aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Volume II — The Weight of Survival Chapter 2 — Blade in the Ruins
Dunia tidak menunggu.
Begitu pula iblis.
Daniel menatap pedang di tangannya. Katana itu sederhana, namun berat dengan makna—bukan hanya baja, tapi simbol keputusannya untuk bertahan sekaligus melawan. Gagangnya terasa dingin, dan ketika ia menggenggamnya erat, getaran kecil dari segel pertama di dadanya menyatu dengan ritme napasnya. Ia bisa merasakan stabilitas tubuhnya tanpa menyalurkan kekuatan apa pun.
“Siap?” tanya Raven, berdiri di sampingnya. Ia membawa senjatanya sendiri, lebih berat dan brutal—senjata api modifikasi untuk pertempuran jarak jauh. Tatapannya dingin, penuh pengukuran.
Daniel mengangguk. “Siap.”
Misi mereka kali ini adalah pengawasan dan pembersihan zona barat, kawasan yang dulunya padat penduduk, kini menjadi reruntuhan. Laporan intelijen menyebutkan aktivitas iblis meningkat drastis setelah kegagalan operasi sebelumnya.
Memasuki Zona Hitam
Mereka melangkah perlahan, menuruni gang-gang sempit yang dipenuhi reruntuhan. Bau logam hangus, debu, dan mayat yang belum diangkat mencampur menjadi aroma mematikan. Daniel menggenggam pedangnya lebih erat, mengasah instingnya.
“Selalu ingat,” kata Raven sambil memeriksa sisi kanan lorong, “ini bukan latihan. Satu kesalahan, satu detik lengah… dan kau tidak akan punya segel kedua untuk menahan akibatnya.”
Daniel mengangguk, merasakan berat kata-kata itu. Segel pertama tetap tenang, seperti pengingat bahwa kekuatan besar selalu datang dengan batasan.
Mereka menemukan gerbang pertama—puing-puing setengah runtuh yang harus mereka lewati. Sebuah suara parau terdengar dari bawah reruntuhan. Daniel menoleh, merasakan naluri segel pertama bergetar ringan—tidak sebagai peringatan, tapi sebagai penyesuaian keseimbangan tubuhnya.
Seorang anak laki-laki muncul dari bayangan. Tangan kecilnya menggapai Daniel. Tanpa pikir panjang, Daniel menunduk dan menuntunnya keluar dari puing, sambil menjaga pedang tetap di posisi siaga.
Pertemuan Pertama dengan Iblis
Tidak lama kemudian, suara berat menggema dari lorong sempit. Mata Daniel menyapu area, menemukan iblis tingkat rendah, tubuhnya tinggi, kulit gelap seperti jelaga, dan mulut yang penuh taring.
Daniel menarik napas, pedang katana diangkat. Ia belum membuka segel kedua, artinya semua serangan bergantung pada teknik dasar dan insting.
Iblis itu menyerang dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Daniel melompat mundur, menghindari cakar tajam, dan kemudian memutar pedangnya. Satu tebasan horizontal membuat lengan iblis tersayat, darah hitam muncrat dan asap menyelimuti lorong.
Raven menembakkan senjatanya dari jarak jauh, menjaga agar iblis itu tidak kabur. “Cepat, fokus!” teriaknya.
Daniel mengatur napas. Segel pertama memberi stabilitas, tapi ia tahu ia harus bergerak dengan presisi. Tebasan berikutnya, dorongan pedang ke atas, dan iblis itu jatuh. Tidak mati sepenuhnya, tapi melemah cukup untuk mundur ke bayangan.
“Bagus,” kata Raven singkat. “Tapi ada lebih banyak. Kita tidak bisa diam di sini terlalu lama.”
Kerusakan yang Tak Terhindarkan
Mereka melanjutkan perjalanan. Kota hancur menjadi labirin yang mematikan. Setiap langkah bisa menjadi jebakan. Debu tebal membuat jarak pandang terbatas, dan dari reruntuhan, suara-suara berat muncul—iblis lain mulai berkumpul.
Daniel menggenggam katana lebih erat, menajamkan fokusnya. Pedang itu bukan hanya senjata fisik, tapi perpanjangan dari keberanian dan tekadnya. Ia bergerak seperti bayangan, menebas dengan ritme yang harmonis, menahan serangan, memotong puing yang menghalangi jalan, sambil menuntun warga sipil yang tersisa ke tempat aman.
Di suatu lorong, ia menemukan seorang wanita terjebak di bawah balok besar. Hatinya berdegup lebih cepat. Ia tahu, jika terlalu lama, iblis akan menyerang. Tanpa ragu, ia mengangkat pedang, memukul sisi balok dengan kekuatan yang terkonsentrasi, lalu menariknya sambil menggunakan lutut dan bahu untuk menopang wanita itu.
Segel pertama berdenyut kuat, membantu tubuhnya menahan beban yang seharusnya mematahkan tulangnya.
Wanita itu selamat. Tapi Daniel merasakan sesuatu—ia tidak bisa menyelamatkan semuanya.
Pesan yang Terasa
Setelah operasi selesai, mereka kembali ke pos sementara. Daniel duduk, pedang di pangkuannya, napasnya masih berat. Matanya menatap tanah, memikirkan jumlah korban dan iblis yang masih berkeliaran.
Raven berdiri di depannya. “Kau bertahan, tapi jangan terlena. Ini baru permulaan.”
Daniel menoleh. “Aku tahu. Aku… aku merasa lebih hidup. Tapi juga lebih berat.”
Raven mengangguk. “Itulah menjadi Hunter. Kita hidup karena kita harus melawan. Dan terkadang… itu berarti kita melihat terlalu banyak yang seharusnya tidak kita lihat.”
Daniel menatap pedang katana di tangannya sekali lagi. Besi itu sekarang terasa lebih dari sekadar senjata—ia adalah perantara antara hidup dan mati, antara manusia dan kehancuran.
Ia menutup mata, menarik napas panjang, dan bertekad:
Aku akan terus melangkah, bahkan jika dunia ini menuntut lebih dari yang bisa kuberikan.
Di kejauhan, bayangan iblis bergerak lagi, seperti menunggu. Mereka tahu pemuda itu hidup. Mereka tahu ia bisa mengancam rencana Kaisar Iblis.
Dan Volume II baru saja dimulai.