluarkan ilmu sihirnya mendorong wanita itu kuat.
Gelang Umbra itu mengeluarkan cahaya dan tak lama Aira terbatuk keras, bangun dari tidurnya. Aira duduk tegak, memegang kepalanya yang terasa sakit. Dia melihat sekeliling, mencoba memahami apa yang terjadi. Wanita yang tadi mencoba membantunya terbaring di lantai, terdorong oleh Magnitius.
Magnitius berdiri di depan Aira, dengan senyum sinis. "Bagaimana?".
"Dia siapa Magnitius?". Tanya Aira membuat Magnitius kesal.
"Selahati nona, namaku Lyra". Ucapnya.
Wanita itu adalah Lyra, adik perempuan Magnitius. Mereka berdua adalah saudara kandung, tapi memiliki tujuan dan prinsip yang berbeda. Lyra adalah seorang penyihir yang baik hati, sedangkan Magnitius memiliki ambisi untuk menguasai kekuatan kegelapan.
Lyra dikurung di Tenebrous oleh Magnitius karena dia mencoba untuk menghentikan rencana jahat Magnitius. Lyra mengetahui bahwa Magnitius ingin menggunakan seluruh kekuasaannya untuk menguasai dunia.
Magnitius kemudian menangkap Lyra dan mengkurungnya di Tenebrous, tempat yang gelap dan terisolasi, untuk mencegahnya mengganggu rencananya.
Dan sekarang, Lyra khawatir jika Aira yang akan menjadi korbannya . Lyra yakin bahwa kakaknya akan memanfaatkan kekuatan Aira untuk meningkatkan kekuatannya sendiri, dan dia tidak bisa membiarkan itu terjadi.
"Nona Aira, bisakah kamu melepaskan gelang Umbra ditanganmu? Itu bukan milikmu". Ucap Lyra.
Dengan senang hati Aira akan melepaskannya, namun Magnitius mencegahnya dengan keras.
"Kak! Aira putri Es". Teriak Lyra. "Umbra tidak akan pernah bisa bercampur dengan kristal es dalm diri Aira!".
"Diam!". Teriak Magnitius tak kalah sengit.
"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mencampuri urusanku!". Ucapnya menunjuk wajah Lyra.
Magnitius mengangkat tangannya, dan Lyra terlempar ke belakang, tidak bisa bergerak. Aira melihat Lyra dan mencoba untuk membantunya, tapi Magnitius mengancamnya dengan tatapan mata yang tajam.
"Jangan coba-coba, Aira," kata Magnitius dengan suara dingin. "Kamu tidak akan bisa menghalangi aku. Kali ini aku akan membuatnya hilang dari muka bumi"
Lyra masih mencoba untuk berbicara, tapi suaranya terpotong oleh kekuatan Magnitius. Aira melihat Lyra dengan rasa khawatir, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Magnitius, dia hanya menolongku". Bela Aira
"Diam!". Bentak Magnitius
"Apa yang dikatakan oleh Lyra memang benar. Bagaimana bisa aku menggunakan energi kristal Umbra tanpa pengendali?". Lanjut Aira.
Seperrinya kli ini Magnitius mendengarkan apa yang Aira katakan. "Apa maumu?". Suaranya sedikit lebih rendah.
"Izinkan Lyra menjadi guruku yang ke tiga. Jika tidak, bagaimana ku bisa menggunakannya? Lebih baik kubuang saja benda yang tak berguna ini". Ucap Aira.
Magnitius menatap Aira dengan mata yang menyipit, mempertimbangkan tawaran Aira. Setelah beberapa saat, dia mengangguk perlahan.
"Baiklah, Aira. Aku izinkan Lyra menjadi gurumu. Tapi, jika kamu mencoba untuk mengkhianatiku, aku tidak akan ragu untuk menghancurkanmu dan Lyra."
Magnitius kemudian melepaskan Lyra, yang langsung berdiri dan mendekati Aira. "Terima kasih, Nona Aira," kata Lyra
Aira tersenyum, tapi mata Magnitius masih menyipit, tidak sepenuhnya percaya pada Aira. "Jika kau tak mempercayaiku, bunuh saja aku sekarang juga!". Bentak Aira tak terima dengan tatapan Magnitius
Ilustrasi:
Suka gak sama ilustrasinya?