NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: PRIBUMI YANG LAPAR

Malam menekan rumah besar itu seperti beban sejarah yang tak pernah lunas.

Lampu minyak menyala terang di ruang kerja Datuk Maringgih—meja kayu jati penuh buku, peta, dan kertas, tapi tak satu pun mampu menenangkan dadanya.

Di luar, rakyat tidur dalam kelelahan. Di dalam, seorang Datuk menulis dengan amarah yang disembunyikan rapi.

Bukan amarah pada kompeni semata, melainkan pada bangsanya sendiri.

---

Dari kebun pala, Maringgih pulang dengan langkah berat. Bayang-bayang darah dan tangis masih melekat di pelupuk mata. Ia mandi, berganti pakaian, duduk di ruang kerja—tapi tak bisa tenang. Setiap kali memejamkan mata, ia melihat Pak Rahmat tergeletak. Melihat Sarif pingsan. Melihat Halimah menangis.

Malam itu, Maringgih tidak bisa tidur.

Ia duduk di kursi tingginya. Meja kayu jati di depannya penuh dengan buku-buku tebal, peta-peta usang, dan tumpukan kertas. Lampu minyak di sampingnya menyala terang, menerangi wajahnya yang teduh tapi penuh gelombang.

Tangannya diam di atas kertas kosong.

Lama.

Kemewahan ruangan ini tiba-tiba terasa ironis. Kursi empuk, meja megah, buku-buku mahal—semua itu seperti mengejek penderitaan rakyat di luar sana. Di luar, mereka tidur dengan perut lapar dan hati was-was. Di dalam, ia duduk dengan segala fasilitas, tapi tak bisa berbuat banyak.

Apa gunanya semua ini kalau bangsaku sendiri saling menghancurkan?

Ia menghela napas. Lalu tangannya bergerak.

Pena menyentuh kertas. Tinta mulai mengalir.

---

Ia menulis dalam bahasa Melayu. Bukan untuk kompeni, tapi untuk bangsanya sendiri. Untuk para priyayi yang lupa diri. Untuk rakyat yang terus tertidur.

---

BANGSA INI TIDAK DIJAJAH—MEREKA DIJUAL

Oleh: Pribumi yang Lapar

---

Bangsa ini tidak dijajah orang asing. Bangsa ini dijual oleh bangsanya sendiri.

Merekalah yang membuka pintu. Merekalah yang menunjukkan jalan. Merekalah yang duduk di kursi empuk, berpesta dengan uang rakyat, sementara rakyat kelaparan di luar pagar rumah mereka.

Para priyayi. Kaum terdidik. Yang sekolah tinggi, pandai bicara, pintar menulis. Mereka tahu hukum, tahu hak, tahu kewajiban. Tapi mereka memilih diam. Mereka memilih kompromi. Mereka memilih duduk semeja dengan kompeni.

Apa yang mereka lihat setiap hari?

Ibu-ibu di pasar memunguti sisa sayuran yang jatuh. Anak-anak kecil berebut nasi kering dengan anjing. Kakek-kakek dipaksa kerja rodi sampai rebah dan tak bangun lagi.

Mereka melihat semua itu. Tapi mereka menutup mata.

---

Aku kenal seorang priyayi. Dulunya ia miskin, seperti kita. Makan nasi bungkus, tidur di gubuk reyot, bekerja keras dari pagi hingga malam. Tapi ketika ia mendapat jabatan, ketika ia duduk di kursi empuk, ketika ia mulai kenyang—ia berubah.

Ia lupa dari mana ia datang. Ia lupa siapa yang dulu menolongnya. Ia lupa bahwa darahnya sama merahnya dengan darah kita.

Dan sekarang? Ia memukuli rakyat sendiri. Ia merebut tanah mereka. Ia mengancam akan membakar rumah mereka. Ia memanggil serdadu kompeni untuk membungkam suara-suara yang melawan.

Aku melihat matanya saat melakukannya. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada ragu. Hanya ambisi dan keserakahan yang membara.

Kapankah ia akan sadar? Kapankah ia akan menoleh ke belakang dan melihat mayat-mayat yang ia tinggalkan?

Mungkin tidak akan pernah. Karena kemewahan telah membutakannya. Karena kekuasaan telah menghilangkan rasa kemanusiaannya.

---

Ada dua jenis budak di negeri ini.

Pertama, budak yang dirantai. Mereka adalah kita—rakyat kecil. Yang menderita, kelaparan, dipukuli, tanahnya direbut. Kita tahu kita menderita. Kita ingin bebas. Tapi kita tidak punya kuasa.

Kedua, budak yang diberi kursi empuk. Mereka adalah para priyayi yang duduk semeja dengan kompeni. Diberi jabatan, diberi uang, diberi kemewahan. Mereka dibuat nyaman. Mereka tidak merasa jadi budak. Mereka merasa jadi bagian dari kekuasaan.

Tapi mereka tetaplah budak. Hanya saja, rantai mereka terbuat dari emas, sehingga tak terlihat.

Dan merekalah yang paling berbahaya. Karena mereka akan membela tuannya mati-matian. Bahkan terhadap bangsanya sendiri. Bahkan terhadap saudaranya sendiri. Bahkan terhadap ibu dan ayahnya sendiri.

---

Aku tidak punya jawaban. Aku hanya seorang yang lapar—lapar roti, lapar keadilan, lapar kebenaran. Tapi aku tahu satu hal:

Diam bukan pilihan.

Kita harus bersuara. Kita harus menulis. Kita harus melawan—dengan cara kita masing-masing.

Jangan harap para priyayi itu akan membela kita. Mereka sudah nyaman di kursinya. Mereka sudah kenyang. Mereka sudah lupa.

Kitalah yang harus membela diri kita sendiri.

Bangunlah. Lihatlah sekeliling. Lihatlah penderitaan yang selama ini kita anggap biasa. Lihatlah anak-anak yang kelaparan. Lihatlah ibu-ibu yang menangis. Lihatlah tanah yang direbut.

Dan setelah melihat, bertindaklah.

Tidak perlu dengan senjata. Tidak perlu dengan kekerasan. Tapi dengan kesadaran. Dengan persatuan. Dengan keberanian untuk berkata:

CUKUP.

---

Aku akan terus menulis. Akan terus bersuara. Meski harus dalam gelap. Meski harus bersembunyi. Meski nyawa taruhannya.

Karena aku lebih takut mati dalam diam daripada mati dalam perjuangan.

— Pribumi yang Lapar

---

Pena berhenti. Tinta mengering.

Maringgih membaca ulang seluruh tulisannya. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Setiap kata yang ia tulis adalah darahnya sendiri. Setiap kalimat adalah luka yang selama ini ia pendam.

Tangannya gemetar.

Ini benar, pikirnya. Ini kebenaran yang tak bisa dibantah.

---

Pintu ruang kerja terbuka pelan.

Dullah masuk. Wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kelelahan setelah seharian mengurus korban di kebun. Bajunya sudah diganti, tapi matanya masih sembab. Kantung hitam di bawah matanya seperti sudah jadi bagian dari wajahnya.

"Tuan belum tidur?" tanyanya pelan, hampir berbisik.

Maringgih menggeleng. "Tidak bisa."

Dullah melangkah masuk. Ia ragu-ragu, berdiri di ambang pintu. "Tuan... boleh saya masuk?"

"Masuklah."

Dullah berjalan mendekat. Matanya tertarik pada tumpukan kertas di meja. Ia sudah lama bekerja dengan Maringgih, tahu bahwa tuannya sering menulis surat-surat penting. Tapi malam ini, ada yang berbeda. Wajah Maringgih—biasanya tenang—kini terlihat seperti gunung yang siap meletus.

"Tuan menulis apa?" tanya Dullah ragu.

"Artikel. Untuk surat kabar."

Dullah mengerutkan dahi. "Surat kabar? Yang seperti kemarin dibaca Tuan itu? Bintang... apa namanya?"

"Bintang Hindia."

"Iya, itu." Dullah mendekat sedikit. "Yang suka memuat tulisan-tulisan keras tentang kompeni?"

Maringgih mengangguk. "Yang berani. Tapi juga yang paling diburu. Penulisnya bisa dibuang, bisa dihukum mati."

Dullah tertegun. Matanya membelalak. "Hukum mati? Tuan... itu berbahaya."

"Sangat berbahaya."

"Tapi Tuan tetap menulis?"

Maringgih menatapnya. "Dullah, kau lihat yang terjadi di kebun tadi pagi?"

Dullah mengangguk pelan. Wajahnya muram.

"Pak Rahmat hampir mati. Sarif pingsan. Darah di mana-mana." Maringgih menjeda. "Dan itu terjadi karena priyayi seperti Sulaiman. Mereka diam, mereka kompromi, mereka jadi algojo. Kalau aku diam juga, sama saja aku membiarkan mereka terus berbuat."

Dullah diam. Ia menunduk, memikirkan sesuatu.

"Tuan... boleh saya baca?" tanyanya akhirnya.

Maringgih menyerahkan artikel itu. "Silakan."

---

Dullah membaca. Perlahan. Gerak bibirnya komat-kamit, seperti biasa saat ia membaca.

Matanya membelalak di beberapa bagian. Tangannya gemetar. Sesekali ia berhenti, menarik napas panjang, lalu melanjutkan. Keningnya berkerut saat menemui kata-kata yang sulit.

Sampai di kalimat "Bangsa ini tidak dijajah orang asing. Bangsa ini dijual oleh bangsanya sendiri," ia berhenti lama. Membaca ulang. Matanya berkaca-kaca.

Ia meletakkan kertas itu. Diam.

Maringgih menunggu. Tidak bertanya.

Dullah mengangkat wajah. Matanya merah.

"Tuan... ini... ini tentang orang kayak Datuk Sulaiman, ya?"

"Kau mengerti?"

Dullah mengangguk pelan. "Saya lihat sendiri, Tuan. Tadi siang di kebun. Beliau marah-marah, pukuli orang, seolah kami ini bukan manusia." Ia menjeda, suaranya bergetar. "Sarif, Tuan. Saya kenal dia sejak kecil. Waktu umur lima tahun, dia pernah jatuh dari pohon, saya yang gendong pulang. Sekarang dia tergeletak, kepalanya bengkak, istrinya hamil muda nangis di sampingnya."

Air matanya jatuh.

"Dan Datuk Sulaiman... beliau cuma diam di atas kuda. Tidak tolong. Malah maki-maki."

Maringgih menghela napas. "Dia sudah berbeda, Dullah."

"Tapi dulu, Tuan... waktu saya masih kecil, saya dengar beliau orang baik. Suka bantu tetangga. Pernah kasih beras ke janda miskin di ujung kampung. Istri saya—almmarhumah—pernah cerita, waktu dia kecil, Datuk Sulaiman sering beliin kue buat anak-anak."

Maringgih diam. Ia tahu semua itu. Karena dulu, Sulaiman memang begitu.

"Sekarang... saya bingung, Tuan." Dullah mengusap air mata. "Apa jadi kaya itu bikin orang lupa diri? Apa jadi pejabat itu bikin orang jadi kejam?"

"Bukan kaya, Dullah. Bukan jabatan."

"Terus apa, Tuan?"

"Takut."

Dullah mengerutkan dahi. "Takut?"

"Takut jatuh miskin lagi. Takut kehilangan semua yang sudah didapat. Takut kembali jadi rakyat kecil yang tak punya kuasa." Maringgih menjeda. "Kau lihat rumahnya? Besar. Mewah. Dua istri. Tiga anak. Anak-anaknya sekolah. Istrinya pakai perhiasan."

Dullah mengangguk.

"Dia takut kehilangan semua itu. Maka dia rela melakukan apa pun. Termasuk menjual bangsanya sendiri. Termasuk memukuli rakyat. Termasuk..." Maringgih berhenti, "termasuk jadi algojo."

Dullah diam lama. Matanya kosong menatap lantai.

"Tuan," bisiknya akhirnya, "saya... saya ingat ibu saya."

Maringgih menatapnya.

"Ibu saya meninggal tahun lalu. Kelaparan." Suara Dullah pecah. "Tuan tahu, waktu kecil, saya sering nangis tengah malam. Perut lapar. Bunyi keruyuk keras sekali. Ibu saya hanya bisa memeluk. Tidak bisa memberi apa-apa. Beliau cuma bilang, 'Sabar, Nak. Besok mungkin ada rezeki.'"

Ia terisak.

"Tapi besoknya tetap sama. Tidak ada. Besoknya lagi, sama. Besoknya lagi, sama. Sampai akhirnya... ibu saya tidak kuat lagi."

Maringgih diam. Tidak ada kata-kata yang bisa menghibur.

"Saya ingat, Tuan. Malam sebelum ibu saya meninggal, beliau masih bilang, 'Dullah, Nak, jangan salahkan siapa-siapa. Mungkin ini sudah takdir.'" Dullah menangis. "Tapi sekarang saya tahu, Tuan. Ini bukan takdir. Ini ulah mereka. Ulah orang-orang yang duduk enak sementara kami menderita."

Ia mengambil artikel itu. Menunjuk ke sebuah kalimat.

"Di sini Tuan bilang, 'Ada dua jenis budak.' Saya... saya tidak sekolah tinggi, Tuan. Tapi saya rasa, saya mengerti."

"Coba jelaskan, bagaimana kau mengerti?"

Dullah menarik napas. Mencari kata-kata.

"Budak yang dirantai... itu saya, Tuan. Ibu saya. Sarif. Pak Rahmat. Semua rakyat kecil yang tadi siang dipukuli. Kami tahu kami menderita. Kami ingin bebas. Tapi kami tidak punya kuasa. Tidak punya uang. Tidak punya koneksi."

Ia menunjuk lagi ke artikel.

"Budak yang dikasih kursi empuk... itu Datuk Sulaiman. Dia duduk enak, rumah besar, istri dua. Tapi sebenarnya dia juga budak. Bedanya, rantai dia tidak kelihatan. Terbuat dari emas."

Maringgih tersenyum. "Kau mengerti, Dullah. Kau mengerti lebih baik dari yang kau kira."

Dullah menggeleng. "Saya cuma ngerti rasa sakit, Tuan. Saya tidak bisa menulis seperti Tuan. Tapi rasa sakit itu... saya hafal."

---

Hening. Suara jangkrik dari luar terdengar jelas. Angin malam berdesir, masuk melalui celah jendela, membuat lampu minyak berkedip.

Dullah membaca artikel itu lagi. Sampai ke bagian akhir.

"Tuan, di sini Tuan bilang, 'Aku lebih takut mati dalam diam daripada mati dalam perjuangan.'" Ia menatap Maringgih dengan mata basah. "Tuan benar-benar percaya itu?"

Maringgih tidak langsung menjawab. Ia berdiri, berjalan ke jendela. Memandang kampung yang gelap.

"Dullah, kau lihat ke luar?"

Dullah mendekat. "Lihat, Tuan."

"Apa yang kau lihat?"

"Gelap, Tuan. Rumah-rumah petani. Lampu sudah pada mati."

"Apa yang mereka lakukan di sana?"

"Tidur, Tuan."

"Tidur dalam kelelahan. Tidur dengan perut lapar. Tidur tanpa tahu besok bisa makan apa. Tidur tanpa tahu tanah mereka masih ada atau sudah direbut." Maringgih berbalik. "Mereka tidur, Dullah. Tapi aku tidak bisa tidur. Kau tahu kenapa?"

Dullah menggeleng.

"Karena kalau aku tidur, tidak ada yang akan bicara untuk mereka. Tidak ada yang akan menulis untuk mereka. Tidak ada yang akan membela mereka."

Ia kembali ke kursinya. Duduk.

"Jadi, apakah aku takut? Ya, aku takut. Takut ditangkap, dibuang, dihukum mati. Tapi aku lebih takut lagi kalau suatu hari nanti, anak cucu kita bertanya: 'Waktu bangsa ini hancur, apa yang kau lakukan?' Dan aku harus menjawab: 'Aku diam.'"

Dullah menunduk. Air matanya jatuh.

"Tuan... saya... saya tidak tahu harus bilang apa. Saya cuma orang bodoh."

Maringgih tersenyum. "Kau tidak bodoh, Dullah. Kau hanya tidak pernah diberi kesempatan. Tapi kau lihat dan kau rasakan lebih dalam dari banyak orang."

Ia berdiri. Berjalan mendekati Dullah.

"Dullah, kau tahu kenapa aku tulis ini?"

Dullah menggeleng.

"Untuk ibumu. Untuk Sarif. Untuk Pak Rahmat. Untuk semua ibu-ibu yang mati kelaparan tanpa ada yang peduli. Untuk semua anak-anak yang tidur dengan perut lapar. Untuk semua rakyat yang dipukuli, tanahnya direbut, suaranya dibungkam."

Ia meletakkan tangan di pundak Dullah.

"Untuk mereka yang tidak bisa menulis sendiri, aku menulis. Untuk mereka yang tidak bisa bicara, aku bicara."

Dullah terisak. Ia berlutut di depan Maringgih.

"Tuan... saya... saya tidak pantas."

"Bangun, Dullah." Maringgih menariknya berdiri. "Kau pantas. Karena kau salah satu dari mereka. Karena kau tahu rasanya menderita. Karena kau tidak lupa dari mana kau datang."

Dullah mengangguk. Mengusap air mata.

"Saya ikut Tuan, apa pun yang terjadi."

---

Maringgih kembali ke meja. Ia melipat artikel itu dengan hati-hati. Memasukkannya ke dalam amplop besar.

"Besok pagi, kirim ke kantor redaksi Bintang Hindia. Pakai kurir paling cepat."

Dullah menerima amplop itu. Tangannya gemetar, tapi ia menggenggamnya erat.

"Tuan, saya akan jaga ini seperti menjaga nyawa. Kalau perlu, saya antar sendiri."

"Jangan. Kau masih dibutuhkan di sini. Pakai kurir kepercayaan."

"Baik, Tuan."

Dullah hendak pergi, tapi berhenti. Ia menoleh.

"Tuan..."

"Apa?"

"Doakan saya, Tuan. Doakan agar saya bisa lihat Indonesia merdeka."

Maringgih tersenyum. "Aku doakan. Tapi jangan cuma berdoa. Kau juga harus berjuang."

Dullah mengangguk tegas. "Saya akan, Tuan."

Ia pergi. Amplop itu ia selipkan di balik bajunya, dekat dada—dekat jantung.

---

Maringgih sendirian.

Ia kembali ke jendela. Memandang kampung yang gelap. Di sana, rakyat tidur dalam kelelahan. Di sana, Pak Rahmat mungkin mengigau kesakitan. Di sana, Sarif terbaring dengan kepala berbalut.

Tulisan ini untuk kalian.

Angin malam berdesir. Dingin. Tapi di dadanya, api terus menyala.

Tulisan itu akan beredar—dan seseorang pasti akan merasa ditelanjangi.

---

Di ujung kampung, di rumah besar yang sunyi, seorang gadis merebahkan diri di ranjang.

Halimah tidak bisa tidur.

Setiap kali memejamkan mata, ia melihat kebun pala. Melihat darah. Melihat Pak Rahmat tergeletak. Melihat ayahnya di atas kuda hitam, berteriak, memaki, mengancam.

Tapi bukan itu yang paling menyakitkan.

Yang paling menyakitkan adalah bayangan Datuk Maringgih.

Lelaki yang ia kagumi. Lelaki yang menulis surat balasan dengan jujur. Lelaki yang membuat hatinya bergetar.

Apa yang ia pikirkan tentangku sekarang?

Halimah memeluk bantalnya erat.

Ayahku algojo. Ayahku memukuli rakyat. Ayahku antek kompeni.

Dan aku... anaknya.

Apakah Datuk Maringgih membenciku?

Ia memikirkan surat-surat yang mereka tulis. Memikirkan pertemuan di mushola. Memikirkan tatapan Maringgih yang hangat meski menjaga jarak.

Semua itu akan sirna sekarang. Pasti.

Karena aku anak Datuk Sulaiman. Anak antek kompeni.

Air matanya jatuh.

Dan warga kampung... bagaimana mereka akan memandangku?

Ia ingat tatapan warga di kebun tadi. Bukan padanya, tapi pada ayahnya. Tapi bagaimana besok? Bagaimana lusa? Bagaimana setiap kali ia melangkah ke luar rumah?

Mereka akan melihat ayahku di wajahku. Mereka akan melihat algojo. Mereka akan melihat musuh.

Apakah mereka akan membenciku juga?

Tidak ada jawaban. Hanya tangis yang tertahan di kegelapan.

Halimah tidak tahu.

Tapi satu hal yang ia yakini: besok, segalanya akan berbeda.

Dan ia tidak siap.

---

[Bersambung ke Bab 31...]

---

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!