"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Benang Merah di Rumah Pejabat
Bab 22: Benang Merah di Rumah Pejabat
Lampu jalanan Jakarta memantul di kaca spion taksi yang membawa Anindya menuju kawasan elit Menteng. Setelah memindahkan ayahnya ke lokasi aman yang hanya diketahui olehnya, Anindya kini harus menjalankan rencana selanjutnya. Ia mengenakan kemeja formal berwarna biru navy, rambutnya dikuncir kuda dengan rapi, memberikan kesan intelektual namun tetap rendah hati.
Di depan gerbang besi tinggi rumah Sarah, Anindya menarik napas panjang. Ini bukan sekadar kunjungan belajar bersama. Ini adalah operasi intelijen pertama yang ia lakukan secara mandiri.
"Anindya! Akhirnya datang juga. Ayo masuk!" Sarah menyambutnya dengan antusias. Bagi Sarah, Anindya adalah penyelamat nilai akademisnya. Bagi Anindya, Sarah adalah pintu masuk menuju brankas rahasia Wijaya Group.
Rumah itu luas, penuh dengan pilar-pilar gaya kolonial dan aroma kayu cendana. Ayah Sarah, Pak Baskoro, adalah seorang pejabat tinggi di kementerian yang menangani infrastruktur. Saat mereka melewati ruang kerja Pak Baskoro, Anindya sengaja memperlambat langkahnya. Matanya yang terlatih segera menangkap beberapa map berlogo "Wijaya Group" di atas meja kerja yang sedikit terbuka.
"Ayahmu sedang tidak di rumah, Sarah?" tanya Anindya santai saat mereka duduk di ruang perpustakaan pribadi yang megah.
"Beliau sedang ada rapat darurat dengan beberapa kontraktor. Katanya ada masalah di proyek jembatan Sukasari. Ayah sedang pusing sekali," Sarah mengeluh sambil membuka buku hukum perdatanya.
Anindya merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Proyek Sukasari. Itu adalah proyek yang sama yang datanya ia gunakan untuk mengancam Tuan Wijaya kemarin. Rupanya, masalahnya lebih besar dari yang ia duga.
"Mari kita mulai pembahasannya, Sarah. Kita fokus ke aspek 'perbuatan melawan hukum' oleh korporasi," ucap Anindya. Ia sengaja mengarahkan pembahasan pada materi yang berkaitan dengan kasus yang sedang ia selidiki.
Sambil menjelaskan teori-teori hukum kepada Sarah, pikiran Anindya bekerja dua kali lipat. Ia memperhatikan tata letak ruangan itu. Ia melihat sebuah laci lemari arsip yang kuncinya masih tertancap.
"Sarah, boleh aku minta tolong ambilkan minum? Tenggorokanku agak kering karena cuaca hari ini," Anindya tersenyum sopan.
"Oh, tentu! Tunggu sebentar ya, aku ambilkan jus jeruk dingin di dapur," Sarah segera berdiri dan keluar dari ruangan.
Begitu Sarah menghilang di balik pintu, Anindya bergerak dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa. Ia tidak membuang waktu. Ia menuju lemari arsip tersebut. Tangannya dengan sigap membuka laci yang bertanda "Proyek Infrastruktur 2024-2025".
Ia menemukan sebuah folder tebal berwarna merah. Di dalamnya terdapat dokumen aliran dana "komitmen" dari Wijaya Group kepada beberapa pejabat kementerian, termasuk tanda tangan Pak Baskoro. Anindya tidak mengambil dokumen itu—ia tahu itu terlalu berisiko. Ia mengeluarkan ponselnya yang sudah dipasangi aplikasi silent scanner.
Ceklek. Ceklek. Ceklek.
Hanya butuh waktu tiga puluh detik bagi Anindya untuk merekam sepuluh halaman paling krusial.
Begitu selesai, ia mengunci kembali laci itu dan kembali duduk di posisinya semula, tepat saat ia mendengar suara langkah kaki Sarah kembali.
"Ini jusnya, Anindya. Maaf agak lama, Bi Ijah tadi harus cari gelas yang bersih dulu," Sarah meletakkan segelas jus jeruk segar di atas meja.
"Terima kasih, Sarah," Anindya meminum jus itu dengan tenang, seolah ia tidak baru saja melakukan aksi pencurian data tingkat tinggi.
Saat mereka melanjutkan belajar, pintu perpustakaan terbuka. Pak Baskoro masuk dengan wajah yang sangat tegang. Ia terkejut melihat ada orang asing di rumahnya.
"Sarah, siapa ini?" tanya Pak Baskoro dengan nada menyelidiki.
"Ini Anindya, Yah. Teman kampus yang paling pintar. Dia sedang membantuku belajar untuk ujian Prof. Handoko," Sarah memperkenalkan.
Mata Pak Baskoro menyipit. "Anindya? Nama yang menarik. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu baru-baru ini."
Anindya berdiri dan memberikan anggukan hormat yang sangat sopan. "Selamat malam, Pak. Saya Anindya, mahasiswa beasiswa di Fakultas Hukum."
Pak Baskoro menatap Anindya dari atas ke bawah.
Ada sesuatu pada tatapan gadis itu yang membuatnya merasa tidak nyaman—tatapan yang terlalu tenang, terlalu cerdas. "Fakultas Hukum, ya? Bagus. Kita butuh banyak orang pintar untuk membereskan masalah di negeri ini."
"Saya setuju, Pak. Terutama masalah transparansi dalam kontrak publik," jawab Anindya dengan nada yang sangat halus namun bermakna ganda.
Pak Baskoro terdiam sejenak, lalu berdehem. "Ya, tentu saja. Sarah, jangan terlalu malam belajarnya. Ayah mau istirahat."
Setelah Pak Baskoro pergi, Anindya tahu ia harus segera pergi. Atmosfer di rumah ini sudah mulai berubah menjadi berbahaya. "Sarah, sepertinya untuk hari ini cukup sampai di sini. Kamu sudah paham konsep dasarnya. Aku harus segera ke rumah sakit melihat Ayahku."
"Wah, makasih banyak ya, Anindya! Kamu benar-benar penyelamatku," Sarah memeluk Anindya dengan hangat.
Begitu keluar dari gerbang rumah Sarah, Anindya langsung memesan ojek daring. Di tengah perjalanan, ia membuka ponselnya dan melihat hasil pindai dokumen tadi. Senyum tipis muncul di wajahnya.
Ternyata benar, batin Anindya. Tuan Wijaya bukan hanya menggelapkan pajak, dia juga menyuap kementerian untuk mendapatkan proyek dengan material di bawah standar. Inilah alasan kenapa jembatan di Sukasari mulai retak padahal baru setahun dibangun.
Data ini adalah "bom atom". Jika ia meledakkannya, tidak hanya Tuan Wijaya yang akan hancur, tapi juga pejabat seperti Pak Baskoro. Anindya menyadari bahwa ia sekarang memegang kartu yang sangat besar dalam permainan politik dan bisnis ini.
Namun, ia juga sadar akan bahayanya. Jika Wijaya dan Baskoro tahu apa yang ia miliki, mereka tidak akan hanya mengirim preman kelas teri di rumah sakit. Mereka akan menggunakan seluruh kekuatan aparat untuk membungkamnya.
Anindya sampai di tempat persembunyian ayahnya yang baru—sebuah apartemen kecil yang ia sewa atas nama orang lain di pinggiran kota. Ia melihat ayahnya sedang menonton televisi dengan tenang.
"Sudah pulang, Nin?"
"Sudah, Yah. Ayah sudah makan?" Anindya mencium kening ayahnya.
"Sudah tadi dibelikan makanan sama temenmu itu... siapa namanya? Satria?"
Anindya tersentak. "Satria ke sini, Yah?"
"Iya, tadi sore. Dia bawain buah dan kursi roda baru yang lebih bagus buat Ayah. Dia bilang dia minta maaf terus, tapi Ayah nggak tahu dia minta maaf buat apa," Pak Rahardian bercerita dengan polos.
Anindya merasa marah sekaligus khawatir. Bagaimana Satria bisa menemukan tempat ini? Padahal ia sudah sangat berhati-hati. Ini berarti Satria jauh lebih pintar atau memiliki sumber daya yang lebih besar dari yang ia duga.
Anindya segera mengambil ponselnya dan menelepon Satria.
"Bagaimana kau menemukan tempat ini?!" tanya Anindya tanpa basa-basi begitu telepon diangkat.
"Nin, tenanglah. Aku tidak membocorkannya pada Ayah," suara Satria terdengar lelah. "Aku memasang pelacak di taksi yang menjemputmu di kampus kemarin. Aku hanya ingin memastikan kau aman. Ayah sedang gila, Nin. Dia menyewa detektif swasta dari luar kota."
"Jangan pernah datang lagi ke sini, Satria! Kau hanya membawa bahaya bagi Ayahku!"
"Nin, dengarkan aku sekali saja," suara Satria merendah. "Aku menemukan sesuatu di brankas Ibu. Dokumen asli perjanjian hutang bapakmu tahun 2018. Ada yang aneh, Nin. Tanda tangan di sana... sepertinya itu bukan tanda tangan bapakmu. Ayahmu tidak pernah berhutang sebanyak itu awalnya. Semuanya dimanipulasi."
Anindya terdiam. Lidahnya terasa kelu. Jadi, selama delapan tahun ini, ia hidup dalam kebohongan yang bahkan lebih besar dari yang ia bayangkan?
"Aku akan membawakan dokumen aslinya padamu besok. Tapi kita harus bertemu di tempat yang sangat ramai. Di stasiun kereta tengah kota. Jam sepuluh pagi," lanjut Satria.
Anindya menutup teleponnya. Ia menatap ayahnya yang sedang tersenyum menatap televisi. Amarah di dalam diri Anindya kini berubah menjadi api yang dingin. Jika benar Tuan Wijaya memalsukan dokumen hutang itu untuk "membeli" dirinya, maka tidak ada lagi ruang untuk ampunan.
"Mereka bukan hanya merampas masa kecilku," bisik Anindya pada bayangannya di jendela. "Mereka merampas seluruh martabat keluargaku dengan kebohongan."
Malam itu, Anindya tidak tidur. Ia mulai menyambungkan titik-titik antara korupsi proyek kementerian, penyuapan pejabat, dan manipulasi hutang ayahnya. Benang-benang merah itu kini membentuk sebuah pola yang jelas: Keluarga Wijaya adalah parasit yang hidup dari menghisap orang lain.
Dan Anindya, sang penenun data, siap untuk menarik benang terakhir yang akan membuat seluruh jaring itu runtuh berantakan.