Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.
Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.
Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.
Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.
Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.
Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rendra Birthday' 2
Mereka duduk berdampingan di meja makan dengan satu piring kecil di tengah. Rendra memotong tiramisu itu asal tidak rapi, tidak peduli bentuk lalu meletakkan potongannya ke piring di hadapan mereka berdua.
Mereka makan pelan, sendok yang sama berpindah tangan. Sesekali ujung jari mereka bersinggungan, sesekali tertawa kecil karena Rendra selalu kebanyakan ambil, atau karena Lala protes soal cara makan rendra yang berantakan.
“Enak,” ujar Rendra jujur setelah beberapa suap. “Manisnya pas. Gak bikin eneg.”
“alhamdulilah deh kalo Lo suka,” Lala menghembuskan napas kecil. “Tadi gue sempet takut gagal tiramisunya.”
“Gagal pun gue tetep makan,” balas Rendra cepat. “kan buatan Lo.”
Lala mendengus, tapi sudut bibirnya terangkat. Ada rasa hangat disana.
Mereka melanjutkan makan tanpa banyak bicara. Sunyi yang tidak canggung. Hanya suara sendok menyentuh piring, dan sesekali Rendra yang bersandar lebih dekat.
“Lo tau gak,” kata Rendra tiba-tiba, masih menatap kue. “Gue tadi di luar rame-rame. sama banyak orang. Banyak ketawa. Tapi pas pulang... baru kerasa.”
“Kerasa apa?”tanya Lala dengan ekspresi penasaran.
“Kerasa ulang tahunnya sekarang.”Rendra tidak sedang bercanda. Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang tulus di sana.
“Maaf ya,” lanjutnya pelan. “Kalau gue bikin lo ngerasa sendirian hari ini.”
Lala menggeleng. “ngga kok”.
Rendra mengangguk, lalu menyendok potongan terakhir kue dan membaginya dua dengan sendok. Ia menyuapkan ke mulut Lala lebih dulu, tanpa diminta.
“Thanks yaa,” katanya setelah itu. Bukan hanya untuk kue. Tapi untuk hari ini. Untuk rumah. Untuk rasa menunggu.
Setelah piring kosong, Rendra membereskannya ke wastafel. Mereka beranjak dari dapur hampir bersamaan. Rendra berjalan lebih dulu menuju kamar mandi untuk bersih-bersih, sementara Lala mengecek rumah seperti kebiasaannya mematikan lampu ruang tamu, memastikan pintu terkunci, mengecek kompor sekali lagi walau tahu sudah aman. Ada rasa tenang kecil saat ia melakukan itu, seolah rumah ini perlahan-lahan benar-benar menjadi ruang yang ia jaga.
Saat masuk ke kamar, Lala duduk di tepi ranjang lalu menyender ke sandaran kasur. Napasnya dihembuskan pelan. Hari ini panjang, melelahkan, tapi entah kenapa terasa penuh.
Semua yang tadi ia pikir akan berakhir sia-sia. Kue, masakan, dan penantian ternyata tidak. Rendra melihatnya. Menghargainya. Dan itu cukup membuat dadanya terasa hangat.
Pintu kamar terbuka pelan. Lala menoleh refleks.
Rendra masuk dengan rambut masih basah, kaus belum dipakai, hanya handuk yang melilit di pinggangnya. Uap air dari kamar mandi ikut masuk, membawa aroma sabun yang masih baru. Rendra berjalan santai ke lemari, seperti ini hal biasa.
Lala justru menegang. Rendra membuka lemari, mengambil setelan baju tidur yang sudah terlipat rapi.
“Baju gue kan ini?” tanyanya sambil melirik Lala sekilas.
Lala mengangguk cepat. “Iya.”
Jawabannya pendek, nyaris berbisik. Ia tidak tahu harus menaruh mata ke mana.
Pandangannya jatuh ke dinding, ke lantai, ke ujung selimut ke mana saja asal bukan ke arah Rendra. Ada gugup yang tiba-tiba muncul, tidak masuk akal tapi nyata. Padahal mereka sudah menikah. Tapi tetap saja, pemandangan itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.
Saat Rendra akan melepas handuknya, Lala refleks berteriak.
“REN!”
Rendra berhenti, menoleh dengan alis terangkat. “Kenapa?”
Lala cepat-cepat membuang muka, menutup sebagian wajahnya dengan tangan.
“Jangan di sini,” katanya buru-buru. “Pake baju di kamar mandi aja.” Nada suaranya campur aduk antara panik dan malu.
Rendra berhenti di tempat. Ia menoleh pelan, satu alis terangkat, bibirnya menahan senyum yang jelas-jelas sengaja.
“Loh,” katanya santai, “sah-sah aja kali kalo lo liat?”
Lala langsung melotot ke arahnya meski masih membuang muka.
“REN.”Nada itu bukan marah. Lebih ke... ketahuan gugup.
Rendra terkekeh kecil. Ia mendekat setengah langkah, sengaja memperlambat gerakannya.
“Tenang aja,” ujarnya menggoda. “Gue masih sopan kok.”
“Sopan dari mana,” sahut Lala cepat. “Itu handuk doang.”
“Ya kan masih nutup,” balas Rendra enteng. “Lagipula, lo udah teriak duluan aja. Gue kan belum ngapa-ngapain.”
Lala menarik bantal, refleks menutup wajahnya setengah. “Pokoknya jangan di sini.”
Rendra akhirnya tertawa pelan, suara rendah yang hangat. Ia mengangkat tangan tanda menyerah.“Oke, oke. Ibu galak.”
Rendra berbalik menuju kamar mandi, tapi sebelum masuk ia sempat menoleh lagi.
“Lucu,” katanya ringan, “lo gugupnya keliatan banget.”
Pintu kamar tertutup.
Lala menghembuskan napas panjang, lalu menjatuhkan bantal ke kasur. Wajahnya panas, entah karena malu atau karena sadar ia tidak sebiasa itu seperti yang ia kira.Ia tidak tahu sejak kapan hal-hal kecil seperti ini bisa membuatnya gugup. Dan itu justru yang membuatnya diam lama, menatap ujung ranjang, sambil berpikir pelan ternyata, ada banyak hal yang masih harus mereka biasakan bersama.
Tidak lama kemudian pintu kamar kembali terbuka. Rendra masuk sudah lengkap dengan pakaian tidurnya. Kaus tipis dan celana rumahan, rambutnya masih sedikit lembap meski sudah digosok asal dengan handuk. Ia melempar handuk itu ke kursi, “Eh La.”
“Apa lagi?” jawab Lala cepat.
Rendra terkekeh mendengar jawaban lala “Besok-besok... lo gak usah teriak. Gue bisa salah paham.”
Lala melempar bantal ke arah rendra
“DIEM GA.”
Rendra tertawa, lalu naik ke atas kasur dengan santai duduk di sebelah Lala yang sejak tadi masih bersandar di posisi yang sama. Jarak mereka terlampau dekat.
Rendra merebahkan punggungnya, satu tangan menopang kepala. Ia melirik Lala dari samping.
Rendra tersenyum kecil. “Hari ini lo sibuk banget. Masak, bikin kue, kekantor juga kan tadi.”
"Emangnya pulang jam berapa, ko bisa sempet buat nyiapin semuanya" tanya rendra.
Nada suaranya tidak menuduh. Justru terdengar... hangat.
Lala menatap ke depan, bukan ke Rendra. “Tadi cuman kunjungan aja makanya bisa pulang siangan, terus belanja deh. Gue kira bakal berakhir gitu aja.”
Rendra memiringkan badan sedikit, kini menghadap Lala. “Enggak.”
Ia berkata pelan, tapi tegas. “Gue ngerasa dirayain banget ”
Kalimat itu membuat Lala terdiam. Dadanya terasa menghangat, seperti ada sesuatu yang pelan-pelan mengembang di sana. Ia tidak menjawab, hanya menggeser posisi duduknya sedikit agar lebih nyaman.
Sunyi mengisi kamar. Bukan sunyi yang canggung lebih seperti jeda. Rendra bergeser, berbaring miring menghadap Lala. Tidak menyentuh, hanya cukup dekat untuk membuat kehadirannya terasa.
“Makasi ya,” katanya lagi, lebih pelan. “Serius.”
Lala akhirnya menoleh. ia mengangguk“Iya.”
Jawabannya sederhana. Tapi matanya berbicara lebih banyak.
Lampu kamar masih menyala temaram. Lala menarik selimut sedikit, refleks. Rendra ikut menarik sisi selimutnya sendiri, lalu berhenti.
“dingin?” tanyanya.
“Enggak,” jawab Lala cepat. Lalu menambahkan, “Biasa aja.”
Rendra tersenyum. “Jawaban favorit lo.”
Lala mendengus kecil. “lebih ke Jawaban aman sih.”
Mereka sama-sama tersenyum. Beberapa detik berlalu. Rendra menatap langit-langit, lalu kembali menoleh ke Lala.
“Tidur la. good night"
Lala mengangguk. Mereka berbaring berdampingan. Tidak saling memeluk, tidak saling menjauh. Hanya dua orang yang sedang belajar berbagi ruang dan waktu dengan cara mereka sendiri.
Di tengah keheningan itu, Lala menyadari sesuatu yang sederhana tapi penting malam ini, ia merasa tenang. Ia tahu bahwa Rendra selalu berusaha untuk menghargainya, dan mungkin... itu awal yang cukup baik.
semangat kak... salam dari Edelweiss...