Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.5 – SHADOW OF DEATH
Hari-hari pun berlalu dan akhirnya Kenzo pun keluar dari ruangan isolasi dan menuju ke lapangan. Cahaya matahari menyilaukan matanya yang terbiasa gelap. Dia mengedipkan mata, menyesuaikan diri.
Isu perkelahian mereka pun telah menyebar di antara para napi di penjara tersebut, sehingga saat Kenzo berjalan menuju lapangan, dia menjadi pusat perhatian. Semua mata tertuju padanya. Beberapa napi menunduk, beberapa mundur perlahan. Tak ada yang berani menatap langsung.
Saat Kenzo duduk di bangku lapangan, seseorang menghampirinya, lalu duduk di sampingnya dan berbisik. Suara itu pelan, hampir tak terdengar, tapi cukup jelas bagi telinga Kenzo yang terlatih.
"Pergi ke area timur lapangan dan jangan membuat gerakan yang mencurigakan."
"Kak Hua menunggumu."
Lalu pria itu pun pergi, meninggalkan Kenzo. Tak ada penampilan khusus, tak ada kontak mata. Seolah tak terjadi apa-apa.
Kenzo terdiam beberapa saat, lalu menyalakan rokoknya. Asap tipis naik ke udara, menciptakan siluet yang samar. Dia memikirkan jebakan. Ini pasti jebakan. Tapi dia tak punya pilihan. Hua Mao harus mati.
Setelah beberapa hisapan, Kenzo meremas rokoknya hingga padam dan hancur berserakan di tanah. Dia tak membuangnya. Dia meninggalkan jejak. Pesan. Aku datang.
Kenzo pun bangkit, berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh pria tadi. Langkahnya santai, tapi setiap otot siap meledak.
Sedangkan di lokasi yang ditentukan tadi, terlihat Hua Mao sedang duduk di atas tumpukan besi, didampingi oleh sepuluh anak buahnya. Mereka bersenjatakan besi, pipa, dan rantai. Hua Mao tersenyum puas, mengira dia sudah menang.
Kenzo yang telah tiba di sana memandang tajam ke arah Hua Mao dan anak buahnya. Dia menghitung. Sepuluh orang. Dua menit. Cukup.
Kenzo melangkah dengan tenang menghampiri mereka. Tidak ada rasa takut. Tidak ada keraguan. Hanya tekad.
"Kalian, serang dia."
Anak buah Hua Mao pun segera mendekati Kenzo dan mengelilinginya. Lingkaran besi menutup, tapi Kenzo tak bergerak. Dia menunggu.
"Hehehehe... Bocah..."
"Bersiaplah menerima ajalmu!!"
Mereka semua pun bertindak. Dengan cepat, Kenzo mendekati salah satu dari mereka dan melakukan gerakan tendang 180°, menendang dagu lawannya. Kepala pria itu terlempar ke belakang, tulang leher patah, tubuhnya jatuh seketika.
Salah satunya yang meraih pipa besi di tanah memukulnya dengan pipa besi tersebut ke punggung Kenzo, membuat Kenzo tersentak ke depan. Rasa sakit menjalar, tapi Kenzo tak berhenti. Dia menggunakan momentum itu, berjongkok, lalu memutarkan kakinya ke belakang, menendang kaki pria tersebut dan membuatnya terjatuh.
Perkelahian sengit antara Kenzo dan anak buah Hua Mao tak berlangsung lama. Kenzo dengan sangat mudah menjatuhkan mereka. Satu per satu, mereka tumbang. Patah tulang, rahang hancur, mata lebam. Kenzo tak menggunakan senjata. Dia hanya menggunakan tangan kosong. Lebih personal. Lebih memuaskan.
Setelah menjatuhkan mereka, Kenzo berjalan mendekati Hua Mao sambil melepaskan bajunya. Tubuhnya penuh luka bekas, otot-otot yang menonjol, dan tatapan maut.
Hua Mao pun melompat dari tumpukan besi, lalu berjalan mendekati Kenzo. Dia melepas jaketnya, memperlihatkan tubuh berotot yang sama besarnya.
Setelah jarak antara mereka hampir mendekati dua meter, Kenzo mempercepat gerakannya, lalu melompat dan mengarahkan pukulannya ke wajah Hua Mao. Kecepatan yang tak terduga, kekuatan yang terkumpul dari dua bulan isolasi.
Kali ini, tubuh Hua Mao berhasil dibuat bergerak oleh Kenzo. Pria besar itu terhuyung, mata melebar karena terkejut. Tak ada yang pernah membuatnya mundur.
Tak berhenti sampai di situ, Kenzo pun melayangkan pukulannya bertubi-tubi ke arah Hua Mao. Kiri, kanan, siku, lutut. Kombinasi yang mematikan, hasil dari latihan tanpa henti. Hingga beberapa saat, pukulan Kenzo dihentikan oleh Hua Mao. Pria itu menangkap pergelangan tangan Kenzo, lalu membalas.
Hua Mao membalas serangan Kenzo dengan menendang ke arah Kenzo, mengenai perutnya dan membuat Kenzo terdorong mundur. Napas Kenzo terhenti sejenak, dia batuk, darah keluar dari mulutnya.
Hua Mao meraih pipa besi di tanah, lalu bergegas menuju ke arah Kenzo dan mengayunkan pipa besi tersebut. Angin berdesir, suara whistling mendekat.
Kenzo yang tak sempat bereaksi menerima ayunan pipa dengan telak di wajahnya, membuat tubuhnya terlempar dan membentur dinding. Batu-batu runtuh, debu naik. Rasa sakit yang luar biasa, tapi Kenzo tak merasakannya. Adrenalin memblokir segalanya.
"Uhuk..."
Darah segar keluar dari mulutnya dan mengalir dari pelipisnya. Penglihatannya kabur sejenak. Dia berusaha bangkit, namun Hua Mao kembali menendang perut Kenzo dan menendang wajahnya, membuat tubuhnya terpelanting satu meter. Kenzo merasa tulang rusuknya patah. Napasnya sesak.
Saat Hua Mao kembali ingin menendangnya, Kenzo menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan dan mengarahkan tendangannya ke wajah Hua Mao. Tendangan terakhir, sisa tenaga yang tersisa. Kakinya menghantam rahang Hua Mao dengan bunyi crack yang jelas.
Membuat Hua Mao terhuyung-huyung mundur. Keseimbangannya goyah, mata berkunang-kunang. Dia tak pernah menerima pukulan sekeras ini.
Melihat keseimbangan Hua Mao goyah, Kenzo dengan gerakan tai chi-nya membanting tubuh raksasa itu ke tanah. Hua Mao jatuh terlentang, debu beterbangan. Kenzo duduk di atas dada pria itu, lalu melepaskan pukulannya bertubi-tubi. Kiri, kanan, kiri, kanan. Setiap pukulan menghancurkan tulang, merobek daging.
"Ke... pa... rat, mati kau!!!!"
Dengan sekuat tenaga, Kenzo melepaskan pukulan terakhirnya ke arah wajah Hua Mao dan menghancurkan tengkorak wajah Hua Mao, hingga kepalan tangan Kenzo menembus kepalanya. Darah dan otak menyembur ke wajah Kenzo. Hua Mao tewas seketika, mata terbelalak, tak percaya.
Dengan cepat, Kenzo membereskan kesepuluh anak buah Hua Mao yang masih hidup untuk menghilangkan saksi. Dia bergerak dari satu tubuh ke tubuh lain, memastikan tak ada yang bernapas. Ini bukan pembunuhan. Ini pembersihan.
Setelah menghabisi mereka, Kenzo segera meninggalkan tempat tersebut, melarikan diri. Dia bergerak melalui bayangan, melalui jalur yang sudah dihafalnya. Tak ada yang melihatnya pergi. Tak ada yang bisa menghentikannya.
Setelah pergi dari tempat itu, Kenzo pun mengguyur tubuhnya dengan shower. Air dingin membasuh darah dan kotoran. Dia menatap bayangannya di cermin yang berembun. Wajahnya tak lagi dikenali. Bukan Kenzo yang dulu. Bukan manusia. Sesuatu yang lain.
"Kak Lin, istirahatlah dengan damai. Aku telah membalaskan dendammu. Kini kau dapat tenang di sana."
Sebulan berlalu setelah kejadian itu, kini tidak terdengar lagi berita napi yang tewas. Penjara menjadi sunyi, hampir terlalu sunyi. Para napi pun membicarakan pembunuh tersebut dan menyebutnya Shadow of Death. Pembunuh yang bergerak melalui bayang-bayang, tanpa jejak dan senyap tanpa suara.
Karena terlalu banyak kasus meninggalnya para napi, akhirnya Mao Xin pun dipindah tugaskan ke luar kota. Wajahnya pucat saat meninggalkan penjara. Dia tahu. Dia tahu siapa yang melakukannya. Tapi dia tak bisa membuktikan apa-apa.
Sedangkan Kenzo, hari demi harinya dia habiskan waktunya. Selain bekerja di workshop dan tambang, dia berlatih di gym dan membaca buku di perpustakaan. Dia menjadi sosok yang tertutup, dan tidak ada satu napi pun berani menatap matanya atau mengajaknya berbicara. Tatapannya saja sudah cukup untuk membuat orang merinding.
Sejak kematian Lin Dong, Kenzo berubah menjadi sosok yang dingin dan misterius. Dia tak lagi tersenyum. Dia tak lagi bercanda. Dia hanya menunggu. Menunggu waktunya tiba.
Hari demi hari pun berlanjut, hingga saat waktu kebebasan Kenzo pun tiba.
"Kenzo, hari ini kau telah bebas. Jangan lagi kau berbuat sesuatu yang melanggar hukum."
"Baiklah, aku mengerti.",jawab Kenzo tenang dan dingin.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik.",ucap Sipir penjara itu sambil membuka gerbang utama penjara.
Kenzo pun melangkah pergi, meninggalkan penjara kota. Dia tak menoleh ke belakang. Tak ada yang perlu dilihat. Tak ada yang perlu dikenang. Hanya satu nama yang terukir di hatinya. Lin Xian Mei. Dan satu janji yang harus ditepati.
Dia berjalan dan terus berjalan, hingga dia menemukan kedai mie di pinggir jalan, di pinggiran kota Xiuqin di provinsi Hei Nan. Asap mengepul dari dapur, bau kaldu ayam menguar. Kenzo merasakan perutnya bergemuruh. Ini pertama kalinya dia merasa lapar sejak lama.
"Bos, pesan mie ayam satu dan sebotol bir."
"Baiklah, segera datang."
Teriak pemilik kedai tersebut. Suara ramah yang asing di telinga Kenzo. Dia duduk di bangku kayu, menatap jalanan yang ramai. Kehidupan normal. Sesuatu yang tak pernah lagi akan dimilikinya.
Tapi dia tak peduli. Dia punya misi. Mencari Lin Xian Mei. Melindungi ibu Lin Dong. Itu satu-satunya yang penting.
...$ BERSAMBUNG $...