"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 The Slip-up
Udara di Seoul sore itu terasa menipu. Matahari terbenam dengan warna jingga yang tenang, memberikan ilusi bahwa badai konspirasi Hansung Group telah mereda. Namun, bagi Jungkook, ketenangan adalah alarm yang paling keras. Setelah rencana pelarian ke Distrik Bawah disetujui, mereka membutuhkan waktu beberapa jam untuk menyiapkan logistik.
Shine, yang merasa sesak karena terus-menerus dikurung di bunker bawah tanah, memohon pada Jin untuk diizinkan menghirup udara segar di taman belakang kediaman Kim—sebuah area privat seluas satu hektar yang dikelilingi tembok beton setinggi empat meter dengan kawat berduri sensorik.
"Hanya sepuluh menit, Oppa. Aku bersumpah tidak akan mendekati gerbang," pinta Shine dengan mata yang tampak sayu.
Jin, yang sedang sibuk dengan pengacara perusahaan, akhirnya mengangguk. Namun, ia tidak membiarkan Shine sendiri. Karena Jungkook sedang menyiapkan mobil dan senjata di gudang belakang, Jin mengutus RM untuk mengawal Shine.
"Jaga dia, Namjoon. Jangan lepaskan pandanganmu sedetik pun," perintah Jin tegas.
Taman belakang kediaman Kim adalah mahakarya arsitektur lanskap. Pohon-pohon maple yang mulai memerah, kolam koi yang tenang, dan labirin semak yang tertata rapi. RM berjalan dua langkah di belakang Shine, tangannya tetap berada di dekat saku jas, tempat ia menyimpan alat komunikasi dan senjata api kecil.
"Udaranya sangat enak, Namjoon Oppa," gumam Shine. Ia merentangkan tangannya, membiarkan angin sore menerpa wajahnya. Kalung "JK" di lehernya berkilau terkena sisa cahaya matahari.
"Ya, Nona. Tapi tolong jangan terlalu jauh dari jalur setapak," sahut RM, matanya terus menyisir area sekitar.
Tiba-tiba, ponsel RM bergetar di saku jasnya. Itu adalah panggilan prioritas dari tim keamanan siber Kim Corp. RM ragu sejenak, namun nama pengirimnya adalah Suga. Ia tahu Suga tidak akan menelpon jika tidak ada temuan medis atau teknis yang mendesak.
"Maaf, Nona. Saya harus menerima ini sebentar," ucap RM. Ia melangkah sedikit menjauh, sekitar lima meter, namun tetap menghadap ke arah Shine.
"Namjoon! Ada intrusi pada sistem sensor tembok bagian timur!" suara Suga terdengar panik dan penuh gangguan statis di seberang telepon. "Mereka menggunakan pengacak frekuensi. Cek posisi Shine sekarang!"
Jantung RM seolah berhenti. Ia segera mendongak.
Namun, di depannya, pemandangan itu seperti adegan film yang bergerak lambat. Dari balik semak-semak lebat yang seharusnya kosong, muncul tiga bayangan berpakaian abu-abu yang seirama dengan warna kabut sore. Mereka tidak menggunakan senjata api.
Salah satu dari mereka memegang sebuah tabung kecil. Pshhh!
Asap putih tipis yang berbau manis—gas bius konsentrasi tinggi—langsung menyelimuti area tempat Shine berdiri.
"SHINE!" teriak RM. Ia mencabut senjatanya dan berlari menerjang kabut itu.
Namun, gas itu bereaksi sangat cepat. Shine bahkan tidak sempat berteriak. Lututnya lemas, pandangannya mengabur menjadi putih, dan tubuhnya ambruk ke belakang. Sebelum menyentuh tanah, salah satu pria berbaju abu-abu menangkapnya dengan sigap.
RM melepaskan tembakan. Bang! Salah satu penculik jatuh, namun dua lainnya sudah bergerak dengan koordinasi yang mengerikan. Mereka melemparkan bola gas asap tambahan untuk menghalangi pandangan RM.
"Sial!" RM terbatuk, matanya perih dan paru-parunya terasa terbakar. Ia mencoba menahan napas dan menembak secara membabi buta ke arah pelarian mereka, namun sebuah dengungan mesin drone kecil terdengar di atas kepala, melepaskan jaring magnetik yang membuat alat komunikasi RM meledak seketika.
Di sisi lain taman, Jungkook yang sedang memasukkan tas ke bagasi mobil, mendengar suara tembakan itu. Instingnya meledak. Ia berlari secepat pelari cepat, melewati lorong-lorong taman dengan kecepatan yang tidak manusiawi.
"SHINE!" raungan Jungkook memecah kesunyian taman.
Begitu ia sampai di lokasi, yang ia temukan hanyalah RM yang sedang berlutut, terbatuk darah karena efek gas, dan sebuah jepit rambut perak milik Shine yang tergeletak di atas rumput.
Jungkook menatap tembok bagian timur. Sebuah lubang kecil yang dipotong dengan laser canggih terlihat di sana. Di luar tembok, suara deru mesin mobil yang dipacu kencang perlahan menghilang di kejauhan.
Jungkook jatuh berlutut di tempat Shine tadi berdiri. Ia memungut jepit rambut itu, mencengkeramnya begitu kuat hingga ujungnya menusuk telapak tangannya. Darah menetes dari sela-sela jarinya, namun ia tidak merasakannya. Yang ia rasakan hanyalah kehampaan yang luar biasa dingin yang tiba-tiba merenggut separuh jiwanya.
"Namjoon..." suara Jungkook terdengar sangat rendah, hampir seperti desisan iblis.
RM mendongak, wajahnya penuh penyesalan dan rasa sakit. "Maafkan aku, Jungkook... mereka... mereka menggunakan teknologi Hansung... aku teralihkan..."
Jungkook berdiri perlahan. Auranya saat itu begitu menakutkan hingga RM, pria yang telah menghadapi banyak mafia, merasa merinding. Tidak ada air mata di mata Jungkook. Hanya ada kegelapan murni yang siap meledakkan apa pun yang menghalangi jalannya.
Ia mengeluarkan ponselnya, menekan satu nomor yang selama ini ia hindari.
"Hyung," ucap Jungkook dingin saat telepon diangkat. "Siapkan seluruh jaringan Distrik Bawah. Aku tidak peduli jika kau harus membakar separuh Seoul malam ini. Cari mobil van perak dengan plat palsu di sektor timur."
Di seberang telepon, suara J-Hope terdengar serius. "Jungkook? Apa yang terjadi?"
"Mereka mengambil jantungku, Hyung," bisik Jungkook. "Dan aku akan merobek setiap orang yang terlibat dalam hal ini."
Jungkook berbalik, menatap gedung utama kediaman Kim di mana Jin baru saja keluar dengan wajah pucat setelah mendengar laporan. Jungkook tidak mengatakan sepatah kata pun pada Jin. Ia melangkah melewati pria itu, masuk ke dalam mobil tuanya, dan menginjak pedal gas hingga ban mobilnya berdecit mengeluarkan asap hitam.
Malam itu, perburuan yang sesungguhnya telah dimulai. Hansung Group mungkin mengira mereka telah mendapatkan Oracle yang akan memberi mereka kekayaan, namun mereka tidak sadar bahwa mereka baru saja memancing keluar monster paling berbahaya di Korea—seorang pria yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan selain nyawa gadis yang ia cintai.
Di kursi penumpang, Jungkook meletakkan jepit rambut Shine. Di bawah cahaya lampu jalan yang masuk ke dalam mobil, kalung "JK" cadangan yang ia simpan di saku bergetar samar—sebuah resonansi energi yang memberitahunya bahwa di suatu tempat yang gelap, Shine sedang ketakutan dan membutuhkannya.
"Bertahanlah, Shine," desis Jungkook. "Matahari akan datang untuk menjemput bulannya, meskipun harus membakar dunia."
...****************...