NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Angel Abilla

Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
​Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
​Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Cahaya dalam Gelap

​Aruna mencoba membuka matanya, melawan rasa pusing yang hebat akibat sisa obat bius. Di depannya, pria asing berjaket hoodie itu bergerak dengan kecepatan yang tak terduga. Ia mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil dan dengan sekali sayat, tali yang mengikat pergelangan tangan Aruna terlepas.

​​"Jangan bersuara," bisik pria itu, suaranya rendah namun menenangkan. "Teman-temanmu di luar pingsan, dan gedung ini dikepung setidaknya oleh enam orang bersenjata. Kita harus pergi sekarang lewat jalur belakang."

Aruna memegang pergelangan tangannya yang memerah. Ia ingin bicara, tapi tenggorokannya terasa kering. Di ujung ruangan, Siska masih membelakangi mereka, sibuk berbicara di telepon dengan seseorang yang ia sebut sebagai 'Pembeli'.

​"Aku sudah mendapatkan kunci itu," suara Siska terdengar keras penuh kemenangan. "Cepat datang ke dermaga utara. Aruna Adiwangsa sudah tidak berdaya di tanganku. Kita bisa segera memulai ritualnya."

Mendengar nama itu disebut, pria di depan Aruna sedikit kaget. Ia menatap Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Jadi namamu Aruna?" bisik pria itu pelan. "Dengar, Aruna... fokuslah padaku. Aku akan memancing perhatian mereka. Saat aku memberi kode, kamu lari ke pintu samping, mengerti?"

Aruna menatap pria asing itu dengan dahi berkerut. Ia ingin bertanya siapa pria ini, tapi Siska tiba-tiba mematikan ponselnya dan berbalik.

"Sial, dia berbalik. Sembunyi!" kata pria itu dengan kasar. Ia segera menarik Aruna bersembunyi di balik tumpukan peti kayu besar tepat sebelum senter Siska bergerak merata dari satu sisi ke sisi lain untuk memeriksa ruangan dan area kursi.

​"Mana dia?!" teriak Siska histeris saat melihat kursi di tengah ruangan sudah kosong. "Cari! Dia masih terpengaruh bius, dia tidak mungkin lari jauh!"

Lampu senter mulai bergerak ke sana kemari dengan cepat dan tidak beraturan di kegelapan gudang. Pria itu menggenggam tangan Aruna agar gadis itu tetap diam, dan di saat itulah sesuatu yang aneh terjadi. Saat kulit mereka bersentuhan, Aruna merasakan aliran hangat yang sangat familiar seperti energi yang sering ia rasakan di Hutan Sanubari.

Energi ini... bukan dari kunci itu. Energi ini ada di dalam diriku sendiri, batin Aruna kaget.

Aruna memejamkan mata lebih erat. Kali ini, ia tidak mencari pintu hutan, ia mencari detak jantung hutan di dalam nadinya sendiri. Dan perlahan, cahaya biru kehijauan mulai bersinar tipis dari telapak tangannya, meski belum terlihat jelas.

"Hei," bisik Aruna, menarik perhatian pria di sampingnya. "Jangan memancing mereka. Biarkan mereka yang mendatangiku."

Pria itu menatap Aruna seolah gadis itu sudah gila. "Apa maksudmu? Kita harus keluar sekarang!"

​"Matikan semua lampu di gedung ini. Bisakah kamu melakukannya?" tanya Aruna tanpa memedulikan jawaban pria itu.

Pria itu terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Namaku Rian. Dan mematikan saklar listrik pusat adalah keahlianku. Tunggu di sini."

Dengan gerakan gesit layaknya bayangan, Rian bergerak hati-hati di antara bayang-bayang menuju kotak saklar di dinding sebelah utara.

Sementara itu, Aruna berdiri perlahan. Kepalanya masih pusing, namun di tengah keheningan itu, sebuah potongan ingatan tentang ibunya muncul. Saat itu, ibunya pernah berbisik di Hutan Sanubari: "Kristal itu hanyalah pintu, Aruna. Tapi kamulah kuncinya. Kekuatan sejati tidak menggantung di lehermu, ia mengalir di nadimu."

Dulu Aruna tidak mengerti, tapi sekarang, saat kunci itu hilang, ia dipaksa untuk mengerti. Aruna memejamkan mata, membayangkan akar pohon perak di Hutan Sanubari merambat masuk ke dalam gudang ini melalui telapak kakinya. Ia mulai menggumamkan suara rendah yang berulang, bukan mantra yang pernah diajarkan, melainkan sebuah panggilan tulus dari lubuk hatinya.

Bles!

Seluruh gedung menjadi gelap total. Rian berhasil mematikan saklar pusat.

Suara teriakan panik anak buah Siska memecahkan keheningan yang ada di tengah kegelapan. "Kenapa lampunya mati?! Gunakan senter!" teriak Siska.

Namun, sesuatu yang mustahil terjadi. Udara di dalam gudang mendadak menjadi sangat dingin dan lembap. Kabut putih yang tebal mulai muncul bergerak perlahan menyusuri lantai, naik dan menutupi kaki-kaki mereka hingga tidak terlihat lagi. Bau embun hutan yang segar mulai mengusir bau amis dermaga yang menyengat.

Aruna berdiri di tengah kabut itu. Tanpa kristal di lehernya, ia justru merasa jauh lebih kuat karena ia baru saja menyadari bahwa dirinyalah perwujudan Hutan Sanubari itu sendiri.

"Permainan belum selesai, Siska," suara Aruna menggema dari segala arah, rendah dan bergetar dengan kekuatan yang tak terlihat.

Siska terkejut luar biasa, tangannya yang memegang kristal gemetar hebat. Ia mencoba menyalakan senter ponselnya, namun cahayanya seolah ditutupi oleh kabut putih yang semakin tebal. Jarak pandangnya kini tidak lebih dari satu meter.

"Aruna?! Di mana kamu?!" teriak Siska. Suaranya yang semula yang tadinya stabil, tegas dan terkontrol kini serak oleh nada histeris. "Kalian! Jangan diam saja! Tangkap dia!"

Anak buah Siska, para tentara bayaran yang tadinya terlihat sangat profesional, kini mulai kehilangan ketenangan. Di tengah kabut itu, mereka tidak bisa melihat satu sama lain. Setiap kali mereka bergerak, terdengar suara gesekan dedaunan kering dan patahan ranting di bawah kaki mereka padahal mereka berdiri di atas lantai beton gudang.

​"Ada sesuatu di sini..." teriak salah satu penjaga. "Argh! Sesuatu melilit kakiku!"

Srak!

Suara seretan berat terdengar, disusul bunyi benda jatuh. Salah satu senter penjaga terjatuh ke lantai, menyorot ke arah kabut sebelum akhirnya padam perlahan. Satu orang hilang tanpa suara teriakan yang jelas.

Siska semakin memucat. Ia mundur perlahan hingga punggungnya membentur peti kayu. "Jangan main-main, Aruna! Aku memegang kunci ini! Aku yang berkuasa!"

​"Kunci itu hanyalah benda mati di tangan seorang pengkhianat, Siska," suara Aruna kembali terdengar, kali ini terasa tepat di belakang telinga Siska.

Siska berbalik dan mengayunkan tangannya dengan penuh kepanikan, namun ia hanya memukul udara kosong yang dingin. Kabut itu seolah memiliki nyawa, berputar-putar di sekelilingnya, membisikkan dosa-dosa yang selama ini ia sembunyikan.

Di sudut lain, Rian yang sedang bersiap untuk melakukan serangan fisik, mendadak berhenti bergerak. Ia melihat pemandangan yang mustahil. Dari celah-celah beton gudang, tanaman perak itu tumbuh dan bergerak menyusuri permukaan, membuat para penjaga satu per satu tidak dapat melakukan perlawanan lagi dengan cara mengikat kaki dan tangan mereka hingga tidak bisa melakukan gerakan sekecil apa pun.

​Rian menelan ludah. Ia menatap ke arah pusat kabut, di mana bayangan Aruna berdiri tegak. Cahaya biru dari telapak tangan gadis itu menerangi wajahnya, membuatnya terlihat seperti dewi hutan yang sedang memiliki kemarahan yang besar.

"Gila... dia ini sebenarnya siapa?" gumam Rian heran. Ia menyadari bahwa wanita yang ia tolong bukanlah wanita biasa yang butuh diselamatkan sepenuhnya.

Siska mulai berhalusinasi. Di dalam kabut, ia melihat bayangan ibu Aruna yang menatapnya dengan mata sedih namun tajam. "Pergi! Pergi kalian semua!" teriak Siska sambil melempar apa saja yang ada di dekatnya.

Kristal hitam di tangan Siska mendadak bersinar merah darah, bergetar hebat seolah menolak untuk dipegang olehnya. Rasa panas yang luar biasa mulai membakar telapak tangan Siska.

​"Aakh! Panas!" Siska menjerit. Kristal itu terjatuh dari genggamannya, menggelinding di atas lantai yang kini tertutup lumut yang terasa basah dan sangat licin.

Aruna melangkah keluar dari kabut dengan tenang. Setiap langkahnya tidak menimbulkan suara di beton, melainkan suara langkah di atas rumput segar. Ia membungkuk, mengambil kembali kunci kristalnya yang kini kembali bersinar biru lembut di tangannya.

"Ritualnya sudah selesai, Siska," ucap Aruna dingin. "Tapi bukan ritual yang kamu inginkan. Ini adalah ritual pengembalian keadilan."

Siska jatuh terduduk, napasnya terasa berat. Di depannya, Aruna berdiri dengan kunci kristal yang sudah kembali ke tempat asalnya. Namun, sebelum Aruna bisa melakukan gerakan lebih jauh, suara deru mesin mobil mewah terdengar berhenti tepat di depan pintu gudang yang terbuka.

Sorot lampu mobil yang sangat terang menembus kabut, menciptakan bayangan seseorang yang baru saja turun.

"Pembeli itu... dia sudah sampai," bisik Siska dengan senyum gila di wajahnya yang ketakutan.

1
Ida Kurniasari
seruu bgt thorr😍
Angel: Wah, makasih banyak ya Kak Ida! 🥰 Senang banget kalau ceritanya menghibur. Bagian mana nih yang paling bikin nagih?
total 1 replies
Angel
keren
Nadira ST
💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕🥰🥰🥰🥰☕
Angel: Wuih, deretan semangatnya sampai sini nih! Terima kasih ya, Nadira ST. Menurut kamu, apa bagian paling menarik dari bab ini? Ditunggu komentarnya lagi ya! 💪🔥
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪
Angel: Aruna emang makin tangguh nih, Kak! 💪 Tapi kira-kira dia sanggup nggak ya ngadepin Paman Hendrawan yang jauh lebih licik? Pantau terus kelanjutannya ya, Kak Murni!
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Aruna 👍👍👍👍
Angel: Terima kasih Kak Lala! Aruna emang pantes dapet apresiasi setelah semua pengkhianatan itu. Tapi ujian sebenarnya baru aja dimulai nih. Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Murni Dewita
👣👣
Angel: Wah, jejak Kak Murni sudah sampai sini nih! Menurut Kakak, apa yang bakal terjadi sama Aruna setelah ini? Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Lala Kusumah
astaghfirullah 😭
Angel: Jangan nangis dulu, Kak! Habis ini Aruna bakal kasih kejutan yang jauh lebih besar buat Tristan. Kira-kira apa yang bakal Aruna lakukan selanjutnya ya? Pantau terus besok jam 7 malam ya! 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!