NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LUKA DAN AIR MATA ZAHRA

Suara jangkrik di luar gudang terdengar seperti ejekan bagi Hafiz yang terduduk lemas.

Cahaya lampu pijar lima watt bergoyang pelan tertiup angin yang masuk dari celah atap. Hafiz menatap jemarinya yang lecet dan hitam karena kotoran media ulat.

Tiba-tiba, pintu kayu gudang yang sedikit renggang terdorong pelan. Hafiz segera waspada, ia menyambar sapu lidi di sampingnya dengan gerakan cepat.

"Ini aku, Mas!," bisik sebuah suara lembut yang sangat familiar.

Hafiz menurunkan sapunya saat melihat siluet Zahra masuk dengan terburu-buru. Gadis itu membawa sebuah tas kain besar dan mengenakan jaket tebal yang menutupi gamis birunya.

"Zahra? Kamu? Ini sudah lewat tengah malam!" Hafiz setengah berbisik dengan nada panik.

"Aku tidak bisa tidur, Mas. Pikiranku terus tertuju pada ulat-ulat ini dan ancaman Gus Farid di pasar tadi," sahut Zahra sambil meletakkan tas kainnya.

Zahra segera berlutut di depan kotak-kotak pembesaran ulat tanpa menunggu izin dari Hafiz. Ia mulai menyingsingkan lengan jaketnya, memperlihatkan kulit lengannya yang putih bersih.

"Apa yang kamu lakukan? Keluar sekarang, Zahra. Tempat ini kotor dan penuh debu," perintah Hafiz tegas.

Zahra tidak bergerak, jemarinya justru mulai memilah sisa-sisa sayuran busuk yang harus segera diganti. "Kalau Mas bekerja sendirian, Mas akan tumbang sebelum minggu pertama berakhir."

"Aku sudah biasa kerja keras, Zahra. Kamu itu putri Kyai, tidak pantas menyentuh media pakan yang bau ini," Hafiz mencoba menarik tangan Zahra.

Zahra menepis tangan Hafiz dengan lembut namun penuh tekad. Ia menatap Hafiz dengan mata yang berkaca-kaca di bawah cahaya lampu yang temaram.

"Ayah bilang Mas harus berjuang sendirian tanpa bantuan warga, kan? Tapi Ayah tidak bilang aku dilarang membantu," ucap Zahra pelan.

"Mas adalah harapan terakhirku. Kalau Mas gagal, aku tidak punya pilihan selain menyerah pada nasib yang dipaksakan Farid," lanjutnya dengan suara parau.

Hafiz terdiam, hatinya seperti diremas melihat air mata yang menggantung di sudut mata Zahra. Ia perlahan melepaskan pegangannya dan duduk bersila di samping gadis itu.

"Ini pakan alternatifnya, Mas. Tadi aku diam-diam ke kebun belakang rumah, mengambil sisa-sisa ampas kelapa dan kulit pisang," Zahra mengeluarkan isi tas kainnya.

Mereka mulai bekerja dalam diam, hanya suara gesekan jemari dengan media pakan yang terdengar. Hafiz merasa beban di pundaknya mendadak ringan hanya karena kehadiran Zahra di sampingnya.

Namun, mengurus ulat kandang bukan perkara mudah bagi orang yang belum terbiasa. Media pakan yang lembap dan penuh jamur seringkali menyembunyikan sisi-sisi tajam dari serutan kayu atau sisa kulit buah.

"Akh!" Zahra memekik pelan sambil menarik tangannya dengan cepat.

Hafiz langsung menyambar tangan Zahra dan membawanya ke bawah cahaya lampu. Sebuah luka goresan cukup dalam melintang di telapak tangan Zahra, mengeluarkan darah segar yang kontras dengan kulitnya.

"Sudah kubilang, kan? Kamu tidak terbiasa dengan ini!" Hafiz menggeram pelan, rasa bersalah menghantam hatinya.

"Hanya luka kecil, Mas. Jangan berlebihan," Zahra mencoba menarik tangannya, namun Hafiz memegangnya dengan erat.

Hafiz mengambil botol air mineral dan membersihkan luka itu dengan sangat hati-hati. Ia merobek sedikit bagian bawah kaos dalamnya yang bersih untuk membalut luka Zahra.

"Tangan ini harusnya memegang tasbih dan kitab, bukan mengaduk kotoran seperti ini," gumam Hafiz sambil melilitkan kain dengan telaten.

Zahra menatap wajah Hafiz dari dekat, melihat kerutan kelelahan dan ketulusan yang terpancar di sana. "Tangan ini ingin membantu orang yang sedang berjuang untukku, Mas. Itu jauh lebih mulia."

Air mata Zahra jatuh mengenai punggung tangan Hafiz, membuat pria itu berhenti sejenak. Hafiz mendongak, menatap Zahra yang kini menangis tanpa suara.

"Kenapa menangis? Sakit?" tanya Hafiz lembut.

Zahra menggeleng. "Aku menangis karena takut, Mas. Aku takut dunia ini terlalu kejam untuk orang baik sepertimu."

"Gus Farid punya segalanya untuk menghancurkan gudang ini dalam sekejap. Sementara kita hanya punya kotak-kotak kayu ini," isak Zahra.

Hafiz tersenyum, senyuman CEO yang kembali muncul di wajah marbotnya. Ia mengusap air mata di pipi Zahra menggunakan ibu jarinya yang kasar.

"Dulu aku punya segalanya dan aku kehilangan semuanya karena kesombonganku sendiri," ucap Hafiz rendah.

"Sekarang aku tidak punya apa-apa, tapi aku punya alasan untuk menang. Dan alasan itu adalah kamu, Zahra."

Zahra tertegun mendengar pengakuan itu. Kehangatan menjalar di dadanya, mengalahkan dinginnya angin malam di gudang tua itu.

"Mas janji akan membuktikan pada Kyai? Bahwa kemandirian lebih berharga daripada sumbangan lima ratus juta?" tanya Zahra memastikan.

"Aku janji. Tiga bulan ini akan menjadi sejarah baru bagi masjid ini," sahut Hafiz mantap.

Mereka kembali melanjutkan pekerjaan, meski tangan Zahra sudah dibalut kain. Zahra memaksa untuk tetap membantu sortir ulat-ulat kecil ke kotak pembesaran baru.

Tanpa mereka sadari, fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Suara langkah kaki terdengar di pelataran masjid, pertanda Kyai Abdullah sudah bangun untuk persiapan Subuh.

"Mas, aku harus kembali sekarang!" Zahra panik saat mendengar suara batuk khas ayahnya di kejauhan.

"Lewat pintu belakang, lari cepat!" perintah Hafiz sambil membantu Zahra berdiri.

Zahra menyambar tas kainnya yang sudah kosong. Sebelum pergi, ia berhenti sejenak dan menatap Hafiz dengan binar mata penuh harap.

"Besok malam aku akan datang lagi membawa pakan. Jangan menyerah, Mas," bisik Zahra sebelum menghilang di balik keremangan pagi.

Hafiz menatap kepergian Zahra dengan perasaan campur aduk. Ia segera membersihkan sisa-sisa pekerjaan mereka agar tidak meninggalkan jejak.

Hafiz segera mengambil sapu dan ember pel untuk menjalankan tugas marbotnya. Ia harus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa semalaman.

Namun, saat ia sedang mengepel selasar masjid, Kyai Abdullah berdiri di depan pintu rumahnya. Beliau menatap Hafiz dengan pandangan yang sulit diartikan.

Kyai Abdullah berjalan mendekat, matanya tertuju pada tangan Hafiz yang tampak kotor dan lecet. Beliau juga melirik ke arah gudang belakang yang pintunya masih sedikit terbuka.

"Kamu tidak tidur semalaman, Hafiz?" tanya Kyai Abdullah dengan suara berat.

"Hanya beristirahat sebentar, Kyai," jawab Hafiz sambil terus menunduk melakukan pekerjaannya.

Kyai Abdullah terdiam sejenak, lalu matanya menangkap sesuatu di lantai masjid yang baru saja dipel Hafiz. Sebuah kain kecil berwarna biru, robekan dari jaket Zahra yang terjatuh tanpa sengaja.

Jantung Hafiz seolah berhenti berdetak saat melihat Kyai Abdullah memungut kain biru tersebut. Kyai Abdullah mengenali warna itu, warna jaket kesayangan putrinya.

"Hafiz, ingat janjimu," ucap Kyai Abdullah pelan namun penuh penekanan. "Jangan libatkan Zahra dalam masalahmu. Jika aku tahu kamu menyeretnya ke gudang kotor itu..."

Kyai Abdullah tidak melanjutkan kalimatnya, namun aura mengancam terpancar jelas dari tubuhnya. Beliau meremas kain biru itu di telapak tangannya.

"Saya mengerti, Kyai," sahut Hafiz dengan tenggorokan kering.

Hafiz melanjutkan mengepel dengan tangan gemetar. Ia tahu, langkahnya kini diawasi lebih ketat daripada sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!