Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19—Rumah Sakit Dan ceramah Seorang Ibu
Pagi hari, Rahmat datang di rumah sakit menjenguknya ibunya, lebih pagi daripada biasanya. Aroma obat dan antiseptik menyambutnya. wajah ibunya jauh lebih segar dibanding beberapa minggu lalu.
Mereka berbicara, Rahmat menceritakan sedikit kejadian di sekolahnya dan hari-harinya sebagai kasir part time (tentu mengenai segala hal tentang sistem ia tidak menjelaskan apapun)
Ibunya tertawa mendengarkan semua cerita dari Rahmat, terutama mengenai senior bernama Danu itu yang awalnya selalu menegur rahmat, dan Rahmat sempat mengira dia preman dan sok senioritas, tapi ternyata orang baik, sering mentraktir makanan bakan.
“Dia sangat baik, suatu saat kamu harus membalas kebaikannya, nak!” Ucap sang ibu.
“Iya ibu benar, kak danu memang baik.”
Suasana hening sedikit. Melihat ibunya tersenyum seperti itu adalah kebahagian untuk dia, beberapa hari lalu, ibunya masih tergeletak lemah, posisi saat ia menjenguk bahkan terkadang tidak sadarkan diri.
Tapi berkat ia melunasi biaya pengobatan dan pindah di ruang VIP ibunya jadi sangat bugar seperti ibu dia yang ia kenal.
“omong-omong, ibu …” rahmat membuka pembicaraan. Ini adalah alasan kenapa dia datang pagi-pagi sebelum sekolah dimulai
Ibunya menoleh. “iya kenapa?”
Tanpa banyak basa-basi, ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan dua e-ticket VIP. “Bu… ada konser besar minggu ini. Aku punya tiket dua. VIP. Baris depan. Bahkan bisa backstage.”
Ibunya menyipitkan mata membaca detailnya. “VIP?”
Rahmat mengangguk. “Kalau Ibu mau… kita bisa pergi bareng. Acara mulai hari ini, malam pukul 19.00”
Ada jeda. Ruangan hening lagi untuk sementara waktu.
Ibunya tersenyum lembut, tapi menggeleng pelan. “Dokter belum izinkan Ibu keluar. Masih observasi. Kamu tahu itu.”
Rahmat sebenarnya sudah menduga. Bahkan sebelum datang. Ia terkekeh dalam hati. Sistem pasti tahu ini juga.
Ibunya kembali menatap layar ponsel itu. “Rahmat… ini mahal sekali. Kamu dapat dari mana uangnya?”
Rahmat menjawab santai, “Kerja, Bu.”
Ia tidak berbohong. Hanya tidak menjelaskan semuanya.
Ibunya menatapnya beberapa detik lebih lama. Lalu tersenyum bangga. Sejak kemarin ada perubahan yang hebat dari Rahmat, ia tiba tiba bisa melunasi semua cicilan pengobatan rumah sakit, bahkan membawa dirinya ke ruang VIP. Ia tahu bahwa anaknya bekerja, tapi sebagai part time ia rasa tidak mungkin anaknya bisa membayar semua.
Ada rasa cemas, khawatir sebagai orang tua,namun ia memilih percaya. Anaknya itu adalah pejuang keras sejak kecil, ia pasti dapat solusi disuatu tempat, terlebih dia sangat terharu anaknya bisa memprioritaskan ibu yang sakit-sakit begini.
Rasa terkejut itu pasti akan meningkat lagi kalau ia mengetahui saldo rekening Rahmat yang sekarang sampai miliar, Kalau saja ia tahu pasti ibunya langsung terkejut bukan main, ditambah dengan adanya motor dan mobil baru. Tapi itu ada di lain cerita.
“Ibu tahu kamu anak yang jujur. Kalau kamu bilang kerja, ya pasti kerja keras.”
Rahmat hanya tersenyum kecil.
Lalu ibunya berkata ringan, nada bercanda, “kalau kamu punya tiket dua begitu … mungkin satu tiketnya bisa kamu kasih ke seorang gadis?”
Rahmat langsung menoleh cepat. “Hah?”
“Pacarmu mungkin?”
Rahmat seperti tersambar petir.“Bu! Rahmat nggak punya yang begituan!”
Ibunya malah terkekeh pelan. “Masa? Anak Ibu setampan ini nggak ada yang suka?”
Rahmat merasa harga dirinya diserang secara personal. “Bu, Rahmat ini sibuk, belajar, kerja, aku tidak punya waktu!”
Ibunya hanya mengangguk pelan, tapi senyumnya sulit diartikan. “Justru karena sibuk, kamu perlu hidup sedikit. Kamu sudah berjuang cukup hebat sejak kecil, kerja serabutan membantu ibu, jualan makanan kecil, dll, dan sekarang membiayai ibu … ibu cuma berharap, kamu juga bisa santa-santai seperti remaja pada umumnya. Sesekali menikmati masa muda mu.”
Rahmat terdiam. Kalimat itu… anehnya mengena.