NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Office Romance
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh,detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 — OPENING

Arsenio masuk ke lantai eksekutif Volt-Tech sebelum sebagian besar karyawan datang. Lampu koridor masih redup. Ia langsung menuju ruangannya tanpa berhenti di meja siapapun. Malam yang panjang belum selesai baginya.

Raka sudah menunggu di depan pintu kantor. Tablet di tangannya menampilkan laporan keamanan terbaru. “Server luar negeri sudah berhenti mengakses sistem kita,” katanya singkat. Arsenio hanya mengangguk.

Ia membuka pintu kantornya dan masuk. Map proyek Artha langsung ditarik ke tengah meja. Arsenio membuat keputusan pertama pagi itu.

“Panggil Alinea.”

Raka mengangkat kepala sedikit.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Beberapa menit kemudian pesan rapat darurat terkirim ke ponsel Alinea.

Di lantai lain, Alinea baru saja tiba di kantor. Tas kerjanya belum sempat ia letakkan ketika notifikasi rapat muncul di layar ponselnya. Nama pengirimnya jelas: Arsenio Mahendra.

Dia membaca pesan itu sekali lagi.

Rapat pribadi.

Lima belas menit.

Alinea membuat keputusan cepat.

Ia langsung menuju lift eksekutif.

Lift berhenti di lantai paling atas. Koridor eksekutif jauh lebih tenang dibanding lantai kerja biasa. Alinea berjalan lurus ke arah kantor Arsenio.

Raka berdiri di depan pintu.

“Dia menunggu Anda,” katanya.

Alinea mengetuk sekali sebelum masuk.

Arsenio berdiri di dekat jendela kaca besar. Kota Jakarta terlihat penuh dari atas gedung Volt-Tech. Ia tidak langsung berbalik ketika pintu terbuka.

“Ada masalah dengan proyek Artha?” tanya Alinea.

Arsenio baru menoleh setelah beberapa detik.Ia membuat keputusan berikutnya.

“Ada seseorang di dalam perusahaan yang menjual informasi kita.”

Alinea tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi di depan meja dan duduk tanpa diminta. Map proyek Artha sudah terbuka di tengah meja.

“Dan Anda memanggil saya karena?”

Arsenio menatapnya lurus.

“Karena nama Anda ada di tengah permainan ini.”

Alinea menatap map proyek Artha beberapa detik. Beberapa halaman sudah diberi tanda oleh Arsenio.

Catatan kecil terlihat di pinggir dokumen.

“Jadi seseorang menjual informasi perusahaan,” katanya.

Arsenio mengangguk pelan.

“Lebih dari sekadar informasi.”

Ia memutar layar laptop menghadap Alinea. Grafik transfer data muncul di layar.

“Ini jalur kebocorannya.”

Alinea memutuskan berdiri dan mendekat ke meja.

Dia membaca log aktivitas itu dengan cepat. Waktu pengiriman file terjadi hampir setiap malam. Ukuran datanya kecil, tapi konsisten.

Alinea membuat keputusan.

“Orang ini tidak mencuri file besar.”

“Dia mencuri potongan kecil,” lanjutnya.

Arsenio memperhatikannya tanpa memotong.

“Potongan kecil cukup untuk menyusun strategi perusahaan,” kata Alinea.

Arsenio akhirnya mengambil pulpen dari meja.

“Persis.”

Ia menandai satu waktu pengiriman data di layar. Jamnya selalu hampir sama.

Arsenio membuat keputusan berikutnya.

“Kita cek siapa saja yang masih bekerja di kantor pada jam itu.”

Alinea kembali duduk di kursi.

“Daftar karyawan lembur?” tanyanya.

Raka yang berdiri di dekat pintu langsung membuka tabletnya.

Beberapa nama muncul di layar.

Alinea membaca daftar itu satu per satu.Beberapa nama berasal dari tim administrasi. Ada juga staf teknis yang bekerja malam hari.

Namun satu nama membuatnya berhenti.

Alinea membuat keputusan.

“Perbesar yang ini.”

Raka memperbesar data itu di layar.

Nama yang muncul adalah seorang koordinator proyek junior. Posisi yang cukup dekat dengan beberapa dokumen internal.

Arsenio melihat reaksi Alinea.

“Anda mengenalnya?”

Alinea mengangguk sedikit.

“Dia pernah membantu saya mengunggah draft proyek ke server klien.”

Arsenio tidak mengatakan apapun selama beberapa detik.

Lalu ia membuat keputusan baru.

“Kita panggil dia.”

Raka menoleh cepat.

“Sekarang, Pak?”

Arsenio berdiri dari kursinya.

“Sekarang.”

Namun sebelum Raka sempat keluar ruangan, ponsel Alinea bergetar di atas meja.Notifikasi pesan masuk muncul di layar.Nomor pengirim tidak dikenal.

Alinea membuat keputusan.Ia membuka pesan itu.Hanya satu kalimat.

Tidak ada nama.

Tidak ada penjelasan.

Pesan itu berisi,

“Kalau kamu ikut campur, kontrak mu dengan Arsenio akan jadi berita pagi ini.”

Alinea menatap layar ponselnya beberapa detik.

Arsenio memperhatikan perubahan ekspresinya.

“Ada apa?” tanyanya.

Alinea menurunkan ponselnya perlahan.

“Sepertinya seseorang tahu tentang kontrak kita.”

Ruangan itu langsung terasa lebih sempit.

Arsenio menatapnya tajam.

Dan di saat itu, permainan mereka berubah arah lagi.

Alinea menaruh ponselnya di atas meja tanpa bicara. Layar masih menampilkan pesan ancaman itu.

Arsenio memperhatikannya beberapa detik. Ia memutuskan mengambil ponsel itu.

Pesan itu dibaca sekali, lalu layar dimatikan.

“Nomor tidak dikenal,” kata Arsenio.

Alinea mengangguk pelan.

“Orang yang mengirim ini tahu tentang kontrak kita.”

Raka menatap mereka berdua dari dekat pintu.

“Berarti orang itu punya akses ke informasi pribadi perusahaan,” katanya.

Arsenio membuat keputusan.

“Lacak nomor ini.”

Raka langsung keluar ruangan dengan tablet di tangannya. Pintu kantor kembali tertutup. Arsenio berdiri di belakang meja, sementara Alinea tetap duduk di kursinya.

Beberapa detik tidak ada yang bicara.

Alinea memecahnya lebih dulu.

“Kalau kontrak ini bocor, proyek Artha selesai.”

Arsenio berjalan ke jendela kaca besar di belakang mejanya. Kota sudah mulai sibuk di bawah sana. Ia menatap jalanan beberapa saat sebelum berbalik lagi.

“Ada dua kemungkinan,” katanya.

Alinea menunggu.

“Orang yang mencuri data perusahaan adalah orang yang sama dengan pengirim pesan ini.”

Arsenio berhenti di depan meja.

“Atau,” lanjutnya, “ada dua pemain berbeda.”

Alinea membuat keputusan.

“Kalau dua pemain, berarti mereka saling menggunakan.”

Arsenio menatapnya beberapa detik.

“Dan Anda masih ingin terlibat?”

Alinea menutup map proyek Artha di depan mereka.

“Saya sudah terlibat sejak nama saya masuk ke proposal Artha.”

Arsenio membuat keputusan berikutnya.

“Kita percepat investigasinya.”

Pintu kantor tiba-tiba terbuka.

Raka masuk kembali dengan langkah cepat. Ekspresinya jauh lebih tegang dari sebelumnya.

“Kita punya masalah,” katanya.

Arsenio menoleh.

“Nomor yang mengirim pesan itu tidak bisa dilacak.”

Raka menaruh tablet di meja.

“Pesan dikirim melalui server sementara.”

Alinea menghela napas pendek.

Arsenio membuat keputusan lagi.

“Cek kamera kantor.”

Raka langsung membuka rekaman CCTV di tablet. Beberapa kamera koridor muncul di layar. Arsenio dan Alinea berdiri di belakangnya.

Rekaman dari satu jam terakhir diputar cepat.

Kemudian satu gambar membuat Raka berhenti.

Seseorang terlihat berdiri di depan ruang server internal Volt-Tech.Wajahnya tidak sepenuhnya terlihat jelas,namun kartu identitas di dadanya terlihat.

Alinea mencondongkan tubuh sedikit.

“Berhenti disitu,” katanya.

Raka memperbesar gambar itu.

Nama di kartu identitas akhirnya terbaca.

Arsenio melihatnya dengan jelas sekarang.

Nama yang muncul bukan staf administrasi.Bukan koordinator proyek junior yang mereka curigai tadi.Itu seseorang yang jauh lebih dekat dengan ruang kerja Arsenio.

Raka menatap layar dengan kaku.

“Pak… ini—”

Arsenio mengangkat tangan sedikit, menghentikannya bicara.Ia menatap layar itu beberapa detik lebih lama.

Lalu membuat keputusan yang langsung mengubah arah permainan.

“Kunci semua akses gedung.”

Raka menoleh cepat.

“Sekarang?”

Arsenio mengangguk.

“Saya tidak mau orang itu keluar dari Volt-Tech.”

Raka langsung memberi perintah melalui tablet.

Sistem keamanan gedung mulai aktif.

Beberapa pintu akses berubah status menjadi terkunci.Namun sebelum sistem selesai mengunci semua pintu, notifikasi baru muncul di layar tablet.

Raka membaca tulisan itu dengan cepat.Ekspresinya berubah.

“Pak…”

Arsenio menoleh.

“Apa lagi?”

Raka memutar layar tablet menghadapnya.

Status baru muncul di sistem keamanan.

SERVER UTAMA VOLT-TECH AKSES INTERNAL

Beberapa file baru saja dihapus dari database.

Alinea menatap layar itu.

“Dia masih di dalam sistem.”

Arsenio langsung mengambil tablet dari tangan Raka.Log aktivitas menunjukkan satu akun pengguna yang sedang aktif.Nama akun itu muncul jelas di layar.

Arsenio membaca nama itu sekali.

Lalu sekali lagi.

Alinea berdiri di sampingnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu, bahkan Arsenio terlihat benar-benar tidak mengharapkan apa yang ia lihat.

Nama pengguna yang sedang mengakses server Volt-Tech adalah,

ALINEA KUSUMA.

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
🙌
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
🙆✨🥰 👉👍👈
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
readers tekan jempolnya mana????

👍

🙆✨🔥
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
yang mau aku UP terosss 🫵 komen lanjut!!!
kalo gak aku gakan UP lagi loh🫸
🙌 eitss!! becanda yak readers 😹

terimakasih banyak buat pembaca setia 🫶✨✍️🔥
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: oiyaaaa kalo Sukak novel ini, pencet jempol likenya yak 👍🙆🫰
total 1 replies
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!