Xing Shenyuan, pangeran kesembilan Dinasti Bintang Agung, dikhianati oleh saudaranya sendiri. Tulang Surgawi miliknya dicabut, basis kultivasinya dihancurkan, dan dia dibuang ke Makam Leluhur yang terlarang untuk menjadi pelayan nisan seumur hidup. Di tengah keputusasaan, sebuah suara kuno bergema di jiwanya. Dengan sistem "Masuk Log" (Sign-In), setiap inci tanah pemakaman menjadi gudang harta karun ilahi.
"Masuk Log di Makam Kaisar Pertama, hadiah: Tubuh Kekacauan Primordial!"
"Masuk Log di Gundukan Pedang Dewa, hadiah: Niat Pedang Penghancur Cakrawala!"
Sepuluh ribu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dunia luar telah berganti zaman, kekaisaran runtuh, dan dewa-dewa baru bermunculan , ketika musuh dari langit mencoba mengusik ketenangan makam leluhur nya, xing shenyuan bangkit dari debu hanya satu jentikan jari untuk meratakan seluruh galaksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22 penjara jiwa dan aroma teh beracun
Tangga batu itu melingkar turun ke dalam kegelapan yang seolah tanpa dasar. Tidak ada lumut yang tumbuh di dindingnya, tidak ada serangga yang merayap. Udara di sini kering, dingin, dan berbau seperti logam tua yang telah terkubur ribuan tahun—bau darah yang telah mengering menjadi debu.
Xing Shenyuan menuruni anak tangga dengan langkah stabil. Di pinggangnya, Lentera Abadi yang baru saja ditempa ulang dengan Inti Besi Bintang Jatuh memancarkan cahaya perak redup. Cahaya itu tidak menyebar liar, melainkan membentuk kubah pelindung berdiameter tiga meter di sekitar mereka, menahan tekanan Yin yang semakin pekat.
Di belakangnya, Lin Xiaoyue berjalan dengan hati-hati. Busur di tangannya sedikit gemetar. Sebagai pengguna elemen api, tempat yang begitu padat dengan energi kematian ini membuatnya merasa seperti sedang berjalan di dasar samudra es.
"Guru, tempat ini... rasanya berbeda dari lantai satu dan dua," bisik Xiaoyue, suaranya hampir tidak terdengar, diredam oleh keheningan makam. "Di atas sana, rasanya seperti perpustakaan atau gudang senjata. Tapi di sini... rasanya seperti ada ribuan orang yang sedang menahan napas, menunggu kita membuat kesalahan."
"Observasimu tajam, Xiaoyue," jawab Shenyuan tanpa menoleh. "Lantai Bawah Tanah Ketiga bukanlah tempat penyimpanan benda mati. Ini adalah Aula Penjara Jiwa. Tempat Kekaisaran membuang 'masalah' yang tidak bisa dibunuh, namun terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup."
Mereka sampai di ujung tangga. Di hadapan mereka, terbentang sebuah aula raksasa yang langit-langitnya tidak terlihat. Ratusan pilar batu hitam setinggi menara menopang kegelapan di atas. Di setiap pilar, terdapat rantai-rantai emas yang menyala redup, mengikat sosok-sosok bayangan yang tampak seperti asap padat.
Ini bukan mayat. Ini adalah Sisa Jiwa (Remnant Souls).
Login: Di Hadapan Hakim Kematian
Shenyuan berhenti di depan sebuah gerbang torii raksasa yang terbuat dari tulang belulang naga purba. Di tengah gerbang itu, tergantung sebuah timbangan batu besar yang tidak bergerak.
Ia merasakan getaran sistem yang kuat. Ini adalah titik pusat dari lantai ketiga.
> [Sistem Login Harian Makam Bintang]
> [Lokasi: Gerbang Pengadilan Jiwa (Lantai Bawah Tanah Ketiga)]
> [Status: Siap untuk Check-in.]
> [Peringatan: Tekanan Mental Tingkat Ekstrem. Disarankan mengaktifkan "Lentera Abadi" pada intensitas maksimum.]
>
"Login," perintah Shenyuan.
> [Ding! Check-in berhasil!]
> [Selamat, Tuan mendapatkan: "Mata Batin Penembus Ilusi" (Skill Pasif Tingkat Surga) dan "Jubah Hakim Neraka" (Artefak Pertahanan Jiwa).]
> [Deskripsi Item:]
> * Mata Batin Penembus Ilusi: Memungkinkan pengguna melihat kebenaran di balik setiap penyamaran, ilusi, dan niat jahat. Dapat melihat titik lemah pada formasi spiritual dan struktur jiwa musuh.
> * Jubah Hakim Neraka: Jubah luar yang ditenun dari sutra ulat roh bawah tanah. Memberikan kekebalan 50% terhadap serangan berbasis mental dan jiwa.
>
Seketika, sensasi panas menjalar ke kedua mata Shenyuan. Dunia di sekitarnya berubah. Kegelapan tidak lagi sekadar hitam; kini ia bisa melihat benang-benang energi berwarna abu-abu yang menghubungkan setiap pilar, membentuk jaring formasi penekan yang rumit.
Ia juga melihat sesuatu yang lain: sebuah Jubah hitam legam dengan sulaman benang merah darah muncul di inventarisnya. Tanpa ragu, ia mengenakannya di luar zirah Bayangan Bintang-nya. Kini, penampilannya benar-benar seperti dewa kematian yang turun ke dunia fana.
"Ayo, Xiaoyue. Jangan menatap mata mereka," perintah Shenyuan saat ia melangkah melewati gerbang tulang.
Ujian Sang Jenderal Pengkhianat
Saat mereka berjalan melewati deretan pilar, suara bisikan mulai terdengar.
"Daging... darah muda..."
"Kaisar... pengkhianat..."
"Lepaskan kami..."
Tiba-tiba, dari pilar terbesar di tengah ruangan, sebuah tawa menggelegar memecahkan bisikan-bisikan itu.
"Hahahaha! Setelah tiga ratus tahun, akhirnya ada anjing Kekaisaran yang berani turun ke sini!"
Rantai di pilar itu bergemerincing hebat. Asap hitam berkumpul, memadat menjadi wujud seorang pria raksasa setinggi tiga meter. Ia mengenakan baju zirah kuno yang hancur sebagian, dan wajahnya adalah tengkorak yang terbakar api hijau.
Xiaoyue mundur selangkah, namun Shenyuan tetap tenang.
"Itu Jenderal Tie Zha," ucap Shenyuan datar. "Pendiri Pasukan Darah Besi. Dieksekusi oleh kakek buyutku karena dituduh ingin mendirikan kerajaannya sendiri."
Hantu Jenderal Tie menunduk, menatap Shenyuan dengan lubang matanya yang kosong. "Kau tahu namaku, bocah? Dan bau darahmu... kau memiliki darah Xing yang busuk itu! Keturunan si ular Xing Tian!"
"Aku memang bermarga Xing," Shenyuan mendongak, matanya yang kini memiliki pupil ganda (efek Mata Batin) bersinar ungu. "Tapi aku bukan anjing siapa pun. Aku adalah Tuan dari tempat kau dipenjara."
"Tuan?! Jangan melawak!" Tie Zha meraung. Ia mengangkat tangannya, dan sebuah Gada Raksasa yang terbentuk dari energi jiwa melayang di udara, siap menghantam Shenyuan. "Mati kau, dan jadilah makananku!"
Tekanan jiwa dari serangan itu setara dengan puncak Jiwa Baru Lahir. Bagi fisik, itu tidak terlihat, tapi bagi jiwa, itu seperti gunung yang jatuh.
Shenyuan tidak bergerak. Ia tidak perlu menggunakan Tangan Penghancur Bintang. Ia memiliki senjata baru untuk situasi ini.
"Lentera Abadi: Mode Pemurnian Jiwa."
Api di dalam lenteranya berubah warna menjadi putih pucat. Cahaya itu menyorot langsung ke arah Tie Zha.
"ARGGHHH!"
Tie Zha menjerit. Gada raksasanya hancur menjadi asap saat menyentuh cahaya putih itu. Bagi jiwa yang penuh dendam, cahaya murni dari Lentera Abadi adalah asam yang membakar eksistensi mereka.
"Kau... api apa itu?!" Tie Zha mundur, ketakutan menggantikan arogansi di wajahnya.
"Ini adalah api yang membakar dosa dan penyesalan," ucap Shenyuan, melangkah maju. Jubah Hakim Neraka-nya berkibar tanpa angin. "Tie Zha, kau punya dua pilihan. Terbakar habis hingga tidak tersisa di siklus reinkarnasi, atau tunduk padaku dan menjadi penjaga pintu gerbang ini."
Tie Zha gemetar. Selama tiga ratus tahun, ia tidak pernah merasakan rasa sakit yang nyata karena ia sudah mati. Tapi cahaya ini... cahaya ini membuatnya merasakan kematian kedua.
"Aku... aku tidak akan sudi melayani keluarga Xing!"
"Kalau begitu, aku tidak memintamu melayani keluarga Xing," Shenyuan menatap tajam. "Aku memintamu melayani Pemberontakan. Aku akan menghancurkan takhta yang mengkhianatimu. Apakah itu cukup sebagai bayaran?"
Hening.
Tie Zha menatap pemuda itu. Ia melihat kebenaran di mata Shenyuan—kebencian yang dingin dan terukur terhadap darah dagingnya sendiri.
Perlahan, hantu raksasa itu berlutut. Rantai di tubuhnya berbunyi nyaring.
"Jika kau benar-benar berniat meruntuhkan Langit Bintang Agung... maka Tie Zha bersedia menjadi pedangmu."
Shenyuan mengangguk. Ia mengangkat tangannya, dan sebuah segel kontrak jiwa terbentuk di udara, melayang masuk ke dahi Tie Zha.
"Bagus. Mulai sekarang, kau adalah Penjaga Lantai Ketiga. Kumpulkan jiwa-jiwa lain yang masih memiliki kewarasan. Bentuk pasukan. Waktunya akan tiba ketika aku membutuhkan kalian naik ke permukaan."
Perangkap di Paviliun Awan
Sementara itu, ratusan mil jauhnya di Ibu Kota, matahari bersinar terik namun tidak menghangatkan suasana di ruang privat lantai teratas Paviliun Teh Awan.
Su Yan duduk dengan anggun, mengenakan cadar sutra biru muda. Di hadapannya duduk Pangeran Pertama, Xing Jian, yang sedang memutar-mutar cangkir porselen di tangannya. Namun, yang membuat suasana tegang bukanlah sang pangeran, melainkan seorang biksu tua buta yang duduk di sudut ruangan.
Biksu itu adalah Master Tanpa Bayangan, seorang ahli mental yang disewa khusus untuk mendeteksi kebohongan melalui fluktuasi detak jantung dan aliran darah.
"Nona Su," Xing Jian memulai pembicaraan dengan nada santai yang berbahaya. "Aku mendengar rumor menarik. Katanya, ramuan ajaib yang kau berikan pada adikku, Xing Feng, memiliki bahan dasar yang hanya tumbuh di wilayah utara... tepatnya di sekitar pegunungan makam leluhur."
Su Yan tidak berkedip. Jantungnya berdetak stabil berkat teknik pernapasan yang diajarkan Shenyuan.
"Yang Mulia Pangeran Mahkota pasti bercanda," jawab Su Yan lembut. "Bahan-bahan saya berasal dari pedagang keliling yang melintasi Benua Timur. Saya tidak pernah menginjakkan kaki di utara yang dingin itu."
Biksu di sudut itu memiringkan kepalanya, mendengarkan.
"Benarkah?" Xing Jian mencondongkan tubuhnya. "Tapi Master Tanpa Bayangan merasakan keraguan dalam aliran darahmu saat kau menyebut 'Benua Timur'."
Ini adalah jebakan.
Su Yan tahu, jika dia panik, dia tamat. Tapi dia sudah bersiap. Di dalam lipatan lengan bajunya, ia membuka sedikit tutup botol kecil berisi Serbuk Ilusi Bunga Tidur—sebuah racun halusinogen tingkat tinggi yang tidak berbau, namun mampu mengacaukan indra para ahli mental.
"Keraguan?" Su Yan tertawa kecil, nada suaranya terdengar sedih. "Mungkin karena saya teringat kampung halaman saya di Timur yang hancur karena perang... perang yang, maaf jika saya lancang, dipicu oleh ketidakmampuan pejabat perbatasan Yang Mulia."
Serbuk itu mulai menyebar, sangat tipis, terbawa oleh uap teh panas.
Sang biksu mengerutkan kening. Indranya mulai kabur. Ia tidak lagi mendengar detak jantung Su Yan yang sebenarnya, melainkan detak jantung palsu yang diciptakan oleh efek halusinogen tersebut—tenang, sedih, dan jujur.
"Dia... dia berkata jujur, Yang Mulia," serak suara biksu itu akhirnya. "Kesedihan dalam suaranya asli. Tidak ada niat menipu."
Xing Jian menyipitkan mata. Ia kecewa, tapi ia mempercayai biksu itu lebih dari apa pun.
"Maafkan saya, Nona Su," Xing Jian mundur kembali ke kursinya, senyum palsunya kembali. "Saya hanya harus berhati-hati. Zaman sedang kacau."
"Saya mengerti, Yang Mulia," Su Yan menunduk. "Namun, tuduhan ini melukai hati saya. Mungkin Pangeran Ketiga benar... bahwa hanya dia yang benar-benar menghargai bakat saya tanpa curiga."
Kata-kata itu seperti jarum. Su Yan baru saja menegaskan posisinya: Kau mencurigaiku, jadi aku akan lari ke musuhmu.
Xing Jian menggertakkan gigi. Ia tidak boleh kehilangan aset berharga seperti Su Yan ke tangan adiknya.
"Tunggu, Nona Su. Jangan salah paham. Sebagai kompensasi atas ketidaknyamanan ini... aku mengizinkanmu mengakses Gudang Herbal Kerajaan untuk mengambil tiga bahan apa pun yang kau butuhkan."
Su Yan tersenyum di balik cadarnya. "Yang Mulia sangat murah hati."
Penemuan di Ujung Aula
Kembali ke Lantai Ketiga Makam Bintang.
Setelah menundukkan Jenderal Tie Zha, Shenyuan berjalan ke bagian paling belakang aula. Di sana, tidak ada lagi pilar. Hanya ada sebuah dinding batu hitam yang permukaannya halus seperti cermin.
Di dinding itu, tertulis sebuah puisi kuno dengan aksara yang berdarah:
"Bintang di langit adalah mata yang mengawasi,
Makam di bumi adalah mulut yang menanti.
Ketika Lentera menyala dengan api sejati,
Pintu menuju Jantung Dunia akan terbuka kembali."
Shenyuan menyentuh tulisan itu.
"Sistem, analisis."
> [Analisis Sistem:]
> [Objek: Segel Pintu Menuju Lantai Keempat (Lantai Terakhir).]
> [Status: Terkunci Mutlak.]
> [Syarat Pembuka: Pengguna harus mencapai Ranah Transformasi Roh (Spirit Transformation) dan memiliki "Kunci Bintang Sembilan".]
>
"Lantai Keempat..." gumam Shenyuan. Ia mengira lantai ketiga adalah akhirnya. Ternyata, makam ini jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan. Dan syarat Transformasi Roh? Itu adalah ranah legendaris yang bahkan ayahnya, sang Kaisar, baru saja capai beberapa tahun lalu.
Namun, perhatian Shenyuan teralihkan oleh sebuah benda yang tergeletak di kaki dinding itu.
Sebuah panji (bendera perang) yang robek dan kusam. Tiangnya terbuat dari tulang manusia.
> [Item Terdeteksi: "Panji Sepuluh Ribu Jiwa" (Rusak).]
> [Status: Artefak Terlarang Tingkat Kuno.]
> [Fungsi: Dapat menampung dan memerintah pasukan arwah. Saat ini kosong.]
> [Potensi Perbaikan: Dapat diperbaiki dengan memberi makan jiwa-jiwa musuh yang kuat.]
>
Shenyuan mengambil panji itu. Meski rusak, aura membunuh yang memancar darinya membuat darahnya berdesir. Ini adalah senjata perang massal.
"Tie Zha," panggil Shenyuan.
"Ya, Tuanku," jawab hantu jenderal itu.
"Masuklah ke dalam panji ini. Jadilah roh utamanya. Kau akan memimpin pasukanmu dari dalam sini."
Tie Zha ragu sejenak, namun kemudian menyeringai—sebuah ekspresi mengerikan di wajah tengkoraknya. "Sebuah rumah baru? Lebih baik daripada pilar dingin itu."
Hantu itu berubah menjadi asap hijau dan tersedot masuk ke dalam panji. Seketika, kain robek pada panji itu sedikit memulih, dan simbol tengkorak di kainnya menyala hijau.
Shenyuan menggenggam panji di tangan kiri dan lentera di tangan kanan.
"Satu langkah lagi menuju kesempurnaan," bisiknya.
Penutup Bab: Gema Perang Saudara
Malam itu, Shenyuan dan Xiaoyue kembali ke permukaan. Udara segar pegunungan terasa manis setelah berjam-jam menghirup debu kematian.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Di cakrawala selatan, langit berwarna merah. Bukan karena matahari terbit, melainkan karena api.
Sebuah pesan sihir dari Su Yan sampai ke pikiran Shenyuan melalui Cermin Pemantau Dunia.
"Tuan, Pangeran Ketiga baru saja melakukan pergerakan. Salah satu gudang senjata milik Pangeran Pertama meledak malam ini. Perang bayangan di Ibu Kota telah berubah menjadi perang terbuka."
Shenyuan menatap langit merah itu dengan wajah datar.
"Bagus," ucapnya. "Biarkan mereka saling membakar. Saat mereka menjadi abu, kita akan datang untuk menyapu sisanya."
Ia berbalik ke arah Xiaoyue.
"Xiaoyue, kemasi barang-barangmu. Kita tidak akan menetap di gubuk ini lagi. Dengan panji dan lentera ini, kita akan memindahkan markas kita ke tempat yang lebih strategis... tepat di jantung wilayah sengketa antara faksi Pangeran Pertama dan Ketiga."
"Kita akan turun gunung, Guru?" mata Xiaoyue berbinar.
"Ya. Kita akan memulai perburuan."
* Kultivasi: Setengah Langkah Jiwa Baru Lahir.
* Artefak Baru: Panji Sepuluh Ribu Jiwa (Berisi Roh Jenderal Tie Zha).
* Skill Baru: Mata Batin Penembus Ilusi.
* Situasi Dunia: Perang Saudara Kekaisaran dimulai.
* Misi Berikutnya: Mengumpulkan jiwa musuh untuk memperbaiki Panji dan mencapai terobosan penuh.