Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 "
" Tak ada yang benar benar siap untuk degub yang mendadak berbeda sesorang bisa datang sebagai bisa lalu pulang sebagi makna"
KLARIFIKASI YANG JELAS
Biru melangkah maju dengan langkah cepat, wajahnya yang biasanya tenang kini penuh dengan kemarahan yang jelas terlihat. Dia berdiri tepat di antara Luna dan Elona, menatap wakil ketua OSIS-nya dengan pandangan yang tajam
“Luna, apa yang kamu katakan itu sama sekali tidak benar!” ujar Biru dengan suara yang kuat dan tegas, membuat beberapa siswa yang lewat berhenti sejenak untuk melihat apa yang terjadi. “Kita tidak pernah tunangan dan saya tidak pernah menyetujui apapun yang berkaitan dengan pernikahan antara kita!”
Luna melihat ke arah Biru dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Tapi Pak Ketua… orang tua kita sudah sepakat bukan? Ibumu sendiri yang bilang bahwa kamu akan menikah denganku setelah lulus sekolah!”
“Yang bilang itu hanya orang tua kita, bukan saya!” balik Biru dengan nada yang semakin tinggi. “Saya sudah berulang kali mengatakan bahwa saya tidak ingin menikah dengan orang yang tidak saya cintai! Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja dan tidak akan pernah lebih dari itu!”
Saat mereka berdua sedang berseteru, Elona hanya berdiri diam dengan wajah yang tidak terlalu terpengaruh. Dia mengangguk perlahan setiap kali ada jeda dalam pembicaraan mereka, seolah-olah sedang mendengarkan pelajaran yang tidak terlalu penting di kelas. Rekai melihatnya dengan ekspresi sedikit heran, sementara Kalash malah mulai tertawa kecil melihat reaksi Elona yang cuek.
“Elona, kamu tidak merasa terganggu ya dengan berita yang baru saja kamu dengar?” tanya Rekai dengan suara rendah.
Elona hanya menggelengkan kepala dengan santai. “Tidak apa-apa Kak Rekai. Bagi saya ini tidak penting. Yang penting adalah saya bisa lulus sekolah dengan nilai baik dan meraih cita-cita saya menjadi instruktur pramuka profesional.”
Kalash langsung tertawa terbahak-bahak mendengarnya. “Waduh Elona, kamu benar-benar fokus pada sekolah saja ya! Padahal sedang terjadi drama besar tentang tunangan dan cinta!”
Elona hanya mengangkat bahu dengan rileks. “Drama itu bisa saja terjadi di tempat lain Kak Kalash. Saya punya banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dan juga harus mempersiapkan acara bakti sosial pramuka minggu depan. Tidak ada waktu untuk hal-hal yang tidak penting.”
Sementara itu, Luna masih mencoba membujuk Biru dengan suara yang sudah mulai bergetar karena menangis. “Tapi saya sudah mencintaimu selama bertahun-tahun Pak Ketua! Aku sudah melakukan segala sesuatu untukmu dan untuk OSIS! Bukankah itu cukup untuk membuatmu mencintaiku?”
“Cinta tidak bisa dipaksakan, Luna!” ujar Biru dengan nada yang sedikit lebih lembut tapi tetap tegas. “Saya menghargai perjuangan dan kerja kerasmu, tapi itu tidak berarti saya bisa membalas perasaanmu dengan cara yang kamu harapkan. Saya sudah memberitahumu ini berkali-kali dan saya akan mengatakan lagi – saya tidak akan pernah bisa mencintaimu seperti yang kamu inginkan!”
Luna akhirnya tidak bisa menahan air matanya lagi dan mulai menangis teresak-esak. Dia berbalik dan berlari menjauh dari lorong itu, menyisakan Biru yang berdiri dengan wajah yang penuh dengan kesusahan tapi juga rasa lega karena akhirnya bisa mengatakan yang sebenarnya dengan jelas.
“Maafkan aku Elona,” ujar Biru dengan suara rendah saat menghadap Elona. “Kamu tidak seharusnya terlibat dalam masalah pribadi saya seperti ini.”
Elona hanya mengangguk dengan senyum ramah. “Tidak apa-apa Pak Ketua. Saya mengerti. Yang penting sekarang adalah kita bisa fokus pada tugas sekolah dan OSIS tanpa ada kesalahpahaman lagi kan?”
Biru melihatnya dengan mata yang penuh dengan kagum. Di saat yang sama, Kalash sedang berbisik dengan suara tinggi yang sengaja ingin terdengar oleh Biru. “Waduh Pak Ketua, kamu lihat ya? Elona lebih fokus pada nilai sekolah daripada pada masalah cinta kamu! Kamu harus lebih serius belajar aja kalau ingin bisa menyamai dia!”
Rekai langsung menutup mulut Kalash dengan tangan agar dia tidak berbicara lebih jauh. “Biasalah dia Pak Ketua, selalu suka mengada-ada.”
Biru hanya tersenyum sedikit dan mengangguk. “Tidak apa-apa. Kalau memang begitu, mari kita kembali ke kelas saja ya sebelum guru datang. Kita tidak ingin mendapatkan nilai buruk karena terlambat masuk kan?”
Elona segera mengangguk dengan senyum. “Benar sekali Pak Ketua! Mari kita pergi saja. Saya punya tugas matematika yang harus saya kerjakan sebelum pelajaran dimulai!”
Mereka berempat kemudian berjalan bersama menuju kelas, dengan Kalash masih sering mengeluarkan komentar lucu yang membuat Rekai harus terus menepuk bahunya agar diam. Di dalam hati, Biru merasa semakin kagum dengan sikap Elona yang tidak mudah terpengaruh oleh masalah yang tidak penting dan selalu fokus pada tujuan yang ingin dicapainya. Mungkin itu adalah salah satu alasan mengapa dia semakin tertarik dengan gadis tomboy yang satu ini