NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

🏆🥉 Juara 3, Yaww 2026, Periode 1 Kategori 1, dan Juara Tema Kreatif.



Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru eg

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Saat waktu pemakaman tiba, hanya para lelaki yang bersiap berangkat ke TPU. Ustaz dengan sopan mengingatkan bahwa perempuan sebaiknya tidak ikut ke pemakaman.

Alvar berpamitan singkat pada Kiara. Tatapannya dalam, seolah ingin memastikan istrinya baik-baik saja.

Kiara mengangguk pelan.

Di rumah duka, perempuan-perempuan tinggal. Suasana berubah lebih sunyi, hanya diisi isak tertahan dan suara doa lirih.

Sulastri langsung membantu Meli, istri paman Alvar dan mengurus segala keperluan. Dari dapur hingga ruang tamu, Sulastri bergerak tanpa banyak bicara, seperti seseorang yang paham betul rasanya kehilangan.

Kiara ikut membantu sebisanya. Ia lebih banyak diam, duduk menemani, sesekali menuangkan air atau menyodorkan tisu pada pelayat perempuan yang datang.

Tak lama kemudian, Hesti mendekat ke arah Meli.

Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca, bukan hanya karena duka, tetapi karena beban lama yang akhirnya mencari jalan keluar.

Dengan suara rendah, hampir berbisik, Hesti berkata,

“Mel … aku benar-benar minta maaf.”

Meli menoleh tatapannya tenang, tapi jelas menyimpan lelah yang panjang.

“Aku tahu aku banyak salah. Aku tahu aku mengecewakan banyak orang … termasuk keluarga ini.”

Hesti menunduk, jarinya saling menggenggam gelisah.

“Tolong … jangan benci aku. Kita sudah lama sahabat. Dari sebelum semua ini terjadi.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Meli tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, lalu menatap ke depan, bukan ke arah Hesti.

“Aku tidak membencimu, Hes,” ucapnya akhirnya, pelan tapi tegas.

“Tapi ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan kata maaf.”

Hesti terdiam.

“Yang pergi hari ini suamiku,” lanjut Meli, suaranya mulai bergetar.

“Dan setiap orang punya bagian dari cerita ini … termasuk aku, termasuk kamu.”

Ia menoleh pada Hesti, matanya basah tapi tidak keras.

“Aku tidak membencimu. Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura semuanya baik-baik saja.”

Hesti mengangguk perlahan.

Di sudut ruangan, Kiara menyaksikan semua itu tanpa ikut campur. Ia akhirnya mengerti di desa ini, luka lama tidak pernah benar-benar hilang.

Sulastri yang mendengar sepintas percakapan itu tetap memilih diam.

Saat rombongan bersiap pulang, Meli menghampiri Kiara sambil membawa plastik bening berisi beberapa ekor ikan nila yang masih segar.

“Kiara, ini bawa pulang ya,” ucap Meli tulus.

“Nila dari kolam belakang, baru diambil. Lumayan buat lauk.”

Kiara tertegun sejenak, senyumnya muncul, tapi ragu.

“Maaf, Bibi…” katanya hati-hati.

“Aku nggak bisa terima.”

Wajah Meli langsung berubah, alisnya mengerut.

“Kenapa? Nggak suka ikan desa?” Nada suaranya tanpa sadar terdengar menyinggung. Sebelum Kiara sempat menjelaskan, Alvar melangkah maju.

“Bukan begitu, Bi,” ucapnya tenang.

“Kiara alergi berat sama ikan nila. Bisa sesak napas kalau makan.”

Meli langsung terkejut.

“Astaghfirullah…”

Ia menepuk dadanya pelan.

“Bibi nggak tahu. Maaf ya, Kiara. Bibi kira kamu nolak karena nggak berkenan.”

Kiara tersenyum lembut. Tidak ada kesal di wajahnya, hanya pengertian.

“Nggak apa-apa, Bi,” jawabnya.

“Kalau bibi tahu dari awal juga pasti nggak nawarin. Aku malah senang bibi mau berbagi.”

Meli mengangguk, matanya sedikit berkaca-kaca.

“Kamu baik, Kiara.”

Alvar melirik Kiara sekilas.

Di perjalanan pulang, Alvar berjalan sedikit lebih dekat dari biasanya, seolah tanpa sadar ingin memastikan Kiara benar-benar baik-baik saja.

Malam itu, meja makan terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya suara sendok yang sesekali beradu dengan piring. Entah kenapa, Kiara tiba-tiba membuka suara.

“Bu…” suaranya pelan, nyaris ragu.

“Aku boleh tanya sesuatu?”

Sendok di tangan Sulastri berhenti. Pak Yono mengangkat wajahnya perlahan. Alvar menoleh, menatap Kiara dengan sorot mata yang langsung waspada.

“Tadi aku dengar bisik-bisik warga di desa sebelah,” lanjut Kiara, jujur.

“Tentang Dokter Hesti … dan tentang ibu.” Kalimat itu membuat udara di meja makan menegang.

Pak Yono dan Sulastri saling pandang sekilas saja, tapi penuh arti. Alvar menarik napas, bibirnya terbuka seolah ingin berkata sesuatu. Namun,z belum sempat satu kata pun keluar, Sulastri lebih dulu meletakkan sendoknya.

Bunyi kecil terdengar jelas di ruang makan yang hening. Sulastri mengangkat wajahnya, menatap Kiara lama. Tatapannya bukan marah dan lebih seperti menimbang, menahan sesuatu yang sudah terlalu lama disimpan.

“Kiara…” ucapnya pelan, tapi tegas.

“Soal Hesti … itu bukan cerita pendek.” Ia berhenti sejenak lalu menarik napas dalam-dalam.

“Dan bukan juga cerita yang ingin ibu buka di meja makan.”

Alvar menunduk, seolah ia tahu persis ke mana arah pembicaraan itu dan betapa beratnya. Pak Yono akhirnya bersuara, rendah tapi menenangkan.

“Nanti, Nak,” katanya pada Kiara.

“Kalau waktunya sudah tepat, ibu pasti akan cerita.”

Kiara terdiam, ada rasa bersalah, tapi juga rasa penasaran yang semakin besar di dadanya.

Sulastri kembali mengambil sendoknya, namun sebelum menyuap, ia berkata satu kalimat terakhir tetapi pelan, tapi cukup untuk membuat Kiara menelan ludah.

“Yang perlu kamu tahu sekarang…”

“Ibu tidak pernah membenci tanpa alasan.” Kalimat itu menggantung di udara.

Tak ada yang melanjutkan makan dengan tenang setelahnya.

1
Felycia Fernandez
kurang sambel terasi nya...
Mak jos👍
Rini Benny
suka ceritax thor
Nuril Shafi
kalian lanjut aja deh, aku mau nyari yg lain, ngapa jadi pembakaran, pembunuhan, penculikan,, 🤦‍♂️🤦‍♂️
martabak rujak rasa kari
gimana kaga trauma orang ciuman juga, tatapan, nolongin mantan suruh nunggu istri mau beliin air katanya😒
Nanik Kusno
Akhirnya....
semua bahagia dengan jalan hidup masing masing
Nanik Kusno
Ikut tersipu2.....☺️☺️☺️😌😌😌😌
Nanik Kusno
Salah terka...🤭🤭🤭🤭🤭
Nanik Kusno
Mungkin Rome yang bertunangan ma Delia...
Nanik Kusno
Semua ibu sama....g tega lihat anaknya disuntik...
Nanik Kusno
Aduuuhhhhhh....😇😇😇😇😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Nanik Kusno
Semoga ibu dan twins selamat ...🤲🤲🤲🤲🤲
Nanik Kusno
Delia emang top markotop.....👏👏👏👏👍👍👍👍
Nanik Kusno
Berbahagialah liliput.... sekarang kamu dah bersama Yoga lagi..... selamat 👏👏👏
Nanik Kusno
Tamat riwayatmu liliput....
eeehhh......dia bareng ma Yoga dunk....👏👏👏👏👏👏👏
Nanik Kusno
Si liliput ini pasti sedang tertawa terbahak-bahak...dia mendapatkan momen yang tepat untuk menjatuhkan keluarga Kiara...
Nanik Kusno
Aduuuhhhhhh.... bakalan viral nih....
Nanik Kusno
Kenapa sih sekarang sering ketemu Liliput ini....😏😏😏😏😏😏😏
Nanik Kusno
Alvar....aq ikutan bingung nih ....😇😇😇😇😇
Anggi Ganteng
bsngke si Hesti,,
Mika Alpianus
mampus ko pelaso🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!