NovelToon NovelToon
Simfoni Dua Deru

Simfoni Dua Deru

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
​Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
​Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelas privat dan getaran yang salah

Malam di Pesantren Al-Fathan biasanya diisi oleh simfoni suara serangga malam yang bersahutan dengan dengung pelan para santri yang mengulang hafalan di serambi masjid. Namun, di dalam perpustakaan pribadi Gus Arkan, suasana terasa jauh lebih mencekik bagi Syra Aliyah Farhana. Ia duduk bersila di atas karpet beludru hijau, mengenakan mukena sutra putih pemberian Umi yang terasa terlalu lembut di kulitnya yang biasanya bersentuhan dengan denim kasar.

Ia merasa seperti penyamar. Seperti serigala yang dipaksa memakai bulu domba.

Arkanza Farras Zavian masuk dengan langkah yang nyaris tak terdengar. Ia telah mengganti pakaiannya dengan baju koko berwarna abu-abu arang dan sarung putih yang disetrika sangat rapi. Ia membawa sebuah kitab kecil dan sebuah bolpoin perak. Tanpa sepatah kata pun, ia duduk di depan Syra. Meja kayu kecil (rehal) di antara mereka terasa seperti batas suci yang tak boleh dilanggar.

"Buka Iqra-nya. Kita mulai dari halaman sepuluh," perintah Arkan. Suaranya datar, namun ada otoritas yang tak terbantahkan di sana. Ia bahkan tidak menatap Syra, matanya fokus pada lembaran di depannya.

Syra mendengus, mencoba memprotes namun tenggorokannya mendadak kering. Ia membuka buku kecil bersampul hitam itu dengan malas. "Gus, serius ya, kalau gue bisa lewat halaman ini dalam semalam, lo harus kasih gue bonus. Minimal balikin kartu kredit gue buat beli sparepart motor."

Arkan mendongak, menatap Syra dengan tatapan tajam yang membuat nyali Syra sedikit menciut. "Ini bukan pasar malam, Syra. Kita sedang belajar kalam Allah, bukan sedang tawar-menawar harga knalpot. Mulai."

Syra menarik napas panjang, lalu mulai mengeja. "A... Ba... Ta... Tsa..."

"Suaranya, Syra. Jangan seperti orang sedang berbisik-bisik merencanakan demo," Arkan mengoreksi. Ia memajukan duduknya sedikit, jari telunjuknya yang panjang dan bersih menunjuk ke sebuah huruf yang memiliki titik satu di bawahnya. "Ini bukan 'Ja'. Tekan suaranya sedikit. 'Ja'..."

"Ja!" teriak Syra sedikit terlalu keras.

Arkan terkekeh kecil—sebuah tawa pendek yang sangat langka, namun sanggup membuat jantung Syra berlonjakan tak karuan. "Bukan teriak, Syra. Jelas, bukan keras."

Arkan kemudian menggeser telunjuknya ke huruf berikutnya. Kali ini, jari mereka tanpa sengaja bersentuhan di atas kertas Iqra yang tipis itu. Syra merasa seperti tersengat listrik tegangan tinggi. Ia segera menarik tangannya, sementara Arkan tampak tetap tenang, meski gerakan tangannya sempat tertahan selama satu detik.

"Ini 'Ha'. Keluar dari tenggorokan bawah. Coba," ucap Arkan, suaranya kini melunak.

Syra mencoba menirukan, tapi suaranya malah terdengar seperti orang yang sedang tersedak biji salak. Ia merasa sangat bodoh dan malu. "Ah, tau ah! Gue emang nggak bakat jadi santriwati. Gue balik ke motor gue aja!"

"Jangan menyerah secepat itu," potong Arkan. Ia menatap Syra dalam-dalam, menembus pertahanan "barbar" yang selama ini Syra bangun. "Kamu punya potensi, Syra. Suaramu sebenarnya memiliki nada yang bagus, hanya perlu sedikit diarahkan."

"Bagus apanya? Gue biasanya cuma teriak-teriak nyuruh orang minggir di lintasan balap," Syra membuang muka, wajahnya terasa panas. Bau parfum kayu cendana yang bercampur dengan aroma buku tua dari tubuh Arkan mulai memenuhi indra penciumannya. Kenapa bau pria ini harus semenenangkan ini?

"Lintasan balap dan mengaji tidak jauh berbeda, Syra," ucap Arkan tiba-tiba, membuat Syra kembali menoleh. "Keduanya butuh fokus, butuh ketenangan, dan butuh keberanian untuk memulai dari awal meskipun kita tahu kita bisa jatuh kapan saja."

Syra terpaku. Ia tidak menyangka ustadz yang ia anggap kaku ini bisa menganalogikan agama dengan balapan. Baru saja Syra hendak membalas, pintu perpustakaan tiba-tiba terbuka dengan kasar.

Omar Rizky Hafiz muncul dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya yang biasanya penuh tawa kini pucat pasi. Kopiahnya miring, dan ia memegang sebuah ponsel dengan tangan gemetar.

"Gus! Gus Arkan! Gawat bin celaka!" teriak Omar, lupa pada adab masuk perpustakaan.

Arkan berdiri seketika, raut wajahnya berubah menjadi mode protektif. "Ada apa, Mar? Bicara yang jelas."

"Itu... di depan gerbang utama! Ada sekelompok orang pakai jaket kulit hitam, motornya bising banget, mereka sengaja bleyer-bleyer knalpot di depan masjid! Mereka nanyain Mbak Syra. Katanya kalau Mbak Syra nggak keluar dalam sepuluh menit, mereka bakal blokir jalan utama desa biar jamaah pengajian besok pagi nggak bisa lewat!"

Syra langsung berdiri, mukenanya tersingkap menunjukkan celana jeans di dalamnya. "Itu pasti orang-orangnya Fariz Haidar. Sialan, dia beneran berani ke sini bawa pasukan!"

Arkan beralih menatap Syra. Sorot matanya kini mendingin sekeras baja. "Syra, tetap di sini. Jangan keluar dari ruangan ini sampai saya kembali. Mengerti?"

"Nggak bisa, Arkan! Fariz itu psikopat! Dia nggak bakal pergi kalau nggak liat gue! Gue nggak mau pesantren ini kena masalah gara-gara gue!" Syra hendak melangkah pergi, namun Arkan memegang kedua bahunya dengan kuat.

"Saya bilang tetap di sini," suara Arkan rendah, bergetar dengan otoritas yang tak bisa dibantah. "Mulai saat ini, kamu bukan lagi tanggung jawab Ayahmu atau Fariz. Kamu adalah tanggung jawab Al-Fathan. Tanggung jawab saya. Omar, panggil tim keamanan santri. Suruh mereka bawa pagar betis, tapi jangan ada yang memukul sebelum saya perintah."

Arkan melangkah keluar dengan gerakan predator yang sangat terkendali. Syra melihat punggung tegap Arkan menjauh, dan entah kenapa, rasa takutnya perlahan berganti dengan rasa kagum yang aneh. Namun, Syra tetaplah Syra. Ia tidak akan membiarkan Arkan menghadapi "dunianya" yang kotor sendirian.

Begitu pintu tertutup, Syra segera melepas mukenanya, menyisakan kaos hitam bergambar tengkorak dan celana jeans. Ia melirik ke jendela perpustakaan yang mengarah langsung ke halaman depan.

"Sori, Gus. Tapi 'debu' yang lo maksud ini nggak akan cuma duduk diam liat lo dikeroyok," gumam Syra sambil memanjat jendela dengan lincah.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Hartini Donk
dalemmmm banget terhura aku...👍👍👍💪
falea sezi
sweet amat sih gus
falea sezi
suka deh endingnya g ribet g bertele Tele kerennnn
falea sezi
ini dibuat sinet pendek bagus deh
falea sezi
jd mereka uda nikah
Hartini Donk
jossss
Hartini Donk
ini n kdi film po sinetron mini keren banget thorrrr...
Isti Mariella Ahmad: wah semoga aja ya
total 1 replies
Rahma Sari
keren loh ceritanya.
Rahma Sari
keren loh ceritanya
Isti Mariella Ahmad: Terimakasih sayang, baca yang lain juga ya
total 1 replies
Hartini Donk
aku sukaaa...
Rahma Sari: aq juga suka (maaf y u yg sentuhan fisik bukan bermaksud membenarkan) tp ini novel.
total 1 replies
Muharlita Muharlita
Wahhh seru ceritanya
Isti Mariella Ahmad: Makasih sayang, baca cerita yang lain juga ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!