Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rencana
Sang pemilik warung keluar dari rumahnya dengan membawa parang panjang. Ia menatap tajam pagar rumahnya, tidak ada apapun di sana.
Ya ia tidak bisa melihat Sugeng yang sedang mengendap endap hendak masuk menuju ke dalam rumahnya yang pintunya terbuka itu.
Sang pemilik warung ini juga tidak bisa melihat jin, ia hanya orang biasa yang melakukan pesugihan bukan indigo jadi tidak heran ia tak bisa melihat pocong yang selama ini mengikutinya dan meludahi sambel buatannya.
"Apa cuma kucing yang berantem terus nabrak pager ya? Tapi masa iya suaranya keras banget?" Tanya Sang Pemilik warung dalam hatinya.
Ia memilih mengabaikan itu dan kembali masuk ke dalam rumahnya, tanpa ia sadari bahwa Sugeng sudah masuk dan kini berdiri di pojok ruang tamu memperhatikan setiap gerak gerik sang pemilik warung.
"Bagaimana caraku melumpuhkan dia? Ngga mungkin aku bunuh dia, terlalu beresiko, polisi bisa menyelidiki ini." Batin Sugeng penuh bimbang.
Sugeng memperhatikan Sang pemilik warung yang berjalan kebelakang dan menaruh parangnya di dapur, kemudian dia masuk ke kamar, sebelum masuk ke kamar Sugeng sudah terlebih dahulu masuk ke kamar pemilik warung itu.
"Aaaakkkhhhh... hari ini capek sekali..." ucap pemilkl warung sembari meregangkan tubuhnya yang kaku kemudian tidur.
"Hmmm aku tunggu saja dia tidur." Batin Sugeng.
Tak butuh waktu lama bagi orang itu untuk tertidur karena mungkin ia sedang lelah.
Sugeng langsung membuka lemari yang memang kunci lemarinya masih tergantung di situ. Ia mencari apa saja yang bisa dia ambil, di dalam lemari itu dia melihat sebuah laci, ia secara perlahan membukanya.
Tampak tumpukan uang yang di ikat dengan karet gelang, jumlahnya mungkin ratusan juta. Sugeng yang tak pernah melihat uang sebegitu banyaknya amat bergetar hati dan kakinya, dengan serakahnya ia mengambil semua uang itu.
Sugeng bergegas menutup kembali lemari itu dan menguncinya seperti sedia kala.
Setelah itu ia keluar kamar secara perlan dan hati hati. Dia kemudian membuka pintu utama, mengambil kuncinya dan mengunci rumah itu dari luar, Alasan Sugeng melakukan itu takut sidik jarinya terdeteksi di kunci pintu itu sehingga ia memilih mengambilnya.
Sugeng segera melompati pagar itu tanpa menyentuhnya dan menuju ke tempat ia memarkirkan otornya dengan sedikit berlari. Ia pulang dengan perasaan gugup, khawatir dan sangat senang.
"Aku kaya.. aku kaya..." ucap Sugeng dalam hatinya. Dalam perjalanan pulang Sugeng membuang kunci rumah itu di sungai dan tenggelam mustahil untuk di temukan, kalaupun di temukan sidik jari tak akan terdeteksi karena tercampur kotoran.
Sesampainya di rumah Sugeng langsung memasukan motornya dengan hati hati. Sebelum masuk ke kamar ia melirik ke kamar neneknya yang masih tidur.
Di dalam kamarnya Sugeng segera membuka lemari tua itu, mengambil koper jadul di dalamnya dan menaruh semua uang dan batu jingga itu di sana, ia memasukannya kembali ke lemari dan ia kunci.
Malam itu Sugeng tidak bisa tidur karena dia sedang di landa eoforia yang teramat sangat.
Ia teringat bahwa dia sempat melihat ada orang orang yang berkumpul di gardu desa itu. Ia berfikir untuk berada di sana sekedar untuk membuat alibi bahwa malam ini ia berkumpul bersama mereka.
Sugeng segera mengambil uang seratus ribu dan kembali keluar rumah.
"Mau kemana kamu Geng?"
Deg!
Sugeng kaget bukan kepalang, ia menoleh melihat nenek Ratmi berdkri di depan pintu kamarnya sambil mengucek ngucek matanya.
Sugeng berpura pura untuk tak panik, "mau ke pos Ronda nek, gaplean.. nenek kok bangun?"
"Oh ya udah sana di kunci dari luar pintunya.. nenek bangun kebelet kencing." Ucapnya kemudian melenggang pergi.
"Hufff... syukurlah nenek ngga tahu kalau aku tadi sempet keluar, bingung juga gimana jelasinnya nanti."
Malam itu Sugeng berada di pos Ronda sekedar berbincang dan melihat bapak bapak bermain gaple.
Sugeng pulang pukul 2 dini hari.. ia segera masuk ke kamar, ia hendak tidur namun ia tak kunjung bisa tidur. Ia sedang berangan angan hendak di gunakan apa uang yang baru saja dia curi.
"Pertama lunasin hutang ke Linda, kalau tanya dapet uang dari mana jawab apa ya? Emmm... oh iya! Bilang aja aku author novel online, aku udah lama jadi author dan baru sekarang kekumpul uang 100 juta. Kira kira utangku sama Linda 106 juta, yes.. masih sisa banyak kayaknya." Batin Sugeng.
"Sisa uangnya buat beli apa ya? Apa renov rumah? Nggak! Nggak! Warga bakalan curiga kalau aku tiba tiba punya banyak uang, penghasilan author online kayaknya ngga bakalan sebanyak itu, tapi kalau cuma 106 juta warga akan percaya percaya aja tapi kalau di tambah buat renov rumah Warga pasti bakalan curiga. Apa aku harus merintis usaha dulu ya? Tapi usaha apa?"
"Apa ternak ikan aja ya? Ada batako, tinggal beli terpal, bibit ikan sama pakan. Sebelah rumah pekarangan masih luas, belakang juga. Iyalah buat gimik warga dulu." Batin Sugeng.
Sugeng kemudian berpikir tentang aksinya tengah malam tadi, "hmm... ngga ada sesuatu yang tertinggal kayaknya. Benda yang kusentuh cuma handel pager, handel pintu kamar bakalan ketumpuk sama sidik jari orang itu lagian aku pake sapu tangan sidik jari bakalan sulit banget di deteksi. Handle pintu depan juga bakalan ketutup sama sidik jari orang lain.... hmmm orang itu juga ngga akan berani lapor kepolisi, itu uang pesugihan dia pasti takut pesugihannya bakalan ikut kebongkar yes.. aman!"
Sugeng berbaring namun ia tak kunjung bisa tidur, Sugeng akhirnya memilih untuk jalan menuju ke dapur, membuat kopi dan merokok di sana sembari memandangi pemandangan halaman belakang rumahnya melalui pintu belakang yang terbuka.
Sugeng melamun di sana sampai subuh hingga neneknya bangun untuk memgambil wudhu dan sholat subuh.
"Ehhh... udah bangun kamu Geng. Tumben bangun awal kamu."
"Iya Nek, Nek batako di depan aku pake boleh ngga nek?"
"Buat apa Geng? Ituloh tabungan buat bangun rumah kalau nanti ada rejeki."
"Mau buat ternak ikan Nek, aku mau buat usaha ajalah. Nunggu kerjaan dari orang ngga nentu gini, kambing juga tinggal 5 doang."
"Emang kamu punya modal?"
"Ada nek dikit, kemarin temenku pulangin uang yang dia pinjem, sama tambahan simpenanku dari sisa hasil jual kambing ke Pak Drajad. Pikirku mau di buat nabung, kalau kalau mau nikah nanti. Tapi udahlah buat modal aja, lagian ngga mungkin ada gadis yang mau sama peternak kambing yang kambingnya cuma segitu aja."
Neneknya yang mendengar tampak sedih mendengar ucapan cucu laki lakinya tersebut, "ngga usah mikirin nikah dulu Geng, kamu baru 20 tahun pemikiran kamu bener. Kamu cari uang yang banyak dulu aja baru nabung buat nikah."