Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Jenny berjalan dengan langkah mantap melewati koridor yang masih ramai oleh siswa-siswi yang bersiap pulang. Di kejauhan, ia melihat pemandangan yang sudah sangat familiar: Lisa sedang berdiri dengan wajah merah padam, berkacak pinggang di depan Romeo yang tampak santai bersandar pada tembok sekolah.
"Gue bilang jangan deket-deket si ketua pemandu sorak itu, Romeo! Lo denger nggak sih?!" pekikan Lisa melengking, membuat beberapa orang di sekitar mereka berbisik-bisik.
Jenny tidak menghindar. Ia justru berjalan lurus ke arah mereka. Romeo mengangkat alisnya, sedikit terkejut melihat Jenny yang tampak begitu tenang setelah kejadian semalam.
Tanpa sepatah kata pun, Jenny mengulurkan sebuah amplop kecil berwarna putih ke hadapan Lisa. Lisa terdiam, matanya menatap amplop itu dengan curiga sekaligus benci.
"Apaan nih? Surat tantangan?" sinis Lisa.
"Baca pas lo lagi waras," ucap Jenny singkat, suaranya datar tanpa emosi. "Gue nggak ada waktu buat dengerin lo teriak-teriak."
Jenny memberikan tatapan sekilas pada Romeo—tatapan yang penuh arti—sebelum berbalik pergi menuju ruang ganti cheerleader. Romeo hanya menyeringai tipis, ia tahu persis bahwa Jenny sedang menyiapkan sesuatu yang besar.
Jenny duduk di bangku panjang ruang ganti, jemarinya sibuk mengikat tali sepatu putihnya yang bersih. Suasana ruangan itu sunyi, hanya ada suara detak jam dinding dan desah napas Jenny yang mencoba mengatur emosi yang masih berkecamuk.
Pintu terbuka. Langkah kaki yang sangat ia kenali terdengar mendekat. Claudia masuk dengan senyum manis khasnya, seolah-olah dia adalah malaikat pelindung Jenny.
"Jen? Kamu nggak apa-apa? Tadi aku liat kamu kasih sesuatu ke Lisa. Kamu nggak dilabrak lagi, kan?" tanya Claudia sambil duduk di sebelah Jenny, mencoba meraih tangan sahabatnya itu.
Jenny menarik tangannya perlahan, berpura-pura sedang sibuk merapikan seragam latihannya. Ia menoleh ke arah Claudia, menatap wajah cantik itu—wajah yang semalam ia lihat sedang bersatu dengan wajah Jonathan.
"Nggak apa-apa, Claud. Aku cuma kasih dia sedikit 'pencerahan'," jawab Jenny dengan senyuman yang terlihat begitu ramah di permukaan.
Jenny berdiri, berjalan menuju cermin besar di ruangan itu. Ia mematut dirinya, lalu dengan nada yang sangat kasual, seolah hanya menanyakan soal cuaca, ia melontarkan umpan itu.
"Eh, Claud... gue boleh tanya sesuatu nggak? Hal privasi sih, tapi gue bingung mau nanya ke siapa lagi kalau bukan ke lo."
Claudia memperbaiki tatanan rambutnya di cermin yang sama. "Tanya apa, Jen? Kayak sama siapa aja."
Jenny menarik napas dalam-dalam, menatap pantulan mata Claudia di cermin. "Rasanya ciuman itu kayak gimana sih, Clau?"
Tangan Claudia yang sedang memegang kuncir rambut seketika membeku. Ia menatap Jenny melalui cermin, matanya sedikit membelalak, namun ia segera mencoba menutupi keterkejutannya dengan tawa kecil yang terdengar canggung.
"Lho, kok nanya gitu tiba-tiba? Kamu kan punya Jonathan," ucap Claudia, suaranya naik satu oktav.
"Iya, tapi lo tahu sendiri kan Jo itu kaku banget," lanjut Jenny, suaranya terdengar polos namun setiap katanya adalah sembilu. "Kita udah tiga tahun bareng, tapi dia selalu bilang mau jaga gue, mau nunggu sampai kita lulus. Gue bahkan belum pernah ngerasain gimana rasanya ciuman yang... emm, beneran ciuman. Kayak yang di film-film gitu."
Jenny mendekati Claudia, menatapnya dengan pandangan yang seolah penuh rasa ingin tahu. "Gue penasaran aja, soalnya gue ngerasa Jo itu sebenernya punya sisi lain yang dia sembunyiin dari gue. Jadi menurut lo, rasanya ciuman itu gimana? Soalnya gue sama Jo nggak pernah kayak gitu."
Ruangan itu mendadak terasa begitu sempit bagi Claudia. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Bayangan bibir Jonathan yang semalam menyentuhnya di parkiran apartemen mendadak melintas begitu nyata.
"E-emm... mana aku tahu, Jen. Aku kan jomblo, aku nggak pernah ciuman sama siapa-siapa," dusta Claudia, suaranya sedikit bergetar. Ia berusaha tertawa, tapi terdengar sangat dipaksakan.
"Masa sih? Cewek secantik lo masa nggak pernah?" Jenny memiringkan kepalanya, memberikan senyum misterius. "Gue pikir lo udah pakar dalam hal itu. Apalagi lo kan pinter banget 'main cantik' di depan orang banyak."
Claudia menelan ludah. "Maksud kamu apa, Jen?"
"Nggak ada maksud apa-apa," jawab Jenny sambil menepuk pundak Claudia dengan lembut, namun tekanannya sedikit lebih kuat dari biasanya. "Gue cuma ngerasa Jo akhir-akhir ini beda. Dia lebih sering pakai parfum banyak-banyak, terus rambutnya sering berantakan pas rapat OSIS sama lo. Gue jadi mikir, apa dia belajar 'hal baru' dari seseorang?"
Claudia merasa oksigen di ruangan itu habis. Ia tidak berani menatap mata Jenny. "Mungkin dia cuma stres karena program kerja, Jen. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Jonathan itu cinta banget sama kamu."
"Iya, gue tahu. Dia cinta banget sama gue... atau setidaknya, dia cinta sama 'citra' gue sebagai pacar sempurna," ucap Jenny sambil berbalik menuju pintu. "Ayo latihan, Claud. Jangan sampai gerakan lo salah gara-gara mikirin pertanyaan gue tadi."
Jenny keluar lebih dulu dengan kepala tegak. Di balik pintu, ia menarik napas panjang. Melihat ketakutan di mata Claudia memberinya sedikit kepuasan yang pahit.
Sementara itu di dalam ruang ganti, Claudia mencengkeram pinggiran meja rias hingga buku jarinya memutih. "Dia curiga? Nggak, nggak mungkin. Dia terlalu bego buat sadar," bisik Claudia pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebu kencang.
Di sisi lain sekolah, Lisa yang sudah berada di kelas sendirian akhirnya membuka surat dari Jenny. Isinya hanya satu kalimat dengan tulisan tangan yang sangat rapi:
"Cek laci meja pacar lo di ruang OSIS, ada hadiah dari Claudia buat Romeo yang belum sempet dikasih. Lo mau tahu siapa 'ular' sebenernya? Tanya ke Jonathan."
Lisa meremas surat itu. Amarahnya kini bukan lagi tertuju pada Jenny, melainkan pada ketidakpastian yang mulai membakar logikanya.
Dua hari lagi. Hitung mundur menuju kehancuran mereka sudah dimulai, dan Jenny adalah orang yang memegang sumbunya.
Bagaimana kelanjutannya?