NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: erma _roviko

Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.

Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.

“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”

Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

“Tahan tanganmu, Damian, atau aku akan memastikan serpihan kaca ini tertanam lebih dalam di nadiku daripada membiarkanmu menyentuhnya.”

Alisha menarik lengannya dengan sentakan kasar. Ia bersandar pada dinding semen ekspos yang dingin di sudut apartemen bergaya industrial itu. Cahaya lampu gantung yang temaram memantul pada lantai semen yang kasar, menciptakan bayangan panjang yang tampak mengancam. Luka kecil di lengannya akibat serpihan kaca mobil di gerbang tadi masih mengeluarkan darah segar yang membasahi kain sutra gaunnya.

“Lukamu perlu dibersihkan, Alisha. Infeksi akan memperburuk keadaan,” ujar Damian dengan nada rendah.

“Jangan berpura-pura menjadi penyelamat. Kau lebih ahli menjadi sipir penjara.”

“Aku hanya ingin membantu.”

“Bantuanmu selalu datang dengan harga yang harus kubayar dengan harga diriku.”

Damian menghela nafas panjang dan meletakkan kotak pertolongan pertama di meja kerja beton. Di sudut ruangan, Arka duduk membelakangi mereka di depan tiga monitor yang berpendar biru. Jemari bocah itu menari cepat di atas papan ketik, menciptakan irama ketukan yang konstan dan tajam. Alisha menekan luka di lengannya sendiri, mengabaikan rasa perih yang berdenyut di bawah kulitnya.

“Jelaskan padaku tentang uang itu, Damian. Jangan gunakan alasan klise lagi.”

Alisha menuntut jawaban dengan mata yang berkilat tajam di bawah cahaya lampu. Damian berdiri kaku, menatap lurus ke arah jendela besar yang menampilkan siluet gedung pencakar langit Jakarta yang gelap.

“Uang itu terkirim dari rekening pribadiku setiap tanggal sepuluh,” jawab Damian pelan.

“Tapi tidak pernah sampai. Kau membiarkan anakmu kelaparan selama enam tahun!”

“Aku baru tahu malam ini mengapa dana itu selalu kembali sebagai transaksi gagal.”

“Tentu saja. Dan sekarang kau akan menyalahkan sistem perbankan?”

“Aku menyalahkan Jimmy.”

Alisha tersentak, matanya melebar karena tidak percaya. “Jimmy? Tangan kananmu yang paling setia?”

“Jimmy adalah orang yang mengelola jalur anonim itu. Ternyata dia bekerja ganda untuk Ibuku selama ini.”

Damian membalikkan badan, menunjukkan wajah yang tampak lelah dan hancur. Pengkhianatan Jimmy adalah belati yang tertancap tepat di punggungnya. Pria yang ia anggap sebagai saudara seperjuangan ternyata adalah mata-mata paling efektif milik Nyonya Raina Sagara.

“Setiap sen yang kukirim untukmu diputar kembali oleh Jimmy ke rekening yayasan milik Ibu,” lanjut Damian.

“Jadi Jimmy membohongimu selama enam tahun dan kau tidak merasakannya?”

“Dia menyerahkan laporan palsu setiap bulan. Dia menunjukkan foto-foto palsu tentang kehidupanmu yang tercukupi di sana.”

“Kau pemimpin besar Sagara Group, tapi kau dibodohi oleh asistenmu sendiri di bawah hidungmu.”

Alisha tertawa getir sambil meremas lengannya yang terluka. Ia merasa dikelilingi oleh jaring laba-laba yang sangat luas. Tidak ada tempat yang aman, tidak ada orang yang jujur, bahkan di lingkungan terdekat Damian sekalipun.

“Ibuku memegang sesuatu tentang keluarga Jimmy. Itu sebabnya dia tidak punya pilihan,” bela Damian dengan suara parau.

“Semua orang di sekitarmu punya alasan untuk menusuk dari belakang. Dan aku adalah korban dari semua alasan bodoh itu!”

“Aku akan menghitung semuanya dengan Jimmy nanti. Sekarang, biarkan aku mengobati lenganmu.”

Damian melangkah maju satu kali lagi, namun Alisha mengangkat tangannya, memberi tanda berhenti yang mutlak. Ia lebih memilih merasakan perih luka fisiknya daripada merasakan kehangatan palsu dari tangan seorang Sagara.

Baginya, setiap sentuhan Damian sekarang terasa seperti manipulasi yang dibungkus dengan empati.

Tiba-tiba, suara bip panjang terdengar dari meja kerja Arka. Bocah itu memutar kursinya dengan cepat. Wajahnya yang kecil tampak sangat serius di bawah sorotan lampu ruangan.

“Ayah, Ibu, hentikan drama ini. Kita punya masalah yang jauh lebih mendesak,” ujar Arka.

“Apa yang terjadi, Arka? Apakah kau menemukan peretas lain?” tanya Damian.

“Ledakan di depan apartemen tadi bukan untuk membunuh kita. Itu adalah teknik diversion.”

Arka mengambil tas kecil milik Alisha yang tergeletak di meja makan kayu. Ia menunjukkan layar tabletnya yang menampilkan grafik lonjakan frekuensi radio di sekitar tas tersebut. Garis-garis merah bergetar hebat di layar, menunjukkan adanya transmisi data aktif yang sedang berlangsung.

“Maksudmu ada pelacak di sana?” Alisha mendekat dengan wajah pucat.

“Bukan sekadar pelacak. Sesuatu yang lebih canggih dan lebih intim,” jawab Arka.

Arka merobek lapisan dalam tas Alisha dengan pisau kecil. Dari balik kain satin itu, ia mengeluarkan sebuah benda tipis berbentuk cakram kecil, tidak lebih besar dari kancing baju. Benda itu berwarna hitam pekat dengan satu lampu mikro yang berkedip setiap lima detik.

“Alat penyadap suara frekuensi tinggi,” gumam Damian sambil mengepalkan tangan.

“Jangkauannya luar biasa. Benda ini mengirimkan setiap kata yang kita ucapkan di ruangan ini langsung ke peladen pusat Sagara,” jelas Arka.

Alisha merasakan dingin yang luar biasa menjalar di punggungnya. Ia menatap benda kecil itu dengan rasa ngeri. Segala pengakuan Damian, segala amarahnya, dan semua rencana mereka telah terdengar oleh Nyonya Raina secara langsung.

“Seseorang menanamnya saat terjadi kekacauan ledakan di gerbang tadi,” lanjut Arka.

“Berarti pengawal yang membantumu keluar dari mobil tadi... salah satu dari mereka adalah orang Ibu,” desis Damian.

Damian mengambil alat penyadap itu dan menghancurkannya dengan tumit sepatu botnya hingga hancur menjadi debu logam. Namun, ia tahu tindakan itu sudah terlambat. Lokasi apartemen yang ia anggap sebagai benteng terakhir telah terbongkar. Keamanan mereka telah menguap bersama udara malam Jakarta.

“Kita harus pergi dari sini sekarang juga!” perintah Damian.

“Ke mana lagi? Kau akan membawaku ke penjara rahasia lainnya?” Alisha menatap Damian dengan penuh curiga.

“Kita tidak punya waktu untuk berdebat, Alisha! Jika penyadap ini aktif, tim keamanan Ibu sudah berada di lift sekarang!”

Arka menutup laptopnya dengan cepat dan memasukkannya ke dalam tas ransel. Ia menatap pintu baja apartemen itu dengan binar mata yang cerdik sekaligus waspada. Ia sudah memutus akses lift ke lantai ini, namun ia tahu itu hanya akan menahan mereka selama beberapa menit.

“Mereka tidak akan lewat pintu depan, Ayah,” ujar Arka pelan.

“Maksudmu?”

“Lihat monitor CCTV balkon. Ada dua orang turun dari helikopter di atap gedung sebelah.”

Alisha menatap layar monitor yang ditunjukkan Arka. Dua bayangan hitam tampak menuruni tali dari gedung sebelah, bersiap melakukan infiltrasi lewat jendela besar apartemen. Apartemen industrial yang megah ini kini terasa seperti kotak jebakan yang sangat sempit.

“Lewat lorong pembuangan,” perintah Damian sambil menarik tangan Alisha.

Kali ini, Alisha tidak menolak. Rasa takut pada Nyonya Raina mengalahkan rasa muaknya pada Damian. Mereka berlari menuju pintu servis di belakang dapur, meninggalkan debu apartemen rahasia yang kini sudah terkontaminasi oleh pengkhianatan.

Saat Damian membuka pintu servis, ia menemukan sebuah pesan tertempel di dinding bagian dalam. Pesan itu ditulis dengan spidol hitam.

"Apartemen yang bagus, Damian. Sayang sekali kau lupa memeriksa siapa yang memasang ventilasi udaranya."

1
Diana_Restu
ceritanya seru sekarang mulai satset ga terlalu muter.makasih author.love sekebon🥰
Ranita Rani
bingung bingung q memikirnya,,,,
Imas Atiah
bacanya bikin deg degan tegang
Lianty Itha Olivia
knp cerita ini semakin dibaca kedlm isinya hya perdebatan yg itu2 saja, seolah mengikuti konferensi meja bundar isinya muter2 spt mejanya
erma _roviko: Gak kok kak, bab 33 udah aman
total 1 replies
tia
sekian bab masih belom tau siapa lawan dn siapa temen 🤭
Sri Muryati
seru banget...😍
Imas Atiah
susah ye nenek lampir
tia
ternyata biang kerok selama ini rania,,,
Imas Atiah
Alisha kamu bilang Damian jng smpe kamu kena jebakan clarisa
Sunaryati
Jangan terjebak dengan Clarissa
Ranita Rani
poseng + tegang
Imas Atiah
damian knp kamu duku tak bertanggungjawab mlh mengawasi dari jauh kirain beneran peduli yah ini sih bikin alisha dan arka membencimu
Diana_Restu
terlalu lama teka tekinya jadi jenuh bacanya soalnya masih blm ada titik terang.konfliknya alot.
erma _roviko: Hehe maaf ya kak, aku koreksi kok
total 1 replies
tia
masih abu abu , siapa teman dan siapa lawan 😭
Bonny Liberty
damang hujan lagi ngomongin cinta tapi lagi kasih tau cara dia melindungi orang yg paling penting dalam hidupnya😒
𝐈𝐬𝐭𝐲
alisha terlalu keras kepala...
Imas Atiah
nurut aja alisha ,damian takut kehilanganmu dan arka
Sunaryati
Ah seperti pertarungan mafia, padahal cuma Clarrisa menginginkannya Damian, namun Damian yang tidak bersedia.
Naufal Affiq
lanjut kak
tia
lanjut Thor udah sabar 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!