Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2Langkah di Antara Pandangan
Gema zikir setelah salat Ashar masih terdengar lamat-lamat dari pengeras suara musala saat Rina merapikan mukenanya. Tanpa menunggu teman-temannya yang lain, ia segera memakai tas ranselnya dan bergegas. Sebagai santri kalong atau santri luaran, Rina memang tidak menginap di asrama. Ia tinggal bersama neneknya yang rumahnya tak jauh dari area pesantren.
Langkah kaki Rina yang kecil menyusuri jalanan setapak pesantren. Untuk menuju gerbang keluar, ia harus melewati rute yang selalu membuatnya merasa tidak nyaman: area asrama putra. Karena letak sekolah dan asrama putri berada di bagian paling dalam kompleks pesantren, mau tidak mau, setiap santriwati yang hendak pulang atau keluar harus melintasi jalan utama yang berhadapan langsung dengan teras-teras asrama putra.
Rina menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia menarik ujung cadarnya agar lebih rapat, berusaha menjadi "tidak terlihat". Baginya, melewati area ini seperti berjalan di bawah mikroskop; ia merasa banyak pasang mata yang memperhatikannya, meskipun mungkin itu hanya perasaannya saja.
Di sisi lain, di teras asrama putra yang letaknya agak tinggi, Gus Azkar baru saja keluar dari masjid. Ia sedang berbincang singkat dengan salah satu pengurus asrama mengenai jadwal roan (kerja bakti) akhir pekan nanti. Namun, fokusnya terpecah saat matanya menangkap sosok mungil yang berjalan terburu-buru di bawah sana.
Sosok itu sangat ia kenali. Rina. Dengan tas yang tampak agak berat untuk ukuran tubuhnya, gadis itu berjalan layaknya orang yang sedang dikejar waktu. Gus Azkar menghentikan pembicaraannya sejenak, matanya mengikuti pergerakan Rina yang terlihat sangat canggung saat beberapa santri putra yang sedang duduk di depan kamar mulai berbisik-bisik melihatnya lewat.
Gus Azkar merasakan dadanya sedikit bergejolak. Ia tidak suka melihat santri putra yang tidak menjaga pandangannya, namun ia juga bertanya-tanya, mengapa Rina harus pulang secepat ini? Apakah neneknya menunggunya dengan mendesak? Atau ia hanya ingin segera lari dari atmosfer pesantren yang menyesakkan baginya?
"Ustadz? Ustadz Azkar?" panggil pengurus asrama itu, bingung karena sang Gus tiba-tiba terdiam.
Gus Azkar tersentak, lalu berdeham dingin untuk menutupi rasa canggungnya. "Ya. Lanjutkan. Pastikan semua sampah di selokan dibersihkan," ucapnya singkat dengan nada galak yang biasa ia gunakan.
Matanya kembali melirik ke arah jalanan, namun Rina sudah hilang di balik tikungan gerbang. Ada rasa aneh yang mengganjal di hati Gus Azkar. Ia terbiasa melihat santri putri yang justru mencari perhatian saat lewat di depan asrama putra—memperbaiki jilbab atau berbicara dengan suara yang dikeraskan—tapi Rina benar-benar berbeda. Gadis itu tampak ingin menghilang ditelan bumi.
Rina terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Napasnya sedikit memburu saat ia berhasil keluar dari gerbang utama pesantren. Di kepalanya, bayangan wajah neneknya yang mulai sepuh sudah menanti. Ia harus segera sampai rumah untuk membantu menyiapkan makan malam dan membersihkan rumah.
Pikiran Rina kembali melayang pada teguran Gus Azkar di kelas tadi. “Ada yang kamu pikirkan?” Suara berat itu seolah masih terngiang di telinganya.
Rina menghela napas panjang di balik cadarnya. Ia bukannya sengaja ingin menjadi malas atau tidur di kelas, tapi rasa lelah karena harus mengurus rumah dan belajar hingga larut malam seringkali tak tertahankan.
"Maafkan saya, Gus," bisiknya pelan pada angin sore. "Saya hanya mencoba bertahan hidup di antara banyak hal yang tidak saya pahami."