" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"
"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"
"Halah paling juga nanti kamu nyesal"
Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Resing Nana
Sudah satu hari penuh Nana hanya mengurung diri di dalam kamar kosnyanya. Nana meraih ponselnya yang sejak kemarin ia biarkan dalam mode hening. Begitu layar menyala, rentetan notifikasi langsung memenuhi layar. Sudah banyak pesan dari Abian masuk ke WA nya.
Nana hanya menatap layar itu dengan tatapan kosong. Ia hanya membacanya lewat baris notifikasi, tapi tidak ada satu pun yang ditanggapi olehnya.
Untuk mengalihkan pikirannya, Nana membuka aplikasi perbankan di ponselnya. Ia menatap deretan angka di sana. Nana melihat tabungan untuk membeli rumahnya yang kini sudah hampir menyentuh angka tiga digit. Setetes air mata kembali jatuh membasahi layar ponselnya. Itu adalah uang yang ia kumpulkan dengan kerja keras, lembur siang malam.
Rumah yang awalnya akan dia beli untuk tempat tinggalnya bersama sang Ibu.
"Sedikit lagi, Ma... sedikit lagi harusnya kita punya rumah sendiri," bisiknya lirih.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Nama Sophia muncul di layar. Nana menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Halo, Na?" suara Sophia terdengar sangat lembut di seberang sana.
"Iya, Sof..."
"Kamu lagi apa? Sudah makan belum? Aku cuma mau bilang, jangan terlalu lama menyendiri ya. Kalau butuh apa-apa langsung telepon aku ya." ucap Sophia.
"Makasih ya, Sof. Makasih banyak."
Keesokan harinya, Nana melangkah masuk ke lobi kantor dengan wajah yang masih pucat, namun tatapannya terlihat jauh lebih tenang dan mantap. Langkah kakinya yang biasanya terburu-buru kini terasa lebih lambat.
Begitu sampai di meja kerjanya, ia melihat Juan sudah ada di sana, sedang berkutat dengan tumpukan berkas yang tampak berantakan. Melihat kehadiran Nana, Juan langsung berdiri dengan raut wajah kikuk dan serba salah.
"Eh... Na? Kamu sudah masuk? Syukurlah," sapa Juan canggung. Ia ingin bertanya banyak hal, tapi melihat aura Nana yang sangat tertutup, Juan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Nana hanya mengangguk tipis sebagai balasan.
Tok... Tok... Tok...
Nana membuka pintu dan melangkah masuk. Di balik meja besar itu, Abian tampak sedikit terkejut melihat asistennya tiba-tiba muncul.
"Kamu..." Abian berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya yang sempat goyah.
"Baru ingat punya kantor? Dari mana saja kamu? Kamu tahu berapa banyak kekacauan yang harus saya tanggung karena kamu menghilang tanpa kabar?"
Abian sudah bersiap untuk mengeluarkan rentetan omelan panjangnya, namun kalimatnya terhenti saat Nana berjalan mendekat dan meletakkan surat itu di atas meja kerjanya.
"Saya mau resign, Pak," ucap Nana.
Ia menatap surat di hadapannya, lalu menatap Nana dengan tatapan tidak percaya.
"Hah?" hanya itu kata yang berhasil keluar dari mulut Abian.
"Resign? Apa maksud kamu? Jangan bercanda, Nana. Kalau kamu marah karena saya bisa bicara, tapi bukan begini caranya."
Nana menggeleng pelan. "Saya tidak bercanda. Saya sudah memikirkan ini matang-matang. Terima kasih atas tiga tahunnya, Pak."
Abian menatap surat pengunduran diri itu. Tanpa ragu, ia mencengkeram kertas tersebut dan merobeknya menjadi serpihan kecil di depan wajah Nana.
"Saya tidak terima surat ini!" desis Abian.
"Apa alasan mu memilih resign dari sini, apa gaji yang saya berikan kurang banyak"
"Saya sudah tidak bisa fokus bekerja di sini, Pak. Saya butuh waktu untuk menata hidup saya kembali. Alasan saya bertahan selama ini sudah tidak ada lagi," jawab Nana mencoba menjelaskan sesingkat mungkin.
Namun, Abian justru tertawa sinis, ia benar-benar tidak terima dengan alasan itu..
"Menata hidup? Alasan macam apa itu?!" bentak Abian. "Kamu menghilang lebih dari seminggu tanpa kabar, membuat semua urusan kantor kacau, dan sekarang kamu kembali cuma untuk bilang mau berhenti? Kamu pikir perusahaan ini tempat main-main yang bisa kamu tinggalkan sesuka hati?"
Mendengar tuduhan Abian yang begitu tidak berperasaan, pertahanan Nana runtuh. Rasa frustasi dan luka yang ia pendam meledak seketika.
"Ibu saya meninggal, Pak!" teriak Nana.
"Satu-satunya alasan saya bekerja keras seperti orang gila di bawah tekanan Bapak adalah untuk membelikan rumah buat Ibu! Sekarang Ibu sudah nggak ada! Untuk apa saya di sini lagi?"
"Saya sudah lelah pak bekerja dengan bapak, tiap hari saya tekanan batin.
Setelah kalimat terakhir itu keluar, pertahanan Nana runtuh sepenuhnya. Ia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan akhirnya menangis sejadi-jadinya.
Abian menghela napas panjang, tatapannya kini melunak.
"Kenapa? Saya terlalu keras ya?" tanya Abian dengan suara yang pelan.
Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Nana yang masih terisak. "Kalau kamu mau mengambil cuti, silakan. Ambil waktu sebanyak yang kamu butuh, Na. Tapi tolong, jangan resign ya. Saya... saya sudah nyaman bekerja denganmu."
Melihat Nana yang masih tidak berhenti menangis, Abian tidak bisa lagi menahan dirinya. Ia melangkah maju dan menarik Nana ke dalam pelukannya. Dengan canggung ia mengelus rambut Nana, mencoba memberikan kekuatan.
"Sstt... sudah ya," ucap Abian menenangkan. Ia sedikit merenggangkan pelukannya, menatap wajah Nana yang sembap.
"Udah ya nangisnya. Maskara kamu luntur tuh, jadi kayak panda," goda Abian sambil menyeka air mata di pipi Nana dengan ibu jarinya.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan kasar tanpa ada suara ketukan sedikit pun. Juan masuk dengan langkah terburu-buru.
"Pak, ada laporan dari..."
Suara Juan mendadak hilang ditelan udara. Ia membeku di tempat, kakinya seolah tertanam ke lantai saat melihat pemandangan yang sangat tidak biasa di depannya. Matanya melotot menyaksikan bosnya.
"Eh... maaf, Pak! Saya... saya kira tadi Bapak sedang sendiri," ucap Juan. Ia langsung menutup pintu dan keluar.
Nana yang tersadar langsung mendorong dada Abian dan menjauh.
🤣😭
update nya jangan lama" dunk
apa yang dijodohkan sama Sofia temannya Abian🤔🤔🤔