Vera merantau ke kota dan bisa di katakan bawa dia jarang pulang ke rumah karena memiliki hubungan yang tidak baik dengan Pak Darto Ayah kandung dia sendiri, namun kali ini Dia terpaksa harus pulang ketika mendengar kabar bahwa Bu Elma telah meninggal dunia.
semula Vera menganggap bahwa kematian Bu Elma adalah kematian yang biasa, namun beberapa malam saja dia tinggal di rumah itu malah menemukan keanehan yang tidak biasa.
benarkah Bu Elma meninggal karena sesuatu yang tak kasat mata?
mampukah Vera untuk mengungkap masalah tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Bertengkar lagi
"Kapan kembali ke kota lagi?" Darto bertanya ketika semua keluarga sudah berkumpul.
Vera diam saja walau dia mengetahui yang sedang di pertanyakan oleh Darto ini adalah dia, namun karena pria itu sama sekali tidak sebut nama sehingga dia memilih untuk bungkam dan seolah sangat menantang kepada Darto sehingga semua yang ada di ruang makan ini menjadi tegang seketika Karena Mereka takut sebentar lagi akan terjadi peperangan di antara mereka berdua.
Sebab selama ini mereka memang sangat suka bertentangan satu sama lain karena Vera yang selalu membangkang dan merasa bahwa Darto bukan pria yang benar, terlebih lagi ketika dia sudah melihat Darto memukuli sang istri baik itu Elma atau Mayang dulu sehingga sudah pasti Vera merasa begitu ilfil terhadap pria satu ini.
"Kakak di tanya sama Ayah." Dina menyenggol tangan Vera karena dia tidak mau bila mereka akan segera bertengkar.
"Kapan Ayah menyebut nama Kak Vera? dia hanya bertanya kapan kembali ke kota kok." Arum berada di pihak Vera.
Dina menarik nafas panjang karena barusan dia sudah berusaha untuk menetralkan perasaan yang ada dan menghentikan debat bila itu sampai terjadi, tapi Arum malah berkata demikian sehingga sudah pasti suasana semakin panas dan sebentar lagi pasti akan ada kompor yang datang untuk membuat masalah semakin berat.
Kadang yang membuat Dina kesal itu dan memilih untuk diam saja karena banyak pihak lain yang ikut campur ketika Vera dan Darto sudah saling berdebat satu sama lain, sejak dulu hingga sampai saat ini mereka selalu saja begitu dan tidak pernah akur walau hubungan mereka adalah anak dan ayah.
Dina sebenarnya menyadari bahwa Vera begitu keras kepala karena dia pasti merasa kurang mendapat kasih sayang dari orang tua, Mayang meninggal ketika Vera masih muda dan saat itu Darto juga menikah lagi walau kemudian Elma memberi kasih sayang juga terhadap Vera namun tetap saja pasti ada rasa yang berbeda.
Mana Darto juga tidak pernah memberi perhatian lebih kepada Vera sehingga sudah pasti anak itu menjadi keras kepala dan menjadi salah arah, ini saja hidup Vera sudah hancur berantakan karena dia semakin jauh terjerumus dalam dunia hitam karena sering mengkonsumsi barang haram yang untuk menghilangkan rasa stres di dalam kepala ini.
Darto masih tidak mengetahui bahwa anak sulung dia telah terjerumus dalam dunia seperti itu karena dia yang memang tidak pernah memberikan perhatian tentu nya, andai saja dia tahu maka pasti akan terjadi perdebatan dan akan membandingkan antara Vera dan juga Dina yang terlihat begitu jauh sekali berbeda.
"Kan yang ada di kota hanya Vera dan selama ini dia tidak pernah pulang sehingga sudah pasti Mas Darto bertanya kepada Vera!" Erna mulai membuka suara.
"Biasakan jangan terlalu ikut campur dalam urusan orang lain!" Vera menatap Erna yang barusan membuka suara.
"Loh kok ikut campur, aku memang tinggal di sini dan selama ini aku banyak membantu keluarga ini jadi wajar saja bila aku ikut berbicara." Erna tersenyum bangga.
"Aku bertanya kepada dirimu kapan kau akan pulang lagi ke kota?" Darto menatap Vera lekat.
"Tidak akan pernah, aku tidak akan pulang lagi ke kota." jawab Vera dengan suara yang begitu cuek.
"Kau harus segera pulang dan pergi meninggalkan rumah ini!" tegas Darto tidak ingin di bantah.
"Kenapa? ini rumah juga hasil kerja keras Ibu ku, jadi kenapa aku harus pergi dari rumah ini." Vera langsung menantang Darto dan sama sekali tidak ada raut takut di wajah gadis ini.
"Kakak." Arum sudah mulai ketakutan karena melihat wajah Vera yang berubah menjadi keras.
Praaaaaang.
Piring milik Darto sudah hancur berantakan karena pria itu langsung berdiri dan membanting dengan emosi yang begitu tinggi, sejak tadi memang sudah terlihat jelas bahwa dia tidak ingin bila sampai kena bantah namun ternyata Vera memang sangat suka membantah pria ini sehingga emosi dia sudah tidak terkendali.
"Mas jangan emosi seperti itu karena tidak baik untuk kesehatan kamu." Erna bangkit untuk mendekati Darto.
Buaaaaaak.
"Jangan gatal jadi orang, setidaknya kau harus tahu batasan bahwa dia adalah saudara ipar!" Vera mengambil jeruk dan melempar tepat di wajah Erna.
"CUKUP!"
Darto membentak keras dengan mata yang sudah mendelik karena dia begitu benci perdebatan seperti ini dengan Vera, setiap saat bila bertemu mereka pasti akan bertengkar seperti ini dan sekarang Darto ingin mengusir Vera kembali lagi ke kota agar dia tidak menyebabkan masalah yang menurut dia cukup berat di dalam rumah ini.
"Ambil seluruh barang milik dirimu itu dan segera pergi dari sini sekarang juga!" tegas Darto.
"Aku tidak mau!" Vera juga tak kalah keras karena dia memang tidak mau pergi.
"Ayah, biar saja Kakak tinggal di sini karena aku lebih senang kalau Kakak ada di rumah ini." Arum membuka suara.
"DIAM!" Darto menunjuk wajah putri bungsu dia dengan emosi tinggi.
Arum yang mendapat bentakan seperti itu tentu saja menjadi kecut dan tidak berani lagi membuka suara walau sebenarnya dia sangat ingin membela Vera, memang di rumah ini sama sekali tidak ada yang berani membantah ucapan Darto kecuali anak sulung yang sama kerasnya seperti Darto juga.
"Ini rumah ku, jadi aku tidak akan pernah pergi dari rumah ini." Vera menyeringai dan segera meninggalkan ruang makan.
"VERA! KAU KURANG AJAR SEKALI." Erna masih sempat berteriak karena dia tidak terima kena lempar jeruk.
"Bibi sudah lah, jangan menyudutkan Kakak seperti itu karena dia juga sedang sedih saat ini." Dina mendekati Erna.
"Kau tau apa? kalau kau terus bergaul dengan dia maka nanti yang ada kau akan ikut rusak!" bentak Erna.
"Kakak tidak rusak, Kenapa Bibi berbicara seperti itu?!" Dina ikut kesel juga lama-lama dengan Erna ini.
karena ingin membuka suara lagi tapi ketika melihat wajah Darto yang sudah sangat tidak bersahabat maka dia memilih untuk diam saja agar tidak terkena imbas nanti nya, kalau dia terus saja berbicara maka nanti yang ada Darto akan mengamuk dan seluruh orang yang ada di dalam rumah ini akan terkena masalah kembali.
"Kita beberes rumah yuk, sudah ada yang perlu untuk di bereskan." Siti segera menarik tangan Dina karena dia memang paling diam di antara semua.
Dina menurut saja dan segera pergi dari ruang makan itu bersama dengan Arum karena gadis kecil itu juga tidak ingin makan lagi, Siti adalah adik bungsu dari Elma dan dia juga tinggal di rumah ini karena mereka memang memilih untuk tinggal satu rumah.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
keangkuhan mu ga seberapa ver di banding rombongan ratu ular👻🥰👍
mngkn Nana kucing yg nyamar jadi Siti palsu