seorang anak kecil yang baru berusia 5tahun, ia ingin melakukan dendam akibat tantenya meninggal karna menyelamat kan nya. setelah ia beranjak remaja ia memulai melakukan dendam tersebut, dan rencananya ia akan bikin anak dari sang pembunuh jatuh cinta padanya dan meninggalkan nya. tetapi ia malah jatuh cinta pada gadis itu, dan siapa sangka ia tidak bisa melanjutkan balas dendam tersebut. tetapi karna permintaan sang mamah dan tidak akan membuat mamahnya kecewa ia akan melakukan balas dendam itu, walaupun harus merelakan orang yang ia cintai. namun ia tidak bisa untuk menyakiti hati orang yang ia cintai tapi apalah dayanya mamahnya selalu memaksa ia untuk melakukan balas dendam. dan ia semakin di buat bingung oleh keadaan, ia harus memilih salah satu ANTARA CINTA ATAU BALAS DENDAM.
penasaran sama ceritanya? sini dibacaa
jangan lupa follow dan vote di setiap bab nya ya gayss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 | cinta or dendam
happy reading
*
*
*
d
i rumah afan, lebih tepatnya di keluarga baskara.
"afan" panggil mamah Afan
"iya mah ada apa?" tanya Afan
"rencana kamu seterusnya apa? buat balas dendam" tanya voke tiba tiba
"rencananya si, afan mau bikin anaknya jatuh cinta sama Afan terus Afan tinggalin" jawab Afan
"siapa nama anaknya?" tanya mamah
"namanya serli devia Artika" jawab Afan
"kamu bilang bakal bikin dia jatuh cinta sama kamu kan?" tanya voke
"iya mah" jawab Afan yakin
"inget kata mamah jangan sampe kamu jatuh cinta sama dia, ingat fan rencana kamu itu untuk balas dendam bukan jatuh cinta ingatt!!" tegas mamah voke
"inget mah, Afan gak akan jatuh cinta kok sama dia" jawab Afan mantap dan yakin.
"bagus" jawab voke, lalu ia pergi meninggalkan Afan.
tok tok tok suara ketukan pintu dari rumah devi
"eh fan cepet banget kesini nya"
"agak ngebut dikit, biar Lo gak terlalu lama nunggunya"
"tapi jangan ngebut ngebut juga fan bahaya"
"iya iya"
"yaudah yuk berangkat"
"yuk fan"
"fan beli es cream yuk"
"malem malem gini?"
"iya lah"
"jangan ntar sakit"
"cieee perhatian"
"tapi pliss boleh yaa"
"yaudah satu aja"
"dua, kurang kalo satu"
"kalo dua gajadi beli"
"ish iya iya satu"
"pinter" ucap Afan lalu mengacak acak rambut devi
"kalo kek gini gue mana bisa terusin balas dendam gue tapi kan..." batin afan
disisi lain
"Mala Mala itu devi sama Afan gak si?" tanya vio
"iya itu devi sama afan"
"mereka ngapain berduaan yah, apalgi malem malem di taman kek gini" ucap vio bingung
"biasalah pdkt"
"iya juga ya"
"samperin yuk" ucap vio hendak mau kesana tetapi rambutnya di tarik oleh Mala
"malaaa, apaan si kok rambut gue di tarik segala" ucap vio kesal
"ya Lo si main nyelonong kesana aja"
"ya kan gue mau nyamperin mereka malaaa"
"yaAllah vio vio Lo ini yah, biarin mereka berdua aja udah" ucap Mala lalu pergi meninggalkan vio
"eh kok gue di tinggal, malaaaa tungguin" ucap vio lalu lari mengikuti Mala
"fan pulang yuk"
"mau ke supermarket dulu gak? beli camilan buat Lo"
"gausah fan ngerepotin itu namanya"
"enggak tuh"
"gue beliin camilan yang banyak deh"
"serius?"
"dua rius"
"oke gas ke supermarket"
"tapi bener ya Lo beliin, apapun yang gue mau"
"iya devi, kan tadi gue dah bilang"
"hihi makasih"
//afan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban
"kalo ada orang bilang makasih di jawab sama sama gitu kek lah ini malah ngangguk doang"
Afan hanya terkekeh kecil mendengar ucapan devi
"iya sama sama devi"
"gitu dong"
"yaudah ayo ke supermarket keburu larut malem ntar"
"iya ayo"
di supermarket devi mengambil beberapa camilan yang ia suka dan menaruhnya di trolley
"fan ini gue ngambil nya kebanyakan gak si?"
"enggak kok, ambil lagi aja kalo mau lagi"
"enggak deh, gue rasa ini udah cukup"
"yaudah ayo ke kasir dulu biar gue bayar"
"iya"
Setelah membayar, kini keduanya naik ke motor untuk pulang.
"dev pegangan ya"
"emang kenapa? Lo mau ngebut ya"
"iya, ini juga udah larut malem ntar kalo Lo di cariin ortu Lo kan"
"iya gue pegangan kok"
Afan melajukan motornya dengan kecepatan stabil. Dari spion, ia melihat Devi tertidur sambil memeluknya erat dari belakang. Angin malam berhembus pelan, jalanan tampak lengang. Afan sedikit menurunkan gas agar tidurnya Devi tidak terganggu. Mesin motor berdengung halus mengiringi perjalanan pulang mereka.
"dev, bangun udah sampe rumah Lo nih"
"eughtt"
"udah sampe yah" ucap devi sambil mengucek ngucek matanya
"iya udah"
Setelah mengucek ngucek matanya, Devi langsung turun dari motor Afan.
"nih camilan Lo"
"sekali lagi makasih fan udah beliin"
"sama sama Devi"
"gue pulang duluan yah"
"iya dadahh" ucap Devi sambil melambaikan tangannya ke arah afan, Afan pun hanya terkekeh lucu lalu pergi dan meninggalkan pekarangan rumah devi.
kini di rumah afan
"fan" panggil voke
"iya mah ada apa?"
"kamu harus cepat lakuin balas dendam itu"
"t-tapi mah"
"kenapa kamu suka sama devi?"
"enggak kok mah"
"inget fan jangan sampe kamu masuk ke perangkap kamu sendiri"
"i-iya mah"
papah Afan tak sengaja mendengar semua ucapan istrinya kepada anaknya, ia tak tega jika Afan terus ikut melakukan balas dendam. apalagi sampai ngorbanim orang yang di cinta'i nya?
Ia pun langsung datang dan nyamperin Afan, lalu lian menepuk pelan pundak sang anak.
"Afan" panggil lian
"iya pah"
"kamu jujur sama papah, kamu cinta kan sama Devi?"
"aku juga gatau pah, tiba tiba perasaan ini muncul"
"kamu stop yah ngelakuin rencana balas dendam kamu"
"tapi mamah pah"
"tenang aja papah akan berusaha membujuk mamah kamu"
"perjuangin cinta kamu fan, jangan biarkan balas dendam menguasai dirimu"
Afan hanya mengangguk mengerti
kini di kamar Afan termenung dari tadi, pikiran nya campur aduk semuanya jadi satu. seperti es campur.
"gue harus apa" gumamnya pelan
"disisi lain gue gamau bikin mamah gue kecewa tapi di sisi lain gue juga gamau nyakitin hati devi"
Afan mengacak acak rambutnya frustasi dan berteriak
"arghttttt" Afan teriak sekencang mungkin melampiaskan amarahnya
Di ruang kerja Lian, ia mendengar suara teriakan. dan suara itu sangat ia kenali, lalu ia bergegas ke kamar afan. sesampainya Lian di kamar afan, lianmelihat Afan yang sedang memukul dinding kamarnya, Lian pun langsung mendekat dan memeluk afan.
"Afan, apa yang kamu lakukan?" tanya Lian panik dan khawatir
"kamu bisa melukai diri kamu sendiri fan" bisik Lian pelan
"maaf pah" suaranya hampir seperti bisikan angin, tak terdengar dengan jelas. tetapi Lian tau, Bagaimana terluka nya Afan.
"aku hanya bingung harus milih antara milih cinta atau balas dendam"
"perjuangin cinta kamu fan"
"tapi pah aku gamau bikin mamah kecewa"
"Afan, dengar papah baik baik. perjuangin cinta kamu, jangan sampai setelah kamu ngelakuin balas dendam itu ke devi kamu akan merasa menyesal"
"t-tapi pah"
"nanti biar papah yang bilang sama mamah kamu"
"makasih pah"
"sekarang kamu obati tangan kamu yang luka"
"iya pah"
"mah" panggil Lian kepada istrinya yang sedang duduk di samping ranjang
"ada apa mas?" tanya nya
"stop suruh anak kita ngelanjutin balas dendam itu"
"apa? stop"
"iya mah stop kasian Afan harus celakain orang yang dia cinta"
"oh jadi Afan udah cinta sama gadis itu?"
"kalo Afan gabisa lanjutin balas dendamnya biarkan aku yang nyelakain gadis itu"
"jangan mah"
"apa mas lupa penyebab Rara adik aku meninggal?"
"tapi Kematian itu tidak ada yang tau mah"
"tapi mobil itu sengaja kan mau nabrak Rara?"
"kita belum tau pasti"
"balas dendam tetap balas dendam"
"mas tau kan kalo rara adalah salah satu keluarga aku yang masih ada tapi rara sekarang meninggal"
"iya mas tau, tapi jangan bawa bawa Afan untuk ngelakuin balas dendam"
"coba bayangkan di suruh milih antara cinta atau balas dendam, kalo kmu di posisi itu pasti kamu akan milih cinta kan?"
"terserah kamu mas, yang penting aku akan tetap lakuin balas dendam itu" ucap voke lalu pergi keluar kamar
tanpa sepengatahuan mereka ternyata Afan mendengar semua ucapan mereka, kini Afan semakin di buat bingung oleh keadaan ia harus memilih antara cinta atau balas dendam.
"gue harus pilih apa?" batin afan
"maaf dev gue terpaksa harus lanjutin balas dendam ini, gue minta maaf sama Lo dev kalo gue deketin Lo cuma buat ngehancurin hati lo tapi disisi lain gue juga gamau ngelakuin itu tapi mau gimana lagi" batin Afan
gimana menurut kalian untuk bab ini?
kira kira Afan akan pilih permintaan papahnya atau mamahnya ya? kalo mamahnya di suruh balas dendam sedangkan papah nya di suruh perjuangin cinta nya.
tunggu lanjutannya yah gays
jangan lupa vote dan komen