Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.
Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.
Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Gugatan Pertama
Kantor Biro Tenaga Kerja Kota Linhai berdiri dengan wajah yang dingin.
Gedung itu tidak tinggi, namun pintunya lebar dan dindingnya tebal. Di dalam, udara berbau kertas lama, tinta printer, dan pendingin ruangan yang disetel terlalu rendah. Barisan kursi plastik berjajar rapi, sebagian sudah kusam oleh waktu dan pakaian kerja para pemohon.
Gu Yanqing melangkah masuk tepat pukul 09.17.
Ia mengenakan kemeja sederhana berwarna abu-abu dan celana hitam yang telah disetrika rapi. Penampilannya bersih, tetapi jelas bukan dari kelas yang biasa datang dengan pengacara di sisi mereka.
Ia mengambil nomor antrean, lalu duduk.
Beberapa orang di sekitarnya berbicara pelan, sebagian mengeluh tentang gaji, sebagian tentang pemutusan hubungan kerja. Tidak ada yang berbicara keras. Tempat itu tidak mendorong emosi keluar.
Nomornya dipanggil dua puluh menit kemudian.
Loket ketiga.
Di balik meja kaca duduk seorang pria paruh baya dengan kemeja putih dan kartu nama kecil di dada kirinya.
Sun Qiang.
Petugas Penanganan Sengketa Dasar.
“Keperluan?” tanya Sun Qiang tanpa menatap penuh, matanya masih tertuju pada layar komputer.
“Saya ingin mengajukan gugatan kecelakaan kerja,” jawab Gu Yanqing singkat.
Sun Qiang akhirnya mengangkat kepala. Tatapannya menyapu Gu Yanqing dari atas ke bawah, cepat dan tanpa ketertarikan.
“Kecelakaan kerja?” ulangnya. “Perusahaan?”
“Dongkou Port Group,” jawab Gu Yanqing.
Jari Sun Qiang berhenti sejenak di atas keyboard. Ia bersandar sedikit ke belakang.
“Kasus lama atau baru?”
“Kasus lama,” kata Gu Yanqing. “Korban adalah ayah saya.”
Alis Sun Qiang terangkat tipis. Bukan terkejut, lebih seperti mengukur.
“Berapa tahun?”
“Delapan tahun.”
Sun Qiang tersenyum kecil, senyum yang tidak mencapai mata.
“Delapan tahun,” ulangnya pelan. “Laporan masih ada?”
“Tidak.”
“Saksi?”
“Sebagian.”
“Dokumen medis?”
“Ada sebagian.”
Sun Qiang mengangguk perlahan, lalu menarik napas panjang. Ia menautkan kedua tangannya di atas meja.
“Pengacara?” tanyanya.
“Tidak ada,” jawab Gu Yanqing tanpa ragu.
Senyum Sun Qiang mengembang sedikit lebih lebar.
“Begini,” katanya, nadanya berubah menjadi seolah-olah sedang memberi nasihat. “Kasus kecelakaan kerja tanpa pengacara, tanpa dokumen lengkap, dan sudah lewat bertahun-tahun… peluangnya sangat kecil.”
Ia berhenti sejenak, memberi ruang agar kata-katanya meresap.
“Kami tentu tidak melarang warga mengajukan gugatan,” lanjutnya, “tapi Anda harus realistis. Prosedurnya panjang. Banyak formulir. Banyak verifikasi. Tanpa pendamping hukum, akan sulit.”
Gu Yanqing mendengarkan dengan tenang. Wajahnya datar.
“Saya ingin formulir pengajuan resmi,” katanya.
Sun Qiang berkedip, seolah tidak menyangka jawaban itu.
“Anda yakin?” tanyanya. “Banyak yang berhenti di tahap ini.”
“Saya yakin.”
Sun Qiang menatap Gu Yanqing beberapa detik. Lalu ia berbalik ke laci meja, mengeluarkan setumpuk dokumen tebal, dan meletakkannya di atas meja dengan bunyi berat.
“Ini formulir awal,” katanya. “Isi kronologi lengkap, data korban, data perusahaan, dan dasar hukum yang Anda gunakan.”
Ia mendorong tumpukan itu sedikit ke depan.
“Kalau ada bagian yang tidak lengkap,” tambahnya, “permohonan bisa dikembalikan.”
Gu Yanqing mengambil formulir itu tanpa ekspresi. Ketebalannya terasa di tangan. Setiap lembar seperti lapisan tambahan yang sengaja dibuat untuk menguras niat.
“Terima kasih,” katanya singkat.
Sun Qiang mengangguk, lalu kembali ke komputernya, seolah pembicaraan telah selesai.
Gu Yanqing melangkah menjauh dari loket dan duduk kembali di area tunggu. Ia membuka lembar pertama.
Bahasa birokrasi memenuhi halaman.
Pasal.
Klausul.
Ruang kosong yang menuntut presisi.
Ia tidak merasa gentar.
Ia hanya menyadari satu hal dengan semakin jelas: pintu pertama tidak dijaga oleh hukum, melainkan oleh ketahanan mental.
...
Area tunggu biro tenaga kerja tetap dingin dan sunyi.
Gu Yanqing duduk di kursi plastik, tumpukan formulir terbuka di pangkuannya. Bahasa yang tercetak di kertas-kertas itu kaku, formal, dan tidak bersahabat. Setiap kalimat seolah dirancang untuk menyaring orang-orang yang tidak siap.
Ia membaca tanpa tergesa.
Kronologi kejadian.
Dasar hubungan kerja.
Waktu, lokasi, akibat.
Tanggung jawab perusahaan.
Tidak ada ruang untuk emosi. Hanya fakta.
Saat itulah panel sistem muncul secara diam-diam, sejajar dengan garis pandangnya. Tidak mencolok, tidak mengganggu, seperti alat bantu kerja.
[ Wealth Ascension System ]
Fungsi Pendukung Aktif
Template Dokumen Gugatan Ketenagakerjaan
Isi yang tersedia:
– Struktur kronologi kejadian
– Format legal gugatan kecelakaan kerja
– Klausul dasar tanggung jawab pemberi kerja
– Rujukan pasal umum ketenagakerjaan
Tidak ada kalimat motivasi. Tidak ada janji hasil. Sistem hanya menyediakan kerangka.
Gu Yanqing mulai bekerja.
Ia menyalin struktur kronologi, lalu menyesuaikannya dengan kejadian nyata. Tanggal kecelakaan ayahnya. Jenis pekerjaan hari itu. Cedera yang terjadi. Penanganan awal yang tidak memadai. Janji lisan kompensasi. Ketiadaan laporan resmi.
Setiap kalimat diperiksa ulang. Tidak ada spekulasi. Tidak ada asumsi berlebihan.
Ia mengisi kolom demi kolom dengan tulisan rapi. Tangannya bergerak stabil. Wajahnya tenang.
Satu jam berlalu.
Ketika ia berdiri dan kembali ke loket ketiga, Sun Qiang mengangkat kepala dengan ekspresi setengah jenuh.
“Sudah?” tanyanya.
Gu Yanqing menyerahkan berkas tanpa kata.
Sun Qiang menerimanya, awalnya tanpa minat. Namun setelah beberapa halaman, alisnya mulai mengerut. Ia duduk lebih tegak. Jarinya berhenti menggulir layar.
Ia membalik halaman demi halaman, lebih lambat dari sebelumnya.
“Ini…” gumamnya pelan.
Gu Yanqing menunggu.
Sun Qiang mengangkat pandangan. Sikapnya berubah. Tidak lagi meremehkan, tidak juga ramah. Ia menjadi formal.
“Dasar hukumnya jelas,” katanya. “Kronologinya konsisten.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Siapa yang membantu Anda menyusun ini?”
“Saya sendiri,” jawab Gu Yanqing singkat.
Sun Qiang menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil.
“Baik,” katanya. “Kami akan terima gugatan ini untuk diproses awal.”
Ia menekan beberapa tombol di komputer. Printer di belakangnya mulai berdengung.
Beberapa menit kemudian, ia menyerahkan satu lembar kertas.
“Ini tanda terima,” katanya. “Nomor perkara akan aktif hari ini.”
Gu Yanqing melirik sekilas angka yang tercetak.
Satu nomor.
Satu entri resmi.
Namanya kini tercatat.
“Terima kasih,” kata Gu Yanqing.
Sun Qiang mengangguk, kali ini tanpa senyum.
Gu Yanqing berbalik dan melangkah keluar dari gedung biro tenaga kerja. Udara luar terasa lebih hangat, meski beban yang ia pikul tidak berkurang.
Di saat yang sama, panel sistem muncul kembali, singkat.
[ Perubahan Lingkungan Terdeteksi ]
Status: Gugatan Resmi Terdaftar
Dampak: Informasi akan menyebar ke pihak terkait
Gu Yanqing mematikan layar itu dalam pikirannya.
Ia tahu apa artinya.
Begitu nama Dongkou Port Group tercatat dalam sistem hukum, mereka tidak akan tinggal diam.
Ia melangkah pergi dengan wajah tenang.
Begitu nama mereka tercatat, mereka pasti bereaksi.