Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Sebuah Dinasti
Di dalam ruang kerja yang pengap dengan aroma maskulin, Arlan dan Rey duduk terpaku di depan layar monitor. Strategi mereka telah matang. Mereka tidak akan melakukan tindakan bunuh diri dengan menyerang seluruh klan Sanjaya yang memiliki akar hingga ke pucuk pemerintahan. Target mereka spesifik: Aldi Sanjaya.
Beberapa dokumen yang dibawa Jack berisi bukti otentik mengenai penggelapan dana proyek infrastruktur dan keterlibatan Aldi dalam jaringan perdagangan orang di wilayah pinggiran juga penyalahgunaan obat terlarang. Bukti itu cukup untuk menyeret Aldi ke balik jeruji besi.
Arlan tahu, keluarga besar Sanjaya mungkin akan mengerahkan segala cara untuk menebusnya nanti, namun serangan ini adalah pesan terbuka. Sebuah deklarasi bahwa Gisel tidak lagi berdiri sendiri di bawah bayang-bayang Jalan Bunga.
Tok... Tok... Tok...
Rey bangkit untuk membukanya dan mendapati Gisel berdiri di sana dengan nampan kayu di tangannya.
"Ini camilan dan minuman untuk kalian," ucap Gisel lembut.
"Terima kasih, Gisel. Kami memang membutuhkannya," jawab Rey seraya menerima nampan itu dan kembali menutup pintu.
Melihat nampan berisi sandwich gandum dan teh hangat, Arlan menepuk dahinya sendiri. Ia terlalu tenggelam dalam rencana busuk Aldi Sanjaya hingga melupakan sarapan yang dibuat Gisel pagi ini. Gisel, dengan segala ketulusannya, tetap memperhatikan mereka meski ia sendiri berada di pusat badai.
"Makanan buatan Gisel memang tidak pernah mengecewakan," gumam Jack yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya.
Tanpa menunggu dipersilakan, ia sudah menyambar sepotong sandwich sebelum Rey sempat meletakkannya di meja.
"Kau sangat mengenalnya, ya?" tanya Rey dengan nada menyelidik.
"Tentu saja. Gisel sudah seperti adikku sendiri sejak kami masih ingusan di gang itu," jawab Jack santai, namun matanya berkilat penuh emosi yang sulit diterjemahkan.
Arlan merasakan sedikit sesak di dadanya, rasa tidak suka yang tidak logis terhadap kedekatan Jack dan Gisel. Namun, ia meredam ego itu. Prioritasnya saat ini adalah keamanan Gisel. Kehadiran Jack bukan hanya soal informasi, tapi juga soal otot dan pengalaman dunia bawah yang tidak dimiliki Arlan maupun Rey.
Pertemuan itu berakhir singkat. Rey segera berkemas; ia memiliki janji dengan seorang jurnalis investigasi kepercayaan untuk mulai membocorkan data tersebut secara bertahap ke media nasional. Mereka memilih untuk menggiring opini pubilk untuk memberikan umpan.
"Kamu tinggal di kamar ini sementara waktu," kata Arlan sambil menunjukkan kamar tamu kepada Jack.
Jack hanya mengangguk singkat. Namun, baru saja ia meletakkan tasnya, ponselnya bergetar hebat. Jack membaca sebuah pesan, dan wajahnya seketika berubah pucat. Tanpa sepatah kata pun, ia berlari keluar kamar, menyambar kunci mobil, dan pergi meninggalkan rumah Arlan dengan kecepatan tinggi.
Arlan mengernyitkan dahi, namun ia tidak ingin ikut campur lebih jauh selama itu tidak mengancam keamanan Gisel.
Arlan melangkah menuju kamar utama. Di balik selimut tebal, Keira telah terlelap dengan napas yang teratur. Di sudut ruangan, Gisel duduk di depan meja belajar, masih berkutat dengan buku-buku sekolahnya.
"Apa tamunya sudah pulang?" tanya Gisel tanpa menoleh.
"Sudah. Tapi untuk sementara, Jack akan tinggal bersama kita. Apa kamu keberatan?" Gisel menggeleng pelan.
“Tidak masalah.”
Arlan berjalan mendekat, lalu duduk bersimpuh di samping kursi Gisel. Suasana mendadak menjadi sangat intim dan serius.
"Gisel..."
Gisel tidak menjawab, ia menatap Arlan lurus. Tatapannya bening, menuntut kejujuran. Arlan menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa keraguan di hatinya.
"Jack membawa informasi yang bisa menggulingkan Aldi Sanjaya. Dia juga akan membantuku melindungimu. Tapi, jujur saja... aku tidak bisa menjamin hasil akhirnya akan sempurna. Aku takut langkahku justru membuat masalah ini semakin besar."
Gisel terdiam sejenak. Ia melihat gurat kelelahan dan ketidakpastian di wajah suaminya. Dengan gerakan ragu namun pasti, Gisel merosot sehingga mereka sejajar dan menyentuh punggung tangan Arlan.
"Tidak apa-apa, Om. Apapun hasilnya nanti, kita hadapi sama-sama. Aku yang membawa masalah ini ke dalam hidupmu. Maafkan aku karena hanya bisa merepotkanmu sejauh ini."
"Jangan pernah berkata seperti itu!" potong Arlan cepat.
Ia membalikkan tangannya dan menggenggam jemari Gisel dengan erat.
"Kamu tidak pernah merepotkan. Kamu adalah bagian dari hidupku sekarang."
Tatapan Arlan tidak mengandung penghakiman atau rasa kasihan yang merendahkan. Di mata Arlan, Gisel melihat rasa hormat dan kasih sayang yang tulus. Gisel tersenyum, sebuah senyuman kecil yang membuat beban di pundak Arlan terasa meluruh seketika.
Di sisi lain kota, Jack melajukan mobilnya bak kesetanan menuju Jalan Bunga. Firasatnya benar. Saat kakinya menginjak pelataran rumah Om Arman, pemandangan di depannya adalah neraka.
Jatmiko berdiri dengan angkuh, memegang tongkat pemukul yang berlumuran darah. Di bawah kakinya, Om Arman tergeletak bersimbah darah, mencoba melindungi kepalanya.
Krak!
Suara tulang yang patah terdengar begitu ngilu saat tongkat itu menghantam lutut Om Arman. Tante Ira yang sejak tadi diikat di sudut halaman berhasil meronta lepas. Ia berlari membabi buta, mendekati suaminya yang sudah berada di ambang ketidaksadaran.
Jatmiko tertawa puas, suara tawa yang memenuhi udara menjelang siang yang amis. Ia menjambak rambut Tante Ira dengan kasar, memaksa wanita itu menatap wajahnya.
"Memohonlah padaku, Manis! Mohon agar aku mengampuni nyawa suamimu yang sudah tidak berguna ini. Salahkan dia yang terlalu sombong menantang Tuan Aldi!"
Tante Ira mencoba berteriak, namun suaranya teredam oleh kain yang masih menyumpal mulutnya. Jatmiko menyeringai, jemarinya mengusap pipi Tante Ira dengan tatapan buas.
"Tubuhmu masih lumayan. Bagaimana kalau kau melayaniku sebagai ganti nyawa Arman?"
"Lepaskan dia sekarang juga, atau kupastikan tanganmu tidak akan pernah bisa memegang tongkat itu lagi!"
Suara Jack menggelegar di antara kerumunan. Ia melangkah maju dengan aura intimidasi yang begitu pekat hingga beberapa anak buah Jatmiko mundur selangkah. Jack mencengkeram pergelangan tangan Jatmiko yang memegang rambut Tante Ira dengan kekuatan yang mematikan.
Jatmiko adalah seorang oportunis; ia tahu kapan harus menyerang dan kapan harus mundur. Melihat kilat mata Jack yang siap membunuh, ia perlahan melepaskan cengkeramannya.
"Cih, kau tahu sedang berhadapan dengan siapa?”
Jack mengabaikan provokasi itu. Ia segera membuka ikatan dan bungkaman Tante Ira.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang," bisik Jack saat melihat kondisi kedua lutut Om Arman yang mengerikan.
"Kau pikir kau bisa membawa mereka pergi begitu saja?" tanya Jatmiko, mencoba mempertahankan wibawanya di depan anak buahnya.
Jack berhenti memapah tubuh Om Arman sejenak. Ia menoleh dengan tatapan dingin.
"Katakan pada tuanmu. Om Arman sudah tamat. Dia sudah tidak berguna lagi bagi kalian. Jalan Bunga sekarang milikmu, Jatmiko. Ambillah sampah ini!"
Jatmiko membelalakkan matanya. Ia tahu Jack, tapi ia tidak menyangka anak yang dulu pernah lari ketakutan saat tawuran, sekarang berani menantang orang yang bahkan dirinya sendiri tidak berani menyinggungnya.
Jack membawa Om Arman dan Tante Ira melewati kerumunan yang terdiam. Di depan gerbang, Jack berhenti dan menatap sisa-sisa anak buah setia Om Arman yang masih berdiri mematung.
"Kalian telah setia pada Om Arman, dan aku menghargai itu. Tapi lihatlah pria yang kalian bela sekarang; dia sudah hancur. Sekarang, tentukan pilihan kalian. Tetap di sini menjadi anjing Jatmiko, atau berhenti selamanya dari dunia abu-abu ini dan hiduplah sebagai manusia biasa."
Suasana hening sesaat. Perlahan, kelompok itu terpecah. Sebagian besar melemparkan senjata mereka ke tanah, memilih untuk pergi dari kegelapan yang telah merenggut segalanya, sementara segelintir sisanya berjalan mendekat ke arah Jatmiko, memilih tunduk pada penguasa baru yang lebih kejam.
Hari itu, Jalan Bunga benar-benar berubah. Dinasti Arman runtuh, menyisakan luka yang mungkin tak akan pernah sembuh.
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏