Elang Erlangga seorang mafia kejam berdarah dingin. Suatu malam Erlangga di kepung oleh para musuhnya di kota Jogja, saat sedang menjalankan sebuah misi untuk mencari ibu nya. Karena kebocoran informasi pada tentang keberadaan nya, dia nyaris mati. Untung nya dia di selamatkan oleh seorang gadis desa baik hati. Tersentuh akan kebaikan dan kelembutan sang gadis desa. membuat Elang ter obsesi untuk bisa memiliki gadis desa tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Duk.. "Aduh maaf, maaf saya gak sengaja!" Seru gadis berambut kuncir dua dengan kacamata bulat bertengger manis di hidung mancung nya. Dia tidak sengaja menabrak Chelsea yang sedang akan keluar dari kantor. Karena ingin segera menemui Dwika di tempat biasa, tapi sialnya malah di tabrak oleh gadis cupu di depan nya itu. Membuat cheese menggeram marah. Karena bajunya jadi kotor karena gadis cupu tersebut sedang membawa minuman macca di tangan nya.
"Gimana sih, kalau jalan itu pakai mata. Main tabrak-tabrak orang aja, udah pake kacamata segede itu, masih aja gak liat jalan, jadi kotor kan baju ku." Amuk Chelsea pada gadis berkuncir dua itu.
"Maaf kak, aku gak sengaja." kata gadis yang terlihat culun itu.
"Maaf, maaf ini baju mahal tauk, dah sana pergi, merusak mood ku aja!" usir chelsea pada gadis culun tersebut. Sambil membersihkan sisa-sisa macca di baju nya. Membuat mood nya jadi kurang baik. Padahal dia sudah sangat bersemangat. Karena akan mendapatkan uang dari Dwika.
*
*
Chelsea sudah membuat janji dengan Dwika, mereka bertemu di rumah makan seperti biasanya, namun Dwika menunjukkan gelagat aneh, seperti sedang sangat gelisah. Chelsea dia buat bingung sendiri dengan tingkah aneh Dwika. Setelah selesai makan dan tinggal untuk membayar makanan Dwika semakin gelisah.
"Kamu kenapa sih sayang? Kok kayak orang gak tenang gitu?" Tanya Chelsea yang sudah tak tahan dengan sikap Dwika yang aneh.
Dwika menggaruk rambutnya yang tidak gatal sama sekali, "sayang, sebenarnya aku tidak punya uang untuk membayar makanan ini, kemarin Meisya tidak memberikan ku uang." Kata Dwika hati-hati takut kekasih gelapnya ini mengamuk.
Dan benar saja dugaan Dwika, Chelsea langsung tantrum. " gimana sih!! kenapa sampai gak dapat uang dari Meisya? padahal jelas-jelas kemarin Meisya itu dapat gaji tinggi, karena beberapa Minggu sering lembur bersama bos hingga pagi!! berarti gagal dong aku beli jam mewah itu!!" Chelsea yang sudah sangat kesal, karena gagal mendapatkan barang yang dia inginkan, menjadi sangat murka, tanpa sepatah kata pun dia langsung pergi begitu saja meninggalkan Dwika.
Dwika yang di tinggal sendiri di sana, menjadi sangat kebingungan. "Sayang tunggu aku!!" teriak Dwika sambil berlari ingin mengejar Chelsea. Tetapi kerah baju Dwika segera di tarik oleh seorang satpam di rumah makan itu.
"Mas mau kemana? Batar dulu baru pergi!!" Kata satpam dengan tubuh yang tinggi dan tegap, bahkan otot-otot tangan nya terlihat sangat besar dan sanggar. Dwika menelan ludahnya dengan susah payah.
"Emm.. Emm.. Maaf pak, dompet saya ketinggalan, boleh tidak jika, saya ambil dompet saya dulu dirumah?" Tanya Dwika dengan takut-takut.
Wajah satpam tersebut semakin terlihat menyeramkan. "Alasan, makan nya mas, kalau gak punya uang jangan sok-sokan ngajak makan pacar nya di rumah makan mewah, ajak saja ke angkringan dan makan nasi kucing, di sana mas pasti boleh ngutang dulu!!" Bentak satpam tersebut.
Karena Dwika tak sanggup bayar, maka dwika di suruh untuk menjadi pekerja suka rela yang tidak di gaji, seperti mencuci semua piring kotor dan setelah rumah makan itu mau tutup. Dwika masih harus memberikan dapur dan mencuci semua peralatan masak yang kotor, di tambah lagi harus membuang semua sampah ke luar.
Baru kali ini Dwika merasa tubuhnya remuk redam. Seumur hidupnya dia tidak pernah bekerja kasar seperti itu. Ini semua gara-gara Elang, Dwika sangat membenci Elang.
*
*
*
Suara gelak tawa terdengar riuh di rumah sederhana mbah wati. karena Elang memutuskan untuk menginap di sana beberapa hari, Nilam sendiri tidak masalah, karena dia tau putra nya selalu kesepian setiap kali dia, tinggal kerja di pabrik.
Elang sangat bahagia berada di tengah-tengah dua wanita beda usia ini, disini terasa hangat, meski jauh dari kata mewah. Di Beijing mungkin dia memiliki segala nya, tetapi dia hidup dalam kekosongan setiap saat, hati nya beku, yang ia tau hanya darah yang mengenang di mana-mana.
Elang memandang lekat wajah teduh Meisya, dia terlihat sangat cantik dengan balutan hijab yang menutupi rambutnya, Elang sempat berfikir, jika berhijab saja sudah secantik ini, apalagi jika Meisya melepaskan hijab nya, pasti nya akan lebih indah lagi.
Elang merasa dirinya sudah tertarik dengan Meisya begitu dalam, kini sungguh rasanya Ia tak akan rela jika Meisya jatuh di tangan mokondo itu. Dia harus mencari cara untuk menyadarkan Meisya.
Elang bertekad bahwa Meisya itu adalah takdir nya, dia tidak akan pernah mengizinkan siapapun untuk mengambil Meisya dari sisi nya. Terutama si brengs*k Dwika.
"Kamu kenapa lang? Kok malah bengong aja?" tanya Meisya di sela tawa nya.
Barulah Elang tersadar dari lamunannya. "oh nggak, lagi berfikir saja, selama ini, aku lihat kamu hanya tinggal berdua saja dengan si mbah, lalu kedua orang tua kamu dimana?"
De...
Seolah ada ribuan tangan yang meremas kuat hati nya, terasa sakit menusuk ke relung jiwa Meisya. "Em, mereka hidup bahagia di Dubai tanpa ku." Katanya sendu. Setelah itu Mesya segera undur diri menuju kamar nya.
Elang jadi merasa tak nyaman dengan Meisya. Mbah wati segera menepuk pelan pundak Elang. "Meisya itu sangat sensitif, jika menyangkut orang tuanya, si mbah juga heran. Kenapa mbah punya anak yang tidak bertanggung jawab seperti yuni. dia lupa diri karena kemewahan dan harta. Sampai hati dia menelantarkan anak pertamanya. Maka itu mbah berinisiatif membawa Meisya kesini." Kata mbah wati bercerita.
Elang kini mengangguk mengerti, ternyata ada orang tua yang kadang tidak menyayangi anaknya sendiri. Mengabaikan nya, pilih kasih secara terang-terangan. Elang jadi semakin merasa bersalah.
*
*
Elang gelisah sepanjang malam, perasaan bersalah pada Meisya membuat nya sulit untuk tidur. Karena tidak bisa tidur, Elang memutuskan untuk mencari Meisya. Siapa tau dia juga masih terjaga.
Elang mengetuk pelan pintu kamar Meisya. Meisya keluar dengan wajah yang terlihat sembab. Pasti lah Meisya baru saja menangis pikir Elang. "Sya, makamkan aku ya? Aku gak maksud bikin kamu sedih." sesal Elang. Lalu memeluk Meisya.
Meisya langsung mendorong kuat tubuh Elang. "Ee, Jangan peluk- peluk, kita bukan muhrim tauk!"
Elang tersenyum kaku, sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. " Maaf sya, reflek tadi."
"Ya, gak papa tapi jangan di ulangi lagi. Dan soal tadi, itu bukan salah kamu kok Elang. Wajar kamu bertanya seperti itu, semua anak pasti memiliki orang tua. Tetapi ternyata tidak semua orang tua, mengiginkan anaknya." Kara Meisya sendu.
"Kamu wanita kuat sya, kamu pasti bisa, buktikan pada mereka, bahwa kamu wanita hebat, yang kelak bisa membuat mereka bangga, dan menyesal, karena telah menyia-nyiakan anak seperti mu." Hibur Elang.
"Ma kasih." Meisya tersenyum lembut, menghargai usaha Elang dalam menghibur nya.
Untuk setelah dialog ada dialog tag, itu pakai huruf kecil ya. Akhiran dialog itu pakai koma, jika bukan tanda tanya atau tanda seru, kecuali selanjutnya adalah aksi setelah dialog jika pakai titik.
Pliss namanya aestheticc bgt lhoo🫣
Contoh:
Dadanya bergedup kencang dan wajahnya peluh oleh keringat dingin yang membasahinya.
Ini contoh sederhana yang masih bisa disempurnakan.
→ Dengan hasutan...
→ Karena hasutan...
Tanpa menyebut lagi pun ini sudah menjelaskan.