Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang
Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.
Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Bisa Menerima Ini
Peng Bei menghela napas panjang. Senyum tipis di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan ekspresi serius namun hangat. Ia menatap kembali kantong kulit di tangannya, lalu menggeleng pelan.
“Tidak,” katanya akhirnya, suaranya tegas namun tidak keras. “Aku tidak bisa menerima ini.”
Gao Rui terkejut. “Tetua....”
Peng Bei mengangkat tangan, menghentikannya sebelum ia sempat melanjutkan.
“Bukan karena jumlahnya,” lanjut Peng Bei. “Melainkan karena alasan lain.”
Ia menatap Gao Rui dengan sorot mata yang dalam.
“Jika suatu hari nanti aku bertemu dengan gurumu, aku tidak akan punya muka jika aku menerima pemberian dari muridnya.”
Ucapan itu keluar tanpa ragu, seolah keputusan tersebut sudah bulat. Peng Bei kemudian tersenyum kecil, kali ini lebih tulus.
“Lagipula,” tambahnya, “apa yang telah guru ini berikan pada sekte ini dan padaku jauh lebih berharga daripada koin emas mana pun. Teknik-teknik beladiri yang ia titipkan… itu bukan sesuatu yang bisa dinilai dengan harta dunia.”
Ia mengembalikan kantong kulit itu ke tangan Gao Rui.
“Simpan saja. Kau mungkin akan membutuhkannya di masa depan.”
Gao Rui menatap kantong itu sejenak, lalu menatap Peng Bei. Ia tidak memaksa lagi. Dengan hormat, ia menyimpan kembali kantong kulit tersebut ke dalam cincin ruangnya.
Peng Bei lalu menepuk tangannya ringan.
“Baiklah. Kalau begitu, anggap masalah halaman ini sudah selesai.”
Ia tersenyum lebar.
“Sekarang, ikut aku. Kita makan siang.”
Gao Rui refleks menggeleng.
“Tidak perlu, Tetua. Aku bisa memasak sendiri di rumah.”
Peng Bei tertawa kecil.
“Haha, kau ini… terlalu mandiri untuk bocah seusiamu.”
Ia lalu berkata dengan nada bercanda, seolah baru teringat sesuatu.
“Oh ya, gurumu juga berpesan padaku untuk menyediakan makan untukmu.”
Gao Rui berkedip.
“Benarkah?”
Peng Bei terdiam sepersekian detik. Ekspresinya sedikit canggung.
“Te-tentu saja,” katanya terbata-bata. “Ingat, aku ditunjuk sebagai pengawasmu di sekte ini. Mengurus makan muridnya adalah bagian dari tugasku.”
Alasan itu jelas dikarang, dan mereka berdua sebenarnya sama-sama menyadarinya. Namun Gao Rui hanya menatap Peng Bei beberapa saat, lalu akhirnya tersenyum kecil.
“Kalau begitu… baik,” katanya.
Mereka pun berjalan masuk ke dalam kediaman Peng Bei. Beberapa pelayan segera menyambut dan menyajikan berbagai hidangan hangat di atas meja kayu panjang. Aroma masakan memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang jauh lebih santai dibanding halaman latihan sebelumnya.
Saat mereka mulai makan, obrolan ringan pun tercipta. Peng Bei menanyakan hal-hal sederhana, tentang kehidupan Gao Rui di sekte, kebiasaannya, dan latihannya sehari-hari.
Setelah beberapa saat, Peng Bei meletakkan sumpitnya.
“Ngomong-ngomong,” katanya, “apa rencanamu selanjutnya dalam latihan?”
Gao Rui menjawab tanpa ragu.
“Aku akan mempelajari berbagai teknik yang diberikan guruku.”
Peng Bei mengangguk.
“Masih banyak yang belum kau pelajari?”
“Banyak,” jawab Gao Rui jujur. “Ada beragam teknik dan jurus yang belum sempat kupelajari. Beberapa di antaranya bahkan baru sebatas pemahaman dasar.”
Peng Bei terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Dalam hatinya, ia kembali mengagumi sosok Boqin Changing yang mampu memberikan begitu banyak fondasi pada seorang murid semuda ini.
Tiba-tiba, Gao Rui mengangkat kepalanya lagi.
“Oh ya, Tetua,” katanya. “Aku hampir lupa menyampaikan satu pesan dari guru.”
Peng Bei langsung menoleh.
“Pesan?”
Gao Rui mengangguk.
“Guru berkata… Tetua Bei boleh mempelajari apa yang sedang aku pelajari.”
Sumpit di tangan Peng Bei berhenti di udara.
“Apa…?”
Matanya membelalak, benar-benar terkejut. Ia menatap Gao Rui seolah memastikan ia tidak salah dengar.
“Benarkah itu?” tanya Peng Bei perlahan. “Jika begitu… aku tidak akan dianggap mencuri teknikmu.”
Namun sesaat kemudian, ekspresinya berubah ragu.
“Tapi… apakah tidak apa-apa? Ini tetap teknik gurumu.”
Gao Rui menggeleng.
“Tidak apa kata guru. Anggap saja imbal balik.”
Ia melanjutkan dengan tenang, mengulang pesan itu persis seperti yang ia terima.
“Guru berkata, pasti akan ada masa di mana aku kebingungan. Di situlah tugas Tetua Bei untuk membantuku.”
Peng Bei terdiam lama. Lalu ia mengangguk pelan, penuh pengertian.
“Jadi begitu…” gumamnya. “Dengan kata lain, aku boleh mempelajari apa yang kau pelajari… dengan catatan aku juga harus membantumu mempelajarinya.”
Ia tersenyum kecil, senyum yang kali ini mengandung rasa tanggung jawab besar.
“Baik,” kata Peng Bei mantap. “Aku mengerti.”
Di meja makan itu, tanpa disadari siapa pun, sebuah hubungan yang jauh lebih dalam dari sekadar tetua dan murid mulai terbentuk.
...*******...
Gao Rui berpamitan dengan hormat setelah makan siang itu selesai. Ia berdiri, merapikan pakaiannya, lalu menangkupkan tangan ke arah Peng Bei.
“Terima kasih atas jamuannya, Tetua,” ucapnya tulus.
Peng Bei mengangguk sambil tersenyum.
“Berlatihlah dengan baik. Jika ada yang tidak kau pahami, datanglah kemari.”
Gao Rui mengiyakan, lalu berbalik meninggalkan kediaman tersebut.
Langkahnya tenang saat ia berjalan menyusuri jalur batu menuju area pemukiman murid. Anehnya, sepanjang jalan itu terasa jauh lebih lengang dari biasanya. Beberapa murid yang kebetulan melihatnya langsung menundukkan kepala dan berpura-pura sibuk. Ada yang berbalik arah, ada pula yang mempercepat langkah seolah takut berada di jalur yang sama dengannya. Tak satu pun berani mengganggu.
Bahkan wajah-wajah yang dulu sering ia lihat. Mereka yang pernah mengejek, meremehkan, atau terang-terangan merundungnya kini menghilang entah ke mana. Gao Rui melihat sekilas dari sudut matanya, beberapa di antara mereka memilih masuk ke bangunan terdekat atau bersembunyi di balik tikungan begitu menyadari keberadaannya.
Mereka semua tahu. Tahu bahwa Gao Rui bukan lagi murid lemah yang bisa diperlakukan sesuka hati. Sekarang ia sangat kuat. Yang lebih penting, ia kini berada dalam perhatian langsung para petinggi sekte. Patriak sendiri mengawasinya, dan di balik layar, misteriusnya gurunya adalah sosok yang membuat banyak orang memilih diam daripada mencari masalah.
Gao Rui tidak merasa bangga, juga tidak merasa puas. Ia hanya berjalan, fokus pada langkahnya sendiri.
Tak lama kemudian, rumah kecilnya terlihat di depan mata. Bangunan sederhana dari kayu dan batu itu masih sama seperti sebelumnya. Tanpa kemewahan, tanpa penjagaan. Ia melangkah ke halaman, lalu menarik napas dalam.
Halaman rumahnya tampak banyak rumput ilalang. Gao Rui segera menggulung lengan bajunya. Dengan gerakan cekatan, ia mulai membereskan halaman, mencabuti rumput dan menata halaman sebaik yang ia bisa.
Ia bekerja tanpa mengeluh. Setiap ayunan tangannya terukur, seolah pekerjaan kasar itu adalah bagian dari latihannya sendiri.
Saat semuanya rapi, ia masuk ke dalam rumah. Ia menyapu lantai, merapikan meja, dan menyusun kembali barang-barang yang sempat berantakan. Rumah itu kembali sunyi, terlalu sunyi.
Ketika akhirnya ia duduk di bangku kayu dekat jendela, barulah ia menyadarinya. Kesepian.
Tak ada suara gurunya lagi. Yang tersisa hanya hembusan angin dan detak jantungnya sendiri. Untuk sesaat, pikirannya melayang, tentang gurunya yang jauh, tentang jalan panjang yang harus ia tempuh, dan tentang betapa sepinya berdiri sendirian di puncak generasi muda yang baru mulai ia daki.
Tiba-tiba,
“Rui’er?”
Suara lembut itu datang dari luar. Gao Rui terkejut dan segera menoleh. Pintu rumahnya terbuka perlahan, menampakkan sosok seorang perempuan berdiri di ambang pintu. Ia membawa sebuah keranjang anyaman di tangannya. Uap hangat masih mengepul dari dalamnya, membawa aroma masakan rumahan yang menenangkan.
Perempuan itu tersenyum lembut saat melihatnya.
“Rui’er,” katanya lagi, suaranya hangat, “aku datang membawa makanan.”
Gao Rui bangkit berdiri, sedikit kaku, namun matanya melembut. Sore itu, kesunyian di dadanya terasa retak, digantikan oleh kehangatan yang sederhana, namun nyata.