Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Semangkuk Mie Hangat di Tengah Dunia Berdarah
Asap tipis masih mengepul dari sisa rumah yang terbakar ketika malam mulai turun perlahan di Desa Bambu Merah.
Langit senja berwarna jingga keemasan, lalu perlahan berubah menjadi ungu kelam.
Penduduk desa yang selamat mulai membersihkan puing-puing dengan wajah lesu namun penuh rasa syukur.
Nama Wang Long berbisik dari satu mulut ke mulut lain.
Namun pemuda itu sendiri justru berjalan pelan menuju sebuah bangunan kayu yang masih utuh di sudut desa.
Sebuah warung kecil.
Lampion merah tergantung di depan pintu, bergoyang tertiup angin.
Aroma kaldu hangat menyeruak ke udara.
Perut Wang Long yang sejak pagi belum terisi akhirnya memberi tanda protes.
Ia mendorong pintu kayu itu.
Warung Tepi Sungai
Warung itu sederhana.
Meja kayu panjang, beberapa bangku kasar, dan tungku tanah liat di sudut ruangan.
Pemiliknya seorang pria paruh baya bertubuh gemuk dengan wajah ramah, meski masih terlihat pucat akibat kejadian siang tadi.
Ia menatap Wang Long dengan mata berkaca-kaca.
“Pendekar muda… silakan duduk. Kalau bukan karena kau, mungkin warung ini sudah jadi abu.”
Wang Long mengangguk pelan.
“Semangkuk mie sudah cukup.”
“Cukup? Tidak, tidak! Kau penyelamat desa ini. Aku, Zhang Tua, tak akan membiarkan pahlawan makan seadanya!”
Wang Long tersenyum tipis dan duduk di dekat jendela.
Tak lama kemudian semangkuk mie panas tersaji di depannya. Uapnya mengepul, aroma bawang dan kaldu ayam memenuhi ruangan.
Ia baru hendak menyentuh sumpit ketika suara langkah ringan terdengar di belakangnya.
“Tambahkan satu mangkuk lagi.”
Suara perempuan.
Dingin. Jernih.
Wang Long tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
Sin Yin duduk di seberangnya.
Pakaian putihnya telah diganti dengan jubah biru pucat. Rambutnya diikat sederhana, namun tetap sulit menyembunyikan kecantikan yang dingin itu.
Zhang Tua menelan ludah.
“Ah… Nona Bidadari Maut…”
Sin Yin hanya melirik singkat.
“Tidak usah memanggilku begitu.”
Ia lalu menatap Wang Long.
“Anggap saja ini balas budi.”
Wang Long mengangkat alis tipis.
“Aku tidak pernah memintanya.”
Sin Yin menyilangkan tangan.
“Dan aku tidak suka berhutang.”
Sunyi sesaat.
Zhang Tua buru-buru menaruh mie di depan Sin Yin lalu menjauh, memberi ruang bagi dua pendekar muda itu.
Percakapan yang Canggung
Wang Long makan perlahan, gerakannya tenang tanpa suara.
Sin Yin memperhatikannya diam-diam.
“Tubuhmu… tadi siang… benar-benar kebal?” akhirnya ia bertanya.
“Tidak kebal,” jawab Wang Long pendek.
“Hanya cukup keras.”
Sin Yin mendengus pelan.
“Cukup keras? Pedang Liu Sha retak. Itu bukan sekadar keras.”
Wang Long tidak menjawab.
Sin Yin menatapnya lebih lama.
“Siapa gurumu?”
Pertanyaan itu membuat sumpit Wang Long berhenti sejenak.
“Seorang tua di gunung.”
“Nama?”
“Tidak penting.”
Sin Yin menatap tajam.
“Kau misterius.”
Wang Long menyesap kuah mie.
“Dan kau terlalu ingin tahu.”
Sin Yin hampir saja berdiri karena kesal, namun menahan diri.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa seperti kalah dalam percakapan.
Ia mengganti topik.
“Partai Tengkorak Hitam tidak akan diam. Liu Sha adalah murid inti. Mereka akan membalas.”
“Aku tahu.”
“Kau tidak takut?”
Wang Long menatapnya lurus.
“Takut tidak akan mengubah apa pun.”
Hening kembali menyelimuti mereka.
Namun entah mengapa, suasana itu tidak terasa canggung.
Hangatnya lampion, aroma kaldu, dan bunyi kayu terbakar di tungku menciptakan suasana damai yang jarang mereka rasakan.
Untuk sesaat, dunia persilatan terasa jauh.
Senja yang Menggantung
Setelah makan selesai, Wang Long berdiri.
“Aku harus pergi.”
Sin Yin mengernyit.
“Sekarang?”
“Desa sebelah cukup jauh. Aku ingin sampai sebelum tengah malam.”
Sin Yin ikut berdiri.
“Kau bodoh atau terlalu percaya diri?”
Wang Long memandangnya tenang.
“Hanya tidak ingin merepotkan orang.”
Sin Yin melangkah mendekat.
“Sudah terlalu sore. Hutan di antara desa ini dan desa berikutnya bukan tempat aman.”
Wang Long terdiam.
Sin Yin melanjutkan,
“Ada binatang buas. Dan bukan hanya itu.”
“Maksudmu?”
“Pengintai Partai Tengkorak Hitam mungkin masih berkeliaran. Jika mereka melihatmu sendirian di hutan malam hari, mereka akan menyerang dari segala arah.”
Wang Long mempertimbangkan.
Ia memang tidak takut.
Namun ia bukan orang ceroboh.
Zhang Tua tiba-tiba mendekat dengan wajah canggung.
“Pendekar Wang… kalau tidak keberatan, kau bisa menginap di sini. Warung ini punya satu kamar kecil di belakang. Tidak seberapa, tapi bersih.”
Wang Long menoleh.
Zhang Tua menunduk hormat.
“Anggap saja ucapan terima kasih dari desa ini.”
Sin Yin menatap Wang Long.
“Kau bisa pergi besok pagi.”
Angin sore berhembus masuk lewat jendela, membawa hawa dingin dari sungai.
Akhirnya Wang Long mengangguk pelan.
“Baik.”
Zhang Tua tersenyum lega.
“Bagus! Bagus sekali! Aku akan siapkan kamar.”
Malam yang Sunyi
Malam turun sepenuhnya.
Langit bertabur bintang.
Desa perlahan menjadi sunyi.
Wang Long berdiri di luar warung, memandang sungai yang memantulkan cahaya bulan.
Langkah ringan terdengar di belakangnya.
Sin Yin.
“Kau belum tidur?” tanyanya.
“Belum.”
Sin Yin berdiri di sampingnya.
“Kenapa kau berkelana?”
Wang Long memandang air sungai yang mengalir.
“Untuk mengakhiri sesuatu.”
“Partai Tengkorak Hitam?”
“Semua golongan hitam.”
Sin Yin menoleh cepat.
“Itu bukan cita-cita kecil.”
“Aku tidak pernah berniat membuatnya kecil.”
Sin Yin terdiam lama.
Angin malam membuat rambutnya bergoyang lembut.
“Aku juga punya urusan dengan mereka,” katanya pelan.
Wang Long tidak bertanya lebih jauh.
Namun untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa jalan mereka mungkin akan searah.
Sin Yin menatapnya.
“Wang Long.”
“Ya?”
“Jangan mati sebelum aku bisa mengalahkanmu.”
Wang Long tersenyum tipis.
“Kalau begitu, kau harus tetap hidup juga.”
Sin Yin memalingkan wajahnya, menyembunyikan sesuatu yang samar di pipinya.
Mungkin kesal.
Mungkin tersipu.
Bayangan di Atap
Namun kedamaian itu tidak sepenuhnya tanpa mata yang mengintai.
Di atap rumah yang gelap, sebuah bayangan duduk bersila.
Matanya mengamati warung dari kejauhan.
Angin berdesir pelan.
“Jadi itu orangnya…” gumam suara rendah.
Sosok itu menghilang tanpa suara.
Malam kembali sunyi.
Di dalam kamar kecil warung, Wang Long duduk bersila.
Ia memejamkan mata.
Tenaga dalam sembilan naga mengalir pelan di dalam tubuhnya.
Pusaka Naga di dalam ruang kesadarannya bergetar halus.
Seakan memperingatkan.
Bahwa perjalanan ini baru saja dimulai.
Dan malam ini—
Takdirnya semakin terikat dengan seorang gadis bernama Sin Yin.
Bidadari Maut.
Bersambung...