Steve Lim tak pernah menyangka dirinya akan dijebak oleh oknum pemerintah yang bekerja sama dengan organisasi mafia yang dipimpinnya, mereka ingin menjebloskan Steve Lim ke penjara dengan dugaan pemerasan serta pencucian uang atas tanah di wilayah Makau yang terkenal dengan pusat industri kasino globalnya. Dimana Makau dijuluki Las Vegas dari Timur.
Pada saat dia mencoba menyelamatkan dirinya dari jebakan para oknum pemerintah, tak sengaja dia bertemu dengan seorang gadis bernama Ruolan Tan yang membantunya bersembunyi dari kejaran musuhnya.
Bagaimana kisah mereka berdua selanjutnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 SISI LAIN DARI STEVE LIM
Ruolan Tan merasa seperti berada di dalam perangkap. Dia tidak bisa percaya bahwa Steve Lim yang dia percayai ternyata memiliki motif yang sangat berbeda. "Apa yang kamu inginkan dari saya?" tanya Ruolan Tan, mencoba untuk tetap tenang.
Steve Lim tersenyum dingin. "Saya ingin kamu menjadi milik saya," kata dia. "Saya ingin kamu melakukan apa yang saya katakan, dan saya ingin kamu tinggal di rumah saya."
Ruolan Tan merasa marah dan takut. Dia tidak bisa percaya bahwa dia telah salah menilai Steve Lim. "Saya tidak akan pernah menjadi milikmu," kata Ruolan Tan, mencoba untuk menunjukkan keberanian.
Steve Lim tertawa. "Kamu tidak memiliki pilihan," kata dia. "Kamu telah berhutang kepada saya sekarang. Jika kamu tidak melakukan apa yang saya katakan, saya akan memastikan bahwa Wong tidak akan pernah melepaskan kamu."
Ruolan Tan merasa seperti berada di dalam perangkap. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Apakah dia harus menerima tawaran Steve Lim, atau apakah dia harus mencoba untuk melarikan diri?
Tapi, Ruolan Tan tidak menyadari bahwa Steve Lim memiliki rahasia lain yang tidak dia ketahui. Rahasia yang bisa mengubah segalanya.
Ruolan Tan memutuskan untuk tidak membuat keputusan saat itu juga. Dia ingin tahu lebih banyak tentang rencana Steve Lim dan apa yang sebenarnya dia inginkan. "Saya ingin tahu lebih banyak tentang rencana kamu," kata Ruolan Tan, mencoba untuk tetap tenang.
Steve Lim tersenyum, sepertinya dia menikmati permainan ini. "Saya akan memberitahu kamu semua yang kamu perlu tahu," kata dia. "Tapi, pertama-tama, kita harus pergi ke rumah saya. Kita tidak bisa membicarakan ini di sini."
Ruolan Tan mengangguk, tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti Steve Lim. Mereka pergi ke rumah Steve Lim, sebuah mansion mewah di pinggiran kota. Ruolan Tan merasa tidak nyaman ketika dia masuk ke dalam rumah itu, sepertinya dia sedang memasuki sarang singa.
Steve Lim membawa Ruolan Tan ke ruang tamu, di mana ada seorang wanita cantik sedang menunggu. "Ini adalah May, asisten saya," kata Steve Lim. "Dia akan membantu kamu dengan apa pun yang kamu butuhkan."
Ruolan Tan mengangguk, tidak yakin apa yang harus dia lakukan. May tersenyum dan membawanya ke kamar yang telah disiapkan untuk Ruolan Tan.
Ketika Ruolan Tan sendirian di kamar, dia mulai berpikir tentang rencana untuk melarikan diri. Tapi, dia tidak tahu bahwa Steve Lim telah memprediksi langkahnya.
Ruolan Tan memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa untuk sementara waktu. Dia ingin menunggu kesempatan yang tepat untuk melarikan diri atau mencari bantuan. Dia berpura-pura menerima situasi dan melakukan apa yang dikatakan oleh Steve Lim.
May, asisten Steve Lim, membantu Ruolan Tan dengan segala kebutuhan sehari-harinya. Ruolan Tan mencoba untuk mendapatkan informasi dari May tentang Steve Lim dan rencananya, tapi May sangat tertutup dan tidak mau berbicara banyak.
Suatu hari, ketika May sedang sibuk dengan pekerjaannya, Ruolan Tan melihat kesempatan untuk mencari informasi. Dia diam-diam meninggalkan kamarnya dan menuju ke perpustakaan di rumah Steve Lim. Dia berharap bisa menemukan sesuatu yang bisa membantu dia melarikan diri atau memahami rencana Steve Lim.
Ketika dia sedang mencari-cari buku di perpustakaan, Ruolan Tan menemukan sebuah folder yang tersembunyi di balik buku-buku. Folder itu berlabel "Rahasia" dan memiliki kunci yang terkunci. Ruolan Tan merasa penasaran dan mencoba untuk membuka kunci itu.
Ruolan Tan berhasil membuka kunci folder itu dan menemukan beberapa dokumen yang menarik. Dokumen-dokumen itu berisi tentang rencana Steve Lim untuk mengambil alih bisnis Wong, lintah darat yang telah mengancam Ruolan Tan.
Ruolan Tan juga menemukan sebuah foto yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Foto itu menunjukkan Steve Lim dan Wong sedang berjabat tangan, sepertinya mereka memiliki perjanjian yang tidak diketahui oleh Ruolan Tan.
Tiba-tiba, Ruolan Tan mendengar suara langkah kaki di luar perpustakaan. May telah selesai dengan pekerjaannya dan sedang menuju ke perpustakaan. Ruolan Tan dengan cepat menyembunyikan folder itu kembali di tempatnya dan berpura-pura membaca buku.
May memasuki perpustakaan dan melihat Ruolan Tan sedang membaca buku. "Saya tidak tahu kamu suka membaca," kata May dengan senyum.
Ruolan Tan tersenyum kembali, mencoba untuk tidak menunjukkan rasa curiganya. "Saya suka membaca tentang sejarah," kata dia.
May mengangguk dan meninggalkan Ruolan Tan sendirian di perpustakaan. Ruolan Tan menunggu sampai May pergi sebelum dia mengeluarkan folder itu kembali dan melanjutkan membacanya.
Semakin Ruolan Tan membaca, semakin dia menyadari bahwa Steve Lim memiliki rencana yang sangat besar dan berbahaya. Ruolan Tan tahu bahwa dia harus berhati-hati dan tidak bisa mempercayai siapa pun.
Setelah Ruolan Tan kabur dari rumah Steve Lim, dia merasa sangat kecewa dan sedih ketika menemukan bahwa orang yang dicintainya sudah berselingkuh dengan wanita lain. Dia merasa seperti tidak memiliki apa-apa lagi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Tapi, ketika dia sedang dalam keadaan sedih itu, Steve Lim muncul dan menyelamatkannya dari musuh-musuhnya. Ruolan Tan sangat terkejut dan tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Steve Lim membawa Ruolan Tan ke rumah sakit dan meminta dokter untuk memeriksa luka-lukanya. Ruolan Tan sangat terharu dengan perhatian Steve Lim dan mulai merasa bahwa mungkin dia telah salah menilai pria itu.
Ketika Steve Lim sedang dalam proses perawatan, Ruolan Tan tidak bisa tidak memperhatikan betapa lemahnya pria itu. Dia tidak seperti pria kuat dan berkuasa yang dia kenal sebelumnya. Ini membuat Ruolan Tan merasa sedikit iba dan ingin merawatnya.
"Kenapa kamu menyelamatkan saya?" tanya Ruolan Tan kepada Steve Lim ketika pria itu sudah bisa berbicara.
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang tajam. "Saya tidak ingin kamu mati," kata dia. "Saya masih memiliki rencana untuk kamu."
Ruolan Tan merasa sedikit kecewa dengan jawaban Steve Lim, tapi dia juga merasa sedikit senang karena pria itu masih peduli dengan dirinya.
"Apa rencana itu?" tanya Ruolan Tan, penasaran.
Steve Lim tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Ruolan Tan. "Kamu akan tahu nanti," kata dia. "Sekarang, istirahatlah. Kamu masih lemah."
Ruolan Tan mengangguk dan menutup mata. Dia merasa sedikit lebih baik sekarang, tapi dia juga tahu bahwa dia tidak bisa mempercayai Steve Lim sepenuhnya.
Ruolan Tan menghabiskan beberapa hari di rumah sakit, merawat Steve Lim yang masih dalam proses pemulihan. Meskipun awalnya dia merasa tidak nyaman dengan situasi ini, tapi lama-kelamaan dia mulai merasa lebih nyaman dengan kehadiran Steve Lim.
Suatu hari, ketika Steve Lim sudah bisa berjalan lagi, dia meminta Ruolan Tan untuk mengantarnya ke taman. Ruolan Tan setuju dan mereka berdua pergi ke taman di dekat rumah sakit.
Di taman, Steve Lim meminta Ruolan Tan untuk duduk bersamanya di bangku. Ruolan Tan merasa sedikit ragu, tapi dia akhirnya setuju.
"Kamu tahu, Ruolan Tan," kata Steve Lim, "saya tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Saya merasa... lemah."
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan penasaran. "Lemah?" tanya dia.
Steve Lim mengangguk. "Ya, lemah. Saya tidak bisa melindungi diri saya sendiri, dan saya harus bergantung pada kamu untuk merawat saya."
Ruolan Tan merasa sedikit terharu dengan pengakuan Steve Lim. "Kamu tidak lemah, Steve Lim," kata dia. "Kamu hanya... terluka."
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang tajam. "Kamu tahu, Ruolan Tan, kamu sangat berbeda dari orang lain," kata dia. "Kamu tidak takut padaku, dan kamu tidak mencoba untuk memanfaatkan aku."
Ruolan Tan merasa sedikit tidak nyaman dengan pujian Steve Lim. "Saya hanya mengatakan apa yang saya pikir," kata dia.
Steve Lim tersenyum. "Saya suka itu," kata dia. "Saya suka kejujuranmu."
Ruolan Tan merasa sedikit lebih nyaman dengan Steve Lim sekarang. Mungkin, pria itu tidak seburuk yang dia pikir sebelumnya...