NovelToon NovelToon
Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Romansa
Popularitas:891
Nilai: 5
Nama Author: BOCCI

Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐

baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

malam terakhir

Malam terakhir di bumi perkemahan seharusnya menjadi malam yang syahdu dengan api unggun dan nyanyian. Tapi bagi Selena, malam itu adalah "Malam Kiamat Part 2". Kejadian pingsan di bawah pohon beringin tadi benar-benar merusak mentalnya. Bayangan akar pohon yang menyerupai tangan dan suara burung hantu tadi masih terngiang-ngiang jelas di telinganya.

Di dalam tenda besar kelompok 7, suasana sangat hening. Tenda itu memiliki penyekat, tapi Selena tetap bisa merasakan keberadaan tiga "predator" di sekitarnya.

Zeus sudah terlelap di balik sleeping bag-nya, mungkin kelelahan setelah menggendong Selena sejauh satu kilometer tadi. Lucas juga terlihat diam, entah tidur atau sedang merencanakan cara lain untuk mendekati Selena besok. Sementara itu, Selena meringkuk seperti udang, matanya melotot menatap atap tenda.

"Gue nggak bisa tidur... sumpah, kalau gue merem, ntar akarnya muncul lagi," bisik Selena pada dirinya sendiri.

Karena merasa sesak dan ketakutan, Selena memutuskan keluar tenda sebentar untuk mencari udara segar di dekat sisa-sisa api unggun yang masih menyala redup. Dia berjalan jinjit, melewati tubuh Zeus dan Lucas yang tertidur lelap.

Begitu sampai di luar, udara dingin menusuk tulang. Selena duduk di atas kayu log, memeluk lututnya erat-erat. Suara jangkrik yang biasanya merdu sekarang terdengar seperti bisikan misterius baginya.

"Udah bangun?"

"HUWAA!" Selena hampir terjungkal ke belakang.

Ternyata itu Leon. Cowok itu sedang duduk di sudut gelap dekat tenda, masih dengan laptop di pangkuannya—entah apa yang dia kerjakan di tengah hutan begini.

"Leon! Lo mau bikin gue pingsan dua kali hari ini?!" protes Selena sambil mengelus dadanya yang berdegup kencang.

Leon tidak menjawab, dia hanya menutup laptopnya dan mendekat ke arah Selena. Dia melepaskan jaket tebalnya dan menyampirkannya ke bahu Selena yang gemetaran.

"Gue tahu lo nggak bisa tidur," ucap Leon datar tapi ada nada lembut di sana.

"Gue takut, Yon. Sumpah, gue nggak mau jadi pimpinan geng lagi kalau syaratnya harus berani sama setan. Gue mau jadi warga sipil biasa aja yang hobinya makan seblak," curhat Selena sambil menunduk.

Leon duduk di samping Selena, menjaga jarak yang sopan tapi cukup dekat untuk membuat Selena merasa aman. "Lo nggak perlu jadi pahlawan di depan setan. Cukup jadi Selena yang berisik aja, itu udah bikin orang-orang di sekitar lo—termasuk Zeus dan Lucas—rebutan jagain lo."

Selena menoleh, menatap wajah Leon yang terpapar cahaya api unggun yang mulai padam. "Lo nggak tidur, Yon?"

"Gue biasa begadang. Gue bakal nemenin lo di sini sampai matahari terbit," jawab Leon singkat.

Selama beberapa jam, Leon benar-benar menepati janjinya. Dia tidak banyak bicara, tapi dia mendengarkan semua ocehan Selena tentang drama Korea favoritnya, tentang cita-citanya jadi Dirut PLN yang punya banyak cabang, sampai tentang rasa herannya kenapa Zeus bisa jadi galak banget.

Sesekali Leon memberikan cokelat batangan dari sakunya untuk menenangkan Selena.

"Yon, makasih ya," ucap Selena pelan. Kepalanya mulai terasa berat karena kantuk yang akhirnya datang. Tanpa sadar, kepalanya miring dan bersandar di bahu Leon.

Leon membeku sesaat. Tangannya yang tadinya mau mengambil laptop terhenti di udara. Dia menatap wajah Selena yang tampak tenang saat tidur, jauh berbeda dari wajah paniknya tadi sore. Leon perlahan memperbaiki posisi duduknya agar Selena bisa bersandar lebih nyaman.

"Sama-sama, Sel. Tidur aja, nggak ada setan yang berani lewat kalau ada gue," bisik Leon sangat pelan, hampir menyerupai desis angin malam.

Di kejauhan, dari balik pintu tenda yang sedikit terbuka, satu pasang mata memperhatikan mereka. Itu Zeus. Dia sebenarnya sudah bangun sejak Selena keluar tenda, tapi dia mengurungkan niat untuk menyusul saat melihat Leon sudah ada di sana. Zeus hanya bisa mengepalkan tangannya di balik selimut, merasa kalah telak dalam hal "ketenangan" dari sahabatnya sendiri.

Matahari pagi menyapa bumi perkemahan dengan hangat, tapi suasana di Kelompok 7 masih sedingin es di kutub utara. Selena bangun dengan leher agak kaku karena ketiduran di bahu Leon semalaman, sementara Zeus dan Lucas sudah sibuk membereskan barang dengan aura yang sangat tidak bersahabat.

"Ayo cepat! Bus berangkat sepuluh menit lagi!" teriak Pak Bambang dari kejauhan.

Selena, dengan mata masih setengah merem dan rambut yang mirip sarang burung, mencoba memasukkan bantal lehernya ke tas yang sudah meledak kapasitasnya. "Duh, kenapa pas pulang barangnya jadi makin banyak sih?"

"Sini," ucap Zeus dan Lucas secara bersamaan.

Kedua cowok itu sudah berdiri di depan Selena, masing-masing memegang ujung tas Selena. Mereka saling tatap dengan kilatan petir imajiner di mata mereka.

"Gue yang bawa. Gue yang gendong dia pas pingsan kemarin," ucap Zeus dingin.

"Gue yang nangkep dia pas jatuh. Anggap aja ini jasa antar jemput," balas Lucas nggak mau kalah.

Selena menguap lebar, lalu dengan santai memberikan tas itu kepada Leon yang baru saja lewat. "Nih, Leon aja yang bawa. Dia udah nemenin gue begadang semalaman, jadi dia udah terlatih bawa beban penderitaan gue. Dadah!"

Selena melenggang pergi mengejar Rora yang sudah di depan bus, meninggalkan Zeus dan Lucas yang terpaku menatap punggung Leon yang sekarang menenteng tas pink Selena dengan wajah datar tanpa dosa.

Drama sesungguhnya terjadi saat pembagian kursi bus pulang. Zeus sudah lebih dulu menaruh tasnya di kursi samping jendela, berniat mengunci Selena di sebelahnya. Tapi, Lucas dengan liciknya sudah duduk di kursi tepat di belakang kursi yang disiapkan Zeus.

"Sel, sini duduk deket gue! Gue bawa powerbank banyak nih, katanya lo mau ngecas HP buat nonton drama?" panggil Zeus.

Selena baru mau melangkah, tapi Lucas menyenggol bahunya pelan. "Di sini aja, Sel. Kursi belakang lebih empuk buat tidur, gue punya selimut ekstra yang nggak bikin gatel kayak punya si 'Kulkas'."

Selena menimbang-nimbang sebentar. Dia melihat Zeus yang posesif, Lucas yang manipulatif, dan... dia melihat Leon yang duduk sendirian di barisan depan sambil mendengarkan musik lewat headphone.

"Gue duduk sama Rora aja!" teriak Selena sambil lari ke barisan paling belakang tempat Rora sudah menyiapkan tempat. "RORA! GUE PUNYA BANYAK CERITA HOROR DAN ROMANSA!"

Sepanjang perjalanan pulang, bus itu dipenuhi suara tawa Selena dan Rora, sementara tiga pangeran sekolah itu hanya bisa diam membisu di barisan masing-masing, memikirkan strategi baru untuk hari Senin di sekolah nanti.

Begitu bus sampai di parkiran sekolah, Selena turun dengan wajah paling bahagia. Dia merasa seperti pahlawan yang baru pulang dari medan perang.

"Akhirnya! Aspal! Gue kangen suara klakson daripada suara burung hantu!" seru Selena sambil mencium udara kota yang penuh polusi tapi dia rindukan.

Sebelum mereka berpisah, Zeus mendekati Selena dan menyerahkan kembali kotak perak yang dia berikan sebelum berangkat Karena selena kelupaan."Simpen ini. Lo belum buka kan kemarin?"

"Belum, katanya buat keadaan darurat?"

"Anggap aja darurat itu dimulai saat lo nggak bareng gue lagi," ucap Zeus misterius, lalu dia naik ke motor gedenya dan melesat pergi bersama rombongan Thunder.

Lucas juga lewat di depan Selena, dia menurunkan kaca helmnya sedikit. "Sampai ketemu di sekolah, Kecil. Petualangan sesungguhnya baru dimulai di jam pelajaran Senin nanti."

Selena menatap kotak perak di tangannya, lalu menatap Rora. "Ror, kayaknya gue nggak bakal bisa hidup tenang ya setelah Camp ini?"

"Tenang itu mitos buat lo, Sel. Yuk balik, gue mau mandiin kelinci gue dulu!"

Sesampainya di rumah, Selena merasa seperti baru saja pulang dari wajib militer. Tapi, ketenangan yang dia impikan langsung buyar ketika melihat sosok Rora sudah berdiri di depan pintu rumahnya lengkap dengan koper mungil dan bantal leher bermotif wortel.

"Loh, Ror? Lo nggak pulang ke rumah?" tanya Selena heran.

"Gue bosen, Sel! Mana nyokap sama bokap barusan telpon, katanya mereka harus terbang ke luar negeri mendadak buat urusan bisnis. Gue sendirian di rumah, horor tau nggak! Pokoknya gue nginep di sini lagi!" seru Rora sambil nyelonong masuk ke kamar Selena.

Bibi Lastri yang kebetulan lagi maskeran di ruang tengah cuma melambai santai. "Bagus, makin rame makin seru! Bibi juga bosen cuma dengerin gosip di TV!"

Setelah mandi dan memakai piyama, Selena dan Rora duduk bersila di atas kasur. Di tengah-tengah mereka, ada Kotak Perak pemberian Zeus yang masih tersegel rapat.

"Ayo buka, Sel! Gue penasaran banget! Feeling gue isinya kalung GPS biar lo nggak diculik Lucas," desak Rora penuh semangat.

Selena menarik napas panjang, lalu perlahan membuka pengait kotak itu. Begitu tutupnya terbuka, bukan emas atau perhiasan yang mereka lihat, melainkan sebuah benda teknologi tinggi yang bentuknya sangat elegan.

Itu adalah sebuah Smart-Watch (Jam Tangan Pintar) edisi khusus yang sudah dimodifikasi. Di layarnya yang berwarna hitam pekat, ada logo kecil "The Thunder Chain" berwarna emas.

"Cuma jam tangan?" gumam Selena kecewa.

Tapi begitu Selena menyentuh layarnya, sebuah hologram tipis muncul. Di situ ada tiga tombol utama dengan nama: "Z", "L", dan "A".

"Hah? Z-L-A? Zeus, Leon, Axel?" tebak Rora.

Tiba-tiba, jam itu bergetar dan sebuah pesan teks muncul di layarnya:

"Ini bukan jam biasa. Tombol 'Z' itu sinyal darurat ke HP gue. Sekali tekan, gue bakal tahu lokasi lo dalam radius 1 meter. Jam ini anti-sadap dan anti-air. Pakai terus, jangan dilepas. - Zeus"

"GILA!" Rora histeris sambil guling-guling di kasur. "Ini mah bukan jam tangan, ini namanya Gelang Pelacak Majikan! Zeus beneran bikin lo kayak aset berharga negara, Sel!"

Selena mencoba menekan tombol "L" (Leon). Seketika, layar jam itu berubah menjadi tampilan data real-time suhu udara, tekanan jantung Selena, dan peta jalanan di sekitar rumahnya.

"Wah, si Leon pasti yang ngerancang sistemnya!" gumam Selena kagum. "Dia beneran mantau kesehatan gue?"

Tapi yang paling mengejutkan adalah saat Selena membuka bagian bawah kotak perak itu. Di sana ada satu benda lagi: sebuah Flashdisk kecil berwarna merah dengan tulisan 'History of Red Snake'.

"Ini apaan lagi?" Selena mencolokkan flashdisk itu ke laptopnya.

Begitu terbuka, isinya adalah biodata lengkap Lucas Bencana(Lucas vence). Dari hobi, makanan favorit (ternyata Lucas suka cilok kuah), sampai titik-titik lokasi yang sering dikunjungi Lucas. Di bagian paling bawah ada catatan kecil dari Zeus:

"Kenali musuh lo. Dia bukan orang sembarangan. Kalau dia berani deketin lo lagi, buka folder 'Kelemahan'. Gue udah siapin semuanya."

Selena bersandar di bantalnya, merasa campur aduk. "Ror... kenapa gue ngerasa kayak masuk ke dalam film agen rahasia ya? Padahal niat gue kan cuma sekolah sama cari uang jajan dari Bibi."

Rora yang lagi asyik nyemilin oleh-oleh dari Camp menyahut, "Ya gimana lagi, Sel. Lo itu ibarat terminal listrik. Kabelnya banyak (Zeus, Leon, Lucas), dan kalau lo nggak hati-hati, bisa meledak satu sekolah!"

Malam itu, di bawah selimut yang sama, Selena terdiam menatap jam tangan perak di pergelangan tangannya. Senyum Leon saat menemani dia begadang di hutan dan tatapan tajam Lucas masih membayang.

"Ror, kalau menurut lo... kenapa Zeus sampe segitunya ya?" tanya Selena pelan.

Rora berhenti mengunyah. "Sel, orang buta aja tahu kalau Zeus itu udah 'mati kutu' sama lo. Dia itu tipe cowok yang nggak bakal bilang 'Gue sayang lo', tapi dia bakal pasang barikade besi di sekeliling lo biar lo nggak lecet dikit pun."

Selena terdiam, lalu tanpa sadar dia memutar jam tangan itu. "Terus gimana sama Leon?"

"Leon itu 'silent protector'. Dia nggak butuh pengakuan, dia cuma butuh lo aman. Tapi kalau Lucas... nah, itu yang bahaya. Dia kayak tantangan yang nggak bisa ditebak."

Selena menghela napas, lalu memejamkan matanya. "Ternyata jadi Dirut itu berat ya, Ror."

"Berat di hati, ringan di kantong karena dibayarin terus! Hahaha!"

Bersambung...

1
bochi to the light
minta dukungan nya ya biar aku lebih banyak up nya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!