NovelToon NovelToon
Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lunas Hutang

Libur semester akhirnya tiba. Kampus-kampus di Jogja seketika lengang, digantikan oleh hiruk-pikuk mahasiswa yang pulang kampung atau merencanakan liburan ke berbagai tempat. Udara Desember mulai dingin, pertanda bahwa liburan Natal dan Tahun Baru sudah di depan mata.

Di kos Bima, suasana pagi itu tenang. Bima duduk di depan laptop usangnya, memeriksa laporan keuangan jasa pembuatan website yang ia kelola. Tiga bulan terakhir bisnisnya berkembang pesat—ia sekarang punya dua karyawan freelance yang membantunya menangani order. Pendapatan bulan ini mencapai angka yang membuatnya tersenyum puas.

Ia membuka aplikasi mobile banking di ponselnya, memeriksa saldo. Dua puluh tiga juta rupiah. Lebih dari cukup.

Mata Bima menerawang ke luar jendela. Ingatannya kembali pada enam bulan lalu—saat ia terbaring di rumah sakit, saat Kay membayar semua biaya tanpa sepengetahuannya, saat ibunda Kay diam-diam memintanya pergi. Ia masih ingat rasa sakit itu, bukan sakit fisik, tapi sakit hati karena merasa tidak berdaya.

Tapi sekarang semuanya berbeda. Ia sudah punya penghasilan tetap, punya usaha sendiri, punya masa depan yang lebih cerah. Dan satu hal yang harus ia lakukan sebelum benar-benar melangkah maju: membayar utang.

Bima mengambil ponsel, membuka kontak. Ia tidak punya nomor Lydia—ibunda Kay. Tapi ia ingat, bulan lalu Kay pernah meminjam ponselnya untuk memotret, dan tanpa sengaja ia melihat chat Kay dengan ibunya. Ia hafal nomor itu.

Jarinya menari di layar, mengetik pesan dengan hati-hati:

Bima: Selamat pagi, Bu Lydia. Saya Bima Wijaya. Mohon maaf mengganggu. Saya ingin mengirimkan bukti transfer ke rekening Kay untuk bayar hutang saya ke Kay yang ngebayarin biaya rumah sakit saya waktu itu. Terima kasih.

Ia menekan tombol kirim sebelum keberaniannya hilang. Lalu dengan cepat ia mengirimkan bukti transfer ke rekening Kay—dua puluh juta rupiah.

Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar.

Ibu Kay: Ini Bima? Kamu dapat nomor saya dari mana?

Bima: Dari ponsel Kay dulu, Bu. Tidak sengaja. Mohon maaf.

Ibu Kay: Sudah saya lihat bukti transferannya. Tapi ini terlalu banyak. Rumah sakit dulu tidak sampai segitu.

Bima: Saya hitung dengan bunga, Bu. Dan juga ongkos-ongkos lain yang mungkin Ibu dan kay keluarkan. Saya ingin melunasi semuanya.

Ibu Kay: Bima, kamu tidak perlu—

Bima: Saya perlu, Bu. Bukan untuk Ibu, tapi untuk harga diri saya. Saya ingin Ibu tahu bahwa saya bukan peminta. Saya bisa berdiri di kaki sendiri. Dan saya serius dengan Kay. Terima kasih atas waktunya, Bu.

Bima meletakkan ponsel, menghela napas panjang. Rasa lega bercampur haru memenuhi dadanya. Akhirnya, setelah bertahun-tahun merasa tidak berdaya, ia bisa membayar utang yang membebani hatinya.

Sementara itu, di rumah mewah Kay, suasana pagi juga sama heningnya. Kay baru saja bangun dan sedang menikmati sarapan ketika ponselnya berdering. Nama ibunya muncul di layar.

"Ma?" sapa Kay malas.

"Kay, kamu tahu Bima transfer uang ke kamu?" suara Lydia terdengar heran.

Kay duduk tegak. "Apa? Transfer uang? Berapa?"

"Dua puluh juta. Katanya buat bayar utang rumah sakit dulu."

Kay membeku. Bima punya uang sebanyak itu? Dari mana? Tapi segera ia ingat—jasa website yang Bima ceritakan, tabungan yang ia tunjukkan waktu itu.

"Iya Ma, hanya bisa terima aja," kata Kay akhirnya. "Itu penting buat Bima. Buat harga dirinya."

Lydia terdiam beberapa saat. "Mama tadinya mau tolak, tapi setelah baca pesannya... Mama jadi mikir."

"Mikir apa, Ma?"

"Mikir selama ini Mama salah sangka sama dia. Anak itu keras kepala, tapi keras kepala yang baik. Dia nggak mau bergantung. Itu langka, Kay."

Kay tersenyum. "Iya, Ma. Makanya Aku sayang sama dia."

"Sudah, nanti Mama transfer ganti ke kamu. Terserah kamu mau apain."

"Nggak usah, Ma. Biarin aja. Nanti bisa buat modal Bima kalo dia mau kembangkan usahanya."

Lydia tertawa kecil. "Kamu sudah berpikir jauh sekali, Nak."

"Karena Aku yakin, Ma. Bima orang yang tepat."

Setelah menutup telepon, Kay langsung menghubungi Bima. Panggilannya diangkat setelah dua dering.

"Bim! Lo transfer uang ke gue?"

Suara Bima datar. "Iya."

"Lo gila! Itu uang tabungan lo!"

"Iya. Itu uang gue. Dan itu utang gue."

Kay menghela napas frustrasi. "Bim, gue nggak minta lo bayar—"

"Gue tahu." Suara Bima melembut. "Tapi gue perlu. Biar gue bisa liat ibu lo tanpa merasa kecil. Biar gue bisa liat lo tanpa merasa berutang. Ngerti?"

Kay terdiam. Ia mengerti. Bima selalu seperti itu—lebih memilih menanggung beban sendiri daripada merepotkan orang lain.

"Lo nggak papa?" tanya Kay lembut.

"I'm fine. Lega malah."

Kay tersenyum. "Bima Wijaya, lo itu..."

"Apa?"

"Bikin gue makin sayang."

Bima tertawa kecil. "Makasih."

"Ngomong-ngomong, Bim. Libur semester kan udah mulai. Lo ada rencana?"

"Enggak. Di kos aja, lanjutin kerja."

"Nggak boleh. Lo harus liburan. Capek kan setahun ini?"

Bima menghela napas. "Kay, gue nggak punya budget buat liburan. Abis transfer—"

"Gue yang traktir."

"Enggak."

"Bima!"

"Kay, denger—"

"Bima Wijaya, lo denger gue. Ini bukan traktir-traktiran. Ini gue sebagai pacar lo pengen quality time sama lo. Udah enam bulan kita pisah, sekarang liburan pertama kita. Jangan rusak momen ini."

Bima terdiam. Ia tahu Kay benar. Mereka butuh waktu bersama, di luar Jogja, di luar rutinitas.

"Mau ke mana?" tanya Bima akhirnya.

Kay berjingkrak di tempat tidurnya. "Dieng! Udara dingin, pemandangan bagus, cocok buat liburan. Dan gue udah ajak Mika, Laras, sama Tasya."

Bima mengerutkan kening. "Siapa?"

"Tasya. Iya, gue ajak dia. Biar makin akrab. Sekalian liburan bareng temen-temen."

"Kay..."

"Apa? Lo keberatan?"

Bima menghela napas. "Nggak. Tapi lo yakin?"

"Yakin banget. Lagian, Tasya udah minta maaf, gue udah maafin. Masa lo masih dendam?"

Bima tersenyum. "Gue nggak dendam. Gue cuma heran lo bisa semurah hati itu."

"Namanya juga dewasa, Bim. Belajar ikhlas."

Mereka sepakat untuk berangkat tiga hari lagi, naik mobil kay yang akan dikemudikan Kay, Mika, Laras, dan Tasya. Mereka sudah dikabari dan semuanya antusias.

Tiga hari kemudian, pukul enam pagi, mereka berkumpul di rumah Kay. Udara Jogja pagi itu dingin, tapi semangat liburan membuat semua orang bersemangat.

Kay tampil dengan outfit ala pendaki modern—jaket gunung warna merah marun, celana cargo hitam, sepatu trekking, dan beanie di kepala. Rambutnya dikepang dua biar tidak mengganggu.

Mika datang dengan jaket biru dongker dan syal panjang, rambut pendeknya ditutup kupluk. "Gila, udah dingin dari sekarang. Dieng nanti kayak apa ya?"

Laras hadir dengan penampilan sederhana—sweater oversized abu-abu, legging hitam, dan sepatu boots. Wajahnya cerah, tidak ada lagi beban setelah pertemuan dengan Kay beberapa minggu lalu.

Tasya datang paling akhir, sedikit ngos-ngosan. "Maaf maaf, tadi ojeknya muter-muter." Ia memakai gamis bahan tebal warna pink soft dengan outer rajutan, jilbab pink mudanya dibiarkan panjang. Penampilannya feminin di antara mereka yang memakai celana.

Bima menjadi satu-satunya laki-laki di antara empat wanita. Ia memakai jaket hoodie abu-abu polos, celana jeans hitam, dan sepatu kets putih kesayangannya. Rambut ikalnya sedikit berantakan kena angin pagi.

"Wah, Bima, lo yang jagain kita ya?" goda Mika.

Bima mengangkat bahu. "Kay yang nyetir."

"Tapi lo laki-laki satu-satunya. Harus protektif dong."

"Gue jagain Kay aja."

Mereka tertawa. Laras dan Tasya ikut terkekeh.

Perjalanan ke Dieng memakan waktu sekitar tiga jam. Kay duduk di kursi kemudi, Bima di sampingnya. Di belakang, Mika, Laras, dan Tasya asyik mengobrol dan sesekali bernyanyi lagu-lagu lawas.

"Bim, lo udah pernah ke Dieng?" tanya Kay sambil fokus menyetir.

"Belum. Pertama kali."

"Nanti kita ke Kawah Sikidang, Telaga Warna, Candi Arjuna. Terus malamnya lihat bintang di Bukit Sikunir."

Bima tersenyum tipis. "Lo udah rencanain matang."

"Iya dong. Biar lo nggak bisa kabur."

Bima melirik Kay. "Gue nggak akan kabur."

Kay tersenyum bahagia.

1
falea sezi
lanjut anpe nikah
Bp. Juenk: siaap
total 1 replies
falea sezi
laki. plin plan amat kayaknya dia uda. mulai. suka. laras cowok. g tau diri
Bp. Juenk: 🤭 iya nih emang parah
total 1 replies
Nani Rahayu
semoga bisa diluruskan semuanya..paham sama sikap bima tp Kay juga gak salah...
Bp. Juenk: aamiin 🙏
total 1 replies
Jing_Jing22
Suka banget ceritanya thor🥰🥰🥰 akhirnya nemu cerita yang aku suka🫶🫶🫶
Bp. Juenk: thanks kaka, selamat menikmati
total 1 replies
OMG!!!!!/Applaud/
/Blush/
aku bisa ngebayangin sih..../Good/
Halwah 4g
😍😍😍😍😍😍 pelit bener update nya Thor..sebiji doang . hemmmm..Bimo mengingatkan q pada laki q yg pelit ngomng syag juga .🤣🤣🤣..lanjutkan Thor..lanjutkan...💪💪
Bp. Juenk: 🤭🤭🤭 bisa gitu ya
total 1 replies
Halwah 4g
😍 berlabuh jugaaa ....
Bp. Juenk: iya donk 😍
total 1 replies
Halwah 4g
aelah Bim..blm juga berlayar kapal nya..dah patah dluan .. zzzzzzzzzzzz..si Bimo nih cueknya kek othor pasti 🤣
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae
total 1 replies
Halwah 4g
sueeee kbyang salting ny 🤭
Halwah 4g
aaahhhhhhh....karya baru lagi ya Thor..q suka..q sukaaaaaa.. romansa percintaan yang ringan tapi manis....jangan monoton plis ceritanya Thor..biar kita naik rollercoaster bareng 😄..semngat trs Thor..kencengin updatenya 💪
Bp. Juenk: 🙏 thanks supportnya kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!