NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

setahun dalam jebakan rindu

Satu tahun telah berlalu sejak insiden pedang yang tertahan di Lembah Eternum, dan dunia luar masih mengira bahwa gencatan senjata ini adalah taktik perang yang dingin.

Padahal, jika para jenderal dari kedua kerajaan tahu apa yang terjadi setiap selasa malam di Garis Cakrawala, mereka mungkin akan memilih pensiun dini.

Di bawah pohon perak yang kini sudah memiliki nama panggilan "Pohon Keramat" dari Vani, Raja Ferdi sedang duduk santai sambil mencoba mengupas sebuah apel dengan belati obsidiannya.

Belati yang dulunya digunakan untuk mencabut nyawa mata-mata itu, kini hanya digunakan untuk urusan logistik camilan.

"Berhenti melakukan itu, Ferdi! Kau mengupasnya terlalu tebal! Kau membuang-buang daging apelnya!" seru Vani yang baru saja tiba.

Ia tidak lagi memakai zirah beratnya, melainkan gaun sutra putih dengan aksen perak, namun mulutnya masih tetap "bersenjata" lengkap.

Ferdi mendongak, sebuah senyuman tipis—yang dulu sangat langka—kini menghiasi wajahnya.

"Oh, Sang Ratu Cahaya sudah datang. Dan hal pertama yang ia lakukan adalah mengkritik cara mengupas apel seorang Raja Kegelapan. Sungguh sambutan yang hangat."

"Aku tidak mengkritik, aku mengedukasi!" Vani merebut belati dan apel itu dari tangan Ferdi dengan gerakan gusar.

"Nocturnis pasti sangat miskin sampai-sampai rajanya tidak tahu cara menghargai makanan. Lihat ini, kau menyisakan bijinya saja kalau begini terus."

Ferdi terkekeh, suara rendahnya kini terdengar lebih renyah, tidak lagi mencekam. Ia menyandarkan kepalanya ke batang pohon, memperhatikan jemari Vani yang lincah mengupas apel.

"Aku sengaja melakukannya agar kau punya alasan untuk menyentuh tanganku saat merebut belati itu tadi. Dan lihat, taktikku berhasil."

Wajah Vani mendadak memerah sesaat, namun ia segera memasang wajah galak andalannya.

"Jangan percaya diri! Aku melakukannya karena aku tidak tahan melihat pemborosan! Dan berhenti tersenyum seperti itu, kau terlihat seperti orang bodoh. Mana Raja Ferdi yang menyeramkan itu? Apakah dia sudah mati dimakan rayap?"

"Dia sedang cuti," jawab Ferdi santai. "Dia hanya muncul saat rapat dengan jenderal-jenderal tua yang membosankan. Tapi saat di sini, di depan wanita yang lebih berisik dari badai petir, dia lebih suka menjadi penonton."

Vani menyodorkan potongan apel ke arah mulut Ferdi dengan kasar. "Makan ini dan diamlah! Kau semakin lama semakin pandai bicara manis. Pasti kau belajar dari buku-buku terlarang di perpustakaan hitammu, kan?"

Ferdi menerima apel itu, mengunyahnya pelan, lalu menatap Vani dengan pandangan yang membuat jantung Vani berdegup tidak keruan.

"Aku tidak butuh buku untuk mendeskripsikan betapa cerewetnya kau, Vani. Itu adalah bakat alami yang sangat... mengesankan."

"Mengesankan?! Maksudmu menyebalkan, kan?" Vani duduk di samping Ferdi, meski ia memberi jarak sepuluh sentimeter—jarak "gengsi" yang selalu ia pertahankan.

"Kau tahu, Jenderal Aris mencurigai sesuatu. Dia bertanya kenapa aku sering membawa pulang bunga-bunga ungu yang hanya tumbuh di tanah mati. Aku bilang padanya itu adalah 'rampasan perang' untuk penelitian sihir."

"Rampasan perang?" Ferdi tertawa kecil. "Jadi bunga yang kupetik dengan susah payah di tebing jurang itu kau sebut rampasan perang? Kau benar-benar tidak punya hati, Ratu Cahaya."

"Memangnya apa? Mau aku bilang itu hadiah dari pacar rahasiaku yang merupakan musuh bebuyutan kerajaan? Seluruh Luxeria akan mengalami serangan jantung berjamaah!"

Vani mendengus, lalu ia terdiam sejenak, memainkan ujung gaunnya. "Tapi... bunga itu mekar dengan baik di kamarku. Padahal tidak ada matahari di sana saat malam."

"Tentu saja. Bunga itu memakan rasa rindumu untuk tumbuh," ejek Ferdi dengan nada menggoda.

"FERDI! Berhenti bicara omong kosong!" Vani mencubit lengan Ferdi yang kekar.

"Kau ini benar-benar berubah, ya? Setahun yang lalu kau mencoba memenggal kepalaku, sekarang kau malah menjadi tukang rayu amatir. Apa yang salah dengan otakmu?"

Ferdi menangkap tangan Vani yang baru saja mencubitnya. Ia tidak melepaskannya, justru menggenggamnya dengan lembut. Kulit mereka yang kontras—hitam dan putih—berpadu di bawah cahaya rembulan perbatasan.

"Yang salah adalah aku mulai terbiasa dengan suara bisingmu," bisik Ferdi, matanya kini menatap dalam ke mata Vani.

"Dulu, kesunyian adalah temanku. Sekarang, saat aku kembali ke istana, kesunyian itu terasa seperti hukuman.

Aku merindukan debat-debat tidak bermutu tentang apel, tentang warna jubah, atau tentang betapa bodohnya para jenderalku. Aku merindukanmu, Vani."

Vani tertegun. Gengsinya mencoba berontak, namun hatinya sudah menyerah kalah. Ia tidak menarik tangannya.

"Kau... kau hanya bosan karena tidak punya musuh untuk dilawan. Itu saja. Jangan melebih-lebihkan. Aku juga... aku hanya ke sini karena aku bosan melihat orang-orang di Luxeria yang terlalu sopan. Berdebat denganmu adalah satu-satunya hiburanku."

"Hanya hiburan?" Ferdi menaikkan satu alisnya, senyum mengejeknya kembali muncul.

"Jadi, alasan kau memakai parfum aroma melati yang sangat wangi malam ini hanya untuk menghiburku? Padahal biasanya kau bau besi zirah."

"Aku tidak memakai parfum!" bohong Vani dengan suara melengking. "Ini... ini bau sabun baru! Kau benar-benar pengamat yang mengerikan, Ferdi! Kenapa kau memperhatikan bau badanku? Dasar raja mesum!"

"Aku pengamat yang baik, Vani. Aku tahu kapan kau sedang berbohong, kapan kau sedang marah, dan kapan kau sedang menahan diri untuk tidak memelukku," ujar Ferdi dengan sangat percaya diri.

"Dalam mimpiku! Aku tidak akan pernah memeluk monster kaku sepertimu!" Vani memalingkan wajahnya yang kini sudah merah semerah mawar Luxeria.

"Lagipula, kita tidak bisa terus begini. Setahun sudah lewat. Rakyat mulai bertanya-tanya kapan perang akan dilanjutkan. Mereka ingin kemenangan, bukan gencatan senjata tanpa kepastian."

Raut wajah Ferdi berubah sedikit serius. Ia mengusap ibu jarinya di punggung tangan Vani. "Apakah kau menginginkan kemenangan itu, Vani? Kemenangan di atas mayatku?"

Vani terdiam. Pertanyaan itu menghantamnya tepat di ulu hati. Ia menatap tangan mereka yang bertautan. "Tidak. Aku tidak bisa membayangkan dunia tanpa seseorang yang bisa kucaci maki setiap Selasa malam."

"Kalau begitu, mari kita buat kemenangan kita sendiri," ucap Ferdi. "Kemenangan di mana cahaya tidak perlu memadamkan kegelapan, dan kegelapan tidak perlu menelan cahaya."

"Kedengarannya sangat puitis dan mustahil," jawab Vani lirih. "Para tetua di kerajaanku tidak akan setuju. Mereka menganggap Nocturnis adalah iblis."

"Dan para jenderalku menganggap Luxeria adalah sekumpulan domba lemah yang harus disembelih," tambah Ferdi. "Tapi mereka tidak tahu bahwa ratu para 'domba' ini bisa berteriak lebih keras dari naga."

Vani tertawa kecil, kali ini tanpa rasa marah. "Dan mereka tidak tahu bahwa raja para 'iblis' ini ternyata sangat payah dalam mengupas apel."

Mereka duduk bersandar satu sama lain di bawah pohon perak itu. Sebuah pemandangan yang mustahil bagi siapa pun di dunia ini. Penguasa yang seharusnya saling membunuh, kini justru berbagi apel dan tawa di bawah rembulan.

"Ferdi," panggil Vani pelan.

"Hmm?"

"Jangan pernah berani terlambat lagi minggu depan. Jika kau terlambat satu menit saja, aku akan membakar seluruh pohon perak ini dengan sihir cahayaku."

Ferdi tersenyum, menutup matanya sejenak menikmati aroma melati dari rambut Vani. "Aku akan datang sepuluh menit lebih awal, Yang Mulia Ratu yang Pemarah. Hanya agar aku punya waktu lebih lama untuk mendengarkan ocehanmu yang tidak masuk akal itu."

"Bagus," gumam Vani. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Ferdi, sebuah tindakan yang sangat bertentangan dengan semua kata-kata pedas yang ia ucapkan tadi.

"Tapi ingat, aku tetap membencimu. Sedikit."

"Aku tahu," sahut Ferdi lembut. "Dan aku pun membencimu... sangat banyak, sampai-sampai aku tidak bisa melihat wanita lain."

Malam itu, di Garis Cakrawala, cinta bersembunyi di balik ejekan, dan kasih sayang menyamar dalam bentuk perdebatan.

Mereka masih musuh di mata dunia, namun di bawah pohon perak itu, mereka hanyalah dua jiwa yang sedang jatuh cinta, yang terlalu gengsi untuk mengakuinya secara normal.

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!