Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAMAKU SENJA ANINDIYA
Aku adalah anak ke-7 dari delapan bersaudara. Empat di antaranya laki-laki, dan tiga lainnya perempuan. Dalam keluarga sebesar itu, namaku kerap tenggelam di antara suara-suara yang lebih lantang, tawa yang lebih keras, dan harapan-harapan yang lebih besar.
Namaku Senja Anindiya.
Sejak kecil, aku tumbuh dengan perasaan sebagai anak yang kurang beruntung—bukan karena aku tak pandai bersyukur, melainkan karena hidup seolah memilihku untuk belajar lebih awal tentang kehilangan, kesabaran, dan arti diam. Aku belajar menerima tanpa banyak bertanya, mengalah tanpa banyak membela diri.
Beberapa bulan setelah sebuah peristiwa besar mengguncang keluarga kami, hidup kembali terasa tenteram. Rumah kami kembali dipenuhi tawa, doa, dan rasa syukur. Alhamdulillah, berkat semangat dan kegigihan ayah, usaha jahit yang ia rintis sejak pulang ke kampung halaman berkembang pesat. Dari sebuah mesin jahit tua di sudut rumah, ayah kini memiliki usaha tailor sendiri. Pesanan datang silih berganti, bahkan dari perusahaan-perusahaan di kota.
Pada masa itu, keluarga kami sempat berada di posisi atas. Di kampung, ayah dikenal sebagai orang berada. Keahlian menjahitnya membuat kami dihormati, disegani, dan kerap disebut orang kaya pada zamannya.
Ibu adalah sosok yang tak kalah disegani. Ia ramah, lembut, dan berhati lapang. Pintu rumah kami hampir tak pernah tertutup bagi tetangga yang membutuhkan. Ibu meminjamkan beras, uang, bahkan sekadar telinga untuk mendengar keluh kesah mereka yang gagal panen. Sebagian besar warga kampung menggantungkan hidup dari sawah dan ladang; satu musim buruk saja sudah cukup membuat mereka kehilangan segalanya.
Alhamdulillah, anak-anak ibu dapat mengenyam pendidikan hingga SMA dan SMK. Kakakku yang pertama, Rini, sebentar lagi akan menamatkan pendidikannya di SMK. Kakakku yang kedua kini duduk di kelas dua MAN. Dari cerita ibu, aku tahu bahwa abang dan kakak-kakakku dikenal pintar, sering menjadi juara kelas, dan membanggakan keluarga.
Di tengah kebanggaan itu, aku tumbuh sebagai anak yang lebih banyak mengamati daripada berbicara. Aku bukan yang paling menonjol, bukan pula yang sering dipuji. Prestasiku biasa saja. Namaku jarang disebut dalam daftar kebanggaan keluarga.
Namun sejak kecil aku memahami satu hal: diam bukan berarti kosong. Dalam diam, aku belajar membaca suasana. Aku tahu kapan harus bicara, dan kapan lebih baik menunduk. Aku belajar mengenali wajah ayah saat lelah, suara ibu saat menahan tangis, dan tatapan kakak-kakakku saat mereka merasa lebih berhak didengar daripada aku.
Sebagai anak ke-7, aku terbiasa berbagi segalanya—perhatian, kasih sayang, bahkan mimpi. Kadang aku merasa hadir, kadang pula seolah tak terlihat. Tetapi ibu selalu berpesan, setiap anak membawa takdirnya masing-masing, dan tugasku hanyalah menjalaninya dengan sabar.
Aku selalu mengalah pada adikku yang bernama Alfa. Ia adalah anak bungsu, dan pada masa kejayaan ayah, ia menjadi pusat kasih sayang. Ayah dan ibu begitu menyayanginya. Aku memahami itu, atau setidaknya berusaha memahami.
Beberapa bulan berlalu. Hari ini adalah hari kelulusan Kak Rini.
Ia adalah anak kesayangan ayah. Hampir semua keinginannya dikabulkan. Baju baru, sepatu baru, bahkan rencana masa depan—semuanya terasa mudah baginya. Berbeda denganku. Meski aku adalah anak perempuan terakhir, keinginanku sering kali berakhir sebagai angan yang harus kupendam sendiri.
Tugasku sederhana: bekerja, dan terus bekerja.
Pagi itu, sebelum matahari benar-benar tinggi, aku sudah berjalan menuju sungai. Dua ember besar kugenggam di tangan. Air untuk mandi Kak Rini—dan untuk keluarga—adalah tanggung jawabku. Di kampung kami belum ada PDAM. Sungai adalah satu-satunya tempat untuk mandi dan mencuci.
Langkahku berat, bukan karena ember kosong, melainkan karena perasaan yang tak pernah benar-benar ringan.
Saat hujan turun, itulah anugerah terindah bagi kami. Air hujan memungkinkan kami mandi dan mencuci di rumah, tanpa harus berjalan jauh ke sungai. Pada hari-hari seperti itu, aku selalu berharap hujan turun lebih lama—seakan hujan bisa mencuci lelah dan sunyi yang selama ini kupendam.
Dan di situlah, di antara rintik hujan dan gemericik sungai, kisah hidupku mulai perlahan berubah.