NovelToon NovelToon
TINDER LOVE

TINDER LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Kontras Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Apung Cegak

Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.

Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

setelah tubuh belajar diam

Tidak ada penanda yang jelas kapan seseorang mulai hidup lagi setelah kehilangan. Tidak ada garis start, tidak ada aba-aba. Yang ada hanya tubuh yang perlahan belajar diam, dan pikiran yang perlahan belajar tidak selalu melawan.

Beberapa waktu setelah aku bisa duduk lebih lama, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya luput. Cahaya matahari yang masuk lewat celah jendela tidak lagi terasa menyilaukan, hanya hangat. Debu yang menempel di meja bukan lagi sesuatu yang harus segera dibersihkan. Aku membiarkannya ada, seperti aku membiarkan diriku sendiri ada—tidak rapi, tidak sempurna.

Aku masih sering terbangun dengan perasaan kosong. Bukan sedih yang meledak-ledak, tapi sunyi yang menetap. Sunyi yang membuat dadaku terasa lapang sekaligus sesak. Dalam keadaan seperti itu, aku belajar untuk tidak langsung bangun. Aku membiarkan diriku berbaring sebentar, mendengarkan napasku sendiri, memastikan aku masih di sini.

Tubuhku masih lemah. Kadang kakiku gemetar hanya karena berdiri terlalu lama. Kadang kepalaku terasa ringan, seperti melayang. Tapi ada perbedaan kecil yang mulai kurasakan: aku tidak lagi memaksa diriku untuk segera kuat. Aku berhenti marah pada tubuhku karena lambat pulih. Aku berhenti menganggap kelemahan sebagai kegagalan.

Aku mulai memahami bahwa tubuh menyimpan banyak hal yang tidak pernah sempat kuakui.

Hubunganku dengan Moses tetap berjalan, meski dengan bentuk yang berubah. Kami masih saling mengabari, tapi tidak lagi sepanjang hari. Percakapan kami menjadi lebih hati-hati, seperti dua orang yang sama-sama tidak ingin menyentuh luka yang belum menutup. Ia bertanya bagaimana keadaanku. Aku menjawab seperlunya. Ia mengingatkanku makan. Aku mengucapkan terima kasih.

Ada rasa hangat di sana.

Tapi juga ada jarak yang tidak bisa disangkal.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, apakah jarak itu muncul karena kehilangan ini, atau karena sejak awal memang ada. Pertanyaan itu tidak selalu menuntut jawaban. Kadang ia hanya lewat, lalu pergi sendiri.

Aku tidak ingin menyalahkan siapa pun. Tidak Moses, tidak diriku sendiri. Aku hanya ingin jujur pada apa yang kurasakan. Bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan niat baik. Bahwa hadir secara emosional bukan sekadar mengatakan akan bertanggung jawab, tapi juga tentang berada di ruang yang sama dengan rasa sakit itu—meski tidak nyaman.

Aku belum siap membicarakan itu dengannya.

Belum sekarang.

Di dalam rumah, suasana mulai mencair, meski perlahan. Teman sekamarku tidak lagi sepenuhnya menghindar. Kami berbincang hal-hal ringan—tentang cuaca, tentang makanan, tentang hal-hal remeh yang tidak menuntut apa pun. Aku tidak menceritakan detail kehilangan ini. Aku hanya bilang aku sedang pemulihan.

Dan mereka menerima itu.

Aku belajar bahwa tidak semua orang perlu tahu ceritaku secara utuh. Ada bagian-bagian yang boleh tetap menjadi milikku sendiri.

Suatu sore, aku memberanikan diri keluar kamar lebih lama. Duduk di ruang tamu dengan jendela terbuka. Angin masuk membawa suara kendaraan dan percakapan orang-orang di luar. Dunia terdengar hidup. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa tertinggal sepenuhnya.

Aku menyeduh teh dan benar-benar meminumnya. Hangatnya menyebar pelan, menenangkan. Aku menyadari betapa lama aku hidup dengan tubuh yang terus dipaksa, pikiran yang terus dituntut, tanpa pernah benar-benar didengarkan.

Kehilangan ini memaksaku berhenti.

Dan dalam berhenti itu, aku mulai melihat banyak hal dengan lebih jujur.

Malam-malam masih berat. Ada saat-saat di mana rasa bersalah kembali menyelinap, bertanya apakah aku bisa melakukan sesuatu yang berbeda. Tapi kini, aku tidak lagi menghakimi diriku dengan kejam. Aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku sudah melakukan yang aku bisa, dengan kemampuan yang kumiliki saat itu.

Dan itu cukup.

Aku mulai menulis lagi. Bukan untuk dibaca orang lain, bukan untuk mencari makna besar. Aku menulis karena aku perlu tempat untuk meletakkan pikiranku. Kata-kata itu kadang berantakan, kadang berulang, tapi jujur. Dalam tulisan-tulisan itu, aku tidak harus kuat. Aku boleh ragu. Aku boleh marah. Aku boleh merasa kehilangan tanpa harus menjelaskannya.

Menulis menjadi caraku bernapas.

Moses pernah bertanya apakah aku ingin ia datang. Pertanyaan itu membuatku diam lama. Bukan karena aku tidak ingin bertemu, tapi karena aku belum tahu apa yang kubutuhkan. Aku belum tahu apakah kehadirannya akan membuatku merasa lebih utuh, atau justru memperjelas jarak yang selama ini ada.

Aku menjawab dengan jujur, bahwa aku belum siap.

Dan ia menerimanya, meski mungkin dengan kecewa yang tidak diucapkan.

Aku menghargai itu.

Hari demi hari berlalu tanpa tanda dramatis. Tidak ada momen besar yang menandai kebangkitanku. Hanya langkah-langkah kecil yang sering kali hampir tak terlihat. Tapi di sanalah perubahan itu terjadi—pelan, konsisten, dan tidak memaksa.

Aku mulai merawat diriku dengan cara yang sederhana. Tidur lebih teratur. Makan meski tidak selalu ingin. Mendengarkan tubuh ketika ia meminta istirahat. Aku tidak lagi menuntut diriku untuk segera pulih, karena aku tahu luka ini bukan sesuatu yang bisa disembuhkan dengan tergesa.

Aku masih membawa kehilangan ini ke mana pun aku pergi. Ia menjadi bagian dari caraku memandang hidup, caraku memahami diriku sendiri. Tapi ia tidak lagi sepenuhnya menenggelamkanku.

Aku belajar bahwa hidup setelah kehilangan bukan tentang kembali menjadi orang yang sama. Itu tentang menjadi seseorang yang baru—dengan kesadaran yang lebih jujur tentang batas, tentang kebutuhan, dan tentang diri sendiri.

Aku tidak tahu ke mana arah hubunganku dengan Moses akan berjalan. Aku tidak tahu seperti apa masa depanku nanti. Tapi untuk pertama kalinya, ketidaktahuan itu tidak sepenuhnya menakutkan.

Aku masih di sini.

Masih berjalan, meski pelan.

Masih belajar hadir, meski belum utuh.

Dan mungkin, itu sudah cukup untuk sekarang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!