NovelToon NovelToon
27 Hari Setelah Melahirkan

27 Hari Setelah Melahirkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cerai / Selingkuh / Ibu susu
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.

Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.

Sudah cukup!

Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Dua mobil melaju. Mobil Danish membawa Hana serta baby Keira. Sementara mobil Lukman membawa Bu Ana, dan Bik Inem.

Dalam dekapan Hana, bayi 2 bulan itu menggeliat, mencari posisi nyaman dalam tidurnya. Hana tatap, senyumnya begitu lembut, terasa lebih menenangkan dari pada kenyataan.

Sementara Danish, pria itu fokus lurus pada kemudinya. Tak lama itu, suara dingin penuh penasaran, mulai berdesis rendah. "Sejak kapan dia datang ke rumah sakit?"

Kalimat yang ditujukan untuk Hana. Namun wanita itu tak begitu merasakan, lebih fokus menatap Keira sambil bergumam kecil.

Danish menoleh. Dahinya berlipat-lipat dalam, kembali menatap depan sambil mencengkram kuat setir mobil. "Hana!" suara itu meninggi.

Hana baru menoleh. Menengadah, wajahnya cukup tersentak. "Pak Danish panggil saya?"

"Iya! Saya tanya, sejak kapan pria itu datang ke rumah sakit?" kalimat pengulangan itu tersirat rasa kesal yang Danish ledakan dalam suaranya.

Hana mencoba memahami. Pria itu? Hana mengulang kalimat Bosnya, namun siapa yang di maksud pria itu. "Maksud Pak Danish, Mas Lukman?" tebaknya dengan suara rendah.

Danish tak lagi menjawab, berarti jawaban Hana tepat. Sambil menghela napas panjang, Ibu susu itu mulai berkata, "Mungkin 1 jam setelah saya tiba, Pak! Sebentar, deh...." Hana memiringkan tubuhnya, dahinya ikut mengernyit. "Bapak sensi banget sih sama Mas Lukman. Padahal 'kan dia lucu... Nggak kaku!"

Danish menoleh kembali. "Kamu menyinggung saya? Kamu pikir saya nggak bisa lucu?" jawabnya kembali menatap depan.

Hana mengendikan bahunya acuh. "Ya... Mana saya tahu? Kan saya ikut Pak Danish baru 2 hari ini. Tapi setahu saya... Bapak itu kaku. Kasar. Dingin. Nggak kaya Mas Lukman!"

Danish menelan kasar ludahnya. Wajahnya sudah menekuk, menoleh bengis kearah Hana, lalu semakin menancap gas sekencang mungkin.

Jantung Hana mulai kembang kempis. Ia reflek menegur Bosnya, sebab dalam mobil itu tidak hanya dirinya dan Danish, tapi juga ada baby Keira.

"Pak, turunkan gasnya. Kasian Keira!" pekik Hana menajamkan matanya.

Danish tersadar. Perlahan namun pasti, ia mulai menetralkan kemudianya. "Makanya, jangan bandingkan saya dengan pria belok itu!"

Hana hanya mampu menghembuskan napas lega. Ia tak lagi menanggapi, namun memilih memalingkan wajah ke jendela mobil. "Dasar, egois! Pantes aja di tinggalin istrinya," gumam Hana cukup sengit.

"Kamu mengumpati saya, Hana?"

Hana menelan ludahnya. Wajahnya terkejut, lalu mencoba memejamkan mata demi menghindari pertikaian itu.

*

*

Dua mobil tadi sudah berhenti didepan kediaman keluarga Morez.

Hana cukup terpukau menatap rumah mewah didepanya bak istana. Sambil masih menggendong Keira, Hana mulai berjalan masuk bersama Bu Ana. Sementara Bik Inem bersama pelayan lainnya sibuk membawa beberapa barang tadi ke dalam rumah.

"Mas... Kok Keira di susuin Hana? Emangnya Mbak Rani pergi kemana?" Lukman cukup tersentak, kala Danish tiba-tiba berhenti.

Wajah pria itu sangat kaku. menatap lurus ke depan, suara dinginya menusuk gendang telinga sang adik. "Setelah memutuskan keluar rumah, dia bukan lagi Istriku!"

Lukman cukup tersentak. Kalimat Danish bukan hanya sebuah penegasan, melainkan luka yang tak ingin ia tonjolkan lagi. Kepergian Rani sukses membuat sikapnya menjadi lebih dingin, kaku, dan selalu menganggap wanita memiliki sifat yang sama.

Langkah kaki Danish semakin menjauh dari pandangan Lukman. Ingatan pria tampan itu menguar, sebab pernah melihat sosok Rani berada di Korea.

"Jadi, Mbak Rani pergi bukan sama Mas Danish? Lalu... Siapa pria itu? Aku harus kasih tahu Mamah." Lukman kembali melanjutkan jalannya.

Bu Ana sudah mengantarkan Hana ke kamar Keira. Kamar dadakan yang Bu Ana siapkan waktu itu, sengaja agar Hana dapat menemani malam-malam cucunya dengan nyaman.

Kamar dengan nuansa pink pastel itu, benar-benar menyuguhkan interior yang begitu mewah. Ranjang besar ditengah, box bayi sudah lengkap dengan selambu tipis yang membingkai, dan posisinya tepat disebelah ranjang itu. Hana rasa, Bu Ana tahu apa yang dirinya butuhkan

"Hana... Ini kamar kamu dan Keira!" seru Bu Ana begitu masuk. Ia menatap puas hasil ide kecil dari pikiranya. "Bagaimana, kamu nyaman? Suka?"

Masih sambil menggendong Keira, Hana juga mengedarkan pandangan ke seluruh ruang, menghidup udara manis yang cukup menenangkan. Hana mengangguk pasti. "Saya suka, Bu! Ini sangat indah," terpukaunya.

Bu Ana terkekeh tanpa suara. "Ya sudah, kamu tidurkan saja Keira, lalu segeralah membersihkan diri!"

Hana mengangguk kembali. Begitu memastikan Keira sudah tertutup kembali, Hana kembali menatap Majikannya. "Maaf, Bu... Tapi......" kalimat itu menggantung cemas.

"Kamu nggak bawa baju, kan?" tebak benar Bu Ana. Melihat Hana mengangguk pelan, Bu Ana lalu menatap kearah pintu, mengkode agar dua orang yang sejak tadi sudah menunggu, kini masuk sambil membawa 8 paperbag tanggung.

Hana membolakan mata. Bukan tajam, namun cukup terkejut. Tatapanya kembali kearah Bu Ana.

"Semua perlengkapanmu sudah ada disana. Kamu bisa melihatnya terlebih dulu!" Bu Ana membawa Hana agar lebih dekat pada barang-barang tadi.

Sebelum membuka, Hana kembali menatap Majikannya sekilas. "Nggak papa, ayo buka saja!"

Paperbag 1 berisikan pakaian dalam lengkap dengan handuk beserta bodycare. Paperbag ke-2, berisikan beberapa dress dengan warna kalem, sesuai kesukaan Hana. Dan paperbag yang lain, berisikan beberapa alat make up, pakaian santai, dan beberapa tas dan sepatu.

"Bu...." Hana mendongak kembali. Suaranya rendah, sungguh merasa tidak enak. "Tapi ini terlalu berlebihan. Saya dapat mengambil pakaian saya di rumah!"

Bu Ana menolak. "Jangan, Hana! Yang di rumah biar dirumah. Kamu ikut saya, jadi sudah sepatutnya kamu mendapatkan ini. Kamu tenang saja, saya nggak akan memotong gajimu, Kok!" godanya.

Hana tersenyum tipis, masih merasa tak menyangka.

Malam ini, semua keluarga besar Morez sudah bersiap untuk melakukan makan malam bersama. Lukman dan Danish duduk berhadapan, Bu Ana dengan wajah tegasnya duduk paling ujung tak terpengaruh.

Sementara Jeni, bungsu Bu Ana masih belum kembali dalam mengemban pendidikanya.

"Bik... Panggil Hana, ya... Suruh dia makan malam juga!" seru Bu Ana menoleh ke belakang memanggil Bik Inem.

Karena Bi Inem masih sibuk, di belekang, melihat itu Lukman menyela, "Mah, udah... Biar Lukman aja yang panggil."

Bu Ana sudah mengulas senyum hangat sambil mengangguk. Namun baru Lukman bangkit, Danish menghentikan dengan suara dinginya.

"Nggak usah! Sekalian aku mau ambil Hp. Biar sekalian aku panggil!" suara berat Danish memaksa adiknya duduk kembali.

Lukman mencela, "Nggak dari tadi, ya nggak Mah?"

Bu Ana mengangguk. "Iya! Tadi kalau kamu nggak berdiri, mustahil kakak kamu itu bergerak."

"Mah... Bener Mbak Rani pergi begitu saja?" Lukman memberanikan diri untuk bertanya.

Bu Ana mengangguk kecil. Sejujurnya ia tidak ingin putra putrinya yang lain tahu, namun entah darimana Lukman tahu masalah ini. "Kamu tahu darimana, Lukman?"

Lukman menghela napas berat. "Mah, Mah... Kamu pikir anakmu ini masih seusia Keira apa? Nah itu, ngapain Mamah sampai cari Ibu susu buat Keira kalau Mbak Rani di rumah?!"

Bu Ana terkekeh kecil, "Iya juga ya, hehe... Maklum lah Luk, Mamah ini capek banget kesana kesini urusi kantor. Makanya kamu nggak usah balik lagi, ya? Bantu Kakakmu di Perusahaan!"

Lukman hanya mampu mendesah kembali.

1
Ma Em
Danish kalau kamu suka sama Hana jgn jual mahal sok tdk butuh padahal hatinya mau , awas saja nanti ditikung Lukman baru Danish gigit jari wanita kesukaan nya diambil adiknya .
Anonymous
BUNUH RISMA BUNUH,, BUNUH BUNUH BUNUH... TATAKAE TATAKAE SHINZOU SASAGEYO SHINZOU SASAGEYO SHINZOU SASAGEYO
Anonymous
resign Cok resign
Dew666
🍡🍡🍡🍡🍡
Arin
Kasih bukti tuh orang tua Rani.... biar melek matanya. Jangan asal nuduh orang lain sebagai pelakor. Sedangkan anaknya sendiri yang lari dari rumah, masih ingin bebas celap celup dengan laki-laki lain ckckck😡😡😡😡
Hr sasuwe
👍
Titien Prawiro
Ada ya lelaki seperti itu, istri baru melahirkan, jahitan belum kering sdh diceraikan. kasihan kamu Hana. jgn ditangisi lelaki bejad, gk pantas air matamu kamu keluarkan.
Arin
Dzaki mengada-ada..... ya jelas dia buat tuntutan itu semua. Karena waktu itu dia sudah sibuk dengan Mona.... Dia gak perduli lagi sama Hana.
Ig:@septi.sari21: iya kak, jang jelas semua itu nggak bener. dia memalsukan semuanya.
total 1 replies
Dew666
💎💎💎💎
Dew666
💎💎💎💎💎
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍
Ig:@septi.sari21: kak herlina macihhh❤❤❤🙏
total 1 replies
Arin
Uuh..... kelakuan Mona-Dzaki.... Cepet banget udah hamil aja si Mona???
Ig:@septi.sari21: udah lama banget yang selingkuh🔥
total 1 replies
Dew666
🍒🍒🍒🍒🍒
Ig:@septi.sari21: hai kak deww jumpa lagi. makasih dukunganya🙏🙏❤❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!