Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Angin semilir berhembus menerbangkan tirai putih di kamar Hana, membawa udara pagi yang sejuk, mengisi rongga paru-paru. Ia berdiri di hadapan cermin besar di kamarnya, mematut diri dengan setelan kemeja yang ia kenakan pagi itu.
Dengan lincah, Hana menggulung rambut dan menyanggulnya. Meski seorang ratu, ia terlahir di kalangan rakyat jelata. Terbiasa dengan kehidupan desa sebelum memasuki istana. Hana menyelipkan sebuah jepit rambut yang berupa tusuk konde milik sang nenek.
Riasan sederhana menghiasi wajahnya, Hana juga mengambil sepasang anting yang ia temukan di dalam lemari kuno peninggalan sang nenek. Memakainya dengan pasti.
"Hana, kau sebenarnya sangat cantik. Hanya saja semenjak memasuki keluarga ini mereka tidak memberikanmu kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Sekarang, aku akan membantumu menikmati hidup ini," gumam Hana seraya memasang senyum cerah di hadapan cermin.
Hana berbalik, menyambar sebuah tas kecil yang ditentengnya turun. Semua barang itu ia temukan di lemari peninggalan sang nenek di rumah itu. Lemari yang tak boleh dibuka oleh siapapun meskipun Shopia telah lama menempati kamar tersebut.
Ketukan langkah Hana menyita perhatian semua orang yang sedang duduk di meja makan. Tuan Haysa, Haena, Shopia, dan Alan, mereka tertegun melihat penampilan Hana yang tak biasanya.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" ketusnya seraya mengambil tempat duduk berhadapan dengan sang ayah sebagai kepala keluarga.
Mereka semua berpaling, hanya Alan yang diam-diam melirik dan mengagumi Hana di dalam hatinya.
Elina muncul tanpa terduga dan duduk di sisi lain Tuan Haysa, berhadapan dengan Haena. Hana mencibirkan bibir, tersenyum mengejek sang ibu.
"Hana, kau berbeda hari ini? Kenapa kau berdandan seperti ini?" tanya Haena, berkerut dahinya melihat Hana yang tampak cantik mempesona melebihi Shopia.
Hana menggigit sepotong roti dan mengunyahnya perlahan. Caranya makan sungguh tidak mencerminkan sosok gadis kampungan yang tinggal di desa.
"Ya, hari ini aku akan pergi ke Hamaly Grup untuk melihat perusahaan," jawab Hana santai.
"Apa!"
Shopia meradang, dia berdiri setelah menggebrak meja dengan sangat keras. Semua orang tersentak kaget, bukan hanya karena ucapan Hana, tapi juga reaksi Shopia yang tak terduga.
Hana memejamkan mata, menahan kesal karena waktu makannya terganggu.
"Untuk apa pergi ke sana?" bentak Shopia tak dapat menahan diri.
Hana menghela napas, menurunkan tangannya dan menatap Shopia dengan tajam. Tatapan penuh ancaman, berhasil membuat Shopia terintimidasi. Tubuhnya limbung, tangannya mencengkram erat pinggiran meja. Tak hanya Shopia, Tuan Haysa sampai meneguk ludah melihat tatapan anaknya.
"Aku tidak suka waktu makanku diganggu. Kau, jika terus berisik pergi dari meja makan ini!" geram Hana.
Beberapa saat matanya masih mengawasi mereka, tapi kemudian ia melanjutkan sarapan hingga roti di tangannya habis. Hana meneguk susu dengan perlahan, dan meletakkan cangkir tanpa suara. Apa yang dilakukannya membuat semua orang terkesima. Ia menautkan jemari di atas meja, kembali menatap semua orang dengan senyuman.
"Aku akan mengambil alih perusahaan. Hamaly Grup dipersiapkan nenek untukku. Jadi, mulai sekarang yang tidak berkepentingan tidak diizinkan untuk datang. Kau, antar aku!" katanya seraya beranjak dari kursi setelah menunjuk Alan.
Brak!
Hana yang sudah berbalik menghentikan langkahnya dan menarik napas dalam.
"Lancang! Atas dasar apa kau ingin mengambil alih perusahaan itu? Kau hanya gadis yang datang dari desa, tidak mengerti apapun tentang bisnis. Jangan harap bisa mengambilnya!" bentak Tuan Haysa yang berdiri dari duduknya.
Hana tersenyum, mengatur ritme emosi di dalam diri agar tetap tenang. Haena di sampingnya merasa cemas.
"Itu benar. Kau tidak bisa seenaknya mengambil perusahaan itu. Hamaly Grup adalah kerja keras ku bersama Kakak!" tambah Shopia ingin menangis.
Jika Hamaly Grup diambil alih oleh Hana, ia tidak akan mendapatkan apa-apa lagi.
"Itu benar. Kau baru datang ke keluarga ini sudah ingin merebut milik Shopia. Sungguh tidak tahu malu!" Elina menyahut, dia terlihat lebih kesal dari pada Haena.
Sementara wanita itu, hanya diam melihat perubahan Hana yang drastis. Hatinya gamang, ingin membela Hana, tapi perasaannya terhadap Shopia jauh lebih besar.
Hana berbalik, menautkan kedua tangan di perut. Ia tersenyum kemudian, senyum penuh misteri yang menyiratkan kekuasaan.
"Tidak tahu malu? Tapi, yang aku lihat kaulah yang tidak tahu malu. Kau datang dengan alasan membantu Ibu mengurus rumah. Padahal, kau ingin menggantikan ibuku menjadi nyonya di rumah ini, bukan?" sindir Hana.
Klentang!
Garpu yang dipegang Elina terjatuh, ketiga orang itu panik dan gugup.
"Hana! Jangan keterlaluan!" hardik Tuan Haysa menuding Hana dengan geram.
"Kau mengatakan aku tidak memiliki dasar untuk mengambil perusahaan itu?" Hana mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tasnya.
Itu juga ia temukan dari dalam lemari peninggalan nenek. Shopia selama ini sudah mencarinya. Bahkan, dia diam-diam membuka lemari itu, tapi tak menemukan apapun.
Brak!
Hana menaruh dokumen itu di atas meja, menekannya dengan tangan.
"Ini bukti bahwa akulah pemilik Hamaly Grup! Kalian yang seenaknya memberikan itu kepada Shopia. Kau perlu apa lagi, Tuan Haysa?" ucap Hana seraya menarik kembali dokumen tersebut setelah menunjukkan tanda tangan nenek.
Tuan Haysa terduduk lemas, menatap geram Shopia yang ia perintahkan untuk mencari dokumen tersebut selama ini, tapi tidak membuahkan hasil.
"Untuk yang sudah berlalu, aku tidak akan mempermasalahkan. Tapi, jika kalian terus menghalangi, maka aku akan membawanya ke pengadilan. Dan untuk kerja kerasmu, aku akan memberikan kompensasi yang layak," ucap Hana seraya meletakkan sebuah kartu di atas meja, dan mendorongnya kepada Shopia.
"Di dalam kartu itu ada uang dua puluh juta, cukup untuk membayar kerja kerasmu selama ini dalam mengurus perusahaan. Jika ada hal lainnya yang ingin dibicarakan, silahkan! Jika tidak, maka aku akan pergi," pungkas Hana menatap remeh pada Shopia.
Hana tersenyum sinis melihat wajah pucat semua orang. Ia berbalik dan pergi begitu saja tanpa peduli pada mereka. Haena memandang punggung anaknya, kata-kata Hana terus mengiang dalam benak. Tentang Elina yang ingin menggantikan posisinya sebagai nyonya Haysa.
"Keterlaluan!" umpat Tuan Haysa kesal.
Shopia terduduk lemas, air matanya jatuh begitu saja. Usaha yang dia inginkan selama ini, harus hilang begitu saja.
Alan melirik ibunya sebelum beranjak dari kursi dan pergi menyusul Hana. Ia akan mengantar Hana ke perusahaan.
"Ada apa dengan diriku? Kenapa aku tidak dapat melawan anak durhaka itu?" umpat Tuan Haysa lagi kesal pada dirinya sendiri.
Haena berbalik menghadap suaminya, menatap tajam pada mereka berdua. Ada air yang menggenang di kedua sudut matanya, menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Apa yang kalian sembunyikan di belakangku?"
Deg!
hai jalang gk tau diri lo