NovelToon NovelToon
Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ottoy Lembayung

SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Curhatan Hati Yuliana Dewi

"Ada deeh, tapi kita bicaranya di ruangan lain aja ya Er! Jangan disini, takut ada yang nguping pembicaraan kita atau malah jadi bahan gosip buat teman-teman lain," ucap Yuli dengan suara pelan berbisik-bisik kepada Erna, matanya melihat sekeliling kelas 10D yang mulai ramai karena beberapa siswa sudah selesai dari toilet atau ruangan lain.

Erna mengangguk dengan cepat, mengerti bahwa masalah yang akan diceritakan Yuli pasti sangat penting dan pribadi. Mereka berdua berdiri secara perlahan, mengambil tas masing-masing, lalu berjalan meninggalkan kelas dengan langkah yang pelan agar tidak menarik perhatian guru yang sedang memperhatikan siswa lain. Mereka berjalan melalui lorong yang agak sepi menuju gedung kesenian yang terletak di pojok paling belakang sekolah—tempat yang jarang dilalui siswa kecuali saat ada kegiatan seni, sehingga sangat cocok untuk berbicara dengan tenang.

Setelah sampai di salah satu ruangan kecil di dalam gedung kesenian yang hanya berisi beberapa kursi dan meja kayu tua, mereka langsung duduk dengan wajah yang serius. Udara di ruangan terasa sejuk dan sunyi, hanya terdengar suara angin yang sedikit menerbangkan tirai jendela yang terbuka sedikit.

"Keliatannya loe serius banget sih Yul? Apa loe mau curhat tentang dua orang itu—siswa-siswa yang tajir melintir Devan dan Ronal? Kan baru-baru ini mereka sering ngegangengin kamu di halaman sekolah," tanya Erna dengan rasa penasaran yang besar, matanya menatap wajah Yuli yang sudah mulai menunjukkan ekspresi kesedihan.

"Ada benar tapi banyak salahnya... bukan mereka dua yang jadi fokus curhatan ku kali ini," ucap Yuli dengan suara pelan, menggantungkan rasa ingin tahu Erna yang sudah mulai membesar. Dia mengambil botol minum dari tasnya dan menelan sedikit air sebelum melanjutkan berbicara.

"Gue jadi penasaran banget sama kalimat loe yang barusan! Loe bilang gue bener kan tentang cowok, tapi bukan Devan dan Ronal... begitu maksud loe kan Yul?" tanya Erna dengan mata yang bersinar penuh rasa ingin tahu, sudah mulai menebak-nebak siapa yang akan disebutkan Yuli.

"The best banget otak loe... meskipun kadang suka encer dan salah arah," ucap Yuli dengan sedikit tersenyum, merelaksasi suasana yang mulai terasa tegang. Dia menyadari bahwa temannya memang selalu bisa membacanya dengan benar, bahkan tanpa dia harus berkata banyak.

"Ayoo Yul jangan ragu keluarin rasa suka loe sama cowok itu dong! Biarlah sisanya gue yang akan bantu loe mendapatkan cintanya—jaminan dari Erna ahli cinta nih!" ucap ngawur Erna dengan suara yang sedikit lebih tinggi, membuat Yuli langsung menepuk tangannya untuk membuatnya diam.

"Kebiasaan buruk loe Er! Congor loe itu terlalu berlebihan dalam menafsirkan sesuatu hal. Bukan tentang cinta atau suka sama cowok lho... ini masalah yang jauh lebih serius daripadanya," ucap Yuli dengan suara yang kembali serius, membuat Erna langsung mengangguk dan siap mendengarkan dengan seksama.

"Hadeeh hadeeh..." ucap Erna sambil menepuk-nepuk dahinya dengan sedikit kesal, "Gue salah lagi aja dah ya? Padahal kira-kiraannya sudah sangat bagus kok."

"Gue minta sama loe Er—saat gue ceritain curhatan gue ke loe, loe cuma mingkem aja ya! Jangan langsung buka congor loe itu dan kasih komentar sembarangan. Dengerin aja baik-baik kuping loe sampai gue selesai cerita dulu baru boleh ngomong," ucap Yuli dengan nada yang tegas namun tetap ramah, ingin memastikan bahwa Erna benar-benar akan mendengarkan dengan serius.

"Itu sih loe lagi ceramah namanya, bukan mau curhat sama gue dong Yul? Kayaknya kamu lebih jadi guru aja deh," ucap Erna dengan nada komplain namun tetap tersenyum, sudah siap untuk mendengarkan apa saja yang akan diceritakan Yuli.

"Jadi kapan nih gue mulai curhatnya sama loe Er? Udah siap belum kamu?" ucap Yuli dengan suara sedikit kesal, merasa sedikit terganggu dengan kelambatan Erna dalam fokus mendengarkan.

"Sekarang aja dong! Buruan ceritain Yul... Gue udah siap jabanin dan kuping gue juga dah siap menerima segala informasi penting dari kamu!" ucap Erna dengan semangat tinggi, bahkan berdiri sebentar lalu duduk kembali dengan posisi yang lebih siap mendengarkan.

"Jadi begini Er... Lusa kemarin pas gue baru saja pulang dari sekolah dan sedang membereskan tas di kamarku, tiba-tiba gue menemukan sesuatu yang tidak ada di tasku sebelum itu. Ada sebuah bungkus kado warna coklat muda yang tergeletak di dalam tas, tepat di bawah buku pelajaran matematikaku," ucap Yuli dengan suara yang mulai sedikit bergetar, mengingat kembali momen saat itu yang membuatnya sangat terkejut.

"Entah siapa yang memasukan bingkisan itu ke dalam tas gue dan kapan orang itu memasukannya—gue benar-benar blank dan gak tahu sama sekali. Gue juga tidak menyadari kalau ada orang yang mendekatiku saat di sekolah atau di jalan pulang," tambahnya dengan ekspresi yang penuh kebingungan, masih belum bisa menemukan jawaban tentang bagaimana bingkisan itu bisa masuk ke dalam tasnya.

"Lanjut dong Yul! Gue pengen tahu isi bingkisan itu dan siapa pengirimnya banget!" ucap Erna dengan suara penuh penasaran, sudah tidak sabar untuk mengetahui kelanjutan cerita.

"Gue lanjut lagi nih Er... Lalu gue bolak-balik bingkisan itu dengan hati-hati, khawatir kalau ada sesuatu yang pecah atau rusak. Sampai akhirnya gue melihat ada tulisan kecil dengan spidol tinta emas di bagian bawah bungkus kado itu—hanya ada satu huruf inisial yaitu 'R'," ucap Yuli dengan suara yang semakin pelan, sudah mulai merasakan ketegangan yang kembali muncul di dadanya.

"Lanjut heeem... boleh gue nanya Yul? Inisial R itu pasti Romi kan? Karena Devan dan Ronal sudah loe buang jauh-jauh dari curhatan ini, jadi bukan mereka dua. Betul gak?" tanya Erna dengan suara yang lebih tenang sekarang, sudah mulai merasa bahwa cerita yang akan diceritakan Yuli bukanlah hal yang ringan.

"Pintar banget loe Er... gue salut sama kecerdasan otak loe yang bisa menebak dengan tepat. Ya benar, yang paling mungkin adalah Romi karena inisialnya 'R' dan juga karena baru-baru ini aku pernah bertemu dengannya di gedung kesenian ini juga," ucap Yuli dengan suara yang semakin rendah, sudah mulai merasa sedikit tidak nyaman dengan apa yang akan dia ceritakan selanjutnya.

"Lanjut Yuliiiii please... gue udah nungguin kelanjutannya sejak tadi!" ucap Erna dengan suara yang sedikit mendesak, namun tetap menjaga agar suaranya tidak terlalu keras.

"Gue sendiri juga penasaran banget sama apa yang ada di dalamnya, jadi setelah tahu kalau kemungkinan besar pengirimnya adalah Romi, gue langsung membukanya dengan hati-hati. Bungkus kado itu mudah dibuka, dan setelah terbuka gue melihat isinya—sebuah majalah tebal dan sebuah keping DVD yang dibungkus plastik tipis," ucap Yuli dengan suara yang mulai bergetar lagi, wajahnya sudah mulai menunjukkan ekspresi jijik dan kesedihan.

"Pasti majalah cinta dan keping DVD ungkapan perasaan hati Romi ke loe kan? Kayak di film-film aja deh ini cerita nya," ucap Erna dengan suara yang masih penuh harapan, berharap bahwa isi bingkisan itu adalah hal yang baik dan tidak akan membuat Yuli sedih.

Namun harapan Erna langsung sirna saat melihat wajah Yuli yang mulai tertunduk sedih, wajahnya penuh dengan rasa kesedihan dan juga kemarahan. Tangannya yang menahan rok sekolahnya mulai sedikit gemetar, menunjukkan bahwa dia sedang mencoba menahan emosinya.

"Apa isi majalah dan keping DVD itu Yul? Jangan bilang ada sesuatu yang tidak baik ya," tanya Erna dengan suara yang semakin pelan, sudah mulai merasa khawatir dengan kondisi Yuli yang semakin memburuk.

"Di luar perkiraan gue banget Er... dan gue sendiri malu banget untuk nyebutinnya ke loe," ucap Yuli dengan suara yang sudah mulai terpotong-potong karena tangisannya yang ingin keluar. Tak lama kemudian, air mata mulai mengalir di pipinya dan dia menangis tersedu-sedu, "Gue salah apa sih sama Romi hingga dia memberikan bingkisan itu padaku? Kenapa dia harus melakukan hal seperti itu padaku?"

Tangisannya memecah kesunyian di dalam ruangan gedung kesenian, membuat Erna langsung mendekatinya dan menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut untuk memberikan dukungan.

"Emang apaan sih yang Romi kasih ke loe sampai loe nangis begini Yul? Jangan nangis dulu ya, cerita aja sama gue biar kita bisa cari solusinya bareng-bareng," tanya Erna dengan suara penuh perhatian, sudah merasa bahwa isi bingkisan itu pasti sangat tidak pantas.

"Majalah Play Boy dan keping DVD yang isinya film Bokep... itu yang ada di dalam bingkisan itu Er," ucap Yuli dengan suara pelan sambil menangis tersedu-sedu, wajahnya penuh dengan rasa jijik dan rasa sakit hati karena merasa telah ditodai oleh sesuatu yang tidak pantas.

"Dan loe Yul sedih dan marah dengan pemberiannya itu kepada loe?" tanya Erna dengan suara yang penuh kejutan, tidak menyangka bahwa Romi bisa memberikan hal seperti itu kepada Yuli.

"Ya sedih lah! Itu kan gak pantes buat kita para remaja yang masih sekolah, apalagi diberikan secara sembunyi-sembunyi ke dalam tasku tanpa sepengetahuan ku," ucap Yuli dengan suara singkat namun penuh emosi, masih menangis sambil mengusap air matanya dengan lengan bajunya.

"Gue mah malah seneng banget dan senang hati kalau dapetin sesuatu seperti itu... karena gue belum pernah nonton yang begituan sama sekali sejak lahir," ucap Erna dengan suara yang tidak disangka-sangka, membuat Yuli langsung berhenti menangis dan menatap wajah Erna dengan ekspresi terkejut.

"Paraaah loe Erna gituan tuh bisa merusak otak loe dan juga bisa membuat kamu terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak baik, tahu gak? Itu semua adalah barang haram dan sangat tidak baik untuk dilihat oleh orang muda seperti kita," ucap Yuli dengan suara yang kembali tegas, merasa perlu untuk memberikan pemahaman pada Erna tentang bahaya dari hal-hal tersebut.

"Ya sorry... sorry ya Yul! Aku cuma ngomong apa adanya aja. Lanjut dong ceritanya kamu, apa yang kamu mau lakukan setelah itu?" ucap Erna dengan rasa minta maaf, menyadari bahwa kata-katanya tidak tepat dan bisa membuat Yuli semakin kesal.

"Jadi begitu Er... sekarang gue sedang bingung karena mau laporin si Romi brengsek itu ke kepala sekolah atau tidak. Nah sekarang gue minta saran dari loe Er—apa langkah yang gue ambil itu benar atau salah?" ucap Yuli dengan suara penuh keraguan, sangat membutuhkan pendapat dari temannya yang selalu bisa memberikan pandangan yang berbeda.

"Jeee... gue pikir curhatan loe masih panjang banget Yul! Gue belum denger loe cerita bagaimana saat loe pertama kali liat gambar-gambar seronok itu di majalahnya, apalagi loe cerita ke gue tentang film Bokep nya—tentang gaya atau apa aja yang ada di dalamnya," ucap Erna dengan suara yang kembali penuh rasa ingin tahu, namun langsung mendapatkan tatapan tajam dari Yuli.

"GILA...GILAA loe Er! Masa sih loe pengen gue ceritain saat-saat pertama gue liat gambar dan film itu? Jijik banget gue sama semua yang ada di dalam majalah dan DVD itu tahuuu!!! Aku bahkan langsung memalingkan wajah dan memasukkan kembali semuanya ke dalam bungkus kado itu setelah melihat sedikit saja," ucap Yuli dengan suara yang semakin tinggi karena kesal, tidak menyangka bahwa Erna bisa meminta hal seperti itu.

"Ya loe bilang jijik setelah loe udah liat semuanya kan? Nah gue kan belum liat sama sekali, wajar kan kalau gue nanya ke loe Yul? Cuma mau tahu aja kok, bukan mau ikutan liat," ucap Erna dengan suara yang sedikit defensif, merasa bahwa dia hanya ingin mengetahui sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

"Ini nih orang kayak gini nafsu banget pengen liat majalah dan video porno! Emang beneran loe belum pernah liat gituan dari loe bayi sampai besar seperti ini?" tanya Yuli dengan suara yang penuh kejutan, tidak menyangka bahwa ada teman sebaya yang belum pernah melihat atau bahkan mendengar tentang hal seperti itu.

"Ya Yul, beneran gue belum pernah liat yang begitu-begituan sama sekali. Orang tua gue selalu sangat ketat dan tidak pernah membolehkan gue melihat hal-hal yang tidak pantas seperti itu," ucap Erna dengan suara jujur, wajahnya menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak tahu banyak tentang hal tersebut.

"Syukur deh kalau loe belum pernah liat yang begituan... Pokoknya Jijik banget dan sangat tidak baik buat kesehatan mental kita. Loe gak usah pernah coba untuk liat-liat yang begituan ya Er, janjian ya!" ucap Yuli dengan suara yang penuh perhatian, ingin melindungi temannya dari hal-hal yang bisa merusaknya.

"Tapi orang sih banyak bilang begitu ke gue, tapi ternyata bisa ada perbedaan pendapat kan? Ada loe Yul yang merasa jijik, ada gue yang penasaran, ada Romi yang bahkan berani memberikan hal seperti itu, ada juga Devan dan Ronal yang mungkin sudah pernah melihatnya. Aneh kan kita semua hasil dari hal yang loe bilang jijik, tapi kita jadi ada di dunia ini," ucap Erna dengan suara yang penuh pemikiran, memberikan pandangan yang berbeda yang tidak pernah terpikirkan oleh Yuli.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!