Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 : Menyimpan api di antara janji
Arinta dan Melinda berjalan memasuki hotel tanpa menyadari atau berpikir kalau ada yang sedang membuntuti mereka.
Tanpa rasa takut Arinta langsung memesan sebuah kamar hotel, membuat Fatur dan Amara benar-benar tak menyangka. Arinta dan Melinda sungguh nekat dan tidak punya rasa empati karena masih melanjutkan hubungan terlarang itu.
"Ra, udah ya, sampai sini aja," ujar Fatur yang kayaknya udah enggak sanggup buat melanjutkan.
"Iya, Tur, gue paham kok. Cukup sampai di sini saja." Untungnya kali ini Amara menurut dan enggak se-ambisius tadi untuk menangkap basah keduanya di tempat.
Keduanya berjalan keluar hotel dengan perasaan campur aduk. Ada moral yang mereka harus jaga dan lebih memilih diam dibanding membuat keributan dan memviralkan, keluarga Arinta. Terutama anaknya, Alea. Anak kecil yang tak bersalah dan masih polos itu bakal jadi korban kalau sampai video itu tersebar ke medsos.
"Gue gak kebayang deh, gimana reaksi istrinya Arinta kalau dia tau suaminya check in sama orang lain...." Suara Amara terdengar lemah, wajahnya menekuk, pikirannya benar-benar kalut.
"Untuk sementara kita jaga rahasia ini dulu Ra, kita liat sikon. Kalau Arinta masih belagak polos, baru kita kasih video itu ke istrinya. Tapi inget, ini kesepakatan kita jangan di viralkan, kasian nanti anaknya," ujar Fatur dengan tegas.
"Iya Tur, gue setuju sama lu." Akhirnya mereka pun pergi dari sana tanpa Arinta benar-benar tau kalau perbuatannya sudah diketahui oleh teman kantornya sendiri.
.
.
Alena sudah tiba di rumah dan merapihkan semua pakaiannya. Wanita itu tampak bimbang setelah mendapat ajakan dari Arinta yang terdengar begitu menjanjikan. Dia ingin mencoba tapi rasa sakit itu tak bisa ia pendam.
"Len..., pikir-pikir lagi ya...? Jangan sampai salah ambil langkah demi Alea...." Andini menepuk pundak Alena dari belakang saat mengetahui kebimbangan wanita itu.
"Gue emang lagi bingung sekarang..., suara hati gue kayak terpecah jadi dua...," ujar Alena. menghela napas pasrah. "Suara hati gue ada yang ingin mencoba memperbaiki tapi sisi lain ada yang menjerit terluka dan sulit disembuhkan..., dan gue gak tau harus ikutin yang mana...." Alena berbalik menatap ke arah Andini dengan wajah frustasi.
Andini kemudian meninggalkan Alena di kamar, memberikan wanita itu ruang sejenak untuk memikirkan mana yang terbaik untuknya.
Alena terpaku diam di atas ranjang sambil menatap layar ponsel. Niat untuk memberitahu pihak keluarga untuk ke Bandung dan soal Arinta membuatnya ragu kembali.
Apa yang harus aku lakukan ketika suami mengajak untuk kembali membuka lembaran baru setelah perselingkuhan? Apa aku harus menerima ajakan itu?
Alena kembali mengetik status itu di media sosialnya, dan tak butuh waktu lama komentar berdatangan. Banyak yang skeptis tapi tak sedikit juga yang menyarankan dia untuk ikhtiar memperbaiki karena Tuhan membenci perceraian kalau masih bisa dipertahankan.
Alena pun kembali menghela napas yang terasa begitu berat. Sepertinya dia butuh ketenangan lebih dan mencari jawabannya lewat 'bertanya' kepada Tuhan nanti malam.
.
.
Di tempat lain Arinta dan Melinda tampak baru selesai dari apapun kegiatan di dalam hotel itu. Melinda terlihat masih bergelung di dalam kamar hotel dan Arinta merapihkan pakaiannya kembali.
"Kapan kamu meninggalkan Jakarta?" Tanya Melinda sedikit beranjak dari atas kasur.
"Sabtu atau minggu, tergantung Alena...," jawab pria itu dingin.
"Huh...." Melinda mendengus kecil saat mendengar nama Alena disebut. Ternyata Arinta memang benar masih memikirkan istrinya.
"Ingat janji kamu ya, Mel. Ini jadi yang terakhir." Arinta membalikkan badan dan menatap ke arah Melinda yang masih terbalut dalam selimut.
"Kamu begitu banget sih...." Wanita itu mulai merajuk sebal. Berusaha mencari celah kelemahan pria itu.
"Jangan bercanda, Mel! Aku serius!" Tatapannya menjadi tajam. Sontak Melinda terdiam. "Aku gak ingin meneruskan hubungan ini lagi, ingat tujuan kita di awal cuma buat fun gak lebih," ujarnya tanpa merasa bersalah (sebenarnya dia merasa bersalah cuma udah terlanjur).
"Hish, Ya aku mengerti! Kamu takut banget sih kehilangan Istri kamu yang pemarah itu!" Melinda mengejek Arinta dengan senyuman yang meremehkan.
"Aku gak suka kamu bicara seperti itu tentang Alena," balas pria itu dengan cepat. Ekspresinya tampak agak kesal.
"Yah terserah kamu, tapi kamu sendiri yang bilang 'kan dulu. Alena itu wanita yang sangat keras kepala, sulit diatur apalagi kalau punya kemauan dan selalu merasa yang paling mengerti mana yang terbaik tanpa pernah bertanya ke kamu." Melinda membahas kembali soal curahan isi hati Arinta terdahulu yang membuat mereka berdua akhirnya dekat lalu menjalin hubungan rahasia.
"Kamu begini juga karena Alena yang terlalu fokus sama anak, yah gak heran sih. Sebelum punya anak dia juga gak begitu mikirin kamu, gimana pas punya anak." Melinda mengangkat bahu dengan sikap cuek. Semua kalimat wanita itu sarat akan sindiran tegas mengenai sikap Alena yang sering diceritakan Arinta.
"Udahlah, Mel..., dia masih Istri aku, juga Alea ada anak aku. Sebisa mungkin aku gak mau kehilangan mereka berdua...," balas Arinta memilih gak mau berdebat.
Lelaki itu tampak sudah berdiri tegap dengan sempurna kembali.
"Aku duluan, dan kamu bisa 'kan pulang sendiri?" Ucapnya sambil mengambil tas kerjanya yang tergeletak di atas laci kecil.
"Hmph...! Pulang saja sama, kamu gak usah memikirkan aku. Hubungan kita sudah berakhir di sini 'kan," ketusnya memasang wajah sebal. Ia memalingkan muka dari Arinta.
"Hhh..., baiklah...." Arinta pun terlihat memang sudah tak mau berhubungan lagi dengan Melinda. Ia pun beranjak, berjalan ke arah pintu.
"Ingat ya Mel, rahasia ini hanya kita saja yang tahu. Kalau sampai bocor, kamu orang pertama yang bakal aku cari," ujarnya ketika berdiri di ambang pintu.
Cklek...!
Pintu hotel itu pun dibuka lalu tertutup kembali.
"Arrrrrghhhh!! Menyebalkan!" Tepat setelah Arinta pergi dan menjauh, Melinda berteriak frustasi sambil menjambak selimut yang masih menutupi tubuhnya.
"Sialan! Sialan! Sialan! Apa bagusnya Alena yang jelek itu!! Wanita gak tau diri! Punya banyak kekurangan tapi masih saja dibela!"
Melinda mulai melempar bantal, selimut dan apapun yang bisa dia lempar di kamar hotel itu dengan rasa jengkel sambil menyebut-nyebut nama Alena. Awalnya dia berpikir Arinta itu memang ingin berpisah karena tak tahan dengan sikap Alena, tapi dugaannya salah. Pria itu ternyata masih ingin bertahan.
"Apa sih yang bikin dia masih mau sama Alena padahal istrinya itu red flag?" Melinda tampak sedang berpikir dengan napas yang memburu.
Akhirnya dia mengetikkan sesuatu pada layar ponsel miliknya karena diganggu oleh rasa penasaran yang tak mendapat jawaban.
Apa yang membuat lelaki masih mau bertahan dengan istrinya, padahal dia sudah jenuh dengan sikap sang istri yang terlalu egois?
Dugaan dan spekulasi bermunculan di kolom komentar hingga ada seseorang yang bertanya.
Kenapa kamu bertanya soal pria lain yang sudah beristri? Apa kamu seorang pelakor?
JLEB!
Pertanyaan itu langsung tembus menusuk ke dalam hati Melinda.
Spekulasi kalau dirinya adalah seorang pelakor pun mulai terendus dan ramai-ramai netizen mulai menghakiminya secara massal.
Apakah nantinya Melinda akan mendapat karma dari perbuatannya sendiri? Lalu apa rahasia mereka di hotel selamanya akan tersimpan tanpa diketahui Alena?
.
.
Bersambung....
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang