Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahu semuanya
Anjas menatap serius Hengki dan Triana yang ada di depannya, mereka memperlihatkan ekspresi yang berbeda, Triana yang begitu berbinar melihat Anjas dan Hengki yang terlihat serius menunggu jawaban Anjas, Anjas juga melirik kolam di depan rumah Hengki dengan seksama, di sana bukan hanya banyak ikan, tapi ikan itu bukan ikan biasa tetapi ikan jin yang sering di kirimkan Kunto untuk meneluh semua korbannya.
"Bagaimana? kamu ingin membuktikan kalau kamu tidak memiliki ilmu apapun kan?" tanya Hengki
"Tentu saja, tapi yang masuk ke sana bukan hanya aku, aku ingin Triana juga ikut masuk supaya aku yakin kamu tidak berbohong, aku pernah mendatangi seorang dukun dan katanya aku telah lama di teluh seseorang yang tidak menyukaiku, jadi aku harus berhati hati dalam setiap langkahku sekarang" jawab Anjas menyeringai.
"Ayo kamu mau berendam denganku, ayo mas" ucap Triana
"Tidak Triana, kamu sedang hamil dan di luar dingin juga hujan" ucap Hengki
"Ih.. lepas, aku tidak mau lagi dengan kamu, kamu sudah miskin aku ingin bersama mas Anjas lagi!" bentak Triana
"Hahaha.. bagaimana rasanya di rendahkan istri kamu sendiri Hengki? dulu aku dia rendahkan dengan mengatakan kalau aku terlalu kaku di atas ranjang, sekarang kamu di rendahkan karena uang, itu lebih memalukan" cibir Anjas
"Diam Anjas, ini juga gara gara Kamu, kalau kamu tidak menghadang setiap jalanku untuk mendapatkan uang, aku tidak akan seperti sekarang!" bentak Hengki
"Itu salah kamu Hengki, kamu ingin mencuri para investor di perusahaan milikku, bahkan kamu sengaja membuka showroom dengan mengambil kendaraan dari perusahaan lain dan menjelekkan nama perusahaan milikku agar orang orang tidak percaya pada perusahaan yang aku pegang sekarang!" balas Anjas
"Kamu mau masuk ke kolam itu atau tidak?" tanya Hengki
"Tidak!" jawab Anjas tidak peduli meskipun Triana akan celaka dengan bayinya karena Hengki juga ingin mencelakai Anjas lagi.
"Mbah!" panggil Hengki dan keluarlah Kunto dengan membawa tongkat pemukul baseball.
Bugh.
"Aakhhh!"
Bruk.
Anjas tumbang, dia di pukul Kunto dari belakang dan itu membuat Triana berteriak histeris
"Mas Anjas! mas Anjas bangun mas! kamu jahat Hengki, kamu membunuh mas Anjas!" teriak Triana terus berontak sampai akhirnya dia terlepas dan mendekat ke arah Anjas yang tak sadarkan diri.
"Mas.... hiks.. mas bangun mas, aku tidak mau hidup lagi kalau kamu pergi, tolong bangun mas" lirih Triana memeluk tubuh Anjas
"Triana apa yang kamu katakan, ayo ke sini, Anjas akan kami hilangkan ilmu peletnya" ucap Hengki menarik Triana tapi tangannya segera di tepis Triana dengan kasar.
Plak. Plak.
"Dasar jahat kamu! kalian jahat!" bentak Triana menampar Hengki dan Kunto
"Triana sadar! kamu itu sedang dalam pengaruh Anjas!" bentak Hengki mencengkram tangan Triana
Triana tidak mau mendengarkan Hengki, dia hanya berteriak histeris sambil memukuli Hengki tanpa peduli dengan perutnya yang terus terguncang hebat, Kunto juga berusaha menenangkan Triana tapi gagal, Triana menggigit tangan Kunto dan Hengki yang marah mendorong Triana sampai terjatuh.
Bruk.
"Aakhhhh! mas Anjas! sakit mas!" teriak Triana yang terus meringis memegangi perutnya yang terbentur kursi.
"Triana, sayang maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti kamu" ucap Hengki segera menggendong Triana untuk di bawa ke rumah sakit.
Kini hanya tinggal Kunto dan Anjas di rumah itu, di luar hujan semakin deras dan Anjas dalam keadaan tak sadarkan diri, Kunto memeriksa seluruh tubuh Anjas tapi tidak di temukan pusaka apapun ataupun jimat, itu membuat Kunto heran karena dia yakin Triana terkena pengaruh pelet tapi Anjas tidak memiliki sesuatu yang menjurus ke arah ilmu pelet.
"Biasanya kalau orang yang memelet seperti itu ada sesuatu yang bisa aku lihat, entah itu foto ataupun rambutnya yang terikat di dalam sebuah kertas isim, tapi dia tidak memiliki apapun" gumam Kunto terus menatap Anjas
"Wahai Khal yang agung, datanglah dan lihat orang ini, aku ingin tahu ilmu apa yang dia miliki" panggil Kunto setelah mengeluarkan keris yang dia miliki.
Srak. Srak.
Sesosok lelaki bertubuh tinggi dengan pakaian perang berdiri di depan Kunto, kulitnya merah darah dengan wajah hitam legam dan tangan memegang pedang yang sudah karatan.
"Hhrrr.... "
"Khal yang agung, periksa orang ini apakah dia memiliki ilmu atau semacam pusaka yang tertanam di tubuhnya karena salah satu muridku terkena pengaruh pelet" ucap Kunto berlutut di depan sosok itu
"Hhrrr...."
Mata hitamnya menatap Anjas yang sedang tak sadarkan diri, dia juga mendekati dan mengendus tubuh Anjas, bahkan tangannya menyentuh kepala Anjas tapi dia menggelengkan kepalanya tanda kalau Anjas tidak memiliki apapun di tubuhnya.
"Terima kasih Khal yang agung, saya akan memberikan satu ayam cemani hari ini" ungkap Kunto dan sosok itu menghilang begitu saja.
"Dia bersih, itu artinya Triana di guna guna orang lain yang mungkin tidak menyukainya dan tahu kalau Anjas adalah satu satunya orang yang bisa membuatnya jatuh" gumam Kunto
"Sebaiknya aku menolongnya sekarang, sebelum dia meninggal karena pukulanku" gumam Kunto
Kunto memejamkan matanya, dia menyalurkan energinya pada tengkuk Anjas yang setelah sepuluh menit akhirnya terbangun dan tak mendapati Hengki juga Triana di sana, hanya ada Kunto yang menatapnya dengan tatapan dalam.
"Mana bajingan itu yang sudah memukulku?" tanya Anjas menatap tajam Kunto
"Triana terjatuh karena ingin menolong kamu jadi Hengki membawanya ke rumah sakit, aku di minta menjaga kamu di sini" jawab Kunto
"Dia tidak apa apa? kandungannya?" tanya Anjas berpura pura khawatir
"Dia pendarahan tapi Hengki langsung membawanya, semoga saja dia selamat karena bayi itu adalah jembatan Hengki" jawab Kunto
"Jembatan apa maksudnya?" tanya Anjas
"Jembatan untuk memiliki keluarga utuh" jawab Kunto tapi Anjas tidak percaya
"Saya harus pulang" ucap Anjas
"Kamu tidak ingin memiliki ilmu apapun?" tanya Kunto menahan tangan Anjas karena Anjas memiliki pesona yang cukup unik di mata Kunto.
"Tidak pak, saya tidak punya keinginan apapun lagi, saya sudah mendapatkan semua yang saya inginkan" jawab Anjas
"Meskipun saya menawarkan banyak perempuan untukmu?" tanya Kunto
"Satu perempuan setia sudah cukup untuk saya, dan saya tahu bagaimana mencarinya sendiri, tidak perlu bantuan siapapun" jawab Anjas menepis tangan Kunto dan pergi keluar meskipun hujan masih deras di luar.
Anjas masuk ke dalam mobilnya dalam keadaan basah kuyup, dia menyeringai di dalam mobilnya dan segera melajukan mobil itu setelah mesinnya menyala. Anjas sebenarnya tidak pingsan, dia pura pura pingsan untuk tahu apa yang Hengki rencanakan dan sekarang Anjas sudah tahu kalau Hengki mencurigai dirinya yang punya pelet.
"Tak semudah itu Hengki karena ilmuku ini tak di miliki banyak orang, hanya satu orang dan seterusnya hanya ada satu yang jadi penerus ku" gumam Anjas