Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RESORT
03:45 AM. Kabin Truk Logistik. Perjalanan kembali ke Bogor.
Mesin truk Bimo menderu rendah, menjadi satu satunya suara yang membelah keheningan jalan tol lingkar luar yang sepi. Di bagian belakang yang tertutup, suasana terasa seperti laboratorium darurat yang dipenuhi aroma sisa air laut, logam panas, dan wangi kopi instan yang mulai mendingin.
Raka telah melepas bagian atas setelan Liquid Shadow nya, membiarkannya menggantung di pinggang, memperlihatkan kaus dalam taktis yang basah oleh keringat. Ia sedang duduk bersila di lantai truk, membersihkan sisa air asin dari sendi sendi mekanis gadget nya.
Sementara itu, Liana duduk di kursi putar yang dipasang permanen di depan jajaran monitor, jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang membuat Bimo yang mengemudi di depan tergeleng geleng lewat kaca spion tengah.
"Li, kau sudah menatap layar itu selama dua jam tanpa berkedip. Kau mau matamu berubah jadi piksel?" tegur Raka tanpa mendongak.
Liana tidak langsung menjawab. Ia hanya menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin, lalu memutar kursi untuk menghadap Raka. Ekspresinya campur aduk ada gairah intelektual di sana, tapi juga ada kegelisahan yang nyata.
"Raka, data yang kita ambil dari pelabuhan tadi... ini bukan sekadar manifes logistik. Ini adalah protokol komunikasi tingkat tinggi," Liana menggeser monitor agar Raka bisa melihatnya. "Aegis 7 tidak dikendalikan oleh satu pusat. Ia menggunakan sistem Decentralized Command. Tapi ada satu tanda tangan digital yang terus muncul dalam setiap otorisasi."
Raka meletakkan peralatan pembersihnya. Ia mendekat, aroma maskulin yang bercampur sisa garam laut menyeruak saat ia berdiri tepat di belakang kursi Liana. "Tunjukkan padaku."
Liana sedikit mendongak, merasakan kehadiran Raka yang begitu dekat. Ia bisa melihat butiran air yang masih tertinggal di leher Raka. "Lihat kode ini. Alpha Zero Nine. Itu kode unit kita dulu. Tapi lihat prefiksnya Ghost One." Raka tertegun. Rahangnya mengeras. "Itu kode panggilanku sepuluh tahun lalu."
"Tepat. Seseorang menggunakan identitasmu untuk menandai paket paket data satelit ini. Tapi bukan itu yang paling gila," Liana menjilat bibirnya yang kering, lalu menatap Raka dengan tatapan yang sedikit... nakal. "Siapa pun dia, dia tahu kebiasaan burukmu saat menulis kode."
"Kebiasaan apa?" tanya Raka.
Liana terkekeh, ia menarik kerah kaos Raka agar pria itu membungkuk lebih rendah. "Kau selalu memasukkan karakter spasi ekstra setelah baris If-Then. Sebuah bug estetika yang hanya dilakukan oleh orang yang terlalu perfeksionis tapi malas menggunakan fitur auto format. Dan tebak? Kode kontrol Aegis penuh dengan spasi ekstra itu."
Raka terdiam. Ia menatap barisan kode itu dengan ngeri. "Maksudmu... aku yang menulis ini?"
"Atau seseorang yang menghabiskan waktu bertahun tahun mempelajari setiap gaya ketikanmu, Raka. Seseorang yang sangat terobsesi padamu," Liana menyipitkan mata, suaranya merendah menjadi bisikan godaan. "Kalau aku tidak tahu kau menghabiskan sepuluh tahun sendirian di lubang bawah tanah, aku akan mengira kau punya simpanan peretas lain di luar sana."
Raka mendengus, mencoba mengalihkan rasa canggungnya. "Jangan konyol. Aku bahkan tidak punya waktu untuk tidur, apalagi punya simpanan."
"Oh, benarkah? Jadi sepuluh tahun ini benar benar tidak ada siapa siapa?" Liana memutar kursinya sepenuhnya, sehingga kini ia berada di antara kedua kaki Raka yang berdiri tegak. Ia mendongak, menantang mata tajam pria itu. "Bahkan tidak ada hantu cantik yang mampir untuk sekadar berbagi sinyal?"
Raka menatap Liana. Di bawah cahaya temaram lampu kabin, wajah Liana tampak sangat menggoda dengan sedikit binar nakal di matanya. "Hanya ada satu hantu yang terus menghantui pikiranku, Liana. Dan dia baru saja mengecup pipiku pagi tadi."
Liana tertawa renyah, tangannya meraba dada Raka yang bidang. "Waspada, Kapten. Detak jantungmu naik lagi. Jangan sampai aku harus mengaktifkan protokol darurat sekarang. Bimo bisa melihat kita lewat spion, kau tahu?"
Bimo berteriak dari kabin depan, "Aku tidak melihat apa apa! Aku sedang sibuk menghindari lubang jalanan! Teruskan saja drama spionase romansa kalian!"
Liana melepaskan tangannya dari dada Raka, kembali serius namun tetap dengan senyum tipis di bibirnya. "Oke, kembali ke bisnis. Jika bukan kau yang menulis ini, berarti ada tikus di Unit 09 yang masih hidup dan bekerja untuk Yudha. Seseorang yang sangat mengenalmu."
"Hanya ada tiga orang yang bisa meniru gaya kodingku," kata Raka, matanya kembali ke layar. "Yudha sendiri, kau, dan... Hendra."
"Hendra mati di Lembah Hitam. Aku melihat helikopternya meledak," sergah Liana.
"Kau melihat ledakan, Li. Kau tidak melihat mayatnya," Raka mengambil alih mouse, menggulir barisan data lebih cepat. "Lihat koordinat pengiriman satelit cadangan ini. Mereka tidak mengirimnya ke pangkalan militer. Mereka mengirimnya ke sebuah resort pribadi di Maladewa."
"Maladewa? Kenapa resort?" tanya Liana.
"Karena di sana tidak ada yurisdiksi militer internasional yang ketat. Itu tempat yang sempurna untuk menyembunyikan uplink satelit," Raka terhenti di satu baris data terakhir. Ada sebuah pesan tersembunyi dalam format Steganography di balik gambar logo perusahaan logistik.
Raka mengekstraknya. Sebuah file suara muncul.
Ia menekan tombol play.
Suara statis terdengar selama beberapa detik, diikuti oleh suara bariton yang sangat dikenal Raka. Suara yang dulu memberinya perintah, suara yang dulu ia percayai lebih dari nyawanya sendiri.
"Raka... Liana... Jika kalian mendengar ini, berarti kalian sudah berhasil melewati drone bawah airku. Selamat. Kalian belum kehilangan sentuhan."
Itu suara Yudha. Tapi terdengar berbeda lebih tenang, lebih dingin, seolah ia sedang berbicara dari dimensi lain.
"Aegis bukan tentang kehancuran. Ini tentang harmoni. Dunia ini terlalu berisik, terlalu banyak variabel yang tidak terkendali. Aku hanya sedang merapikannya. Bergabunglah denganku. Liana, kau selalu mengeluh tentang dunia digital yang dingin. Aku bisa menjadikannya hangat untukmu. Raka, kau ingin presisi? Aku adalah presisi itu sendiri."
Pesan berakhir.
Kabin truk mendadak terasa sangat sempit. Liana mematikan monitor, seolah tidak sanggup melihat data itu lagi. Ia berdiri, bersandar pada rak peralatan, menatap lantai truk dengan kosong.
"Dia tahu kita hidup," bisik Liana. "Dia membiarkan kita mengambil data itu. Ini semua... jebakan?"
Raka menggeleng pelan. Ia mendekati Liana, tidak dengan logika taktis, tapi dengan empati yang jarang ia tunjukkan. Ia memegang kedua bahu Liana, memaksa wanita itu menatapnya. "Bukan jebakan, Li. Ini undangan. Dia meremehkan kita. Dia pikir karena dia punya Aegis, kita hanyalah serangga yang bisa diajak bermain."
Liana menatap Raka, ada ketakutan di matanya, tapi juga kemarahan. "Dia menggunakan kode panggilanku untuk merayu kita, Raka. Dia ingin kita kembali ke bawah ketiaknya."
"Kita akan kembali padanya," kata Raka dengan suara rendah yang penuh ancaman. "Tapi bukan untuk bergabung. Kita akan merobek sistemnya dari dalam. Dia pikir dia adalah presisi? Akan kutunjukkan padanya apa yang terjadi jika sebuah algoritma bertemu dengan error yang punya dendam."
Liana menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ia menatap wajah Raka, lalu perlahan senyum nakalnya kembali, meski sedikit dipaksakan untuk menutupi ketegangannya. "Kau tahu, Raka? Saat kau bicara seperti itu... kau terlihat sangat seksi. Mungkin Yudha benar, kau adalah presisi yang berbahaya."
Raka tidak menjawab dengan kata kata. Ia menarik Liana ke dalam pelukannya, sebuah pelukan yang kuat dan protektif. Liana membenamkan wajahnya di leher Raka, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi satu-satunya kenyataan yang ia percayai di dunia yang penuh dengan kode palsu ini.
"Janji padaku satu hal, Raka," bisik Liana di telinga pria itu.
"Apa?" tanya Raka.
"Setelah kita menghancurkan Yudha dan satelit sialannya... kita benar benar akan pergi ke pantai itu. Tidak ada kode, tidak ada senjata, hanya kau, aku, dan kopi yang terlalu mahal."
Raka mengecup puncak kepala Liana. "Aku janji. Tapi sekarang, kita harus menyiapkan serangan balik. Bimo! Putar balik! Kita tidak kembali ke Bogor!"
"Lalu ke mana?!" teriak Bimo dari depan.
"Ke Bandara Halim. Kita punya pesawat kargo yang harus dibajak secara digital. Kita berangkat ke Maladewa pagi ini juga."
Liana melepaskan pelukannya, matanya berkilat penuh semangat. "Maladewa? Aku belum menyiapkan baju renangku."
"Kau tidak butuh baju renang, Li," goda Raka sambil menyeringai kecil. "Kita akan menyusup di bawah radar. Kau akan sibuk dengan keyboard mu."
"Sialan kau, Raka. Tapi aku suka rencanamu." jawab Liana.
Truk Bimo melakukan putaran tajam di tengah jalan tol yang sepi, meninggalkan jejak ban yang terbakar di aspal. Di belakang, dua hantu digital sedang mempersiapkan tarian terakhir mereka melawan penciptanya sendiri.