Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Malam gelap yang terencana
Setelah itu Salsa tersenyum bahagia. Di dalam hatinya, ia sudah membayangkan malam yang akan ia habiskan bersama Raka kembali. Perasaan senang itu membuatnya hampir lupa bahwa ia sedang berada di bawah tatapan banyak mata.
"Baiklah, sebaiknya kita istirahat." usul Salsa dengan nada ringan.
Usulan itu langsung disambut anggukan serempak dari mereka. Suasana yang semula canggung perlahan mulai mencair, setidaknya di permukaan.
Tak lama kemudian mereka pun beranjak dari ruang makan menuju kamar masing-masing. Namun sebelum melangkah lebih jauh, Salsa sempat memberi isyarat kecil kepada Raka, sebuah tatapan singkat yang penuh makna.
Isyarat itu tidak luput dari penglihatan Liora.
"Cih! Di dekat suaminya pun dia masih berani seperti itu." cibir Liora dalam hati.
Ia benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Salsa yang menurutnya sudah melewati batas kewajaran. Bagi Liora, sahabatnya itu seolah telah kehilangan akal sehat, dibutakan oleh perasaan dan nafsu yang tidak terkendali.
Dengan langkah tenang, Liora mengikuti mereka menuju kamar tamu yang telah disiapkan untuknya. Di balik wajahnya yang tampak biasa saja, rencana besar terus berputar di dalam kepalanya.
Salsa berjalan lebih dulu, menunjukkan arah kamar tamu untuk Liora.
Setelah sampai di depan pintu kamar tamu, Salsa berhenti dan berbalik menatap Liora.
"Selamat istirahat, Li." ucap Salsa dengan senyum yang dibuat seramah mungkin.
"Iya, Sa. Terima kasih sudah mengizinkanku untuk tinggal satu malam di rumahmu." jawab Liora tulus, meskipun nada suaranya menyimpan makna yang hanya bisa ia pahami sendiri.
Salsa mengangguk kecil.
"Sama-sama, Li." balasnya dengan senyum manis penuh kepura-puraan.
Untuk sesaat mereka saling menatap, seperti ada keheningan tak terlihat yang menggantung di antara keduanya. Dua sahabat yang kini berdiri berhadapan, namun diam-diam menyimpan rahasia dan rencana masing-masing.
Setelah itu Salsa pamit dan melangkah pergi meninggalkan Liora di depan kamar tamu. Begitu pintu tertutup, senyum di wajah Liora perlahan memudar.
Ia menatap pintu kamar itu sejenak, lalu menarik napas panjang.
"Silakan nikmati malam ini, Salsa… karena setelah ini, semuanya tidak akan sama lagi." batin Liora pelan.
Setelah Salsa pergi, Liora menutup pintu kamar tamu perlahan. Suasana hening langsung menyelimuti ruangan itu. Ia berdiri sejenak, memastikan tidak ada siapa pun yang mengawasinya.
Dengan gerakan tenang, Liora meraih tasnya yang tergeletak di atas meja kecil. Tangannya mencari ponsel di dalamnya, lalu mengeluarkannya dengan wajah serius.
Tatapannya berubah dingin.
Tanpa ragu, ia menekan sebuah nomor yang sudah lama tersimpan di ponselnya. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya terhubung.
"Aku butuh alat itu malam ini. Kirimkan ke alamat yang sudah aku kirim." ucap Liora dengan suara tegas dan datar.
Tidak ada keraguan sedikit pun dalam nada bicaranya. Keputusannya sudah bulat, rencananya sudah tersusun rapi di kepalanya.
Tanpa menunggu jawaban dari orang di seberang sana, Liora langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Ia menatap layar ponselnya sejenak, lalu tersenyum tipis.
"Permainan ini akan segera mencapai babak yang lebih menarik." batinnya pelan.
Malam itu, di balik ketenangan rumah besar tersebut, sebuah rencana diam-diam mulai bergerak tanpa sepengetahuan siapa pun.
Sementara di sisi lain rumah, Salsa baru saja mengantar Raka menuju kamar yang akan ia tempati malam ini. Langkah mereka berdua terdengar pelan di sepanjang koridor lantai atas, seolah takut kehadiran mereka diketahui orang lain.
Sesampainya di depan pintu kamar tamu, Salsa berhenti lalu berbalik menatap Raka dengan senyum penuh arti.
"Ini kamar kamu, Sayang. Aku akan ke kamarmu setelah Kevandra tertidur. Sampai jumpa nanti malam." ucap Salsa dengan suara lirih namun penuh janji.
Tanpa ragu, Salsa mengecup pipi Raka singkat, seolah ingin menegaskan bahwa malam ini hanya milik mereka berdua.
Raka tersenyum tipis, menatap Salsa dengan tatapan penuh cinta dan gairah yang sulit ia sembunyikan.
"Aku menunggumu." jawabnya pelan.
Salsa hanya tersenyum manis sebelum akhirnya berbalik meninggalkan Raka sendirian di depan kamar. Hatinya berdebar membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam.
Sementara itu, Raka masuk ke dalam kamar dengan perasaan puas. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa setiap langkah mereka malam ini sebenarnya sedang diawasi oleh rencana lain yang jauh lebih berbahaya.
Salsa kini melangkah menuju kamar ia dan Kevandra. Langkahnya pelan, seolah menyembunyikan kegelisahan yang sedang berputar di dalam kepalanya.
Saat membuka pintu kamar, ia melihat Kevandra baru saja selesai berganti pakaian. Pria itu tampak tenang seperti biasa, lalu perlahan berjalan menuju tempat tidur tanpa banyak bicara.
Salsa masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan hati-hati. Ia melangkah mendekat ke arah Kevandra, bukan untuk menghampirinya, melainkan hanya untuk beristirahat di sisi lain tempat tidur.
Ia menuju kasur berukuran besar yang selama ini mereka tempati bersama, namun terasa begitu dingin dan berjarak. Tidak ada kehangatan seperti layaknya pasangan suami istri.
Salsa duduk di tepi ranjang sejenak, mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri. Pikirannya masih dipenuhi bayangan Raka dan rencana yang sudah ia susun untuk malam ini.
Perlahan ia membaringkan tubuhnya dan bersiap memejamkan mata, berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja.
Namun sebelum Salsa benar-benar terlelap, tiba-tiba suara Kevandra memecah keheningan di dalam kamar itu.
"Salsa, apa kamu masih belum menerima pernikahan kita?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, datar namun terasa tajam menusuk. Salsa langsung membuka matanya kembali. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tidak menyangka Kevandra akan bertanya seperti itu malam ini.
"Aku lelah, Kevandra. Aku ingin istirahat. Sebaiknya kita lanjutkan pembicaraan itu esok pagi saja." ucap Salsa pelan tanpa menatap wajah suaminya.
Kevandra menoleh ke arahnya. Tatapannya tenang, tetapi penuh pertanyaan yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
"Kenapa kamu selalu menghindar, Sa? Jika kamu memang tidak menginginkan pernikahan ini, aku bisa mengembalikanmu pada orang tuamu dengan baik-baik." ujar Kevandra dengan nada datar, namun terasa menusuk.
Deg!
Jantung Salsa berdegup kencang mendengar kalimat itu. Kata-kata Kevandra seolah menggema di kepalanya. Dikembalikan pada orang tuanya? Itu sama saja dengan menggali kuburannya sendiri. Ia tahu betul seperti apa ayahnya. Hukuman dan kemarahan pasti menantinya jika hal itu benar-benar terjadi.
Salsa terdiam. Tangannya mencengkeram selimut pelan, berusaha menutupi kegelisahan yang mulai menguasai dirinya.
Di sisi lain, pikirannya semakin kacau. Jika malam ini ia menerima Kevandra sebagai suami seutuhnya, pasti Kevandra akan meminta haknya. Lalu apa yang harus ia katakan jika Kevandra mengetahui bahwa dirinya bukan lagi gadis?
Rahasia itu terlalu besar. Dan ia belum siap menghadapi konsekuensinya.
Salsa memejamkan mata sejenak. Hatinya terombang-ambing di antara dua pilihan yang sama-sama berbahaya. Ia bukan tidak mencintai Kevandra. Jauh di lubuk hatinya, ia tahu ia memiliki perasaan untuk pria itu.
Namun di saat yang sama, ia juga menginginkan Raka tetap bersamanya.
Ia tidak ingin kehilangan Kevandra, tetapi ia juga tidak ingin melihat Liora bahagia bersama Raka.
Perasaan egois itu semakin menguasai hatinya, membuat Salsa terjebak dalam kebimbangannya sendiri tanpa tahu jalan keluar.
Salsa menggigit bibirnya, merasa bimbang dengan semua rencana yang ia susun untuk mengambil apa pun yang menjadi milik Liora.
"Aku hanya butuh waktu." bisik Salsa pelan.
"Waktu sampai kapan?" tanya Kevandra dengan nada tenang namun penuh tekanan.
Tidak ada jawaban. Keheningan kembali mengisi ruang di antara mereka. Salsa memilih diam, seolah tidak memiliki keberanian untuk menjawab pertanyaan itu.
Kevandra akhirnya bangkit dari ranjang, meraih ponselnya, lalu melangkah keluar kamar tanpa suara.
Seketika pintu tertutup perlahan, Kevandra menyadari bahwa penolakan Salsa bukan sekali dua kali. Ini sudah kesekian kalinya. Ia mulai merasa lelah menghadapi sikap istrinya yang selalu menghindar.
Kevandra tidak ingin memiliki rumah tangga seperti ini.
Di ruang keluarga, Kevandra duduk sendirian. Lampu redup menyinari wajahnya yang tampak letih. Ia terdiam cukup lama, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam pernikahannya.
Di mana letak kesalahannya?
Di mana letak kekurangannya di mata Salsa?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya tanpa menemukan jawaban.
Tiba-tiba suara Liora memecah kesunyian malam.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan, Kevan. Pasti melelahkan jika kita mengharapkan seseorang yang tidak mengharapkan kita. Karena aku pun merasakannya." ucap Liora dengan nada lirih.
Kalimat itu sederhana, tetapi tepat sasaran.
Kevandra terdiam. Kata-kata Liora seolah menyentuh bagian terdalam dari kegelisahan yang sejak tadi ia pendam sendiri.
Untuk pertama kalinya malam ini, Kevandra merasa ada seseorang yang benar-benar mengerti perasaannya.
Sementara itu, Liora tersenyum smirk tanpa disadari Kevandra.
"Berhasil." batin Liora.
kentang banget ini 😭
cepet banget dia bersimpati dan ada tanda peduli lebih
kalau posisinya dibalik dia pun berpotensi selingkuh juga kaya Raka hadehhh...
ku tak jadi kibarkan bendera hijau
padahal sempet simpati sama dia ni 😏
bahaya ga jadi green flag