NovelToon NovelToon
Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Cintapertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saundra Handara

Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.

Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GURU ANTA DAN RAHASIA KECIL

Dua bulan setelah Guru Anta datang ke Desa Qinghe...

Klinik kecil di pinggir desa itu sekarang selalu ramai.

Setiap pagi, sejak matahari terbit, puluhan orang sudah mengantre di depan pintu. Dari desa Qinghe sendiri, dari desa-desa tetangga, bahkan dari kota Rembang. Ada yang sakit demam, ada yang luka, ada yang butuh ramuan untuk penyakit dalam.

Guru Anta melayani semua dengan sabar. Senyumnya ramah, tangannya terampil. Tidak pernah menolak pasien meski mereka tidak punya uang.

Wei Chen sering datang ke klinik itu. Bukan untuk berobat, tapi untuk mengamati. Ada sesuatu tentang Guru Anta yang membuatnya penasaran.

Pria itu terlalu pintar untuk sekadar mantan murid sekte kecil. Cara dia bicara, cara dia bergerak, cara dia mendiagnosis penyakit — semuanya menunjukkan latihan yang panjang dan serius.

Suatu sore, saat klinik sudah sepi, Wei Chen mampir.

Guru Anta sedang meracik obat di ruang belakang. Wei Chen duduk di kursi tunggu, menunggu.

Setelah beberapa menit, Guru Anta keluar. Melihat Wei Chen, dia tersenyum.

"Tuan Wei. Sakit?"

"Tidak. Hanya ingin bicara."

Guru Anta duduk di depannya. "Bicara tentang apa?"

"Tentang kau."

Guru Anta mengangkat alis. "Tentang aku?"

"Kau bukan mantan murid sekte kecil." Wei Chen menatapnya langsung. "Matamu, caramu bicara, caramu meracik obat — itu bukan latihan biasa."

Guru Anta diam. Lalu tersenyum.

"Kau pengamat yang baik, Tuan Wei."

"Aku CEO. Mengamati orang adalah pekerjaanku."

Guru Anta tertawa kecil. "CEO? Apa itu?"

"Cerita panjang." Wei Chen tidak terganggu. "Jadi, siapa kau sebenarnya?"

Guru Anta diam lama. Matanya menatap Wei Chen dengan rasa ingin tahu.

"Kalau aku bilang, kau akan percaya?"

"Coba."

Guru Anta menghela napas. "Baik." Dia berdiri, berjalan ke pintu, menutupnya. Lalu kembali duduk.

"Aku dulu adalah tetua di Sekte Gunung Es."

Wei Chen mengerutkan kening. "Sekte Gunung Es?"

"Sekte besar di utara. Levelnya setara Klan Naga Hitam, mungkin lebih." Guru Anta tersenyum pahit. "Aku jadi tetua di usia 40. Termuda dalam sejarah sekte."

"Apa yang terjadi?"

"Ambisi." Guru Anta menggeleng. "Aku ingin jadi pemimpin sekte. Tapi pemimpin saat itu — Kepala Sekte — adalah guruku sendiri. Aku cintai dia seperti ayah."

Dia berhenti. Matanya menerawang.

"Tapi dia tidak cintai aku. Dia lebih pilih murid lain — murid yang lebih muda, lebih tampan, lebih pintar bicara." Suaranya bergetar. "Aku cemburu. Bodoh sekali."

Wei Chen diam.

"Aku tantang dia. Bukan untuk bunuh, tapi untuk buktikan aku lebih baik." Guru Anta tertawa pahit. "Aku kalah. Bukan karena dia lebih kuat, tapi karena aku ragu. Di detik terakhir, aku tidak bisa tebas dia."

Dia menunjukkan tangannya. Ada bekas luka di pergelangan.

"Dia potong meridianku. Kultivasiku jatuh dari Inti Emas Puncak ke Inti Emas Awal. Aku diusir. Dihina. Dilarang kembali."

Wei Chen mengangguk. Cerita mirip Kakek Li.

"Kau lari ke sini?"

"Aku mengembara 10 tahun. Sampai akhirnya... Nok Mei Ling hubungi aku." Guru Anta tersenyum. "Ibunya dulu pernah tolong aku. Waktu aku sekarat di hutan, dia beri aku makan, rawat aku sampai sembuh. Aku berhutang nyawa padanya."

Wei Chen mengangguk. "Jadi kau di sini untuk bayar hutang?"

"Bukan hutang. Tapi..." Guru Anta menatapnya. "Aku ingin punya keluarga lagi. Sekte dulu keluargaku. Tapi mereka buang aku. Di sini, di desa kecil ini, aku merasa diterima."

Wei Chen diam. Lalu, "Terima kasih sudah jujur."

"Kau tidak takut? Kalau musuhku datang?"

"Kau takut?"

Guru Anta menggeleng. "Sudah 10 tahun. Mereka lupa aku."

"Kalau begitu, aku juga tidak takut."

Guru Anta tersenyum. "Kau benar-benar aneh, Tuan Wei."

"Kata orang itu sepanjang hidupku."

Mereka tertawa kecil. Ikatan baru terbentuk.

---

Malam harinya, Wei Chen cerita pada Mei Ling.

Dia mendengar dengan serius. Lalu berkata, "Aku tidak tahu Guru Anta punya masa lalu seberat itu."

"Aku juga baru tahu."

"Tapi kau percaya dia?"

Wei Chen mengangguk. "Dia jujur. Orang jujur bisa dipercaya."

Mei Ling tersenyum. "Kau kadang terlalu percaya pada orang."

"Aku tidak percaya pada semua orang. Tapi orang yang sudah buktikan diri — aku percaya."

Mei Ling memeluknya. "Aku senang kau begini."

"Beginu bagaimana?"

"Punya hati." Matanya lembut. "Dulu waktu pertama kau datang, kau seperti batu. Dingin. Tidak peduli pada siapa pun. Tapi sekarang..."

Wei Chen diam. Dia juga merasakan perubahan itu.

"Mungkin karena kau," katanya pelan.

"Aku?"

"Kau buat aku... hangat."

Mei Ling tersenyum. Memeluknya lebih erat.

---

Esok harinya, Wei Chen pergi ke klinik lagi.

Guru Anta sedang meracik obat. Melihat Wei Chen, dia mengangguk.

"Mau bantu?" tanyanya.

Wei Chen mengangkat alis. "Bantu?"

"Racik obat. Aku ajar."

Wei Chen duduk di sampingnya. Guru Anta menunjukkan cara menggiling daun, mencampur bubuk, mengukur takaran.

"Kau cepat belajar," puji Guru Anta setelah satu jam.

"Aku terbiasa."

"Terbiasa apa?"

"Belajar hal baru."

Guru Anta mengamatinya. "Kau aneh, Tuan Wei. Tapi aneh yang baik."

"Sudah biasa dibilang begitu."

Mereka tertawa. Dua orang aneh yang saling memahami.

---

Sore harinya, saat klinik tutup, Guru Anta bertanya.

"Wei, kau tahu soal kutukan Mei Ling?"

Wei Chen mengangguk.

"Aku sudah periksa dia. Gelang buatanmu... itu jenius."

"Terima kasih."

"Tapi itu hanya menunda. Tidak menyembuhkan."

"Aku tahu."

Guru Anta diam. Lalu, "Ada satu cara. Tapi sulit."

"Apa?"

"Pil Pemurni Darah." Guru Anta menatapnya. "Resepnya ada di buku kuno. Tapi bahannya hampir mustahil didapat."

"Aku tahu. Akar Seribu Tahun, Embun Giok, Darah Naga, Kristal Jiwa." Wei Chen hafal di luar kepala.

Guru Anta terkejut. "Kau tahu?"

"Aku sudah cari informasi setahun."

Guru Anta tersenyum. "Kau benar-benar serius."

"Aku tidak pernah main-main soal dia."

Guru Anta menganggap. "Kalau begitu, aku bantu. Aku tahu di mana cari Embun Giok."

Wei Chen menatapnya tajam. "Di mana?"

"Di Gunung Es. Bekas sekteku." Guru Anta tersenyum tipis. "Mereka punya sumber mata air suci. Embun Giok terkumpul di sana setiap musim semi."

Wei Chen diam. Itu berita besar.

"Tapi itu wilayah musuh," katanya.

"Iya." Guru Anta mengangguk. "Itu tantangannya."

Wei Chen diam. Otaknya bekerja.

"Kapan musim semi?"

"Tiga bulan lagi."

Wei Chen mengangguk. "Kita punya waktu."

"Kau mau pergi?"

"Aku harus."

Guru Anta menatapnya lama. Lalu tersenyum.

"Aku ikut."

Wei Chen mengangkat alis. "Kau?"

"Aku kenal tempat itu. Tahu jalan masuk, tahu jadwal penjagaan." Guru Anta menghela napas. "Sudah 10 tahun. Mungkin waktunya kembali."

Wei Chen mengangguk. "Terima kasih."

"Jangan dulu berterima kasih. Masih panjang jalan."

---

Malam harinya, Wei Chen cerita pada Mei Ling.

Dia diam lama. Lalu memeluk Wei Chen erat.

"Kau mau ke gunung es? Demi aku?"

"Iya."

"Itu berbahaya."

"Aku tahu."

"Kau bisa mati."

"Aku tahu."

Mei Ling menangis di dadanya. "Kenapa? Kenapa kau rela lakukan semua ini?"

Wei Chen mengusap rambutnya. "Karena aku sayang kamu."

Mei Ling terisak. "Aku takut."

"Aku akan kembali. Janji."

Mereka berpelukan lama. Malam itu, untuk pertama kalinya, Mei Ling tidur dalam pelukan Wei Chen.

---

Chapter 23 END.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!