Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Suara yang mengalahkan
Malam itu, area panggung terasa lebih hidup dari sebelumnya. Tepuk tangan dan sorakan tamu mengalun bersamaan saat Gina, Rahmalia, dan Siva melangkah naik satu per satu.
Beberapa murid bersiul dari barisan depan.
Dio dan Diana yang berdiri paling dekat panggung ikut bersorak, tak berhenti tersenyum melihat mereka bertiga dipanggil tampil.
Lampu sorot menyala.
Cahaya putih jatuh tepat ke arah panggung, membingkai tiga sosok itu di tengah keramaian.
Suara percakapan perlahan mereda. Musik latar dimatikan. Ruangan yang tadi riuh mendadak hening—seolah semua orang sepakat memberi ruang hanya untuk mereka.
Di barisan belakang, tempat para tamu penting duduk, ayah dan ibu Gina terlihat berdampingan dengan keluarga Pratama.
Ayah Gina duduk tegap, bahunya lurus, tatapannya fokus ke arah panggung.
Ibunya tersenyum pelan—senyum yang sulit disembunyikan, penuh rasa bangga saat melihat putrinya berdiri di depan banyak orang.
Gina sempat melirik ke arah mereka.
Hanya sepersekian detik.
Tapi cukup untuk membuat dadanya menghangat.
Dari arah kursi tamu, terdengar bisik-bisik pelan.
“Jadi mereka yang dijuluki Three Golden Voice itu?” tanya salah satu tamu, suaranya tertahan tapi jelas terdengar.
“Iya,” jawab yang lain.
“Anakku sekolah di Stella. Katanya memang suara mereka bertiga paling menonjol.”
Ayah dan ibu Gina saling menoleh singkat.
Tak ada kata—hanya tatapan kecil yang sama-sama mengerti. Bangga. Puas. Seolah semua kerja keras Gina selama ini benar-benar terlihat malam ini.
Di atas panggung, posisi mereka sudah terbentuk.
Gina berdiri di tengah, sedikit lebih maju dari yang lain. Dialah vokal utama—yang akan membuka lagu dan membawa emosi dari awal.
Di sisi kanan, Rahmalia berdiri dengan tenang. Tugasnya mengisi harmoni—suara yang lembut, menyatu, menyeimbangkan.
Di sisi kiri, Siva bersiap di bagian vokal pendukung—bagian reff yang kuat, yang biasanya jadi puncak lagu.
Tiga posisi yang sudah mereka hafal di luar kepala.
Tiga peran yang selama ini selalu berjalan rapi.
Lampu masih menyorot.
Mikrofon di tangan.
Dan di bawah panggung, puluhan pasang mata menunggu.
Jantung Gina berdetak lebih cepat dari biasanya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa gugup saat berdiri di atas panggung. Bukan karena lampu sorot. Bukan karena puluhan pasang mata yang menatap.
Tapi karena… malam ini berbeda.
Orang tuanya duduk di sana, di kursi belakang.
Dan di antara keramaian, ada satu orang yang tanpa sadar ingin ia tuju—Azmi.
Dari bawah panggung, Azmi terlihat berdiri sambil tersenyum. Tepuk tangannya pelan, tapi cukup jelas memberi semangat.
Musik mulai mengalun.
Intro pelan terdengar, lembut, mengisi ruangan yang mendadak hening.
Gina menarik napas, lalu memulai lebih dulu.
Suaranya keluar stabil. Bersih. Terlatih.
Lagu mellow yang ia bawakan mengalir tenang, membuat para tamu langsung fokus. Percakapan berhenti. Beberapa orang bahkan tanpa sadar menahan gerakan, larut dalam alunan nada.
Beberapa detik kemudian, Rahmalia masuk.
Tidak dominan. Tidak menonjol.
Tapi harmoni yang ia isi begitu halus—menyatu seperti angin yang meniup seruling. Membuat suara Gina terdengar lebih utuh, lebih hangat.
Di arah kursi tamu, bisik-bisik kembali terdengar.
“Suara utamanya indah sekali.”
“Iya… enak didengar. Lembut.”
“Ditambah harmoninya… jadi terasa lebih kuat.”
Ayah dan ibu Gina saling menoleh.
Ibunya tersenyum, jemarinya sempat menyentuh lengan suaminya—gestur kecil yang penuh kebanggaan.
Gina sempat menangkap itu dari atas panggung.
Senyum orang tuanya.
Tatapan bangga mereka.
Dan untuk sesaat… dadanya terasa penuh.
Namun lagu belum mencapai puncaknya.
Bagian reff datang.
Siva yang sejak tadi menunggu, akhirnya mengangkat mikrofon.
Dan begitu suaranya masuk—
suasana berubah.
Powerful. Penuh emosi.
Nada tinggi yang ia lepaskan langsung memenuhi ruangan, tajam tapi tetap stabil. Seolah memecah udara di dalam ballroom.
Beberapa tamu spontan berseru kagum.
Sorotan lampu seakan ikut menegang, menahan momen itu.
Di kursi tamu, bisik-bisik kembali terdengar.
“Gila… suaranya bagus banget.”
“Iya. Nada setinggi itu… susah banget dicapai.”
“Lihat wajahnya, kayak nggak kesulitan sama sekali.”
“Dia anak Pak Wijaya ya?”
“Bukan. Itu anak Pak Rosyid. Anak Pak Wijaya yang di tengah.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Tanpa sengaja.
Tapi cukup untuk mengubah sesuatu.
Ayah dan ibu Gina yang tadi tersenyum… perlahan kehilangan ekspresinya.
Senyum itu memudar.
Digantikan diam yang kaku.
Tatapan mereka tetap ke panggung—tapi tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Gina masih larut dalam lagu yang baru saja mereka bawakan. Napasnya belum sepenuhnya kembali normal, tapi hatinya masih hangat—terbawa suasana panggung, tepuk tangan, dan sorotan lampu yang baru saja padam.
Ia tidak menyadari… ekspresi orang tuanya sudah berubah sejak tadi.
Menjelang akhir lagu, bagian puncak datang.
Gina dan Siva sama-sama mengambil nada tinggi.
Gina membawakannya stabil—bersih, rapi, seperti latihan yang selalu ia lakukan.
Namun di saat yang sama, suara Siva melesat lebih tinggi. Lebih kuat. Lebih penuh emosi.
Perbedaannya terasa.
Bukan salah. Bukan fals.
Tapi cukup untuk membuat orang yang mendengar tahu… siapa yang paling menonjol malam ini.
Di kursi tamu, ibu Gina mengernyit tipis.
Bukan marah. Bukan kecewa terang-terangan.
Hanya satu reaksi kecil… yang terlalu jujur untuk disembunyikan.
Lagu berakhir.
Tepuk tangan pecah memenuhi ruangan.
Beberapa tamu bahkan berdiri, bersiul, dan memberi apresiasi panjang.
MC kembali naik ke atas panggung, wajahnya penuh semangat.
“Penampilan yang luar biasa!” ucapnya lantang.
“Terutama vokal kuat yang dibawakan Nona Siva—powerful banget! Merinding tiap dengarnya.”
Sorak kembali terdengar.
Nama Gina… tidak disebut.
Tidak juga Rahmalia.
Hanya Siva.
Namun Gina tidak menyadari itu.
Ia hanya tersenyum—bangga, tulus—melihat sahabatnya dipuji setinggi itu.
“Tepuk tangan sekali lagi!” seru MC.
Gina, Rahmalia, dan Siva membungkuk bersamaan, lalu perlahan menuruni panggung.
Siva turun lebih dulu.
Rahmalia menyusul di belakangnya.
Gina… paling terakhir.
Dari arah belakang, Gina melihat Siva langsung dihampiri Dio dan Diana.
“Keren banget hari ini, bos!” seru Dio sambil mencubit lengan Siva.
Diana ikut mengangguk cepat.
“Iya, gila… pecah banget.”
Siva tertawa kecil, mengibaskan tangan.
“Ah, biasa aja kali.”
Gina tersenyum melihat itu.
Hangat.
Lalu pandangannya bergeser.
Dari arah lain, Azmi berjalan mendekat.
Langkahnya pelan, tapi jelas tujuannya.
Ke Rahmalia.
Seperti biasa.
Gina sudah tahu.
Dan kali ini… ia tidak mencoba menahan rasa itu.
Ia membiarkannya lewat begitu saja—meski ada nyeri kecil yang tetap tertinggal di dada.
Tak lama, orang tua Rahmalia ikut datang.
Mereka langsung memeluk putrinya, mencium keningnya, memuji tanpa henti.
Hangat. Dekat. Penuh kebanggaan.
Pemandangan itu… membuat Gina tersentak pelan.
Ia baru sadar.
Orang tuanya.
Refleks, Gina menoleh, mencari mereka di antara para tamu.
Dan akhirnya… ia menemukan.
Mereka masih duduk di kursi belakang.
Diam.
Tidak berdiri.
Tidak menghampiri.
Tidak melambaikan tangan.
Senyum yang tadi sempat ada… sudah tidak terlihat.
Tatapan mereka datar. Tenang.
Tapi justru itu yang terasa paling menyakitkan.
Gina terdiam.
Kakinya terasa berat.
Ia kembali melihat sekeliling.
Siva… dikelilingi orang-orang yang kagum.
Rahmalia… diapit orang tuanya, dengan Azmi berdiri di dekatnya.
Sementara dirinya—
tidak ada siapa-siapa.
Suara sekitar jadi samar.
Tidak ada yang menghampiri.
Tidak ada yang memanggil.
Tidak ada yang menepuk pundaknya.
Untuk pertama kalinya malam itu…
Gina benar-benar merasa sendirian.
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
maaf yaa nangis sedikittt
keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
di sini alur belum maju lagi 🤔
jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn
perhatikan dinamis Pace
baby shark doo dooo doo
chapter ini cukup menarik
slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
kayak mau deketin Azmi sama gina
kek nyaman bener
ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok
aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏
ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)
main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..
ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita
penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???