NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Yuki

Cinta Untuk Yuki

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Yatim Piatu / Pelakor jahat / Selingkuh
Popularitas:948
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.

Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.

Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Ingin Menikahkan Yuki Pada Kai

Malam itu, setelah Ai tertidur lelap di kamar Yuki, rumah kembali tenang. Hanya suara jam dinding yang terdengar pelan, berpadu dengan langkah kaki Ibu Kai yang berjalan menuju ruang tengah. Kai sedang duduk di sofa, menatap berkas-berkas yang sebenarnya sudah lama tidak ia baca dengan sungguh-sungguh. Pikirannya masih tertinggal pada tawa Ai sore tadi… dan senyum Yuki yang membuat dadanya terasa hangat dengan cara yang sulit ia jelaskan.

Ibu Kai duduk di kursi seberang, menatap putranya dengan tatapan yang penuh arti. Tidak ada nada menghakimi di sana, hanya kelembutan seorang ibu yang mengenal anaknya lebih lama dari siapa pun.

“Kai,” panggilnya pelan.

Kai mengangkat wajah. “Iya, Bu?”

Ibu Kai tersenyum tipis. “Ayahmu dan aku memperhatikanmu sejak Yuki dan Ai datang ke rumah ini.”

Kai terdiam, jemarinya sedikit menegang di atas kertas. “Memperhatikan… dalam arti apa?”

“Dalam arti,” jawab Ibu Kai sambil melipat tangan di pangkuannya, “kau jadi lebih sering pulang cepat. Lebih jarang membawa pekerjaan ke rumah. Dan yang paling jelas… matamu berubah. Tidak sedingin dulu.”

Kai menoleh, sedikit canggung. “Aku hanya… ingin memastikan mereka aman.”

“Itu jawaban yang baik,” sahut Ibu Kai lembut, “tapi bukan jawaban yang lengkap.”

Kai menghela napas pelan. Ia tahu ibunya tidak sedang menginterogasi, hanya ingin mengerti. “Aku… tidak tahu sejak kapan, Bu. Tapi setiap kali mendengar Ai tertawa, atau melihat Yuki tersenyum… ada sesuatu yang terasa tenang. Seperti rumah ini kembali punya suara.”

Ibu Kai mengangguk perlahan. “Ayahmu juga merasakannya. Kami melihatmu jadi lebih hangat. Lebih… hidup.”

Kai tersenyum kecil, lalu menunduk. “Mungkin karena aku akhirnya punya alasan untuk pulang.”

Hening sebentar. Ibu Kai menatap putranya dengan penuh kasih, lalu berkata dengan nada yang ringan, tapi sarat makna, “Karena itu, kami punya rencana.”

Kai mengangkat alis. “Rencana apa, Bu?”

Ibu Kai tersenyum lebih lebar. “Menikahkanmu dengan Yuki.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, sederhana, tapi membuat Kai membeku di tempat. Wajahnya memanas, telinganya terasa panas, dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar tersipu. “B-Bu… itu… itu terlalu cepat, kan?”

“Cepat atau tidak,” jawab Ibu Kai tenang, “bukan soal waktu. Ini soal kesiapan hati.”

Kai mengusap tengkuknya, mencoba menyembunyikan rasa gugup. “Aku… aku peduli pada mereka. Tapi Yuki masih memulihkan diri. Dan aku tidak ingin dia merasa terpaksa.”

“Justru karena itu,” sahut Ibu Kai, “kami ingin semuanya dilakukan dengan hormat. Dengan niat yang baik. Pernikahan yang layak, yang membuktikan bahwa dia dan anaknya tidak lagi berjalan sendirian.”

Kai terdiam. Ada rasa hangat yang mengalir, bercampur gugup, bercampur tanggung jawab. “Ayah… setuju?”

Ibu Kai tersenyum. “Ayahmu yang pertama kali mengatakannya. Katanya, ‘Aku belum pernah melihat Kai setenang ini sejak lama.’”

Kai menelan ludah. Bayangan Yuki yang tersenyum sambil menggendong Ai, bayangan Ai yang memanggilnya “Papa”, semuanya berputar di kepalanya. Ada perasaan lembut yang tumbuh diam-diam, bukan seperti ledakan, tapi seperti api kecil yang stabil dan hangat.

“Bu… aku tidak ingin melukai siapa pun,” ucap Kai pelan.

“Kau tidak akan,” jawab Ibu Kai sambil meraih tangan putranya. “Karena sejak mereka datang, kau tidak hanya melindungi. Kau belajar menyayangi. Itu terlihat jelas.”

Kai mengangkat wajah, matanya bertemu dengan mata ibunya. “Kalau Yuki… kalau dia belum siap?”

“Kita tidak akan memaksanya,” kata Ibu Kai mantap. “Tapi kami ingin kau tahu satu hal: kami sudah menganggap mereka keluarga.”

Kata itu membuat dada Kai terasa penuh. “Terima kasih, Bu…”

Ibu Kai berdiri, menepuk bahu putranya dengan lembut. “Pernikahan yang mewah atau sederhana, itu bisa dibicarakan nanti. Yang penting, niatmu tulus. Dan sejauh ini, ibu dan ayah melihat sesuatu yang indah tumbuh di hatimu.”

Kai tersenyum kecil, masih sedikit malu, tapi tidak menolak. “Aku… akan bicara pada Yuki. Pelan-pelan.”

“Itu keputusan yang bijak,” jawab Ibu Kai. “Cinta tidak perlu terburu-buru. Ia hanya perlu jujur.”

Di lantai atas, Yuki tidur dengan Ai di sisinya, tak tahu bahwa di ruang bawah, sebuah rencana sedang dirajut dengan niat baik. Dan Kai, duduk sendiri di ruang keluarga, menyadari satu hal yang membuatnya tersenyum pelan: sejak Yuki dan Ai datang, hidupnya memang berubah. Ada cinta, ada sayang, dan ada kehangatan—bukan lagi sekadar rumah besar yang sunyi, melainkan tempat yang terasa seperti pulang.

***

Keesokan paginya, cahaya matahari masuk lembut melalui jendela kamar Yuki. Ai masih tertidur pulas di sisinya, napas kecilnya teratur. Yuki bangun lebih dulu, merapikan selimut, lalu menggendong Ai dengan hati-hati. Ada rasa damai yang jarang ia rasakan belakangan ini—bukan karena semua masalahnya sudah hilang, melainkan karena ia tidak lagi sendirian menghadapinya.

Di luar kamar, Ibu Kai sudah menunggu dengan senyum hangat. “Pagi, Yuki. Sudah sarapan?”

“Belum, Bu,” jawab Yuki pelan. “Ai baru saja bangun sebentar, lalu tidur lagi.”

“Bagus. Ayo ke ruang makan. Kita bisa bicara sebentar,” ucap Ibu Kai sambil mengulurkan tangan, membantu Yuki berjalan pelan agar tidak membangunkan Ai.

Mereka duduk berhadapan di meja makan. Asisten meletakkan teh hangat dan sarapan ringan, lalu pergi, memberi ruang bagi mereka berdua. Ibu Kai memandang Yuki dengan tatapan lembut namun penuh kesungguhan.

“Yuki,” katanya pelan, “aku ingin bicara dari hati ke hati. Tidak sebagai ibu Kai saja, tapi sebagai seorang ibu yang peduli padamu dan Ai.”

Yuki menegakkan punggung, sedikit gugup. “Iya, Bu… aku dengarkan.”

Ibu Kai menghela napas pendek. “Sejak kau dan Ai datang ke rumah ini, kami melihat banyak perubahan pada Kai. Ia jadi lebih tenang, lebih peduli, dan lebih sering tersenyum. Itu bukan hal kecil. Ayahnya dan aku… kami bersyukur.”

Yuki menunduk, mengusap rambut Ai. “Kai sudah banyak menolong kami, Bu. Aku tidak akan pernah melupakannya.”

“Karena itu,” lanjut Ibu Kai, “kami punya niat baik. Kami ingin melamarmu secara terhormat, untuk Kai. Bukan karena kewajiban, bukan karena rasa kasihan. Tapi karena kami ingin kau dan Ai punya tempat yang aman, jelas, dan dihormati. Dan karena kami melihat… perasaan itu tumbuh di antara kalian, meski kalian berdua sama-sama berhati-hati.”

Yuki terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena perasaan yang tiba-tiba terasa penuh. Ia mengingat hari-hari ketika Kai menemaninya saat cemas, cara Kai menggendong Ai dengan sabar, dan bagaimana rumah ini memberinya kembali rasa aman.

“Bu…” Yuki menelan ludah, matanya berkaca-kaca. “Aku… aku tidak pernah membayangkan bisa berada di titik ini. Setelah semua yang terjadi, aku hanya ingin Ai aman. Tapi di sini… aku merasa dihargai. Diperlakukan seperti manusia, bukan beban.”

Ibu Kai meraih tangan Yuki, menggenggamnya lembut. “Kau bukan beban. Sejak awal, kau adalah tamu yang kami jaga. Dan sekarang… kami ingin kau menjadi keluarga.”

Yuki menarik napas dalam, lalu tersenyum—senyum yang jujur dan lega. “Kalau itu niat keluarga… aku menerimanya, Bu. Dengan satu permintaan.”

“Apa itu, Nak?”

“Aku ingin semuanya berjalan pelan-pelan. Aku ingin memastikan Ai tetap tenang, dan aku juga ingin jujur pada perasaanku sendiri. Tapi… aku mau menerima lamaran keluarga Kai.”

Wajah Ibu Kai langsung berseri. “Tentu. Kita lakukan dengan cara yang paling baik dan paling menghormati perasaanmu.”

Yuki mengangguk, air mata haru jatuh tanpa ia sadari. “Terima kasih, Bu… karena tidak pernah memaksaku. Karena mau menerima kami apa adanya.”

Ibu Kai tersenyum, mengusap punggung tangan Yuki. “Terima kasih juga karena kau berani membuka hati lagi. Itu tidak mudah.”

Saat itu, langkah kaki terdengar dari arah tangga. Kai berhenti di ambang pintu ruang makan, sedikit ragu melihat mereka berdua tampak serius. “Aku… mengganggu?”

Ibu Kai menoleh dan tersenyum lebar. “Tidak. Justru tepat waktu.”

Yuki menatap Kai, lalu berkata dengan suara pelan tapi mantap, “Kai… aku sudah bicara dengan Ibu. Aku… menerima niat baik keluargamu.”

Kai terdiam beberapa detik, seolah memastikan ia tidak salah dengar. Lalu, perlahan, senyum muncul di wajahnya—bukan senyum lebar, tapi hangat dan tulus. “Terima kasih, Yuki. Aku janji… aku akan menjaga kalian.”

Ai menggeliat kecil di pelukan Yuki, lalu membuka mata sebentar. Kai mendekat, menyentuh tangan mungil itu dengan hati-hati. “Kita akan lakukan semuanya dengan baik,” katanya pelan, lebih seperti janji pada dirinya sendiri.

Ibu Kai berdiri, menatap mereka berdua dengan mata berbinar. “Baik. Kita mulai langkah ini dengan tenang. Yang penting, kalian bahagia.”

Di pagi yang sederhana itu, tanpa gemerlap atau sorak-sorai, sebuah keputusan besar diambil—bukan karena tekanan, melainkan karena kepercayaan dan kehangatan yang tumbuh pelan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Yuki merasa masa depan tidak lagi menakutkan, melainkan… layak diperjuangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!