Delaney Harper ditinggalkan oleh tunangannya tepat di hari pernikahan mereka. Rumor perselingkuhannya menyebar dengan cepat, membuat ayah Delaney murka. Namun, ibu tirinya memiliki rencana lain.
Ia memaksa Delaney menikah dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Seorang pria bernama Callum Westwood.
Callum Westwood, CEO Westwood Corp, adalah sosok yang hampir tidak Delaney kenal, tetapi reputasinya dikenal oleh semua orang. Dingin. Kejam. Tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan ironisnya… dia adalah tetangga Delaney, hanya dua blok dari rumahnya—meski mereka belum pernah sekalipun berbicara.
Selain menyelamatkan Delaney dari skandal kehamilan di luar nikah, pernikahan itu ternyata merupakan cara Callum untuk membayar sebuah hutang besar dari masa lalu. Hutang yang ia tanggung sejak sepuluh tahun lalu dan ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun lalu?
Dan bagaimana nasib pernikahan tanpa cinta ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
“Kamu nggak nambah lagi,Sayang?” tanya Clara pada Delanay yang syukurnya malam ini bisa makan tanpa gangguan.
Walaupun hanya dengan nasi dan pecel lele, Delanay sudah bisa menghabiskan satu porsi penuh,tanpa rasa mual.
Yang diberi perhatian menggeleng sambil tersenyum.“Aku udah kenyang, Ma. Terima kasih atas masakannya.”
Seperti tersetrum,Clara ikut menyunggingkan senyum.“Nggak perlu sampai terima kasih.Syukurlah kalau kamu suka masakan Mama.Nanti kalau mau makanan yang lain,bilang sama Mama oke?”
Wanita hamil itu mengangguk.Sedikit kaget dia bisa menyukai makanan yang sejak dulu dihindarinya.
Delanay jarang sekali suka sambal pecel. Ini kedua kalinya dia menyentuh makanan tersebut,setelah dulu pernah diajak nongkrong di warung pinggiran oleh Jovan.
Ah,lagi-lagi soal Jovan.Delanay mendesah.
Sedangkan,diam-diam Clara merasa ada sesuatu yang janggal. Secara,kehamilan Delanay nyaris serupa dengan kehamilannya dulu-saat dirinya mengandung Callum.
Mulai dari suka masakan ibu mertua,sampai benci aroma kambing, semuanya serupa.Yang berbeda hanya kebiasaan mereka.
Kalau Delanay lebih senang tidur di siang hari, Clara justru di pagi hari.Tapi sungguh,tingkah wanita itu tidak ada bedanya dengan dirinya di masa lalu.
'Ini bukan sesuatu yang buruk kan?' batin Clara sesekali melirik putranya yang sejak tadi duduk membisu di sebelah Delanay.
Yap,Callum saat ini ikut menimbrung ke meja makan.Setengah terpaksa karena diancam Clara. 'Jangan pulang sebelum makan atau Mama akan coret kamu dari Kartu Keluarga'. Dan yah,setengahnya lagi ia terganggu dengan kata-kata Elara.
Adiknya itu bilang, kalau Callum menyakiti Delanay,berarti dia menyakiti bayinya? Benarkah?
Meski bayi tanpa asal usul itu terbilang merepotkan,tapi Callum bukan pria yang suka mengabaikan atau malah menyakiti anak-anak. Dia menyukai mereka yang imut.
Bahkan tak jarang Callum menghabiskan sebagian besar waktu liburnya untuk bermain dengan Emily. So, tanyakan saja pada keponakannya itu.
Siapa uncle ter-the best di dunia ini? Jawabannya, sudah pasti Uncle Callum.
Ah,Callum sepertinya tidak ingat kalau Emily baru berusaha belajar bicara. Mana bisa bocah cantik itu menjawab demikian?
“Emily udah ngantuk,Sayang?” Kali ini suara Elara memecah suara denting sendok dan piring.Membuat semua orang sigap menoleh ke arah yang sama. Emily.
Bayi mungil itu menatap ibunya dengan mata sayu. Dia tampak kesulitan menutupi rasa kantuk yang mulai menyerang.
Semua orang di meja makan lantas terkekeh geli. Betapa tidak.Emily yang mengantuk, dipadukan dengan gerakan kepala terangguk-angguk dan mata membuka-menutup,tampak lucu bagi siapapun.
“Tunggu Mommy selesai,ya,”bujuk Elara berusaha cepat-cepat menghabiskan makanan di piringnya.
Sementara,ayah Emily,Maxmilian mungkin harus dikejar lemburan.Pria bule berlogat medok itu tidak terlihat batang hidungnya sama sekali sedari tadi pagi.
“Sama Aunty dulu,yuk,”cetus Delanay yang memang sudah selesai lebih dulu ketimbang yang lain.
Dia lekas memundurkan kursinya,berjalan melewati punggung Callum, dan dengan pelan mengangkat Emily dari kereta bayinya.
Emily diam saja saat tubuhnya berpindah ke dalam gendongan Delanay.Bayi mungil yang mengambil keseluruhan gen ayahnya itu terlihat nyaman,diayun-ayun sang tante.
Semua orang dalam diam melirik juga mengagumi bagaimana luwesnya Delanay meninabobokan Emily.Wanita itu begitu pantas menjadi ibu.
Sayangnya,takdir Delanay menemui persimpangan.Dia menjadi ibu melalui cara yang tak seharusnya.
“Bawa ke kamar aja, Del.Sekalian lo istirahat. Kami nanti juga langsung tidur kok," suruh Elara.
“Tapi....”
“Udah sana. Nggak baik tau,kalau ibu hamil tidur terlalu malem.Ya kan, Ma?”Wanita seumuran Delanay itu meminta dukungan dari ibunya.
Clara mengangguk.“Iya,Nak.Naiklah duluan. Jangan sampai kamu kelelahan. Nanti kasihan kandungan kamu."
Delanay tidak harus memforsir diri.Tinggal di rumah ini, bukan berarti Delanay harus menghormati si pemilik rumah dengan menunggu mereka melakukannya,baru dia boleh mengikuti.
Di sini, Delanay bukanlah tamu.Melainkan anggota Keluarga Westwood juga. Tentu saja dia punya hak penuh untuk bertindak sesuai keinginannya.
“B-baiklah.Kalau begitu,aku permisi.Selamat malam,Ma,Pa."
“Malam,Sayang.”
“Malam,Nak.” Dua jawaban itu berasal dari Clara dan Ethan. Delanay sendiri tidak berani mengucap selamat malam untuk Callum. Dia masih punya rasa takut,kalau Callum malah mengatakan hal-hal di luar batas Lagi.
Melihat wanita dengan gaun biru kalem itu berderap menuju lantai atas, Callum memasang raut datar.
Tidak! Callum bukannya tersinggung karena tidak diberi ucapan selamat malam. Justru tingkah Delanay yang seolah takut padanya membuat hati Callum diam-diam merasa kesal.
Apa dia ini monster? Kenapa semenjak dia bilang jangan ikut campur masalahnya,Delanay tampak menghindarinya?
“Aku selesai.”
Semua orang melihat ke arah Callum.Pria itu bangkit dari kursi,lalu berjalan menaiki anak tangga.
Sepanjang jalan,Callum berperang dengan hatinya. Di satu sisi,dia ingin menemui Delanay dan memperjelas semua.Katakanlah,Callum ingin minta maaf atas ucapan kasarnya.
Namun di sisi kebalikannya,Callum ingin bersikap masa bodoh pada Delanay, atau apa saja yang berkaitan dengan wanita itu. Dia hanya perlu kembali ke apartemennya,meninggalkan Delanay di sini. Dan semuanya kembali seperti semula.
Tapi...ah! Entahlah!
Callum mengacak-acak rambutnya dengan kaki dihentak kasar.Dalam hati mengumpat kuat.
“Baru kali ini Elara liat wajah semrawut Kak Callum," kata Elara setengah menahan geli, tatkala siluet Callum hilang dari pandangannya.
Clara dan Ethan pun mengangguk.Callum disetel bagai robot. Dia akan resah di saat seharusnya,tapi tak jarang dia memendam segala hal yang dia pendam.
Dan benar kata Elara.Baru kali ini ekspresi kebingungan, putus asa,dan tidak tau harus bagaimana,memenuhi wajah Callum. Dengan kata lain,kehadiran Delanay benar-benar membawa pengaruh bagi pria tersebut.
“Dia nggak sadar sama perasaannya," kata Clara.
“Nanti juga sadar,”imbuh Ethan seraya mengelap bibir memakai serbet makan.
Elara malah mendesah,“Kalau udah lebaran monyet baru sadarnya,Pa.Callum itu orangnya nggak peka,gengsian,munafik lagi. Udah tau naksir Delanay, eh tetep aja diem. Pas udah ada yang punya aja, galau.Sekarang di kasih kesempatan kedua,malah disia-siain.Rasanya pengen ku jeburin ke kolam buaya.”
Clara terkekeh.“Jangan dong,Sayang.Nanti Kakakmu nggak jadi sadar sama cintanya sendiri."
Bibir Elara mengerucut.“Abis ngeselin sih, Ma. Tadi siang aja Kakak ngomong kasar sama Delanay. Tau gitu, dulu aku jodohin aja Delanay sama Kak Sean. Lebih dewasa.”
“Sean udah punya tunangan,Elara.”Ethan mengingatkan.
“Biarin.Orang mereka juga nggak saling cinta kok. Tinggal putus kan beres,Pa.”
Clara menggeleng heran.
Putrinya ini kalau sudah urusan makcomblang untuk sahabatnya selalu nomor satu.
Dulu saja, dia menjodoh-jodohkan Delanay dengan Callum.Katanya cocok.Yang satu sedingin es,yang satu sehangat matahari.Tapi begitu perjodohan itu menjadi kenyataan,kenapa ucapannya malah berubah lagi?
“Kakak kamu nggak akan setuju," balas Clara tenang.
Elara mencibir.'Omongan Kakak nggak usah didengerin. Dia sendiri aja nggak butuh Delanay.Cowok serba bisa kayak Kakak,butuhnya cuman flowchart sama bunga bank.”
Kalau di lantai bawah sedang mengumbar segala keburukan Callum, di lantai atas justru diselimuti keheningan.
Delanay memang sudah memindahkan Emily ke dalam boks bayinya.Dia sekarang berada di kamar Callum-yang akan menjadi kamarnya sesuai perintah Clara.
Delanay tengah memandangi kelakuan aneh Callum.Kenapa pria itu mengambil kasur dari dalam lemari coba?
“Kakak mau tidur di sini?”
“Hm.”
“Kenapa?”tanya Delanay mengerutkan kening.
“Kakak nggak jadi pulang?”
Callum yang sibuk merapikan kasur lantai lantas menoleh,memberi tatapan tajam pada Delanay.
“Kamu ngusir aku?”
Delanay buru-buru menggeleng.“Bu-bukan gitu.Aku cuma...bingung,soalnya Kakak bilang mau balik ke apartemen. Tapi sekarang malah mau tidur di sini."
“Ya terserahku.Ini kamar,kamarku." Callum yang tak pernah ingin disalahkan.
Benar sih. Ini ruangan milik Callum.Hanya saja....
“Kalau Kakak tidur di lantai,aku jadi merasa bersalah,"gumam Delanay lirih. Berharap ucapannya tidak didengar Callum.
“Siapa bilang aku tidur di lantai?” Namun rupanya gumaman Delanay sampai ke telinga pria itu.
“Maksudnya?”
Callum berjalan mendekat. Menemukan wajah cantik yang mulai merona karena dia mendekat.
“Aku jelas tidur di atas. Dan kamu tidur di bawah.Itu keputusannya."
Apa?
“Untuk kali ini, ayo,kita berakting seperti dua orang yang saling memaafkan.Kita,tidur sekamar.Bukankah bagus?”
jadi pingin cepet2 ngliat mereka ke pesta🥰
makin seeruuu nih🥰
seruuu banget thor😄
callum kok dingin ky es balok banget sih