NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 24: Honeymoon Gelap

Hari keenam di pulau pribadi. Pagi yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Aluna terbangun dengan sensasi hangat di lehernya bibir Arsen yang mencium lembut di sana, tangannya yang melingkari pinggang Aluna dari belakang, tubuhnya yang menempel sempurna dengan punggung Aluna.

"Arsen..." bisik Aluna dengan suara yang masih serak karena baru bangun.

"Pagi, sayang," gumam Arsen di leher Aluna, suaranya rendah dan serak suara yang membuat sesuatu di perut bawah Aluna mengencang. "Kamu tidur sangat nyenyak semalam. Tidak ada mimpi buruk."

"Karena Anda ada di sini," jawab Aluna sambil tangannya menyentuh tangan Arsen yang melingkari pinggangnya.

Arsen tersenyum di kulit leher Aluna, lalu mencium di sana lagi kali ini sedikit lebih dalam, lebih intens. Giginya sedikit menggigit dengan lembut, membuat Aluna menghela napas.

"Arsen..." Aluna mencoba berbalik, tetapi Arsen menahannya mempertahankan posisi mereka dengan Aluna yang membelakanginya.

"Tetap di sini," bisik Arsen sambil tangannya yang di pinggang Aluna bergerak naik perlahan, menyusuri tulang rusuk Aluna melalui kain tipis baju tidurnya. "Aku suka posisi ini. Aku bisa memelukmu sepenuhnya. Melindungimu sepenuhnya."

Tangannya berhenti tepat di bawah payudara Aluna tidak menyentuh, hanya... berhenti di sana. Menunggu.

"Boleh?" tanyanya dengan suara serak.

Ini pertama kalinya sejak trauma penculikan Arsen meminta izin seperti ini. Biasanya ia hanya... mengambil, dengan possessiveness yang tidak terkontrol.

Tetapi sekarang, di pulau ini, dalam seminggu penyembuhan ini... ada sesuatu yang berubah. Ada kelembutan baru. Ada... rasa hormat.

Aluna menarik napas dalam, lalu mengangguk pelan.

"Boleh," bisiknya.

Izin itu membuka sesuatu dalam diri Arsen. Tangannya bergerak dengan lembut namun yakin, menyentuh Aluna dengan cara yang membuat napas Aluna tercekat bukan karena takut, tetapi karena... sensasi.

"Kamu begitu indah," bisik Arsen di telinga Aluna sambil tangannya terus mengeksplorasi dengan gerakan yang lambat, yang menyiksa dengan cara yang manis. "Begitu sempurna. Milikku."

Kata terakhir itu diucapkan dengan nada possessive yang sudah sangat familiar bagi Aluna tetapi kali ini tidak terdengar menakutkan. Terdengar... memabukkan.

Aluna membalikkan tubuhnya menghadap Arsen, matanya bertemu dengan mata kelam yang dipenuhi dengan hasrat tetapi juga cinta yang sangat jelas.

"Tunjukkan pada saya," bisik Aluna dengan berani yang baru ia temukan. "Tunjukkan bagaimana Anda mencintai saya."

Sesuatu berkilat di mata Arsen sesuatu yang gelap, yang intens.

"Kamu yakin?" tanyanya dengan suara yang bergetar sedikit. "Karena kalau aku mulai... aku tidak tahu apakah aku bisa lembut sepanjang waktu. Ada sisi dariku yang... brutal. Yang ingin menandai. Yang ingin memiliki dengan cara yang..."

Aluna menutup bibir Arsen dengan jemarinya.

"Saya tahu siapa Anda," bisiknya sambil matanya menatap dalam ke mata Arsen. "Saya tahu Anda punya sisi lembut dan sisi brutal. Dan saya... saya mencintai keduanya. Jadi tunjukkan pada saya. Semua sisi Anda."

Arsen menatapnya lama, memastikan Aluna benar-benar yakin. Lalu ia mencium Aluna ciuman yang dimulai lembut tetapi dengan cepat menjadi lebih dalam, lebih menuntut.

Tangannya bergerak ke belakang kepala Aluna, jemarinya terbenam di rambut Aluna, menarik sedikit tidak menyakiti tetapi cukup untuk membuat Aluna mendongak, memberikan Arsen akses penuh ke leher Aluna.

Bibir Arsen turun dari bibir Aluna ke rahang, ke leher, mencium, menggigit lembut, menghisap meninggalkan tanda-tanda kepemilikan yang akan terlihat jelas nanti.

"Arsen..." Aluna mendesah, tangannya mencengkeram bahu Arsen.

"Aku tahu," gumam Arsen di kulit leher Aluna. "Aku tahu ini terlalu banyak. Tetapi aku tidak bisa berhenti. Aku butuh menandaimu. Butuh semua orang tahu kamu milikku."

Tangannya bergerak ke bawah, menarik Aluna lebih dekat hingga tidak ada jarak sama sekali di antara mereka.

"Katakan kamu milikku," bisiknya dengan suara yang lebih gelap sekarang sisi brutalnya mulai muncul.

"Saya milik Anda," bisik Aluna tanpa ragu.

"Sepenuhnya?"

"Sepenuhnya."

"Selamanya?"

"Selamanya."

Kata-kata itu melepaskan sesuatu dalam diri Arsen. Ia mengangkat Aluna dengan mudah, mendudukkan Aluna di pangkuannya dengan posisi menghadap posisi yang sangat intim, yang membuat tubuh mereka menekan satu sama lain dengan sempurna.

"Kamu akan menjadi kematianku," gumam Arsen sambil tangannya menyusuri punggung Aluna, turun ke pinggang, menarik Aluna lebih dekat. "Obsesiku. Kegilaanku."

"Dan Anda adalah keselamatan saya," bisik Aluna sambil tangannya menyentuh wajah Arsen, mengusap garis rahangnya. "Pelindung saya. Cinta saya."

Arsen menatapnya dengan tatapan yang sangat intens campuran cinta, hasrat, dan possessiveness yang absolut.

"Aku akan mencintaimu dengan lembut," bisiknya sambil mencium bibir Aluna dengan sangat lembut, kontras dengan tangannya yang mencengkeram pinggang Aluna dengan kuat. "Dan aku akan mencintaimu dengan brutal. Bergantian. Sampai kamu tidak bisa membedakan mana yang mana. Sampai kamu hanya tahu satu hal: kamu milikku."

Dan di pagi itu, di kamar dengan pemandangan laut yang memukau, Arsen menunjukkan pada Aluna semua sisi cintanya yang lembut dan yang brutal, yang penuh kehangatan dan yang penuh possessiveness, yang menyembuhkan dan yang menandai.

Siang hari, mereka berbaring di tempat tidur dengan tubuh yang lelah tetapi puas. Sprei kusut di sekitar mereka, bantal berserakan, dan tubuh Aluna dipenuhi dengan tanda-tanda baru love bites di leher, bahu, bahkan di tulang selangka.

Arsen berbaring menyamping, satu tangannya menopang kepalanya sementara tangan lainnya dengan lembut menelusuri tanda-tanda yang ia tinggalkan di tubuh Aluna.

"Apa aku terlalu kasar?" tanyanya dengan suara yang lembut, penuh kekhawatiran.

Aluna yang berbaring telentang dengan mata setengah terpejam masih merasakan sisa-sisa sensasi dari apa yang baru saja terjadi menggelengkan kepala pelan.

"Tidak," bisiknya. "Anda... sempurna. Lembut saat saya butuh kelembutan. Intense saat saya butuh merasakan... kepemilikan Anda."

Ia berbalik menghadap Arsen, tangannya menyentuh dada telanjang pria itu.

"Saya tidak menyesal," lanjutnya. "Saya tidak takut. Saya... merasa dicintai. Dengan cara yang sangat Anda."

Arsen merasakan sesuatu mencair di dadanya. Ia menarik Aluna ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala Aluna dengan lembut.

"Aku mencintaimu," bisiknya. "Lebih dari yang bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Lebih dari yang bisa aku tunjukkan bahkan dengan sentuhan."

Aluna tersenyum di dadanya.

"Saya tahu. Saya merasakannya. Setiap hari. Setiap sentuhan. Setiap tatapan."

Mereka berbaring dalam pelukan erat, mendengarkan suara ombak dari luar, merasakan angin laut yang masuk melalui jendela yang sedikit terbuka.

"Arsen," panggil Aluna setelah lama terdiam.

"Hmm?"

"Apa yang akan terjadi saat kita kembali ke Jakarta besok?" tanyanya dengan suara yang sedikit khawatir. "Apa... apa kita akan kembali seperti sebelum penculikan? Dengan ketakutan, dengan trauma?"

Arsen terdiam sejenak, tangannya mengelus rambut Aluna dengan lembut.

"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Mungkin ketakutan akan kembali. Mungkin trauma akan muncul lagi saat kita menghadapi dunia nyata."

Ia membuat Aluna mendongak menatapnya.

"Tetapi yang aku tahu," lanjutnya sambil menatap dalam ke mata Aluna, "adalah bahwa kita akan menghadapinya bersama. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Dan kamu tidak akan membiarkanku sendirian. Kita... kita adalah tim sekarang. Tim yang rusak, mungkin. Tetapi tim yang kuat."

Aluna tersenyum senyum yang penuh dengan cinta dan kepercayaan.

"Tim yang rusak tetapi kuat," ulangnya. "Saya suka itu."

Arsen menciumnya lagi ciuman yang lembut, yang penuh janji.

"Besok kita kembali ke dunia nyata," bisiknya. "Tetapi apa pun yang terjadi, ingat satu hal: kamu adalah milikku, dan aku adalah milikmu. Tidak ada yang bisa mengubah itu."

Malam terakhir di pulau, mereka menghabiskan waktu di pantai makan malam romantis yang sudah disiapkan staff dengan meja yang dihias lilin, bunga-bunga tropis, dan makanan laut segar.

Setelah makan, mereka berjalan di sepanjang pantai dengan tangan bertautan, kaki telanjang merasakan pasir dan air laut yang dingin.

"Aku akan merindukan ini," ucap Aluna sambil menatap langit yang mulai gelap, bintang-bintang mulai muncul satu per satu. "Kedamaian ini. Hanya kita berdua tanpa dunia luar yang mengganggu."

Arsen berhenti berjalan, menarik Aluna menghadapnya. Tangannya memegang wajah Aluna dengan lembut.

"Maka kita akan kembali," ucapnya. "Kapan pun kamu butuh. Kapan pun dunia luar menjadi terlalu banyak. Kita akan kembali ke sini. Ke surga kecil kita."

Aluna merasakan air mata menggenang di matanya air mata bahagia.

"Janji?"

"Janji," jawab Arsen dengan yakin. "Pulau ini, villa ini, pantai ini semua ini adalah milik kita. Tempat pelarian kita. Tempat penyembuhan kita."

Ia mencium Aluna dengan lembut ciuman yang penuh dengan cinta, dengan janji, dengan harapan untuk masa depan.

Saat mereka terpisah, Arsen menarik sesuatu dari saku celananya sebuah kotak perhiasan kecil.

Aluna terbelalak.

"Arsen..."

Arsen membuka kotak itu, menampilkan sebuah cincin cincin berlian dengan desain yang unik, elegan namun bold, persis seperti hubungan mereka.

"Aku tahu kita belum resmi bertunangan," ucap Arsen sambil berlutut di pasir pantai, di bawah langit berbintang. "Aku tahu hubungan kita dimulai dengan cara yang salah kontrak, paksaan, obsesi."

Ia menatap mata Aluna yang sudah berkaca-kaca.

"Tetapi di suatu titik, itu berubah. Itu menjadi cinta. Cinta yang gelap, yang obsesif, yang mungkin tidak sehat di mata orang lain. Tetapi cinta yang nyata. Cinta yang tulus."

Ia mengambil tangan kiri Aluna, memegangnya dengan lembut.

"Aluna Pradipta, maukah kamu menjadi istriku? Tidak karena kontrak. Tidak karena paksaan. Tetapi karena kamu memilih untuk menjadi milikku, seperti aku memilih untuk menjadi milikmu?"

Air mata mengalir di pipi Aluna. Ia jatuh berlutut di hadapan Arsen, kedua tangannya memegang wajah pria itu.

"Ya," bisiknya dengan suara bergetar. "Ya, saya akan menjadi istri Anda. Saya memilih Anda. Dengan semua kegelapan Anda. Dengan semua obsesi Anda. Saya memilih kita."

Arsen merasakan air matanya sendiri mengalir. Dengan tangan yang gemetar, ia memasangkan cincin itu di jari manis Aluna pas sempurna, seolah memang dibuat untuk Aluna.

Lalu ia menarik Aluna ke dalam pelukannya yang erat, dan mereka menangis bersama menangis karena bahagia, karena lega, karena akhirnya menemukan seseorang yang menerima mereka apa adanya.

"Aku mencintaimu," isak Arsen di rambut Aluna. "Aku sangat mencintaimu."

"Saya juga mencintai Anda," isak Aluna di dada Arsen. "Lebih dari yang Anda tahu."

Mereka berpelukan lama di pantai itu, dengan ombak sebagai saksi, dengan bintang-bintang sebagai penerangan, dengan cincin berlian di jari Aluna yang berkilauan di bawah cahaya bulan.

Dan malam itu malam terakhir di pulau mereka kembali ke villa dan menghabiskan malam dengan saling mencintai dengan lembut dan brutal, dengan kelembutan dan possessiveness, dengan cara yang hanya mereka berdua yang mengerti.

Karena itulah cinta mereka.

Gelap. Obsesif. Salah di mata dunia.

Tetapi sempurna untuk mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!