NovelToon NovelToon
Ternyata, Bukan Figuran

Ternyata, Bukan Figuran

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Diam-Diam Cinta / Percintaan Konglomerat / Kencan Online / Cintapertama / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Romansa yang Elegan

Suasana di ruang makan mansion yang tadinya terasa tegang dan penuh intimidasi, tiba-tiba pecah oleh suara langkah kaki yang terburu-buru dan derit pintu yang dibuka paksa.

"Ibu, apa yang kau lakukan pada Jane?!"

Julius muncul di ambang pintu dengan napas memburu. Rambutnya sedikit berantakan, dan ia bahkan masih mengenakan kemeja kantornya yang lengannya digulung asal-asalan. Ia tidak bisa bertahan lebih dari satu jam di apartemen, pikirannya dipenuhi skenario buruk bahwa Jane sedang diinterogasi atau dipaksa pergi.

Victoria Randle, sang ibunda, justru meletakkan serbetnya dengan sangat tenang lalu tertawa kecil melihat kepanikan putra tunggalnya.

"Astaga, Julius. Kau sudah dewasa tapi masih saja tidak punya sopan santun jika menyangkut gadis ini," goda Victoria sambil tersenyum geli. "Apa kau pikir ibumu ini penyihir jahat yang akan meracuni kekasihmu?"

Julius berjalan cepat menghampiri Jane, memeriksa wajah dan bahu Jane seolah memastikan tidak ada luka sedikit pun. "Jane, kau baik-baik saja? Dia tidak mengatakan hal yang aneh padamu, kan?"

Jane yang tadinya tegang justru menjadi malu karena tingkah posesif Julius yang berlebihan di depan ibunya sendiri. "Julius, tenanglah... Ibumu hanya mengajakku bicara. Dia sangat baik."

Victoria menatap putranya dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya. "Duduklah, Julius. Kau merusak suasana makan malam wanita. Aku mengundangnya ke sini bukan untuk mengusirnya. Aku hanya ingin memastikan apakah wanita yang membuat putraku jadi pemberontak ini memiliki hati yang tulus."

Victoria beralih menatap Jane kembali. "Dan aku sudah mendapatkan jawabannya. Jane tidak menatap harta Randle, dia menatapmu seolah kau adalah satu-satunya oksigen di ruangan ini. Itu sudah cukup bagiku."

Julius akhirnya menarik kursi di sebelah Jane dan duduk dengan perlahan, meskipun tangannya langsung menggenggam tangan Jane di atas meja, tidak mau melepaskannya lagi.

"Ayahmu terlalu terobsesi pada angka dan kekuasaan," lanjut Victoria. "Tapi aku tahu, tanpa kebahagiaan, kekuasaan itu hanya penjara. Jane adalah kunci kebebasanmu, Julius. Dan aku akan memastikan tidak ada yang mengganggu kunci itu, termasuk ayahmu."

Makan malam yang tadinya Jane kira akan menjadi ajang penghakiman, justru berubah menjadi sesi bercerita. Victoria mulai menceritakan masa kecil Julius yang ternyata sangat culun, seperti bagaimana Julius kecil menangis saat kehilangan robot mainannya yang membuat Jane tertawa lepas dan Julius memerah karena malu.

"Ibu, tolong berhenti mempermalukanku di depan Jane," keluh Julius, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

Melihat kedekatan ibu dan kekasihnya, Julius akhirnya benar-benar yakin. Restu ini bukan jebakan. Ini adalah dukungan nyata. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Julius merasa mansion yang dingin ini terasa seperti rumah.

Saat mereka berpamitan di depan pintu mansion, Victoria memeluk Jane dengan hangat. "Sering-seringlah datang, Jane. Dan Julius... jaga dia baik-baik. Kalau kau membuatnya menangis, kau berhadapan denganku, bukan dengan ayahmu."

Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Julius terus menggenggam tangan Jane. Suasana hatinya sangat bagus.

"Ternyata ibumu sangat luar biasa, Julius," gumam Jane sambil menyandarkan kepala di bahu Julius.

"Ya, dia memang hebat," sahut Julius. Ia kemudian menepikan mobilnya sejenak di pinggir jalan yang sepi dengan pemandangan lampu kota. Ia menangkup wajah Jane, mencium bibirnya dengan lembut namun penuh perasaan. "Sekarang tidak ada lagi yang perlu kita takutkan. Jane... maukah kau menikah denganku segera setelah kelulusanmu?"

Setelah restu dari Ibu Victoria turun, atmosfer di kampus berubah total. Jika sebelumnya hubungan mereka dipenuhi bisikan miring dan ketegangan, kini Julius dan Jane menjadi Power Couple yang tak tersentuh. Mereka bukan lagi sekadar mahasiswa populer, melainkan pasangan "Dewa dan Dewi" yang mendominasi koridor kampus dengan aura kecerdasan mereka.

Julius, dengan otak bisnis dan ekonominya yang tajam, kini sering terlihat di laboratorium atau studio tekstil mendampingi Jane. Mereka melakukan riset bersama untuk tugas akhir Jane: "Penerapan Serat Alami Berkelanjutan dalam Industri Fashion Global."

Julius duduk di samping Jane, membantu menganalisis data statistik pasar sementara Jane merancang prototipe kainnya.

Mahasiswa lain sering terpana melihat mereka berdebat tentang teori ekonomi makro dan desain estetika di perpustakaan, namun diakhiri dengan Julius yang mengecup kening Jane saat mereka berhasil menemukan solusi.

Mereka tidak lagi bersembunyi. Julius sering kali terlihat membawakan tas sketsa Jane atau menjemputnya tepat di depan kelas dengan mobil yang tidak lagi tertutup rapat.

"Jane, datanya sudah sinkron. Kau bisa fokus pada teknik pewarnaannya sekarang," ucap Julius sambil menyelipkan anak rambut Jane ke belakang telinga di kantin yang ramai.

Jane tersenyum, "Terima kasih, Mr. A... maksudku, Julius."

Henry yang melihat dari kejauhan biasanya akan berteriak, "Woi! Dunia milik berdua, yang lain cuma kontrak! Ingat ini kampus, bukan kamar pengantin!" yang hanya dibalas dengan lirikan tajam namun geli dari Julius.

Grace Liberty seolah lenyap ditelan bumi. Setelah skandal kehamilan palsu dan keterlibatannya dengan Liam terbongkar, ia memutuskan untuk mengambil cuti panjang (atau mungkin dikeluarkan secara halus oleh pihak kampus atas tekanan keluarga Randle). Tidak ada lagi yang berani mengusik Jane, karena semua orang tahu, Mengusik Jane berarti berhadapan dengan murka sang Matahari, Julius Randle.

Suatu sore, saat mereka sedang duduk di bawah pohon besar tempat mereka sering berdiskusi, Julius meletakkan kepalanya di pangkuan Jane.

"Jane," panggilnya pelan. "Dulu aku benci datang ke tempat ini. Aku hanya melihat angka dan target. Tapi sekarang, riset ini... masa depan ini... terasa jauh lebih nyata karena ada kau di sampingku."

Jane mengusap rambut Julius dengan lembut. "Aku juga tidak pernah menyangka, mahasiswa paling dingin di kampus ini bisa menjadi asisten riset yang paling berisik soal data."

Julius tertawa kecil, menarik tangan Jane dan mencium telapak tangannya. "Aku bukan asisten risetmu. Aku pemilik masa depanmu."

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍😍😍

1
Endang Sulistia
bagus...
Endang Sulistia
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Endang Sulistia
clark...🤪🤦🤦
Endang Sulistia
mantap hery
Endang Sulistia
sukurin kau jules
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Endang Sulistia
🤭🤣🤣
Lismawati Salam
bagus
Endang Sulistia
😊😊
Endang Sulistia
suka
Endang Sulistia
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!