Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa
Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Bayang-Bayang Sang Penguasa Kota
Takhta bukanlah tempat untuk beristirahat, melainkan singgasana di atas bara api yang siap membakar siapa pun yang lengah. Saat aku berdiri di dalam lift yang bergerak naik menuju penthouse apartemenku, aku menatap pantulan diriku pada dinding logam yang mengilap. Pesan dari nomor terenkripsi itu masih membekas di ingatanku, sebuah peringatan dari sosok yang menyebut dirinya Sang Pemilik Kota. Tuan Gautama akhirnya menyadari kehadiranku lebih cepat dari perkiraan awalku, namun hal itu justru membuat adrenalin di dalam tubuhku bergejolak hebat.
Aku tahu betul siapa Gautama dalam konstelasi bisnis negeri ini pada masa depan yang sudah kulalui. Dia adalah laba-laba raksasa yang duduk di tengah jaring kekuasaan, mengendalikan kebijakan dan birokrasi dengan satu petikan jari. Jika Darwin adalah kerikil dan Pak Hermawan adalah batu sandungan, maka Gautama adalah gunung yang harus kuruntuhkan jika aku ingin Seeula benar-benar aman dari segala gangguan.
Kalian mungkin mengira aku akan segera menyusun pasukan atau bersembunyi di balik benteng finansialku. Namun, langkah pertamaku justru sangat sederhana: aku harus memastikan ratuku tidur dengan nyenyak tanpa bayang-bayang ketakutan.
Pukul tujuh pagi, aku sudah berada di depan pintu kamar hotel Seeula dengan membawa sebuah map berisi dokumen legalitas. Aku mengetuk pintu dengan ritme yang pelan namun pasti. Saat pintu terbuka, Seeula muncul dengan wajah yang jauh lebih segar, meskipun gurat rasa ingin tahu masih terpancar jelas dari kedua matanya yang indah.
"Kau datang sepagi ini, Yansya?" tanya Seeula dengan nada suara yang terdengar sedikit terkejut.
Aku melangkah masuk setelah dia mempersilakan, memberikan aura perlindungan yang sangat kuat di sekelilingnya. Aku meletakkan map itu di atas meja marmer, tepat di depan tempatnya duduk.
"Mulai hari ini, kau bukan lagi sekadar putri dari pemilik Widowati Group yang sedang goyah. Kau adalah pemilik sah dari lima belas persen saham perusahaan yang baru saja aku akuisisi semalam," ucapku dengan suara yang penuh otoritas namun tetap memiliki kehangatan tersembunyi.
Seeula terpaku, jemarinya menyentuh permukaan dokumen itu dengan ragu. Dia menatapku seolah sedang melihat sosok pahlawan sekaligus misteri yang tidak terpecahkan. Aku tahu dia masih bingung dengan kecepatanku mengubah arah takdir, tapi aku tidak punya waktu untuk menjelaskan sejarah masa depanku padanya.
"Mengapa kau memberiku kekuasaan sebesar ini? Aku bahkan belum melakukan apa pun untukmu," protes Seeula dengan nada yang mulai berani menuntut penjelasan.
Aku berdiri tepat di depannya, menatap matanya dalam-dalam untuk menanamkan rasa percaya yang tidak tergoyahkan. "Karena di dunia ini, hanya kekuatan yang bisa menjamin kebebasanmu. Aku ingin kau memiliki suara yang tidak bisa dibungkam oleh ibumu atau siapa pun yang mencoba memanfaatkanmu," jawabku dengan keyakinan yang sangat solid.
Setelah memastikan Seeula mendapatkan pengawalan yang lebih ketat, aku segera bergerak menuju kantor pusat Widowati Group. Pagi ini, seluruh dewan direksi telah berkumpul untuk sidang darurat pengambilalihan kekuasaan. Aku masuk ke dalam ruang rapat besar itu tanpa mengetuk pintu, membiarkan bunyi langkah kakiku bergema keras di atas lantai kayu yang mewah.
Madam Widowati duduk di ujung meja dengan wajah yang tampak hancur, dikelilingi oleh para pria berjas yang kini menatapku dengan tatapan penuh rasa takut dan hormat. Aku langsung mengambil kursi utama, tempat yang selama puluhan tahun dikuasai oleh keluarga mereka dengan kesombongan yang meluap.
"Selamat pagi, para pemegang saham. Mulai detik ini, kebijakan perusahaan akan berada di bawah kendali tunggal firma investasiku," cetusku sambil membuka laptop yang sudah terhubung dengan sistem bursa utama.
Kericuhan kecil sempat terjadi, namun aku membungkam mereka semua dengan menunjukkan bukti pengalihan aset dari Bank Artha Kencana yang sudah ditandatangani oleh Pak Hermawan semalam. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani mendebat karena mereka tahu bahwa nasib rekening pribadi mereka kini berada di ujung jemariku.
Madam Widowati menatapku dengan kebencian yang sudah sampai ke sumsum tulang. "Kau mungkin memenangkan perusahaan ini, Yansya, tapi kau tidak akan pernah bisa bertahan di kota ini jika Tuan Gautama sudah membuka suaranya," gertak Madam Widowati dengan suara yang serak.
Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang meremehkan segala ancaman kosong yang dia lemparkan. Aku bangkit dari kursi, mendekatinya dengan langkah yang sangat tenang namun mengintimidasi.
"Gautama hanyalah masalah waktu, Madam, sama seperti kejatuhanmu yang sudah menjadi kenyataan pagi ini," bisikku tepat di samping telinganya sebelum aku keluar dari ruangan tersebut.
Saat aku berjalan menuju lobi, Rian menghubungiku dengan nada suara yang terdengar sangat cemas. Dia melaporkan bahwa ada aktivitas mencurigakan pada sistem keamanan apartemenku, seolah ada seseorang yang sedang mencoba memetakan kebiasaan hidupku secara detail.
"Yansya, ada kiriman paket tanpa nama yang baru saja tiba di meja resepsionis apartemenmu. Aku sudah memindainya, isinya bukan bom, tapi sesuatu yang jauh lebih aneh," lapor Rian lewat sambungan telepon.
Aku segera memacu mobilku kembali ke apartemen, merasakan bahwa permainan catur dengan Sang Pemilik Kota sudah memasuki babak pembukaan yang berbahaya. Sesampainya di sana, aku melihat sebuah kotak kayu hitam kecil beralaskan beludru merah tergeletak di meja lobi. Aku membukanya dengan perlahan, menemukan sebuah koin emas kuno dengan simbol kepala singa yang sedang mengaum.
Di bawah koin itu, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan berwibawa.
"Selamat atas kemenangan pertamamu. Datanglah ke Klub Merah Delima malam ini pukul sembilan. Mari kita lihat apakah kau benar-benar singa yang baru lahir atau hanya serigala yang sedang beruntung," baca saya dalam hati.
Aku meremas kertas itu hingga hancur di dalam genggamanku. Undangan ini adalah jebakan sekaligus peluang untuk memetakan kekuatan lawan. Aku tahu Klub Merah Delima adalah tempat di mana semua kesepakatan gelap di kota ini diputuskan di balik kepulan asap cerutu mahal.
"Rian, siapkan perangkat penyadap frekuensi paling mutakhir yang kau miliki. Malam ini, aku akan masuk ke kandang predator yang sebenarnya," perintahku sambil menatap lurus ke arah cakrawala kota yang mulai tertutup awan gelap.
Aku menyadari bahwa tantangan kali ini jauh lebih besar daripada sekadar urusan uang atau saham. Ini adalah perang pengaruh yang akan menentukan apakah aku bisa membangun dunia yang aman untuk Seeula atau berakhir sebagai catatan kaki dalam sejarah kekuasaan Gautama. Namun, dengan pengetahuan masa depan di kepalaku, aku tidak akan membiarkan sejarah yang sama terulang kembali.
Saat aku bersiap untuk berangkat, ponselku bergetar menampilkan nama Seeula di layar. Aku menjawabnya dengan perasaan yang sedikit lebih tenang.
"Yansya, ada seorang pria asing yang baru saja menitipkan bunga dan surat untukku di hotel. Dia bilang dia adalah teman lamamu," ucap Seeula dengan nada yang terdengar bingung.
Rahangku mengeras seketika. Gautama sudah mulai menyentuh wilayah pribadiku bahkan sebelum pertemuan resmi kami dimulai. Dia mencoba menggertakku dengan menunjukkan bahwa Seeula berada dalam jangkauannya kapan saja.
"Jangan buka suratnya, Seeula. Aku akan segera ke sana. Tetaplah di dalam kamar dan jangan biarkan siapa pun masuk kecuali pengawal yang aku percayai," tegasku dengan suara yang sarat akan proteksi tingkat tinggi.
Aku memacu mobilku secepat kilat, menyadari bahwa lawan kali ini tidak hanya licik, tetapi juga sangat provokatif dalam menyerang titik lemahku. Namun, Gautama tidak tahu satu hal: kemarahanku adalah bahan bakar paling efisien untuk menghancurkan apa pun yang berdiri di hadapanku. Pertarungan yang sesungguhnya baru saja mendapatkan gong pembukanya.