NovelToon NovelToon
NALA

NALA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dunia Masa Depan / Penyelamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Saqila nur sasih

Sepuluh tahun lalu, hujan merenggut segalanya dari seorang gadis lima belas tahun. Tanah longsor menelan kedua orang tuanya tanpa jejak, memaksanya tumbuh sebelum waktunya. Sejak hari itu, Nala belajar satu hal: hidup bukan tentang memilih, tapi tentang bertahan.

Bersama adiknya, Niskala, ia pindah ke ibu kota dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun kenyataan jauh lebih kejam. Pendidikan dirampas, masa kecil dipaksa hilang, dan mereka harus berdiri di lampu merah menjual tisu demi bertahan hidup. Hingga suatu malam, dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam selama bertahun-tahun, Nala memilih kabur—membawa satu-satunya hal yang tak boleh hancur: mimpi adiknya.

Di kota yang tak pernah benar-benar peduli, Nala bekerja tanpa henti. Pagi sebagai kasir, siang di minimarket, malam menjadi barista, bahkan memasak mi di warnet sempit yang pengap. Tubuhnya lelah, perutnya sering kosong, tapi satu hal tak pernah goyah: Niskala harus tetap sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

“Kadang hidup tak harus terus menerus menuruti ego, tetapi juga untuk bertahan hidup dengan mengikuti arus kemanapun membawa”

***

10 TAHUN SEBELUMNYA

Di sebuah desa seorang anak perempuan dipaksakan untuk tumbuh sebagai orang dewasa karena dia harus memikul beban yang berat karena kematian kedua orang tuanya, saat itu ia berusia lima belas tahun dikala orang tuanya meninggal dunia karena kecelakan akibat tanah longsor yang terjadi di desanya. Kejadiannya begitu cepat terjadi, bahkan jasad kedua orang tuanya tak ditemukan.

Kala itu, Hujan turun sejak subuh, rapat dan tanpa jeda, seperti tirai abu-abu yang ditarik perlahan menutup desa kecil di kaki gunung itu. Tanah kebun menjadi lembek, daun-daun kopi menunduk menahan beban air, dan kabut turun lebih rendah dari biasanya seolah gunung sedang menahan napas. Berkebun di lereng gunung adalah pekerjaan yang mereka kenal sejak lama. Ayah selalu berkata, tanah ini baik, asal dijaga dan dihormati. Ibu mengangguk, menambahkan bahwa alam akan memberi selama manusia tahu batasnya.

Kedua orang tuanya tengah berkebun di kaki gunung, yang jaraknya lumayan jauh dari pemukinan, Longsor terjadi di kebun, di kaki gunung. Tanah yang jenuh oleh hujan runtuh tanpa peringatan. Ayah dan Ibu berada tepat di jalur longsoran. Tidak ada waktu berlari. Tidak ada kesempatan menghindar. Sebelum kejadian naas tersebut, sang adik pagi itu berangkat sekolah lebih dulu. Usianya sebelas tahun, kelas lima SD. Ia sempat melambai dari depan rumah, membawa payung kecil yang gagangnya patah di satu sisi. ia ingat betul senyum sanga adik, senyum yang selalu membuatnya merasa ada alasan untuk pulang lebih cepat.

Dia hanya bisa pasrah dan menyalahkan keadaan, bahkan terus-menerus memberikan pertanyaan pada alam semesta kenapa hidupnya harus seperti ini. Hingga perlahan dia berusaha bangkit untuk sang adik mengikhlaskan semua yang terjadi  dengan trauma yang masih teringat jelas di ingatanya.

10 TAHUN SETELAHNYA

Seorang anak perempuan itu kini tumbuh dewasa, dengan paras yang cantik, mata coklat, rambut hitam sebahu. Walaupun ia tak mengenakan riasan kecantikannya sudah terpancar dengan tinggi umunya Wanita indonesia. Namanya Nala, satu kata yang menggambarkan karakter seorang perempuan yang teguh dan kuat disegala kondisi.

Kejadian 10 tahun yang lalu masih sangat jelas diingatannya, setelah sang adik menyelesaikan sekolah dasarnya dan dia juga menyelesaikan sekolah menengah pertama mereka berdua di bawa oleh kerabat jauh sang ibu ke ibu kota. Sari namanya, Nala pikir setelah dibawa oleh kerabat jauh ibunya. Ia pikir hidup yang akan di jalaninya akan berangsur membaik tapi malah semakin buruk. Nala dan juga adiknya yaitu Niskala sama sekali tidak diperbolehkan untuk melanjutkan sekolah mereka dengan alasan tak ada biaya.

“Daripada sekolah buang-buang uang mending kalian cari duit buat tante” ujarnya pada mereka berdua. Setiap kali Nala meminta untuk di daftarkan sekolah Sari selalu menjawabnya dengan alasan tersebut. Bahkan tidak sekali dua kali menyuruh Kala panggilan adik Nala untuk berjualan tisu dilampu merah.

“NALA------NALA” panggil seorang perempuan dengan nada yang sedikit berteriak menyadarkan Nala dari lamunan. Deby namanya dia rekan kerja Nala saat ini, Nala bekerja sebagai barista di sebuah café yang buka dimalam hari.

“maaf deb, kenapa?”

“malah ngelamun, buatin stroberi mactha satu”

“okee deb”

Nala menyiapkan pesanan tersebut, dengan sangat cekatan dia sudah bekerja hampir satu tahun di café tersebut. Saat siang hari dia bekerja sebagai penjaga toko minimarket, setelah itu dia kembali bekerja tanpa henti di sebuah warnet sebagai juru masak mie dan juga makanan yang lainnya. Menjelang malam pada pukul 8 dia beralih profesi sebagai barista café di dekat kontrakannya.

Entah berapa banyak energi yang dimiliki Nala, semua itu ia lakukan agar sang adik Kala bisa terus bersekolah apalagi saat ini mereka berdua hidup di ibu kota yang keras. Dan juga melanjutkan impiannya yang terkubur karena dia tidak bisa bersekolah lagi setelah dibawa pindah oleh Sari, mereka berdua akhirnya kabur dari rumah Sari dengan bekal uang yang dimiliki Nala dari penjualan tisu dan juga kerja yang tidak di ketahui oleh Sari. Saat ini mereka mengontrak di pelosok ibu kota yang harganya sangat murah.

“ ini ya deb” Nala menyodorkan segelas stroberi mactha pada Deby seorang kasir di café tersebut. Deby meneriaki nama pelanggan yang memesan minuman tersebut sedangkan Nala ia sejenak duduk di kursi untuk sekedar menarik nafas.

“nih makan” deby menyodorkan roti yang ada di etalase café.

“lo minta gue makan ini? Gila lo ya nanti gue suruh ganti rugi lagi”

“yeee, udah gue bayar cepet makan”

“beneran?”

“Nala, beneran lah. kalo engga cepetan lo makan gue suruh ganti nih”

“makasih deby”

Nala seraya memakan roti pemberian dari Deby. Nala memakannya dengan sangat lahap, disisi lain Deby memperhatikannya dengan senyum yang mengembang di bibir melihat Nala makan. Bisa dibilang deby itu teman dekatnya Nala, semua kesusahan Nala dia tahu semuanya.

“pelan-pelan nala” ujar deby yang saat itu tengah melayani pembayaran pembeli mendengar Nala yang tersedak, Nala segera melahap semua rotinya karena banyak minuman yang harus dia buat. Tak perlu ditanya darimana keahlian Nala yang bisa membuat kopi tersebut darimana, karena perempuan seperti Nala itu hal yang mudah karena awalnya dia hanya sebagai pembersih di café tersebut hingga sesekali bertanya pada barista sebelumnya. Akhirnya Nala bisa dan kesempatan untuk menjadi barista datang dikala barista sebelumnya resign. Otomatis sang owner tahu atas rekomendasi barista sebelumnya mengangkat Nala menjadi seorang barista.

Jam sudah menunjukkan waktu tengah malam café semakin ramai, bahkan hingga saat ini energi Nala masih terlihat sangat full, Deby yang sedari tadi terus bergerutu dan tersenyum disaat ada pelanggan dengan wajah yang ditekuk terus menggelengkan kepala saat melihat Nala yang sama sekali tidak ada tanda-tanda kelelahan.

“huaaa” Deby duduk dilantai meluruskan kakinya dengan badan yang bersandar di rak. Dia terus memperhatikan Nala yang masih terus tersenyum pada pelanggan terakhir. Nala melihat ke arahnya dan tersenyum

“ stress lu la”

“ kenapa lagi deb?”

“lo terbuat dari apa sih badannya? Pagi kerja diminimarket, sore di warnet, malem disini. Jangan-jangan lu power ranger pink ya?”

Nala tersenyum mendengar perkataan Deby yang saat itu ia tengah membersihkan tumpahan air di dekat mesin kopi.

“ya mau gimana lagi, gue harus penuhin semua kebutuhan adik gue, kebutuhan sehari-hari dan  pendidikannya. Gue gak mau dia merasakan apa yang gue rasain”

“gue sih kalo jadi ade lo bangga banget la”

“gue sih ogah ya punya adik kaya lo” jawab Nala bercanda pada Deby.

“emangnya lo gak mau punya adik yang cantik dan imut kaya gue ini?” Deby bertingkah layaknya seorang idol yang sedangk menunjukan aegyo.

“gak sorry”

Malam semakin larut satu persatu para pelanggan sudah meninggalkan café, Nala dan juga Deby perlahan menutup café dengan membagi tugasnya masing-masing hingga jam menunjukkan pukul 2 malam café dengan sempurna tertutup dengan rapih.

“Gila banyak banget pelanggan yang ke café hari ini” Ucap Deby sembari menghembuskan nafas berat dengan tangan yang menulak pinggang.

“bersyukur deb”

“iyaa nalaaa, ya udah gue pulang ya jangan kangen ya” Jawab Deby mengambil helmnya diloker kemudian berjalan ke arah motor kendaraan yang setiap hari ia gunakan. Nala hanya menganggukan kepala dan tersenyum pada deby kemudian ia berjalan meninggalkan café untuk pulang ke tempat untuk ia beristirahat.

1
wasiah miska nartim
lanjut thooooooooooor
Qilass
jangan lupa, like, komen, vote dan juga subscribe ya biar aku semakin semangat buat nulis. Selamat menikmati kisah Nala
Qilass
di tunggu ya, akan ada up 3 episode sekaligus setiap harinya
Qilass
halo pembaca setia Nala 👋👋, cerita ini akan up setiap hari 3 episode ya jadi tungguin aja kelanjutannya terimakasih 🙏
falea sezi
males deh cwek oon gini jd lacur aja dripada nurutin bapakmu
falea sezi
jangan mau mending kala putus kuliah kalian pergi jauh oon bgt lemah
Qilass: haha dapet banget emosinya kak
total 1 replies
falea sezi
adek g tau diri usir aja lah
wasiah miska nartim
lanjut thoooooooor
wasiah miska nartim
mentalnya nala itu mental baja,semangat thoooooor up nya😁😁
Qilass: Nala memang harus mental Baja, karena dia ngandelin diri sendiri
total 1 replies
anymous
kasiaan banget nala
Sopo Jarwo
sukaaa banget thorr lanjut
Anonymous
nalaaa yang kuat ya
wasiah miska nartim
ko banyak bawang nya thor
Qilass: jujurly aku sebagai author aja gak tega. tapi Nala kuat kok tenang aja
total 1 replies
Sopo Jarwo
okee banget aku penasaran sama si erlic cuuy di misterius banget
anymous
suka banget sama ceritanya. nala sosok Kaka yang tegar, semua ia lakukan demi sang adik. di sisi lain dia juga ketempu sama ayah kandungnya tapi bukannya menanyakan kabar malah memanfaatkannya
Qilass: huhu iya kasian banget ya dia, ikutin ceritanya terus ya. bakal ada plot yang seru kedepannya
total 1 replies
anymous
baskara pilih kasih banget iih
Anonymous
baguss banget Nala ini tipe anak perempuan pertama yang gak mau nyusahin orang
Anonymous
gass up crazy thor
Qilass
semangat dong, tungguin terus up cerita selanjutnya ya. bakal crazy up aku
wasiah miska nartim
semangat up nya thor,ceritanyaaaaaaaaa wooooow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!